Ibnu Sina Pernah Keliru, tapi Itu Tidak Mengurangi Kehebatannya
https://www.belajarsampaimati.com/2026/08/ibnu-sina-pernah-keliru-tapi-itu-tidak.html
![]() |
| Ilustrasi/detik.com |
Agak rumit ketika kita menggunakan sistem atau pengetahuan yang ada saat ini untuk menilai orang—khususnya ilmuwan—di zaman lampau. Seperti yang terjadi pada Ibnu Sina.
Ibnu Sina kadang dicemooh oleh orang modern karena menggunakan teori humoral atau empat cairan tubuh sebagai fondasi utama seluruh sistem kedokterannya.
Dalam sains modern, teori humoral memang dianggap keliru. Jadi pernyataan bahwa “Ibnu Sina keliru” pada dasarnya benar secara historis. Sayangnya, pernyataan atau cemoohan itu sering dipakai dengan cara yang menyesatkan.
Mari kembali ke masa lampau.
Ibnu Sina memang menganut teori humoral (empat cairan tubuh) dan menjadikannya fondasi utama sistem medisnya. Dalam karya monumentalnya, The Canon of Medicine, kesehatan dijelaskan melalui keseimbangan empat humor: darah, dahak, empedu kuning, dan empedu hitam. Penyakit dipahami sebagai akibat ketidakseimbangan humor-humor tersebut. Itu adalah warisan dari tradisi medis Yunani, terutama Hippocrates dan Galen.
Dan dari sudut pandang kedokteran modern, teori itu memang salah. Tidak ada empat cairan tubuh yang mengendalikan kesehatan seperti yang dibayangkan teori humoral. Penyebab penyakit ternyata jauh lebih kompleks: infeksi mikroba, genetika, sistem imun, kanker, gangguan metabolik, dan sebagainya. Setelah revolusi ilmiah dan perkembangan anatomi, fisiologi, serta mikrobiologi, teori humoral akhirnya ditinggalkan.
Namun ada lompatan logika yang sering terjadi: "karena teori dasarnya salah, maka Ibnu Sina bukan ilmuwan yang hebat."
Kesimpulan itu tidak tepat.
Untuk memahami mengapa, bayangkan seseorang hidup pada tahun 1000 M. Ia tidak memiliki mikroskop. Ia tidak tahu bakteri. Ia tidak tahu virus. Ia tidak tahu DNA. Bahkan konsep sirkulasi darah modern belum ditemukan. Dalam kondisi seperti itu, hampir semua dokter di Eurasia—Muslim, Kristen, Yahudi, maupun nonreligius—bekerja dalam kerangka humoral.
Ibnu Sina tidak menciptakan teori humoral. Ketika ia lahir, teori itu sudah berusia lebih dari seribu tahun, dan merupakan paradigma medis dominan dari Spanyol sampai India. Menolak humoralisme pada abad ke-11 hampir sama sulitnya dengan menolak teori atom dalam fisika modern tanpa memiliki bukti alternatif yang lebih baik.
Yang membuat Ibnu Sina terkenal bukan karena ia menemukan teori humoral, tetapi karena ia mengorganisasi pengetahuan medis yang sangat luas; menyusun klasifikasi penyakit secara sistematis; menekankan observasi klinis; menjelaskan metode pengujian obat; menggabungkan tradisi Yunani, Persia, dan pengalaman klinisnya sendiri menjadi satu sistem yang relatif koheren.
Karena itu, Canon of Medicine menjadi buku ajar kedokteran selama berabad-abad, bahkan di universitas-universitas Eropa hingga abad ke-17.
Ada analogi yang membantu. Isaac Newton salah mengenai banyak hal menurut fisika modern. Ia percaya alkimia. Ia memiliki gagasan yang keliru tentang hakikat gravitasi. Mekanika Newton sendiri ternyata tidak sepenuhnya benar dan harus direvisi oleh Albert Einstein. Tetapi tidak ada sejarawan sains yang berkata, "Newton bukan ilmuwan penting karena teorinya salah."
Dalam sejarah sains, hampir semua tokoh besar memegang sebagian gagasan yang kemudian terbukti salah. Yang penting adalah apakah mereka mendorong pengetahuan maju dibanding zamannya. Hal yang sama berlaku untuk Ibnu Sina.
Ada aspek lain yang menarik. Sebagian orang modern mengira bahwa jika seorang tokoh besar salah dalam satu hal, maka seluruh pemikirannya harus dibuang. Itu sebenarnya cara berpikir yang ahistoris. Sejarah ilmu pengetahuan justru kuburan raksasa teori-teori yang dulu dianggap benar. Teori geosentris, teori flogiston, teori miasma, teori humoral, teori eter luminiferous—semuanya pernah menjadi sains arus utama.
Yang membedakan ilmuwan dari nabi bukanlah bahwa ilmuwan selalu benar. Justru sains berkembang karena ilmuwan bisa salah, lalu dikoreksi oleh generasi berikutnya.
Karena itu, jika seseorang berkata, "Ibnu Sina percaya teori humoral, maka ia keliru," maka pernyataan itu benar.
Tetapi jika seseorang berkata, "Karena teori humoral salah, maka Ibnu Sina bukan ilmuwan hebat," maka itu tidak mengikuti secara logis.
Penilaian sejarah biasanya lebih bernuansa: Ibnu Sina adalah salah satu dokter dan filsuf paling berpengaruh dalam sejarah dunia, tetapi fondasi teoritis kedokterannya—sebagaimana hampir seluruh kedokteran pra-modern—kemudian terbukti salah oleh perkembangan ilmu pengetahuan berikutnya.
Kedua hal itu bisa benar pada saat yang sama. Seorang tokoh bisa sangat berpengaruh, sangat cerdas, bahkan luar biasa maju untuk zamannya, sambil tetap memegang teori yang kini kita ketahui keliru. Itulah pola yang berulang terus-menerus dalam sejarah sains.
Catatan terkait: Al-Masihi, Ilmuwan dan Dokter yang Menjadi Guru Ibnu Sina


