Apa yang Terjadi Jika Tiap Orang Diberi Uang 1 Miliar?

Ilustrasi/bibit.id
Umpama, entah bagaimana, pemerintah Indonesia bikin kebijakan baru untuk menyenangkan rakyatnya, yaitu dengan memberi uang Rp1 miliar untuk masing-masing orang, kira-kira apa yang akan terjadi? Pertanyaan itu mungkin memberi angan menyenangkan, tapi juga akan membawa kita pada kenyataan yang mungkin mengerikan. 

Kita yang saat ini bekerja dengan gaji pas-pasan, hingga sering gali lubang tutup lubang demi memenuhi banyak kebutuhan, membayangkan punya uang Rp1 miliar tentu sangat menyenangkan. Tapi apa jadinya jika semua orang, setidaknya di negara ini, masing-masing diberi uang Rp1 miliar? Apakah Indonesia akan jadi negara kaya, karena semua rakyatnya jadi miliuner?

Sayangnya, akibat yang terjadi bisa malapetaka.

Agar uraian ini lebih mudah dipahami, mari gunakan contoh nyata yang pernah terjadi dalam sejarah.

Pada tahun 1300-an, ada orang yang luar biasa kaya—bahkan terkaya di zamannya—bernama Mansa Musa. Nama aslinya adalah Musa Keita I. Namun karena menjadi Mansa (Raja/Pemimpin), ia pun disebut Mansa Musa. Ia raja di Kekaisaran Mali, yang mencakup bekas wilayah Kekaisaran Ghana di Mauritania selatan dan di Melle, serta wilayah-wilayah sekitarnya. 

Mansa Musa adalah orang terkaya dalam sejarah. Mungkin hanya Raja Sulaiman yang mampu menandingi kekayaannya. Sebagai gambaran, pada zaman itu, Mansa Musa menguasai setengah dari seluruh cadangan emas yang ada di bumi. Kita tidak bisa membayangkan sekaya apa orang ini.

Pada tahun 1324, Mansa Musa menunaikan ibadah haji. Dalam perjalanan, dia membagi-bagikan emas batangan pada orang-orang di berbagai tempat yang dilewatinya, khususnya Kairo. Orang-orang—yang jumlahnya sangat banyak di berbagai tempat—yang mendapat emas itu, seketika kaya-raya. 

Dan apa yang kemudian terjadi? Apakah mereka lalu bahagia, karena semua orang sekarang jadi kaya, lalu wilayah mereka makin makmur karena ekonominya meroket pesat? Jawabannya tidak. Sebaliknya, tempat-tempat yang dihujani emas oleh Mansa Musa mengalami kehancuran ekonomi.

Mansa Musa tentu berniat baik, ingin menyumbangkan kekayaannya pada orang-orang yang ia temui, dengan harapan orang-orang itu bisa sedikit lebih kaya dengan emas yang dibagi-bagikannya. Tapi Mansa Musa mungkin tidak berpikir jauh. Setelah banyak orang memiliki emas, mereka memang kaya... tapi ekonomi secara keseluruhan mengalami krisis bahkan kehancuran.

Emas adalah barang berharga, karena ia langka. Ketika sesuatu yang berharga itu dibagi-bagikan hingga semua orang memilikinya, ia tidak lagi berharga. Karena jumlahnya banyak, harganya pun jatuh. Setelah itu terjadi, ekonomi mengalami kekacauan, bahkan kerusakan.

Sekarang bayangkan hal sama, jika—misalnya—pemerintah membagi-bagikan uang Rp1 miliar untuk tiap orang. Kita semua tentu akan merasa kaya, karena memiliki uang Rp1 miliar, kan? Sayangnya tidak! Karena uang Rp1 miliar akan berharga jika sulit dimiliki. Jika semua orang memilikinya, ia tidak lagi berharga.

Mari pikirkan pertanyaan ini: Untuk apa kita bekerja setiap hari, berangkat pagi dan pulang sore, kena macet dan berdesak-desakan, tak peduli panas dan hujan? Jawabannya, hampir bisa dipastikan, demi mendapatkan uang!

Pedagang-pedagang di pasar, di pinggir-pinggir jalan, atau yang berkeliling kampung ke sana kemari, para pekerja profesional yang terus sibuk siang malam, sampai perusahaan-perusahaan yang memproduksi aneka barang, semua aktivitas dan kesibukan itu menuju satu tujuan yang sama; uang!

Karena semua orang butuh uang, mereka pun melakukan yang harus dilakukan. Ada yang memproduksi barang, ada yang bekerja di pabrik-pabrik, ada yang mendistribusikan aneka barang, ada yang menjajakannya ke berbagai pelosok, ada yang mengonsumsi, dan lain-lain sebagainya. Perekonomian berjalan, dan uang terus berputar, seiring dengan itu kehidupan berjalan dengan wajar.

Sekarang, jika masing-masing orang diberi uang Rp1 miliar, dalam waktu singkat negara ini akan rusak parah, khususnya ekonominya. Karena semua orang sudah kaya, buat apa lagi bekerja? Orang mau bekerja karena butuh uang. Kalau sudah punya uang banyak, buat apa lagi susah payah bekerja?

Akibatnya, yang biasa bekerja di kantor-kantor memutuskan cuti atau bahkan resign (traveling dulu, bos!) Yang jadi karyawan di pabrik, langsung libur panjang (ngapain juga kena macet atau berdesak-desakan di bus?) Yang biasa jualan keliling kampung langsung berhenti (mending santai di rumah, nonton teve.) Yang biasa bertani, berkebun, berternak, semuanya berhenti, karena sudah kaya! Dan hal ini bisa merembet ke mana-mana, pada siapa saja, pada berbagai bidang bisnis dan pekerjaan, dan hasilnya jelas; kekacauan!

Tidak ada lagi orang yang mau susah payah berangkat ke tempat kerja, tidak ada lagi orang yang mau memproduksi barang, tidak ada lagi orang yang berdagang, tidak ada lagi sopir bus atau angkot, tidak ada lagi tukang ojek, pendeknya tidak ada lagi orang yang bekerja... karena semua orang sudah kaya.

Oh, mungkin masih ada orang yang jualan makanan, misalnya. Tapi harganya pasti akan sangat mahal. Seporsi nasi goreng yang biasanya cuma Rp10 ribu, misalnya, bisa naik sepuluh atau seratus kali lipat. Lhah, orang-orang sudah kaya semua, kok! 

Ketika semua orang sudah kaya, mereka tidak lagi butuh uang... tapi tetap butuh makan. Dan ada orang-orang yang mau berjualan makanan, karena mencari uang. Jika para penjual makanan itu sama-sama sudah punya banyak uang, mereka tidak akan lagi susah-payah berjualan makanan. 

Uang berharga, karena ia sulit diperoleh. Jika semua orang memiliki uang dalam jumlah banyak, nilainya akan jatuh. Jika semua orang diberi uang Rp1 miliar, mereka bukan jadi kaya semua, tapi bisa jadi malah akan miskin semua. Karena uang tidak lagi berharga, dan hidup makin sulit. 

Dan sekarang, terkait hal ini, kita sampai pada sesuatu yang menggelisahkan. Jika latar belakangnya seperti itu, apakah memang tidak mungkin orang di dunia bisa kaya semua? Bagaimana menurutmu?

Related

Umum 829609526692270951

Posting Komentar

emo-but-icon

Recent

Banyak Dibaca

item