Klaim Luar Biasa Memerlukan Bukti Luar Biasa, dan Masalahnya

Ilustrasi/excellencereporter.com
Di studio televisi tahun 1980-an, di bawah lampu panas dan dekor kosmik meriah khas acara sains Amerika, Carl Sagan duduk dengan suara tenang yang nyaris terlalu tenang untuk acara televisi. Ia tidak berteriak. Tidak menggebrak meja. Tidak memakai retorika pendeta. Kalimatnya justru terdengar seperti orang yang sedang membetulkan posisi gelas di meja makan, “Extraordinary claims require extraordinary evidence.”

Kalimat itu lalu hidup jauh lebih lama daripada banyak teori ilmiah yang dulu tampak kukuh pada zamannya.

Sekarang kalimat itu berkeliaran di internet seperti anjing liar. Dipakai untuk menyerang video UFO. Dipakai untuk mengejek dukun pengganda uang. Dipakai orang ateis ketika berdebat dengan orang beragama. Kadang dipakai orang yang bahkan tidak pernah membaca satu halaman pun buku Sagan. Sebagian besar mengenalnya hanya sebagai meme intelektual; kalau klaimmu aneh, buktimu harus lebih kuat daripada omongan biasa.

Masalahnya, manusia sering salah paham terhadap bagian “luar biasa”.

Banyak orang mengira “luar biasa” berarti “saya tidak suka klaim itu”. Padahal sejarah ilmu pengetahuan penuh dengan hal-hal yang dulu terdengar gila. Dokter Hungaria bernama Ignaz Semmelweis pernah dimusuhi karena meminta dokter mencuci tangan sebelum membantu persalinan. 

Tahun 1840-an, di Rumah Sakit Umum Wina, bangsal bersalin penuh bau darah, kain kotor, dan tangan dokter yang baru saja memegang mayat di ruang otopsi lalu masuk ke ruang ibu melahirkan tanpa cuci tangan. Semmelweis melihat angka kematian ibu turun drastis setelah dokter mencuci tangan dengan larutan kaporit. Bukti statistiknya ada. Tetap saja ia dianggap sinting.

Orang-orang terpelajar waktu itu tersinggung bukan karena datanya salah, tetapi karena implikasinya menghina mereka; “jadi selama ini kami yang membunuh pasien?”

Ilmu pengetahuan tidak selalu bergerak seperti robot steril yang dingin dan objektif. Kadang bergerak seperti geng. Punya ego. Punya senioritas. Punya rasa malu kolektif.

David Hume sudah menulis persoalan ini jauh sebelum Sagan lahir. Dalam esai “Of Miracles” tahun 1748, Hume membahas mukjizat dengan cara yang membuat banyak rohaniwan gereja geram. Menurut Hume, ketika seseorang mengaku melihat orang mati hidup kembali, pilihan rasionalnya bukan langsung percaya mukjizat, tapi bertanya; mana yang lebih mungkin? Hukum alam runtuh, atau manusia berbohong dan salah melihat?

Argumen Hume terasa sangat modern. Bahkan terlalu modern untuk abad ke-18. Ia seperti skeptikus Twitter yang tersesat ke zaman wig putih dan lilin gereja.

Di titik tertentu, prinsip itu memang sehat. Tanpa skeptisisme, manusia mudah jatuh pada kegilaan massal. Tahun 1917, dua gadis kecil di Fatima, Portugal, mengaku melihat penampakan Bunda Maria. Ribuan orang datang. Surat kabar memberitakan “matahari menari”. Orang-orang menangis histeris di ladang berlumpur. Sebagian mengaku pakaian mereka yang basah tiba-tiba kering secara ajaib. Sampai hari ini, peristiwa itu masih dipercaya jutaan orang.

Kalau dipikir pelan-pelan, manusia memang aneh. Ribuan orang bisa berkumpul di satu tempat, saling mempengaruhi emosi, lalu melihat sesuatu yang belum tentu sama. Psikologi massa bekerja seperti demam.

Bau tanah basah. Tubuh berimpitan. Mata menatap langit terlalu lama sampai retina berdenyut. Lalu seseorang berteriak, “Lihat!”

Kadang satu teriakan cukup untuk menciptakan realitas bersama.

Marcello Truzzi, skeptikus yang sebenarnya memakai frasa itu sebelum Sagan memopulerkannya, justru punya sikap yang lebih rumit daripada para skeptikus internet sekarang. Marcello Truzzi sering mengkritik skeptisisme yang berubah menjadi agama baru. Ia menyebut sebagian skeptikus sebagai pseudoskeptics—orang yang mengaku rasional tetapi sebenarnya sudah memutuskan kesimpulan sejak awal. Mereka menuntut bukti setinggi langit untuk hal yang tidak mereka sukai, tetapi sangat longgar terhadap keyakinan kelompok sendiri.

Lucu melihat manusia bicara soal “beban pembuktian” sambil membawa beban emosional sendiri-sendiri.

Orang percaya teori konspirasi karena ingin merasa tahu rahasia besar. Orang anti-konspirasi kadang juga punya candu yang sama; ingin merasa lebih waras dari massa. Dua-duanya haus identitas.

Pisau Occam sering dibawa masuk ke diskusi ini. Prinsip lama dari William of Ockham yang kira-kira berbunyi, “Jangan menambah penjelasan rumit jika penjelasan sederhana sudah cukup.” Kalau lampu rumah mati, kemungkinan besar karena listrik padam, bukan karena alien menyedot energi dari atap.

Masuk akal.

Tetapi hidup manusia sering tidak tunduk pada penjelasan paling sederhana. Pembunuhan John F. Kennedy, misalnya. Selama puluhan tahun orang terus membongkar foto Dealey Plaza di Dallas seperti arkeolog paranoid. Film Zapruder diputar lambat, dipelototi frame demi frame. Kepala Kennedy meledak ke belakang. Lee Harvey Oswald dituduh bertindak sendirian. Sebagian orang tetap tidak percaya sampai mati.

Bukan karena semua teori konspirasi benar. Banyak yang memang sampah. Masalahnya, sejarah modern memberi terlalu banyak contoh kebohongan resmi. Pemerintah Amerika pernah menjalankan eksperimen Tuskegee terhadap warga kulit hitam penderita sifilis, tanpa pengobatan layak selama puluhan tahun. CIA pernah menjalankan proyek MK-Ultra. Arsip-arsip intelijen penuh halaman hitam hasil sensor.

Setelah berkali-kali dibohongi institusi besar, sebagian orang kehilangan refleks percaya.

Lalu internet datang dan menghancurkan semuanya sekaligus.

Sekarang, seseorang bisa merekam cahaya aneh di langit Arizona, mengunggahnya ke TikTok, lalu dalam tiga jam muncul ribuan analisis amatir, video debunking, podcast, thread Reddit, dan orang-orang dengan lingkar mata hitam yang menghubungkan semuanya dengan Area 51. Sebagian memakai prinsip Sagan untuk menolak klaim UFO. Sebagian memakai prinsip yang sama justru untuk menyerang pemerintah; “kalau kalian bilang itu cuma balon cuaca, mana buktinya?”

Kaidah yang awalnya dimaksudkan untuk melindungi rasionalitas berubah jadi senjata semua kubu.

Saya pikir, ada hal lain yang lebih gelap di balik semua ini; manusia sebenarnya tidak tahan berada terlalu lama dalam ketidakpastian. Otak kita ingin penutup. Ingin jawaban final. Ingin pegangan yang bisa dibawa tidur.

Maka lahirlah dua spesies yang sama melelahkan. 

Orang yang percaya apa saja. 

Orang yang menolak apa saja.

Keduanya sering memakai nada suara yang sama yakin.

Di toko buku Gramedia, bagian “self improvement” kadang dipenuhi buku pseudoscience tentang energi semesta dan vibrasi kuantum. Kata “kuantum” dipakai seperti saus serbaguna. Fisika dicampur motivasi bisnis. Sebagian pembaca mengangguk-angguk sambil minum kopi dingin dalam gelas plastik. Di sisi lain, ada tipe manusia yang mendengar cerita pengalaman mistis orang lain, lalu langsung tertawa sinis seperti mesin kasir rusak. Belum tentu ia lebih rasional. Bisa jadi cuma lebih sombong.

Sains sendiri tidak pernah benar-benar nyaman dengan kepastian mutlak. Orang sering lupa bahwa teori ilmiah terbaik sekalipun sebenarnya cuma model kerja yang belum runtuh. Newton tampak tak tergoyahkan sampai Albert Einstein datang membawa relativitas. Fisika klasik retak pelan-pelan.

Bahkan sekarang, fisikawan masih bertengkar soal materi gelap, energi gelap, dan apa sebenarnya isi terbesar alam semesta yang tak terlihat itu. Ironis sekali; manusia modern mengejek takhayul sambil hidup dalam kosmos yang 95 persennya bahkan belum benar-benar dipahami.

Rak buku Sagan sendiri penuh paradoks. Ia skeptis terhadap UFO, tetapi sangat terbuka terhadap kemungkinan kehidupan alien. Ia mengkritik astrologi, tetapi begitu romantis ketika bicara bintang. Wajahnya di Cosmos tampak seperti guru yang percaya akal sehat sekaligus sadar bahwa alam semesta jauh lebih liar daripada ego manusia.

Kalimat “klaim luar biasa memerlukan bukti luar biasa” terdengar sederhana. Praktiknya berantakan. Selalu berantakan.

Siapa yang menentukan ukuran “luar biasa”? Mayoritas? Negara? Akademisi? Algoritma?

Di internet sekarang, orang bisa dianggap gila hari ini, lalu dianggap visioner enam tahun kemudian. Kadang sebaliknya. Seseorang membuat thread panjang, diserang habis-habisan, lalu beberapa tahun kemudian muncul dokumen bocor dan semua orang pura-pura sudah tahu sejak awal. 

Bunyi keyboard mekanik. Mata pedih karena layar terlalu terang pukul dua pagi. Video Carl Sagan diputar ulang. Suaranya tetap tenang, nyaris hipnotik.

Lalu kolom komentar di YouTube mulai berkelahi lagi.


Related

Hoeda's Note 5204103705488883174

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item