Teater Kemiskinan, Konten Bagi-bagi Uang, Monetisasi Penderitaan
https://www.belajarsampaimati.com/2026/05/teater-kemiskinan-konten-bagi-bagi-uang.html
![]() |
| Ilustrasi/idxchannel.com |
Seorang pria berdiri di depan minimarket sambil gemetar menerima iPhone baru dari seorang kreator TikTok. Kamera menyorot wajahnya dari dekat. Musik sedih terdengar pelan. Subtitle muncul besar-besar, “Bapak ini nangis karena belum pernah pegang iPhone seumur hidup.”
Kolom komentar langsung meledak.
“MasyaAllah baik banget bang.”
“Semoga rezekinya dilancarkan.”
“Masih ada orang baik di dunia.”
Tiga juta likes.
Lalu, beberapa minggu kemudian, orang-orang mulai sadar bapak yang sama muncul lagi di video lain, dengan kisah lain. Baju berbeda, cerita berbeda. Kadang jadi tukang parkir miskin. Kadang jadi pemulung. Kadang jadi driver ojol yang “tidak bisa pulang karena kehabisan bensin”.
Internet Indonesia belakangan seperti pasar malam yang dipenuhi santa claus palsu. Semua orang membagi uang. Semua orang mendadak dermawan. Seorang kreator masuk ke gang sempit di kawasan Tambora sambil membawa gepokan uang Rp50 ribu. Kreator lain melempar iPhone dari atas mobil ke kerumunan remaja. Yang lain lagi pura-pura jadi orang miskin untuk mengetes apakah pedagang nasi akan memberi makan gratis.
Kontennya tidak jauh-jauh dari situ. Formula yang sama diulang ribuan kali sampai rasanya seperti industri.
Kamera vertikal. Musik haru. Orang miskin. Uang tunai. Tangisan.
Upload.
Ada sesuatu yang mengganggu dari cara uang diperlakukan dalam video-video itu. Duit dilempar seperti confetti. iPhone dibagikan seperti brosur diskon. Kreator berdiri di tengah kerumunan sambil tertawa besar, seolah kemiskinan cuma latar visual untuk engagement.
Dan orang-orang menontonnya berjam-jam.
Saya pernah melihat satu video seorang kreator di daerah Bekasi yang mendatangi ibu penjual tisu di lampu merah. Ia bertanya dengan suara dibuat pelan, “Kalau ibu dikasih Rp10 juta, mau nangis nggak?”
Pertanyaan macam apa itu.
Si ibu langsung menangis, bahkan sebelum uangnya diberikan. Kamera zoom ke wajahnya. Air mata dijadikan thumbnail.
Ratusan ribu komentar memuji si kreator.
Yang aneh, semakin lama konten seperti itu berkembang, semakin terasa palsu bahkan ketika mungkin sebagian memang nyata. Semua terlalu sinematis. Orang miskin selalu muncul tepat ketika kamera siap. Orang yang menerima hadiah selalu punya respons yang pas; terkejut, menangis, memeluk. Tidak pernah ada yang bengong atau curiga.
Belakangan, kecurigaan publik mulai pecah di mana-mana. Beberapa “prank sosial” ternyata menggunakan orang bayaran. Ada yang ketahuan memakai pemeran berulang. Ada yang pura-pura memberi motor, padahal motornya cuma dipinjamkan untuk syuting. Pernah juga viral seorang kreator yang disebut membagikan uang ke pedagang kecil, lalu uangnya diminta kembali setelah kamera mati.
Saya percaya sebagian cerita itu mungkin dilebih-lebihkan netizen. Internet suka membesar-besarkan drama. Tapi suasananya sudah telanjur berubah; publik mulai sadar mereka mungkin sedang menonton teater kemiskinan. Dan teater selalu butuh aktor.
Yang membuat fenomena ini besar bukan cuma algoritma. Ada rasa lapar yang sangat Indonesia di dalamnya. Orang ingin percaya ada keajaiban acak. Bahwa suatu hari, ketika sedang jualan cilok atau duduk di trotoar depan Stasiun Pasar Senen, tiba-tiba datang orang kaya memberi Rp20 juta sambil direkam kamera Sony.
Fantasi itu lebih candu daripada judi online.
Konten giveaway sosial seperti itu bekerja karena banyak orang hidup terlalu dekat dengan putus asa. Harga beras naik sedikit saja bikin dapur goyang. Uang sekolah telat. Cicilan motor macet. Dalam situasi seperti itu, video seseorang mendapat setumpuk uang dadakan terasa seperti lotere emosional.
Mereka bukan cuma menonton si penerima hadiah. Mereka membayangkan diri mereka sendiri di posisi itu.
Saya juga mulai sadar betapa absurdnya nilai benda di media sosial sekarang. iPhone, misalnya. Dulu, ponsel adalah alat komunikasi. Sekarang, ia berubah jadi simbol keselamatan sosial. Orang rela antre berjam-jam demi giveaway iPhone. Remaja berdesakan sampai pingsan di acara kreator. Di TikTok Live, para penonton berkomentar, “bang bagi hp bang”.
Bahkan cara orang menyebut merek ponsel sudah seperti menyebut kasta.
Dan kreator-kreator itu paham betul psikologi penonton. Mereka tahu video orang kaya flexing mobil mewah tidak cukup emosional lagi. Orang sudah kebal terhadap Lamborghini dan Rolex. Yang bekerja sekarang adalah simulasi kepedulian. Kasih sayang yang bisa dimonetisasi.
Ada video yang cukup terkenal beberapa waktu lalu; seorang kreator mendatangi nenek penjual kerupuk di pinggir jalan Cirebon. Nenek itu diberi uang jutaan rupiah sambil direkam dari beberapa sudut. Penontonnya menangis. Komentar penuh doa.
Lalu seseorang mengunggah video behind the scenes. Ada kru kamera tiga orang. Ada lighting kecil. Si nenek diminta mengulang adegan berjalan, karena framing kurang bagus.
Ulang adegan miskin.
Kalimat itu terasa kejam bahkan untuk ditulis.
Media sosial memang perlahan mengubah banyak hal menjadi performa, termasuk empati. Orang tidak cukup membantu; mereka harus terlihat membantu. Bantuan yang tidak direkam terasa kurang bernilai secara algoritma. Dan algoritma ternyata rakus sekali pada air mata orang kecil.
Platform seperti TikTok dan Instagram juga tidak benar-benar peduli apakah videonya asli atau rekayasa. Selama engagement tinggi, video akan terus didorong naik. Tak peduli orang marah, orang terharu, orang curiga—semuanya tetap menghasilkan traffic.
Kadang saya membayangkan ruang editing kreator-kreator itu. Pendingin ruangan dingin sekali. Layar monitor terang. Mereka memotong video tangisan seorang ibu sambil memilih backsound paling sedih.
“Yang ini kurang nyentuh.”
“Coba zoom pas dia nangis.”
Kalimat-kalimat teknis dingin untuk mengolah emosi manusia.
Ironisnya, beberapa kreator memang benar-benar membantu banyak orang. Tidak semuanya penipu. Ada yang membangun rumah warga. Membayar biaya operasi. Memberangkatkan umrah. Tapi industri ini telanjur tercemar oleh logika tontonan; semakin miskin penerimanya, semakin viral videonya.
Kemiskinan berubah jadi properti visual.
Dan publik sebenarnya ikut bersalah. Orang lebih suka menonton giveaway receh dramatis dibanding laporan investigasi soal kenapa orang miskin terus bertambah. Video seorang kreator memberi Rp500 ribu ke tukang sapu bisa dapat 20 juta views. Diskusi soal upah minimum atau BPJS malah tidak muncul di timeline.
Kita menyukai versi kemiskinan yang cepat, emosional, lalu selesai dalam tiga menit.
Seorang teman pernah bilang, ada rasa jijik yang sulit dijelaskan ketika menonton video ala-ala giveway semacam itu terlalu lama. Bukan jijik pada orang miskinnya. Tapi pada cara kamera mendekati wajah mereka. Terlalu dekat. Terlalu lapar.
Dan kadang penerima bantuan terlihat bingung harus bereaksi bagaimana. Mereka seperti sadar hidupnya sedang dijadikan konten, tapi tidak punya kemewahan untuk menolak. Karena siapa yang menolak uang di tengah hidup mahal sekarang?
Lucunya, ketika beberapa konten akhirnya terbongkar palsu, para pengikut fanatik tetap membela kreatornya.
“Yang penting pernah bantu orang.”
“Walau settingan tetap berbagi.”
Standar moral internet memang turun cepat sekali. Selama ada giveaway, kebohongan terasa bisa dinegosiasikan.
Mungkin beberapa tahun lagi kita akan melihat bentuk yang lebih ekstrem. Orang pura-pura bunuh diri lalu diselamatkan kreator. Orang pura-pura kelaparan untuk sponsor makanan. Semua demi retention rate.
Saya membuka TikTok beberapa malam lalu. Seorang kreator berdiri di tengah gerimis sambil membagikan uang Rp100 ribu ke pengendara motor. Musik piano terdengar keras sekali. Kamera slow motion. Air hujan memantul di jaket parasut murah milik seorang pengendara motor.
Di pojok layar ada tulisan kecil: “Part 1”.

.png)

