Cermin Manusia Pada Wajah Hollywood: Kita Fana, Waktu Abadi

Ilustrasi/people.com
Pierce Brosnan dulu terlihat seperti dibuat khusus untuk menjadi James Bond. Setelan jas gelap, rambut rapi, tatapan dingin setengah sinis di GoldenEye atau Tomorrow Never Dies. Ia berjalan seperti orang yang tahu semua mata sedang memandangnya. Bahkan ketika diam, tubuhnya memancarkan sesuatu yang sulit dijelaskan selain kata gagah.

Lalu saya melihat foto terbarunya beberapa waktu lalu. Rambut memutih. Kulit wajah turun. Tubuh masih tegap untuk ukuran pria seusianya, tetapi aura “tak tersentuh” itu hilang. James Bond yang dulu tampak bisa keluar hidup-hidup dari ledakan helikopter sekarang terlihat seperti pria tua kaya yang mungkin lebih sibuk memikirkan tekanan darah dan kolesterol daripada organisasi kriminal internasional.

Perasaan yang muncul terasa aneh. Bukan sekadar nostalgia. Ada rasa ngeri kecil yang dingin. Karena tiba-tiba saya sadar, bahkan wajah yang dulu terasa hampir sempurna pun tetap kalah oleh usia.

Hollywood sebenarnya mesin yang sangat brutal terhadap waktu. Industri itu menjual ilusi bahwa manusia bisa tetap muda lebih lama daripada kenyataan biologisnya. Kamera, makeup artist, pencahayaan, pelatih pribadi, botox, filler, operasi plastik, diet ekstrem, hormone therapy—semuanya bekerja seperti tentara yang dikirim untuk memperlambat kerusakan tubuh. Tapi tetap saja, waktu yang menang.

Bruce Willis mungkin contoh yang paling menghantam. Dalam Die Hard, ia bukan tipe tampan klasik Hollywood seperti Brosnan. Ia botak, wajahnya keras, senyumnya setengah lelah. Tetapi justru itu yang membuat John McClane terasa hidup. Keringat di kaus putihnya, darah di kaki tanpa sepatu, cara ia mengumpat sambil merangkak di ventilasi gedung Nakatomi Plaza—semuanya terasa manusiawi dan kuat sekaligus.

Sekarang foto-foto Bruce Willis sering terasa menyakitkan dilihat. Wajahnya tampak kosong di beberapa kesempatan publik terakhir, sebelum keluarganya mengumumkan kondisi aphasia lalu frontotemporal dementia. Ada video ketika ia berjalan lebih lambat, tubuhnya tidak lagi punya tenaga seperti John McClane yang dulu ia perankan. Saya pernah melihat satu fotonya sedang berdiri memegang tongkat. Kepala saya langsung memunculkan potongan adegan Die Hard with a Vengeance secara otomatis, ketika ia masih berlari sambil berteriak di jalanan New York.

Tubuh manusia memang kejam seperti itu. Ia tidak peduli pada status legenda.

Yang membuat aktor Hollywood terasa lebih “ngeri” dalam bayangan dibanding orang biasa adalah karena kita menyimpan mereka dalam versi tertentu di kepala. Mereka tidak menua di memori kita. Arnold Schwarzenegger di kepala banyak orang masih tubuh raksasa berminyak dari Conan the Barbarian atau mesin pembunuh dingin dari Terminator 2: Judgment Day. Padahal sekarang ia pria tua 78 tahun yang kadang terdengar seperti kakek santai pecinta keledai peliharaan.

Saya menonton ulang The Rock beberapa bulan lalu. Sean Connery di film itu sudah tua sebenarnya. Rambut putih, keriput mulai jelas. Tetapi karismanya masih seperti granit. Anehnya, sekarang saya melihat film-film tua Connery dengan kesadaran tambahan; pria itu sudah meninggal. Tubuh yang dulu berlari, memukul, menembak di layar, kini sudah menjadi abu.

Kadang otak sulit menerima hubungan antara citra film dan kematian nyata.

Hollywood membuat manusia terlihat terlalu permanen. Film diputar ulang terus-menerus. Aktor muda di layar tetap muda puluhan tahun kemudian. Tom Cruise masih berlari di layar dengan intensitas hampir supernatural di seri Mission: Impossible – Dead Reckoning Part One. Orang kagum karena ia masih terlihat kuat di usia enam puluhan. Saya malah kadang merasa tidak nyaman melihatnya. Karena tubuh seharusnya mulai melambat.

Ada sesuatu yang sedikit tragis ketika industri hiburan mencoba melawan hukum biologis terlalu keras. Wajah-wajah yang terlalu ditarik operasi plastik mulai kehilangan ekspresi manusia normal. Senyum jadi aneh. Mata tidak lagi sinkron dengan kulit wajah. Beberapa aktor tua terlihat seperti sedang memakai topeng versi lebih muda dari dirinya sendiri.

Saya tidak menertawakan mereka. Saya justru mengerti kenapa itu terjadi. Bayangkan hidup puluhan tahun dipuja karena wajah dan tubuh. Bayangkan kamera HD memeriksa setiap keriput. Bayangkan internet membandingkan foto masa mudamu dengan wajah sekarang seperti membandingkan mobil baru dan mobil tua.

Orang biasa—seperti kita—menua secara pribadi. Aktor Hollywood menua di depan jutaan pasang mata.

Mickey Rourke mungkin salah satu contoh paling ekstrem. Dulu, di 9½ Weeks, wajahnya nyaris absurd tampannya. Campuran maskulin liar dan sensualitas kotor tahun 1980-an. Lalu tinju, operasi plastik, usia, alkohol, semua bercampur. Wajahnya sekarang seperti orang lain. Saya melihat wawancara TV-nya dan sempat terpaku beberapa detik mencoba mengenali struktur wajah lama di balik perubahan itu.

Tubuh manusia ternyata bisa berubah sejauh itu tanpa benar-benar berhenti menjadi orang yang sama.

Yang lebih menyeramkan justru momen kecil. Cara suara berubah lebih pelan. Cara tangan mulai gemetar halus ketika memegang mikrofon. Cara aktor tua berdiri sedikit lebih hati-hati saat naik tangga acara penghargaan.

Saya juga pernah melihat video Val Kilmer setelah terkena kanker tenggorokan. Suaranya hampir hilang. Sulit dipercaya itu orang yang dulu menjadi Iceman dengan senyum dingin penuh percaya diri. Tubuh manusia bisa meruntuhkan identitas publik seseorang pelan-pelan tanpa meminta izin.

Mungkin itu sebabnya menonton aktor menua terasa lebih mengganggu daripada melihat orang biasa menua. Aktor adalah arsip visual. Kita melihat versi mudanya berulang-ulang dalam kualitas tinggi. Tubuh mereka seperti dibekukan oleh kamera, lalu kenyataan datang menghancurkan pembekuan itu.

Ada malam ketika saya mengalami momen aneh saat menonton film-film James Bond versi Daniel Craig. Dalam Casino Royale, tubuhnya keras, wajahnya tajam, gerakannya brutal. Tapi dalam No Time to Die, rambutnya mulai memutih. Mata lebih lelah. Leher mulai menunjukkan usia.

Tubuh manusia bergerak cepat sekali, sebenarnya. Kita saja yang tidak sadar karena melihat diri sendiri tiap hari. Dan saya merasa “ngeri” ketika menyadarinya.

Rasa ngeri itu bukan soal mereka. Aktor-aktor Hollywood cuma pengingat yang terlalu jelas tentang apa yang terjadi pada semua manusia. Bedanya, wajah mereka pernah dicetak besar-besar di poster bioskop, majalah, billboard, sampul DVD. Mereka pernah terlihat nyaris seperti makhluk yang tidak bisa rusak.

Lalu suatu hari orang melihat Al Pacino berjalan pelan. Atau Robert De Niro berbicara dengan energi kakek tua biasa. Atau Clint Eastwood yang dulu wajahnya seperti revolver hidup kini tampak sangat rapuh saat diwawancara.

Saya kadang berhenti beberapa detik setelah melihat foto-foto seperti itu. Ada sensasi kecil di dada yang sulit dijelaskan. Bukan sedih. Lebih seperti tubuh mendadak sadar bahwa semua bentuk kejayaan fisik ternyata sangat sementara.

Kaus John McClane dalam Die Hard, yang dulu penuh darah dan keringat, sekarang mungkin bahkan terasa berat untuk diangkat Bruce Willis sendiri.

Related

Hoeda's Note 7584486131380093527

Posting Komentar

emo-but-icon

item