Pembantaian Strasbourg: Dua Ribu Orang Yahudi Dibakar Hidup-hidup
https://www.belajarsampaimati.com/2026/08/pembantaian-strasbourg-dua-ribu-orang.html
![]() |
| Ilustrasi/wikipedia.org |
Asap dari tubuh manusia yang terbakar pernah memenuhi udara Strasbourg. Orang-orang berteriak. Kayu retak di dalam api. Bau yang muncul bukan bau kayu bakar biasa. Kota itu sedang membunuh ratusan tetangganya sendiri, dan banyak pelakunya merasa sedang melakukan sesuatu yang perlu.
Bagian paling mengganggu dari peristiwa semacam itu bukan kebencian. Kebencian sudah cukup buruk. Yang lebih mengganggu adalah keyakinan. Keyakinan bahwa mereka sedang menyelamatkan kota. Keyakinan bahwa mereka telah menemukan penyebab bencana. Keyakinan bahwa setelah musuh dihancurkan, keadaan akan membaik.
Manusia sering lebih berbahaya ketika merasa sedang bertindak demi keselamatan bersama.
Pada pertengahan abad ke-14, Eropa sedang mengalami sesuatu yang nyaris tidak bisa dibayangkan oleh masyarakat modern. Kematian hadir dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Seseorang sehat pada pagi hari. Beberapa hari kemudian muncul demam tinggi. Benjolan besar tumbuh di leher, selangkangan, atau ketiak. Kulit menghitam pada beberapa bagian tubuh. Banyak korban meninggal dalam waktu sangat singkat. Kita sekarang menyebutnya Black Death.
Kita tahu penyebabnya: bakteri Yersinia pestis, biasanya menyebar melalui kutu yang hidup pada tikus. Pengetahuan itu baru muncul berabad-abad kemudian. Orang-orang abad ke-14 tidak memiliki mikroskop. Mereka tidak mengenal teori kuman. Mereka tidak memiliki laboratorium mikrobiologi.
Mereka hanya memiliki mata. Mereka melihat mayat. Mereka melihat kuburan penuh. Mereka melihat anak-anak mati. Mereka melihat imam mati. Mereka melihat dokter mati. Ketika kematian bergerak seperti badai dan tidak seorang pun dapat menjelaskan penyebabnya, pikiran manusia mulai bekerja dengan cara yang sangat tua. Pikiran mulai berburu pelaku.
Saya sering merasa bahwa kebutuhan menemukan pelaku jauh lebih kuat daripada kebutuhan menemukan kebenaran. Kebenaran sering lambat. Kebenaran membutuhkan bukti. Kebenaran kadang menjawab, "Kami belum tahu."
Ketakutan tidak sabar menunggu jawaban seperti itu. Orang-orang membutuhkan sesuatu yang bisa ditunjuk. Seseorang. Sekelompok orang. Tetangga. Orang asing. Kelompok minoritas. Apa saja yang memiliki wajah.
Komunitas Yahudi di Eropa sudah lama hidup dalam posisi yang rentan sebelum pes datang. Mereka sering tinggal dalam lingkungan yang terpisah. Mereka memiliki praktik keagamaan yang berbeda. Mereka menjadi sasaran prasangka ekonomi, sosial, dan keagamaan selama berabad-abad. Banyak orang Kristen memandang mereka dengan curiga bahkan pada masa normal.
Pes mengubah kecurigaan menjadi tuduhan. Rumor mulai menyebar bahwa orang Yahudi meracuni sumur. Tuduhan itu terdengar absurd bagi telinga modern. Masalahnya, rumor tidak membutuhkan logika yang baik untuk menyebar. Rumor hanya membutuhkan kecocokan emosional.
Ketika seseorang meninggal setelah minum air dari sumur, cerita tersebut tampak masuk akal bagi orang yang tidak memiliki penjelasan lain.
Di beberapa tempat, pengakuan diperoleh melalui penyiksaan. Di bawah siksaan, manusia akan mengaku hampir apa saja. Nama-nama baru disebut. Konspirasi baru diciptakan. Rumor memperoleh bahan bakar tambahan.
Kota-kota mulai terbakar oleh kepanikan. Basel. Mainz. Cologne. Speyer. Worms. Daftarnya panjang. Strasbourg menjadi salah satu episode paling terkenal dan paling mengerikan.
Yang membuat kasus Strasbourg semakin suram adalah fakta bahwa wabah pes bahkan belum mencapai puncaknya di kota tersebut ketika pembantaian terjadi. Sebagian pemimpin kota sebenarnya sempat menolak tuduhan terhadap komunitas Yahudi. Mereka tidak menemukan bukti yang meyakinkan.
Tapi tekanan massa terus meningkat. Tekanan politik meningkat. Kepemimpinan kota berubah. Situasi bergerak cepat ke arah yang buruk.
Pada Februari 1349, sekitar dua ribu orang Yahudi—angka pastinya masih diperdebatkan para sejarawan—ditangkap. Banyak dari mereka dibawa ke sebuah lokasi dekat pemakaman Yahudi. Sebuah struktur kayu besar didirikan. Mereka dibakar hidup-hidup.
Sebagian sumber menyebut beberapa orang memilih bunuh diri sebelum dieksekusi. Sebagian keluarga mencoba menghindari baptisan paksa yang ditawarkan sebagai jalan keluar. Api menyelesaikan sisanya.
Kita sering membayangkan kekejaman sejarah sebagai tindakan yang dilakukan oleh monster. Gambaran itu terasa nyaman karena menciptakan jarak. Masalahnya, sebagian besar pelaku kekerasan massal dalam sejarah bukan monster dalam pengertian fiksi. Mereka adalah manusia biasa yang berhasil meyakinkan diri bahwa tindakan mereka masuk akal.
Saya tidak menulis kalimat itu dengan nyaman, jujur saja.
Membaca kronik-kronik abad pertengahan kadang membuat tenggorokan terasa kering. Para penulis sering mencatat pembantaian dengan nada yang nyaris administratif. Nama dicatat. Tanggal dicatat. Harta benda disita. Utang dibatalkan. Kehidupan berlanjut.
Kota-kota memiliki kemampuan yang luar biasa untuk melanjutkan aktivitas setelah melakukan sesuatu yang mengerikan.
Satu detail yang sering luput mendapat perhatian adalah aspek ekonomi dari semua itu. Banyak orang Yahudi terlibat dalam aktivitas peminjaman uang karena berbagai pembatasan profesi yang berlaku saat itu. Ketika komunitas Yahudi dihancurkan, banyak utang ikut menghilang. Kreditur mati. Catatan utang lenyap. Properti berpindah tangan.
Kebencian jarang berjalan sendirian. Kebencian sering ditemani kepentingan. Tidak setiap orang yang ikut mendukung penganiayaan memikirkan teologi. Sebagian memikirkan uang. Sebagian memikirkan posisi sosial. Sebagian memikirkan kesempatan memperoleh rumah atau tanah. Banyak tragedi sejarah terlihat lebih jelas ketika mengikuti jejak kepemilikan.
Pikiran saya terus kembali pada sumur. Sumur adalah simbol yang menarik dalam kisah ini. Orang-orang percaya sumur telah diracuni. Mereka membayangkan musuh memasukkan racun ke dalam air. Mereka membayangkan kejahatan memiliki bentuk yang sederhana dan mudah dipahami.
Realitas sebenarnya jauh lebih kejam. Musuh mereka tidak bersembunyi di dekat sumur. Musuh mereka bersembunyi di bulu tikus. Musuh mereka menumpang kutu. Musuh mereka tidak memiliki niat. Tidak memiliki agama. Tidak memiliki bahasa. Tidak memiliki kebencian. Bakteri tidak peduli pada identitas korbannya.
Kematian biologis dan imajinasi manusia bergerak pada jalur yang berbeda. Salah satunya membunuh tubuh. Satunya lagi dapat membunuh masyarakat.
Pes mereda pada akhirnya. Bukan karena sumur dapat diamankan dari peracunan yang tidak pernah terjadi. Bukan karena orang Yahudi dibakar. Wabah mengikuti dinamika epidemi yang tidak dipahami masyarakat saat itu.
Orang-orang yang dibunuh tidak kembali. Nama-nama mereka sebagian besar hilang. Dokumen abad pertengahan lebih sering menyimpan nama para pejabat daripada nama korban. Kadang hanya angka yang tersisa. Ratusan. Ribuan. Statistik memiliki cara yang aneh untuk menghapus wajah.
Ketika membaca kisah Strasbourg, saya sering merasa bahwa inti ceritanya bukan pes. Inti ceritanya adalah sesuatu yang lebih tua dan lebih tahan lama daripada bakteri. Keinginan menemukan kambing hitam muncul berulang kali dalam sejarah dengan kostum yang berbeda-beda. Musuh berganti. Rumor berganti. Teknologi berganti. Polanya tetap dikenali.
Di tepi Sungai Rhine, kota Strasbourg masih berdiri. Wisatawan berjalan di jalan-jalan batu tua. Katedral Strasbourg masih menjulang. Kafe-kafe masih penuh percakapan. Pada hari-hari tertentu, matahari sore memantul dari jendela-jendela tua dengan warna keemasan yang lembut.
Di bawah lapisan kehidupan modern itu pernah berdiri tumpukan kayu besar. Orang-orang berkumpul mengelilinginya. Mereka yakin telah menemukan penyebab bencana.


