Filsafat Sartre, Eksistensialisme, dan Kutukan Bernama Kebebasan

Ilustrasi/lsfdiscourse.org
Kunci sel penjara berbunyi lebih menenangkan daripada yang ingin diakui banyak orang.

Bunyi logam kecil itu menandakan sesuatu yang sederhana; pilihan sudah berakhir. Tidak ada lagi keputusan yang harus diambil. Tidak ada lagi kemungkinan yang harus ditimbang. Tidak ada lagi jalan yang harus dipilih sambil menanggung risiko salah. Seseorang mungkin kehilangan kebebasannya, tetapi ia juga kehilangan beban yang datang bersama kebebasan.

Itulah sebabnya saya selalu merasa ada sesuatu yang terlalu manis dalam cara banyak orang membicarakan eksistensialisme Jean-Paul Sartre. Seolah-olah filsafatnya adalah lagu kemenangan tentang manusia yang bebas menentukan nasibnya sendiri. Seolah-olah Sartre sedang mengajak orang berlari ke padang terbuka sambil merayakan otonomi diri.

Padahal, ketika membaca karya-karyanya, terutama Being and Nothingness, yang terasa justru sesak. Kebebasan dalam dunia Sartre bukan hadiah. Kebebasan adalah vonis.

Sartre hidup di zaman yang membuat optimisme terasa agak konyol. Lahir di Paris tahun 1905, Sartre menyaksikan dua perang dunia, runtuhnya imperium-imperium Eropa, pendudukan Nazi di Prancis, perlawanan bawah tanah, dan kekacauan politik yang membuat banyak orang mencari pegangan ideologis yang keras. Orang-orang ingin kepastian. Mereka ingin tahu siapa yang benar dan siapa yang salah. Mereka ingin tahu sejarah sedang bergerak ke mana. 

Sartre melihat sesuatu yang lebih mengganggu. Manusia tetap harus memilih bahkan ketika dunia sedang runtuh.

Seorang pegawai di Paris yang bekerja untuk administrasi pendudukan Jerman, tetap memilih. Seorang mahasiswa yang bergabung dengan kelompok perlawanan, tetap memilih. Seorang ayah yang memutuskan tinggal bersama ibunya yang sakit daripada berangkat berperang, tetap memilih. Tidak ada algoritma moral yang bisa menghapus tanggung jawab itu.

Gagasan itulah yang melahirkan konsep anguish atau kecemasan eksistensial. Dalam bahasa Sartre, kegelisahan bukan muncul karena kita tidak bebas. Kegelisahan muncul karena kita sadar bahwa kita bebas.

Bayangkan berdiri di tepi tebing tinggi. Kebanyakan orang mengira rasa takut yang muncul berasal dari kemungkinan jatuh. Sartre melihat sesuatu yang lain. Rasa takut itu juga muncul karena kita sadar bahwa kita bisa melompat.

Kemungkinan tersebut ada. Tidak ada rantai yang menahan tubuh kita. Tidak ada tangan gaib yang memaksa kita tetap berdiri. Kesadaran terhadap kemungkinan itulah yang membuat dada terasa sesak.

Pemikiran semacam itu terdengar abstrak sampai seseorang mulai memperhatikannya dalam kehidupan sehari-hari.

Seorang pegawai yang membenci pekerjaannya sering berkata bahwa ia tidak punya pilihan. Ia harus tetap bekerja di kantor itu. Ia harus tetap duduk di kursi yang sama setiap pagi. Ia harus tetap mendengarkan atasan yang tidak disukainya.

Sartre akan mengatakan bahwa kalimat tersebut hampir selalu tidak akurat. Orang itu punya pilihan. Ia bisa mengundurkan diri. Ia bisa pindah kota. Ia bisa menjual rumahnya. Ia bisa hidup lebih miskin. Ia bisa memulai hidup baru.

Masalahnya bukan ketiadaan pilihan. Masalahnya adalah biaya dari pilihan-pilihan tersebut terasa mengerikan. Dari situlah muncul sesuatu yang disebut Sartre sebagai bad faith atau mauvaise foi.

Bad faith sering diterjemahkan sebagai "itikad buruk", tetapi maknanya lebih rumit. Itu adalah kebohongan yang diarahkan kepada diri sendiri. Kebohongan yang begitu sering diulang sampai terdengar seperti kenyataan.

Contoh favorit Sartre terkenal sekali. Seorang pelayan kafe bergerak terlalu sempurna sebagai pelayan kafe. Gerak tangannya terlalu teatrikal. Senyumnya terlalu profesional. Cara ia membawa nampan terlalu presisi. Seolah-olah ia sedang memainkan karakter bernama "pelayan".

Mengapa contoh itu penting? Karena pelayan tersebut mulai memperlakukan dirinya sebagai benda. Sebagai fungsi. Sebagai jabatan. Ia menyusutkan dirinya menjadi peran sosial yang sedang ia jalankan.

Padahal ia lebih besar dari itu. Ia bisa menjadi musisi. Ia bisa menjadi penulis. Ia bisa menjadi kriminal. Ia bisa menjadi politisi. Ia bisa meninggalkan pekerjaannya besok pagi. Kemungkinan-kemungkinan itu tetap ada meskipun tidak pernah diwujudkan.

Bad faith muncul ketika seseorang berpura-pura bahwa kemungkinan tersebut tidak eksis.

Banyak orang mengira bad faith terutama terjadi dalam politik atau agama. Saya justru melihatnya lebih sering dalam kehidupan biasa yang tampak normal. Seseorang berkata, "Aku memang pemarah." Seseorang berkata, "Aku memang tidak berbakat." Seseorang berkata, "Aku memang terlahir seperti ini."

Kalimat-kalimat semacam itu sering terdengar seperti pengakuan yang jujur. Kadang sebenarnya merupakan bentuk pengunduran diri.

Tidak semua batas bisa ditembus. Sartre bukan penyihir motivasi murahan. Orang miskin memang menghadapi hambatan nyata. Orang sakit memang menghadapi keterbatasan nyata. Struktur sosial memang nyata.

Tetapi manusia juga punya kemampuan luar biasa untuk mengubah fakta sementara menjadi identitas permanen. Mereka mengubah keadaan menjadi takdir. Mereka mengubah ketakutan menjadi definisi diri. Mereka mengubah kebiasaan menjadi nasib.

Di titik tertentu, saya curiga banyak orang lebih nyaman hidup dalam penjara psikologis yang mereka bangun sendiri, daripada menghadapi kebebasan yang sebenarnya tersedia di depan mereka.

Kebebasan itu melelahkan. Kebebasan berarti tidak ada tempat bersembunyi.

Ketika sebuah hubungan gagal, kita ingin menyalahkan pasangan. Ketika karier mandek, kita ingin menyalahkan ekonomi. Ketika hidup terasa hampa, kita ingin menyalahkan zaman.

Sebagian kritik itu mungkin benar. Tapi tetap saja ada bagian yang tidak bisa dialihkan kepada siapa pun. Bagian itulah yang membuat eksistensialisme Sartre terasa mengganggu bahkan sekarang.

Tahun-tahun berlalu. Teknologi berubah. Media sosial muncul. Kecerdasan buatan mulai menulis teks dan menghasilkan gambar. Orang-orang di Tokyo, Jakarta, Lagos, São Paulo, dan Berlin, menjalani kehidupan yang sama sekali berbeda dari Paris tahun 1943. Bad faith tetap hidup. 

Ia hidup dalam identitas politik yang dipakai sebagai tempat bersembunyi. Ia hidup dalam slogan-slogan motivasi. Ia hidup dalam jabatan profesional. Ia hidup dalam akun media sosial yang begitu rapi sehingga terdengar seperti brosur pemasaran. Kadang ia hidup dalam agama. Kadang ia hidup dalam antireligi.

Sartre sendiri mungkin akan marah melihat bagaimana orang sering mengubah eksistensialisme menjadi identitas baru yang nyaman. Ironis sekali. Filsafat yang dibangun untuk mengguncang manusia malah dipakai sebagai label estetis.

Malam hari di sebuah apartemen kecil Paris, ketika Sartre menulis sambil merokok tanpa henti, dan Simone de Beauvoir berada tidak jauh darinya, saya membayangkan tidak ada suasana heroik di sana. Tidak ada musik kemenangan. Tidak ada cahaya surgawi yang turun dari langit.

Hanya seorang pria yang sedang berusaha menerima konsekuensi paling mengerikan dari kebebasan. Bahwa hampir setiap kali seseorang berkata, "Aku tidak punya pilihan," ada kemungkinan kecil yang sedang berusaha dikubur hidup-hidup di bawah kalimat itu.

Dan kemungkinan itu masih bergerak.

Related

Hoeda's Note 6118630565451462944

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item