I Spit on Your Grave, Kisah Balas Dendam yang Sangat Memuaskan

Ilustrasi/netflix.com
Bak mandi penuh darah. Kepala seorang pria ditenggelamkan perlahan sambil matanya melotot panik. Jennifer Hills berdiri tenang, nyaris tanpa ekspresi, seolah sedang menyelesaikan pekerjaan rumah yang tertunda terlalu lama. Air merah bergoyang pelan terkena gerakan tubuh yang sekarat. Film belum selesai, tapi penonton sudah tahu arah akhirnya; tidak akan ada pengampunan di sini. Lalu rasa puas itu datang. Aneh, agak memalukan, tapi nyata.

I Spit on Your Grave versi 2010 memang film yang membuat banyak orang tidak nyaman mengakui kenikmatan mereka saat menontonnya. Film ini sadis sekali. Brutal, bahkan. Roger Ebert dulu pernah menyebut versi original tahun 1978 sebagai salah satu film paling menjijikkan yang pernah dibuat. Remake tahun 2010 karya Steven R. Monroe tidak melunakkan apa pun. Ia justru memperpanjang rasa sakitnya. Pemerkosaan di film ini terasa kotor, lama, dan melelahkan secara mental. Mata bisa pedih sendiri melihatnya.

Jennifer Hills, diperankan Sarah Butler, datang ke kabin terpencil di Louisiana untuk menulis novel. Rumah kayu itu berada di tengah hutan dekat danau, jauh dari kota. Jalannya sepi. Pom bensin kecil. Penduduk lokal saling kenal. Jenis tempat yang membuat orang luar langsung terlihat asing. Lalu muncul Johnny, Stanley, Andy, dan Matthew.

Mereka bukan monster bergaya Hannibal Lecter yang penuh kecerdasan teatrikal. Mereka lebih buruk; pria-pria biasa dengan kebodohan kecil, ego kampung, dan keberanian berkelompok. Johnny diperankan Jeff Branson dengan wajah merah mabuk dan tatapan yang seperti sudah terbiasa melecehkan orang. Stanley paling menyebalkan justru karena ia tampak pengecut. Matthew masih muda dan ragu-ragu, tapi tetap ikut memperkosa. Storch, si sheriff lokal, menggunakan otoritasnya untuk membantu semuanya.

Film ini paham sesuatu yang sering bikin orang gelisah; kekerasan seksual sering dilakukan bukan oleh monster eksotis, tapi oleh pria biasa yang hidup normal di siang hari.

Bagian pertama film hampir terasa seperti hukuman untuk penonton. Pemerkosaan Jennifer berlangsung panjang sekali. Tidak “artistik”. Tidak dibungkus musik indah atau permainan kamera cerdas. Tubuh Jennifer diseret, dipukul, ditelanjangi, dilempar. Ada lumpur. Ada air mata bercampur tanah. Napas tercekik. Kulit lecet. Steven R. Monroe sengaja membuat adegan itu terasa melelahkan. Banyak penonton tersiksa selama di bagian ini.

Saya mengerti kenapa. Ada perasaan jijik yang sulit dibersihkan sesudahnya. Bahkan setelah layar mati. Bahkan setelah lampu kamar dinyalakan. Rasanya seperti habis memegang sesuatu yang kotor. 

Lalu Jennifer bangkit.

Film revenge seperti ini sebenarnya punya struktur yang sangat tua; korban dihancurkan, lalu kembali sebagai algojo. Genre ini bahkan punya istilah sendiri di dunia exploitation cinema; rape-revenge. Tahun 1970-an penuh film semacam itu, dari Thriller: A Cruel Picture sampai Ms. 45. Sebagian memang murahan dan eksploitatif, tapi ada alasan kenapa genre ini terus hidup. Penonton ingin melihat predator dihukum tanpa negosiasi moral.

Hollywood modern sering takut pada rasa puas seperti itu. Mereka lebih nyaman dengan jalur legal, terapi trauma, rekonsiliasi, atau pidato moral tentang siklus kekerasan. I Spit on Your Grave membuang semua itu ke selokan.

Jennifer tidak mencari polisi. Tidak mencari pengadilan. Ia berubah menjadi mesin penghancur.

Adegan pembalasannya terkenal karena kreativitasnya yang kejam. Satu pria diikat lalu dipaksa telungkup di atas bathtub sebelum kepalanya dihancurkan. Yang lain dikebiri menggunakan gunting taman. Ada kail pancing. Ada larutan asam. Tubuh-tubuh pria yang tadi tertawa saat memperkosanya kini menjerit seperti hewan disembelih. Dan, ya, banyak penonton menikmatinya.

Ada orang yang malu mengakui hal itu karena takut terdengar barbar. Tapi rasa puas tersebut nyata sekali. Sulit untuk tidak merasakannya ketika film sebelumnya memperlihatkan Jennifer dihancurkan begitu total. Otak manusia kadang bekerja sangat primitif. Ketika melihat ketidakadilan ekstrem, muncul dorongan untuk melihat keseimbangan dipulihkan secara brutal. Kepuasan itu bukan hal yang elegan, memang.

Banyak kritik terhadap film ini sebenarnya valid. Sebagian feminis menganggap I Spit on Your Grave tetap eksploitatif karena tubuh perempuan tetap dijadikan objek penderitaan untuk hiburan. Ada juga yang merasa film ini terlalu menikmati penyiksaan. Mereka tidak sepenuhnya salah. Kamera memang linger terlalu lama pada tubuh Jennifer saat diperkosa. Ada rasa voyeuristik yang sulit dibantah.

Tapi film ini juga menolak memberi kenyamanan pada pelaku. Tidak ada usaha membuat para pemerkosa tampak “kompleks” atau “produk lingkungan”. Tidak ada flashback sedih masa kecil mereka. Mereka sampah, dan film memperlakukan mereka seperti sampah.

Kadang saya lebih menghargai kebrutalan jujur seperti itu dibanding film yang pura-pura manusiawi sambil tetap mengeksploitasi korban.

Storch si sheriff mungkin karakter paling busuk di film. Ia datang membawa lencana dan senyum tenang, lalu menggunakan posisinya untuk menutupi kejahatan. Ada sesuatu yang sangat menjengkelkan tentang tipe manusia seperti itu. Predator yang merasa aman karena punya kuasa kecil di daerah terpencil. Jenis orang yang kalau muncul di berita nyata sering membuat publik marah beberapa hari, lalu semua hilang begitu saja. 

Waktu Jennifer akhirnya membalas Storch, rasa puasnya berbeda. Lebih dingin. Tidak meledak-ledak seperti adegan lain. Seperti mencabut paku busuk dari kaki. 

Film ini memang tidak realistis sepenuhnya. Tubuh Jennifer terlalu cepat pulih. Beberapa jebakan pembalasannya terasa hampir seperti film Saw. Tapi logika realistis bukan alasan orang menonton film ini. Penonton datang untuk melihat dunia yang biasanya melindungi predator tiba-tiba berbalik menghancurkan mereka. Dan film ini memberikannya tanpa rasa malu.

Sarah Butler sendiri tampil menarik karena ia tidak memainkan Jennifer sebagai “final girl” ala slasher biasa. Setelah bangkit, wajahnya nyaris kosong. Tatapannya dingin. Tubuhnya bergerak seperti orang yang sebagian jiwanya sudah mati. Ia tidak menjadi simbol empowerment yang glamor. Tidak ada montage latihan keren. Tidak ada musik heroik. Tubuh Jennifer tetap tampak rapuh bahkan ketika membunuh.

Saya masih ingat detail kecil yang terasa mengganggu waktu pertama menonton film ini larut malam; suara sepatu Jennifer saat berjalan di rumah kayu setelah pembalasan dimulai. Bunyi kayu berderit pelan. Tidak ada musik beberapa detik. Hanya langkah dan napas. Tangan saya bahkan sempat dingin sendiri memegang gelas karena suasana film terasa terlalu dekat.

Lalu Stanley mulai berteriak.

Orang sering bilang, balas dendam tidak menyelesaikan apa pun. Kalimat itu mungkin benar di dunia nyata. Trauma tidak hilang hanya karena pelaku mati. Luka psikologis tidak otomatis sembuh. Tetapi film seperti I Spit on Your Grave hidup di wilayah emosi yang lebih gelap dari seminar moral. Film ini berbicara pada bagian manusia yang marah melihat predator seksual terus lolos, terus hidup normal, terus tertawa.

Apalagi berita nyata sering lebih menjijikkan daripada film exploitation mana pun. Kasus pemerkosaan yang dihentikan karena pelaku “anak baik”. Korban diintimidasi. Polisi meremehkan laporan. Sidang berubah jadi penghakiman terhadap korban. Semua itu nyata.

Maka ketika Jennifer Hills memasang jebakan, menyalakan kamera video, lalu mulai menyiksa satu demi satu pria yang menghancurkannya, banyak penonton tidak sedang mencari pelajaran moral. Mereka mencari pelepasan.

Mungkin itu yang membuat film ini bertahan dalam ingatan. Bukan karena ia film yang “baik” secara nyaman. Film ini kotor. Kadang menjijikkan. Kadang terasa terlalu jauh. Tapi ia berani masuk ke tempat yang biasanya disensor oleh film arus utama; tempat kemarahan manusia tidak sopan, tidak elegan, dan tidak tertarik mendengar ceramah.

Menjelang akhir, Jennifer meninggalkan rumah dalam keadaan sunyi. Tubuh-tubuh sudah hancur. Darah mengering di lantai kayu. Kamera bergerak pelan melewati sisa pembantaian.

Tidak ada polisi datang. Tidak ada pidato penyesalan. Cuma lalat yang mulai berdengung di udara.


Related

Entertainment 1811143530893010484

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item