Grotesque, Film Gila yang Sebaiknya Tidak Ditonton Orang Waras
https://www.belajarsampaimati.com/2026/07/grotesque-film-yang-sebaiknya-tidak.html
![]() |
| Ilustrasi/onderhond.com |
Darah di film tidak lagi terlihat seperti darah. Warnanya terlalu merah, terlalu licin, terlalu sering muncul, sampai otak berhenti menganggapnya tubuh manusia. Di satu adegan, kulit disayat perlahan seperti orang membuka bungkus plastik makanan. Kamera tidak berpaling. Tidak ada musik emosional yang mencoba membuat penonton sedih. Tidak ada usaha memberi makna. Hanya bunyi napas, jeritan yang pecah, dan tatapan seorang pria berbaju dokter—dingin, datar, hampir bosan.
Grotesque bukan film yang “menakutkan” dalam pengertian biasa. Ia tidak bermain seperti The Ring atau Ju-On: The Grudge yang masih menyisakan atmosfer, misteri, atau rasa tidak aman psikologis. Film garapan Kōji Shiraishi ini terasa seperti seseorang menemukan kamera, lalu memutuskan merekam fantasi mutilasi yang terlalu lama dipendam di kepala.
Plotnya nyaris tidak penting. Sepasang kekasih, Aki dan Kazuo, baru saja menikmati malam. Mereka diculik oleh seorang dokter sadis tanpa nama, diperankan Shigeo Ôsako. Setelah itu film berubah jadi parade penyiksaan. Gigi dicabut. Lidah dipotong. Alat kelamin dihancurkan. Tubuh manusia dipreteli bagian demi bagian seperti eksperimen anatomi murahan di ruang praktik ilegal.
Selesai.
Bahkan kata “selesai” terasa terlalu mewah untuk film ini, karena sebenarnya tidak ada perkembangan apa pun. Tidak ada lapisan psikologis yang rumit. Sang dokter tidak punya latar belakang emosional menarik. Ia bukan monster tragis. Ia cuma orang yang menikmati rasa sakit orang lain. Titik.
Saya menontonnya beberapa tahun lalu dalam kualitas video yang buruk, mungkin hasil rip DVD. Gambarnya agak kusam. Suara jeritannya pecah. Mata terasa pedih bukan karena sedih, tapi karena sadar sedang memaksakan diri melihat sesuatu yang sebenarnya tidak ingin saya lihat. Ada momen ketika tangan korban dipaku dan kamera diam terlalu lama. Saya ingat refleks kecil yang aneh; saya memegang gelas minum lebih keras tanpa sadar. Seperti tubuh sedang memberi sinyal ke otak, “cukup.”
Tetapi film terus berjalan.
Orang sering bilang, horor ekstrem adalah bentuk seni yang mendorong batas. Kalimat itu terdengar keren di forum-forum film bawah tanah. Saya pernah membaca diskusi penggemar gore yang memperlakukan Grotesque seperti pencapaian teknis. Mereka membahas efek prostetiknya, kualitas makeup luka, keberanian sutradara, sensor di Inggris yang sempat melarang peredarannya. Tahun 2009, British Board of Film Classification memang menolak memberikan sertifikasi karena film ini dianggap terlalu sadis dan tidak memiliki “contextual justification”. Kalimat birokratis yang sebenarnya berarti; film ini cuma menyiksa orang selama lebih dari satu jam.
Saya sulit menyangkal keputusan itu.
Masalah terbesar film seperti Grotesque bukan sekadar kekerasannya. Bioskop penuh kekerasan sejak lama. A Clockwork Orange brutal. Martyrs brutal. Cannibal Holocaust juga menjijikkan. Tetapi masih ada sesuatu yang dicari di balik kebrutalan itu—komentar sosial, eksperimen psikologi, kritik agama, kritik media, nihilisme, atau sekurangnya rasa putus asa manusia.
Grotesque terasa kosong. Kekerasannya tidak menuju ke mana-mana selain ke kekerasan berikutnya. Itu yang membuat saya terus terganggu.
Karena kalau seseorang menghabiskan waktu menulis skenario seperti itu, mengatur pencahayaan, mendesain alat penyiksaan, mengarahkan aktor untuk menjerit lebih meyakinkan—apa sebenarnya yang sedang dipuaskan? Pertanyaan itu lebih menyeramkan daripada isi filmnya sendiri.
Orang suka buru-buru berkata, “Ini cuma hiburan.” Saya tidak sepenuhnya percaya. Hiburan juga punya pola psikologis. Orang menonton komedi karena ingin tertawa. Orang menonton drama perang karena ingin merasakan ketegangan, heroisme, atau tragedi. Penonton Grotesque mencari apa? Sensasi jijik? Adrenalin? Atau kenikmatan melihat tubuh manusia dihancurkan tanpa konsekuensi moral?
Ada komunitas kecil penggemar extreme horror yang memang menikmati batas itu. Mereka membandingkan level mutilasi seperti orang membandingkan kualitas kopi. Film Prancis terlalu filosofis. Film Jepang lebih “gila”. Film Amerika terlalu aman. Saya pernah masuk ke forum lama yang membahas adegan paling brutal dalam sinema. Nama Grotesque muncul berkali-kali bersama Guinea Pig dan August Underground. Cara mereka menulis kadang membuat bulu kuduk berdiri—bukan karena sadis, tapi karena nadanya terlalu santai. Seolah sedang bicara soal spesifikasi motor.
Mungkin di situlah rasa curiga itu muncul; jangan-jangan film seperti Grotesque memang dibuat untuk orang-orang yang memiliki hubungan aneh dengan penderitaan.
Saya tahu itu tuduhan keras. Tidak semua penonton gore adalah psikopat. Banyak yang cuma penasaran. Banyak juga yang melihatnya sebagai bentuk ekstrem seni eksploitasi. Tetapi tetap ada garis yang terasa mengganggu ketika kekerasan kehilangan konteks manusia, dan berubah jadi fetish visual.
Tubuh perempuan dalam Grotesque disiksa sangat lama. Kamera menikmati setiap detail luka. Saya memakai kata “menikmati” dengan sengaja, karena memang terasa begitu. Kamera tidak terlihat jijik. Kamera tidak terguncang. Kamera seperti mata seseorang yang sedang puas.
Sutradaranya, Kōji Shiraishi, sebenarnya bukan nama sembarangan dalam horor Jepang. Ia membuat Noroi: The Curse yang justru atmosferiknya kuat dan punya struktur cerita cerdas. Itu membuat Grotesque terasa lebih aneh lagi. Orang yang mampu membuat horor psikologis efektif tiba-tiba menghasilkan film yang seperti rekaman ruang penyiksaan.
Saya tidak tahu apakah pembuat film semacam ini “gila”. Kata itu terlalu mudah dilempar. Kehidupan manusia lebih rumit daripada diagnosis dadakan dari penonton marah. Banyak seniman memang tertarik pada sisi gelap manusia tanpa harus menjadi pelaku kekerasan. Takashi Miike membuat Audition tanpa harus mencabuti kaki orang sungguhan.
Tetapi saya juga tidak bisa berpura-pura netral dan mengatakan semua itu sekadar eksperimen artistik yang sah-sah saja. Tubuh punya reaksi jujur yang kadang lebih cerdas daripada teori film. Rasa mual itu nyata. Keinginan memalingkan mata itu nyata. Ada sesuatu dalam diri manusia yang menolak melihat penderitaan terlalu lama tanpa alasan.
Mungkin karena kita tahu rasa sakit bukan hiburan ketika terjadi sungguhan.
Ironisnya, film seperti Grotesque sering mendapat aura “berani” hanya karena ekstrem. Padahal membuat penonton jijik bukan hal sulit. Internet penuh video kecelakaan nyata yang lebih menghancurkan daripada film mana pun. Orang bisa membuka forum gelap dan menemukan kekerasan asli dalam hitungan menit. Kalau ukuran keberanian seni cuma seberapa jauh tubuh manusia bisa dihancurkan di layar, itu ukuran yang miskin sekali.
Saya ingat satu detail kecil yang justru lebih mengganggu daripada semua adegan mutilasi dalam Grotesque. Setelah salah satu penyiksaan, dokter di film itu duduk santai sambil minum. Tenang sekali. Tidak histeris. Tidak marah. Seperti pegawai kantor yang baru menyelesaikan rutinitas sore.
Entah kenapa adegan itu yang tertinggal paling lama di kepala saya. Bukan darahnya. Bukan potongan tubuhnya. Tapi cara seseorang yang bisa begitu dingin terhadap penderitaan orang lain.


