Vaksinasi Cacar, Kemenangan Pertama Manusia dalam Perang Wabah

Ilustrasi/hidayatullah.com
Seorang anak kecil, lengan kirinya ditahan pelan, kulitnya disentuh oleh sesuatu yang belum punya nama. Tidak ada laboratorium steril, tidak ada sarung tangan lateks, tidak ada protokol etik seperti yang kita kenal hari ini. Hanya seorang dokter desa dengan intuisi keras kepala dan keyakinan yang terasa hampir sembrono. Di hadapan mereka, dunia belum tahu bahwa sentuhan kecil itu akan mengubah hubungan manusia dengan penyakit selamanya. 

Nama dokter itu Edward Jenner.

Ia hidup di masa ketika cacar bukan sekadar penyakit, tapi semacam takdir yang buruk. Cacar adalah teror yang tidak pilah-pilih; bayi, bangsawan, petani, semua tunduk pada kemungkinannya. Wajah manusia menjadi arsip luka. Yang selamat sering membawa bekasnya seumur hidup; yang tidak selamat, jumlahnya begitu banyak hingga kematian kehilangan dramanya dan berubah jadi statistik yang sunyi.

Ironisnya, sebelum Edward Jenner, manusia sebenarnya sudah mencoba melawan. Di berbagai belahan dunia, praktik yang dikenal sebagai variolasi telah dilakukan—memasukkan materi dari luka cacar ke tubuh orang sehat dengan harapan menciptakan kekebalan. Itu perjudian medis; sebagian berhasil, sebagian malah mati karena infeksi yang lebih ganas. Cara itu seperti bermain api dengan keyakinan bahwa api bisa diajak bernegosiasi. 

Jenner tumbuh dalam dunia seperti itu, tapi ia memperhatikan sesuatu yang terasa seperti gosip desa. Para pemerah susu sapi jarang terkena cacar. Mereka bisa saja terserang penyakit ringan yang disebut cacar sapi, namun setelah itu tubuh mereka tampak kebal terhadap versi yang jauh lebih mematikan. Bagi banyak orang, itu sekadar kebetulan yang berulang. Bagi Jenner, itu pola.

Ilmu pengetahuan sering dimulai dari keengganan menerima kebetulan sebagai jawaban.

Pada suatu hari, 14 Mei 1796, Jenner memutuskan untuk menguji gagasan yang belum punya jaminan apa pun. Ia mengambil cairan dari luka cacar sapi milik seorang perempuan pemerah susu, lalu menyuntikkannya—istilah yang lebih tepat mungkin menggoreskannya—ke tubuh seorang anak laki-laki bernama James Phipps. Nama itu jarang disebut dalam buku pelajaran dengan bobot yang layak, padahal tubuh kecilnya menjadi medan eksperimen yang menentukan arah masa depan.

Beberapa minggu berlalu. Anak itu tidak jatuh sakit parah. Jenner melangkah lebih jauh—langkah yang saat ini mungkin akan memicu perdebatan etik yang panjang—ia memaparkan cacar yang sebenarnya pada anak tersebut. Hasilnya mencengangkan; tidak ada penyakit yang berkembang. Tubuh anak itu telah belajar sesuatu, seolah-olah ia pernah bertemu musuh yang sama dalam versi yang lebih lemah. 

Di sana, tanpa istilah ilmiah yang mapan, konsep kekebalan mulai mengambil bentuk. Kata “vaksin” belum digunakan saat itu; istilah tersebut baru muncul kemudian, berasal dari kata Latin vacca (sapi), sebagai penghormatan terhadap sumber inspirasi Jenner. Dari sapi, manusia menemukan cara untuk mengakali salah satu pembunuh terbesar dalam sejarahnya sendiri. Ada ironi yang hampir puitis di situ—penyelamat datang dari sesuatu yang dianggap biasa, bahkan remeh.

Reaksi terhadap penemuan itu tidak seragam. Sebagian menyambutnya sebagai harapan baru. Sebagian lain melihatnya dengan curiga, bahkan ketakutan. Karikatur-karikatur pada masa itu menggambarkan manusia yang divaksinasi akan tumbuh tanduk atau berubah menjadi makhluk setengah sapi. Ketakutan sering mencari bentuk yang aneh ketika berhadapan dengan hal baru, terutama jika hal baru itu menyentuh tubuh.

Jika saya berhenti sejenak di situ, dan memikirkannya, resistensi terhadap vaksin di abad ke-18 terasa tidak terlalu jauh dari resistensi di abad ke-21. Argumen berubah, medium berubah, tetapi emosi dasarnya serupa; ketidakpercayaan terhadap sesuatu yang tidak sepenuhnya dipahami, kecemasan akan intervensi terhadap tubuh, dan kecurigaan terhadap otoritas yang mengklaim tahu lebih banyak.

Meski begitu, sama seperti yang terjadi di era modern, ide Jenner perlahan menyebar. Dari desa kecil di Inggris, praktik vaksinasi menyeberangi batas negara, bahasa, dan budaya. Ia tidak menyebar seperti wabah—tidak secepat itu—tapi seperti bisikan yang terus diulang sampai akhirnya menjadi suara kolektif. Negara-negara mulai mengadopsinya, dokter-dokter mulai mempraktikkannya, dan perlahan angka kematian akibat cacar mulai menurun.

Proses itu tidak mulus. Ada kegagalan, ada penolakan, ada kesalahan. Jenner tidak menemukan vaksin di meja laboratorium yang bersih, ia menemukannya di sela-sela kotoran kandang sapi dan gosip para pemerah susu yang sering diabaikan. Namun fondasi yang diletakkan Jenner tetap bertahan; gagasan bahwa tubuh manusia bisa “dilatih” untuk melawan penyakit tanpa harus terlebih dulu dihancurkan olehnya.

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Dari satu eksperimen sederhana itu, cabang ilmu imunologi mulai tumbuh. Vaksin tidak lagi terbatas pada cacar. Penyakit-penyakit lain—polio, campak, difteri—perlahan dimasukkan ke dalam daftar musuh yang bisa dihadapi dengan strategi serupa. Dunia yang dulu akrab dengan wabah kini memiliki alat untuk menegosiasikan risiko.

Puncak dari perjalanan panjang itu datang jauh setelah Jenner tiada. Pada tahun 1980, World Health Organization secara resmi menyatakan bahwa cacar telah diberantas dari muka bumi. Tidak ada lagi kasus alami. Sebuah penyakit yang selama berabad-abad membunuh jutaan manusia akhirnya dikalahkan—bukan oleh obat yang menyembuhkan, tetapi oleh pencegahan yang cerdik.

Pernyataan itu bukan sekadar keberhasilan medis. Ia terasa seperti perubahan dalam cara manusia memandang dirinya sendiri. Untuk pertama kalinya, manusia tidak hanya bertahan dari alam, tapi benar-benar menghapus salah satu ancamannya.

Meski begitu, warisan Jenner tidak berhenti pada kemenangan tersebut. Ia terus hidup dalam setiap diskusi tentang vaksin hari ini—dalam keberhasilan program imunisasi, dalam kontroversi, dalam teori konspirasi, dalam keputusan orang tua yang ragu atau yakin. Setiap jarum suntik yang menembus kulit membawa jejak sejarah panjang, yang dimulai dari eksperimen yang tampak sederhana pada 14 Mei 1796 silam.

Saya tercenung lama saat memikirkan hal itu lebih dalam. Jenner tidak sepenuhnya memahami mekanisme biologis di balik temuannya. Ia tidak tahu tentang virus, antibodi, atau sistem imun seperti yang kita pahami sekarang. Ia bertindak berdasarkan pengamatan, intuisi, dan keberanian untuk menguji hipotesisnya pada dunia nyata. Dalam standar modern, itu bisa terlihat sebagai kekurangan. Namun di sisi lain, justru di situlah letak lompatan besar tersebut—keberanian untuk bertindak sebelum semua jawaban tersedia.

Ilmu pengetahuan sering digambarkan sebagai sesuatu yang pasti dan rapi, padahal kenyataannya jauh lebih berantakan. Penemuan besar sering lahir dari ketidaksempurnaan; data yang tidak lengkap, metode yang belum matang, bahkan keputusan yang berisiko. Jenner berdiri di persimpangan antara pengetahuan dan ketidaktahuan, lalu memilih melangkah.

Bayangkan kembali ruangan sederhana itu, anak kecil yang tidak tahu bahwa tubuhnya sedang menulis sejarah, dan seorang dokter yang tidak bisa menjamin apa pun selain keyakinannya sendiri. Tidak ada sorotan kamera, tidak ada pengakuan instan. Hanya tindakan kecil yang nyaris tak terdengar.

Kini, dunia modern berdiri di atas gema tindakan itu. Rumah sakit, program imunisasi massal, penelitian vaksin mRNA—semuanya bisa ditarik garisnya kembali ke momen ketika seseorang mempercayai bahwa penyakit bisa dilawan dengan cara yang tidak langsung.

Bisa jadi, yang paling menggelitik bukan keberhasilan akhirnya, tapi fakta bahwa semuanya dimulai dari sesuatu yang hampir tampak sepele; luka kecil di tangan seorang pemerah susu.

Sejarah sering memilih panggung besar—perang, revolusi, pidato yang menggetarkan. Penemuan Jenner terasa seperti anomali; perubahan besar yang lahir dari observasi yang tenang dan eksperimen yang sunyi.

And then, di antara segala hal yang bisa dipelajari dari kisah ini, mungkin yang paling sulit diterima adalah kenyataan bahwa masa depan kadang ditentukan bukan oleh apa yang sudah kita ketahui... tapi oleh apa yang berani kita coba ketika kita belum benar-benar tahu.

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Related

Sains 898088342955691338

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

item