Mengapa Orang Superkaya Menimbun Uang dalam Jumlah Tak Masuk Akal
https://www.belajarsampaimati.com/2026/07/mengapa-orang-superkaya-menimbun-uang.html
![]() |
| Ilustrasi/pikbest.com |
Angka kekayaan orang-orang superkaya modern sudah kehilangan bentuk manusiawinya. Ketika membaca seseorang memiliki harta 230 miliar dolar, otak sebenarnya sudah menyerah menerjemahkan angka itu. Ia berubah jadi kabut statistik. Orang masih bisa membayangkan uang satu juta rupiah. Masih bisa membayangkan satu miliar—rumah besar, mobil mewah, mungkin tujuh turunan aman. Tapi ratusan miliar dolar? Sulit.
Kalau Elon Musk kehilangan satu juta dolar saat bangun tidur, hidupnya praktis tidak berubah. Bahkan mungkin ia tidak sadar. Nilai kekayaannya bisa naik turun miliaran dolar hanya karena grafik saham bergerak beberapa persen sore hari di Wall Street. Ada sesuatu yang absurd ketika kehidupan manusia mulai diukur dengan angka yang terlalu besar untuk dipahami otak manusia sendiri.
Saya pernah mencoba menghitung kasar. Kalau seseorang menghabiskan satu juta rupiah setiap hari tanpa pernah berhenti—makan mahal, hotel mahal, beli barang mahal—ia masih butuh ribuan tahun untuk menghabiskan kekayaan orang-orang tertentu di daftar Forbes.
Ribuan tahun. Padahal lutut manusia mulai sakit di usia lima puluh. Gigi mulai rusak. Mata mulai kabur membaca tulisan kecil di ponsel. Tubuh manusia sebenarnya kecil sekali dibanding skala kekayaan modern.
Perut manusia juga kapasitasnya tidak berubah sejak ribuan tahun lalu. Orang terkaya dunia tetap hanya bisa makan satu steak dalam satu waktu. Tetap hanya tidur di satu ranjang pada malam hari. Tetap masuk toilet sendirian. Tetap berkeringat kalau pendingin ruangan mati. Lalu kenapa orang terus menumpuk uang sampai di luar batas logika konsumsi?
Karena pada titik tertentu, uang berhenti menjadi alat membeli barang. Ia berubah menjadi alat mengendalikan realitas.
Orang miskin berpikir uang dipakai membeli makan. Orang kelas menengah berpikir uang dipakai membeli kenyamanan. Orang superkaya sering memakai uang untuk membeli pengaruh, akses, waktu, politik, bahkan narasi publik.
Lihat bagaimana para oligarki Rusia era Boris Yeltsin menguasai stasiun televisi setelah Uni Soviet runtuh. Mereka tidak membeli media karena butuh uang iklan tambahan. Mereka membeli kemampuan membentuk persepsi jutaan orang. Kekayaan ekstrem hampir selalu berhubungan dengan kekuasaan.
Makanya banyak pejabat korup tetap mencuri bahkan ketika rekening mereka sudah gila-gilaan. Orang biasa sering bingung melihat koruptor yang sudah punya rumah besar, mobil mewah, koleksi jam tangan Swiss, tapi masih saja menilap dana bansos atau proyek infrastruktur. Karena rasa “cukup” sering tidak ada hubungannya dengan jumlah.
Korupsi besar kadang terasa seperti kecanduan. Ada sensasi mengakali sistem. Sensasi kebal hukum. Sensasi bisa menertawakan rakyat sambil duduk di ruang VIP bandara dengan jam tangan Richard Mille di tangan kiri.
Beberapa tahun lalu, publik Indonesia marah melihat foto sel tahanan Setya Novanto yang lebih mirip kamar hotel kecil. Ada televisi, kasur nyaman, makanan bagus. Orang seperti itu sebenarnya sudah melewati titik kebutuhan material biasa. Yang bekerja bukan lagi rasa lapar ekonomi, tapi rasa superioritas. Uang menjadi scoreboard.
Masalahnya, manusia modern hidup di dunia yang sangat kompetitif secara simbolik. Yacht bukan cuma kapal. Jet pribadi bukan cuma alat transportasi. Rumah 40 kamar di Beverly Hills bukan sekadar tempat tidur. Semua itu sinyal status. Semacam bahasa hierarki global.
Di Saint-Tropez atau Monaco, miliarder kadang bersaing lewat sesuatu yang bahkan terasa kekanak-kanakan; panjang yacht siapa yang lebih besar. Tahun lalu ada foto yacht milik miliarder Timur Tengah yang punya helipad ganda, kolam renang, bahkan sistem anti-rudal. Anti-rudal. Untuk kapal rekreasi. Di titik tertentu, kekayaan berubah menjadi bentuk paranoia.
Orang superkaya sering hidup dalam gelembung yang sangat aneh. Mereka jarang antre. Jarang ditolak. Jarang mendengar kata “tidak”. Mereka bisa menelepon senator, CEO media, kepala bank investasi, kapan saja. Dunia melunak di sekitar mereka.
Mungkin itu yang bikin uang sulit dihentikan. Karena yang dicari bukan lagi barang, tapi perasaan menjadi manusia yang membuat hukum normal tidak berlaku baginya.
Saya pernah membaca bagaimana Howard Hughes menghabiskan tahun-tahun terakhir hidupnya dalam kamar hotel gelap, paranoid, kuku panjang, tubuh kurus, takut kuman. Ia salah satu orang terkaya Amerika pada zamannya. Kekayaan tidak otomatis menghasilkan kehidupan yang masuk akal.
Lalu ada orang seperti Pablo Escobar yang pernah membakar uang tunai jutaan dolar hanya untuk menghangatkan anaknya saat bersembunyi di pegunungan Kolombia. Kartel Medellín menghasilkan uang terlalu banyak sampai tikus benar-benar memakan sebagian uang mereka di gudang penyimpanan.
Tikus memakan dolar. Kalimat itu terdengar seperti satire, tapi nyata.
Tubuh manusia punya batas biologis yang memalukan dibanding ambisi ekonominya. Jantung tetap bisa berhenti mendadak meski rekening penuh. Kanker tidak terlalu peduli pada angka saldo. Orang-orang terkaya Silicon Valley sekarang sibuk membeli terapi umur panjang, transfusi plasma, diet ekstrem, cryonics, suplemen anti-aging. Mereka tampak seperti sedang bernegosiasi dengan kematian memakai kartu kredit tanpa limit. Tetap saja rambut memutih.
Orang biasa sering membayangkan kalau dirinya punya uang seratus miliar rupiah, hidup akan selesai. Rumah nyaman, keluarga aman, bisa membaca buku sambil minum kopi tanpa stres tagihan listrik. Imajinasi itu masih manusiawi karena berhubungan dengan kebutuhan konkret. Kekayaan ekstrem sudah masuk wilayah abstrak.
Makanya banyak miliarder modern terdengar seperti orang yang kecanduan permainan angka. Valuasi perusahaan harus naik. Saham harus melonjak. Akuisisi harus terjadi. Ranking Forbes harus berubah. Ada wajah-wajah yang tampak gelisah bahkan setelah mencapai sesuatu yang secara matematis sudah tidak masuk akal.
Kapitalisme modern juga menciptakan struktur yang mendorong akumulasi tanpa rem. Investor menuntut pertumbuhan terus-menerus. Perusahaan teknologi tidak boleh sekadar stabil; mereka harus terus membesar. Kata yang paling dipuja Silicon Valley mungkin bukan “cukup”, tapi “scale”.
Scale. Scale. Scale.
Aplikasi pesan makanan berubah jadi perusahaan miliaran dolar. Platform foto jadi mesin iklan global. Semua harus tumbuh terus seperti organisme rakus.
Kadang saya melihat foto gudang Amazon yang luasnya seperti kota kecil. Rak-rak logistik tanpa ujung. Pekerja berjalan cepat sambil dipantau algoritma waktu. Di layar laptop, nilai saham bergerak naik turun. Ada orang di Manhattan yang bertambah kaya miliaran dolar hari itu tanpa pernah menyentuh kardus satu pun.
Sistem ekonomi modern membuat jarak antara sumber kekayaan dan tubuh manusia makin abstrak. Mungkin itu juga sebabnya banyak orang biasa sulit memahami keserakahan ekstrem. Tubuh orang biasa masih terhubung dengan kenyataan konkret; harga beras, biaya sekolah, cicilan motor, atap bocor saat hujan deras.
Sementara di level tertentu, uang sudah menjadi permainan dominasi. Dan permainan dominasi jarang punya garis finis.
Karena kalau tujuan utamanya hanya makan enak dan tidur nyaman, sebagian besar miliarder dunia sebenarnya sudah bisa pensiun total, dua puluh atau tiga puluh tahun lalu. Tapi banyak dari mereka tetap bekerja brutal. Tetap rapat. Tetap akuisisi perusahaan. Tetap perang pasar. Tetap ingin menang. Kata “menang” mungkin lebih penting daripada “kaya”.
Malam hari, orang-orang superkaya itu tetap tidur dengan mata tertutup seperti manusia lain. Tetap mendengkur. Tetap kadang terbangun jam tiga pagi. Tetap menelan obat tertentu karena asam lambung atau tekanan darah.
Lalu pagi datang lagi, pasar saham buka lagi, angka-angka bergerak lagi di layar Bloomberg.


