Lahirnya Doktrin Infalibilitas Paus di Tengah Runtuhnya Roma

Ilustrasi/americamagazine.org
Petir menyambar langit Roma. Hujan menghantam kubah Basilika Santo Petrus dengan suara yang nyaris seperti tembakan. Beberapa uskup yang hadir kemudian mengingat cuaca hari itu dengan detail yang tidak biasa, seolah langit ikut campur dalam urusan yang sedang mereka bahas. Pada 18 Juli 1870, di dalam aula Konsili Vatikan I, ratusan pemimpin Gereja Katolik mengambil keputusan yang akan mengubah wajah Katolik modern: mereka mengesahkan doktrin infalibilitas paus.

Sulit mencari konsep keagamaan yang lebih sering disalahpahami daripada yang satu ini.

Banyak orang mengira doktrin itu berarti paus tidak pernah melakukan kesalahan. Sebagian membayangkan seorang manusia yang setiap kalimatnya otomatis benar. Sebagian lagi menganggapnya sebagai bentuk kesombongan institusional yang luar biasa. Gambaran-gambaran itu populer, tetapi tidak akurat. Yang sebenarnya diputuskan jauh lebih sempit sekaligus jauh lebih radikal.

Doktrin tersebut menyatakan bahwa ketika paus berbicara secara ex cathedra—secara resmi dalam kapasitasnya sebagai pemimpin seluruh Gereja—mengenai perkara iman dan moral yang mengikat seluruh umat Katolik, ia dilindungi dari kesalahan oleh Roh Kudus. Tidak setiap khotbah paus termasuk dalam kategori itu. Tidak setiap wawancara. Tidak setiap surat. Tidak setiap pendapat pribadi.

Jumlah pernyataan ex cathedra dalam sejarah ternyata sangat sedikit. Tetapi keputusan tahun 1870 tidak lahir dari ruang hampa. Untuk memahami mengapa para uskup sampai pada titik itu, perlu melihat dunia yang sedang runtuh di sekitar mereka.

Roma pada pertengahan abad ke-19 sedang kehilangan pijakan. Selama berabad-abad, para paus bukan hanya pemimpin agama. Mereka juga penguasa wilayah yang luas di Italia tengah, dikenal sebagai Negara Gereja. Paus memiliki tentara, birokrasi, pajak, polisi, dan urusan politik sehari-hari yang sama rumitnya dengan negara-negara lain.

Abad ke-19 datang membawa wabah baru yang disebut nasionalisme. Gerakan penyatuan Italia menyapu semenanjung. Kerajaan Sardinia berkembang menjadi motor unifikasi. Tokoh-tokoh seperti Giuseppe Garibaldi, Camillo Cavour, dan Raja Victor Emmanuel II perlahan-lahan menyatukan wilayah-wilayah yang sebelumnya terpecah.

Negara Gereja berada tepat di tengah jalan. Bagi kaum nasionalis Italia, wilayah paus adalah hambatan. Bagi paus, kaum nasionalis adalah ancaman.

Paus yang memimpin saat itu, Pius IX, sudah menduduki takhta kepausan sejak 1846. Ia memegang rekor sebagai paus dengan masa jabatan terpanjang dalam sejarah modern. Ketika muda, sebagian orang menganggapnya cukup progresif. Revolusi 1848 mengubah banyak hal. Massa revolusioner pernah memaksanya melarikan diri dari Roma. Pengalaman itu meninggalkan bekas yang dalam.

Semakin tua, Pius IX semakin curiga terhadap liberalisme, nasionalisme, sosialisme, dan hampir seluruh tren intelektual modern yang sedang berkembang di Eropa.

Tahun 1864 ia menerbitkan Syllabus Errorum, "Daftar Kesalahan", yang mengutuk berbagai gagasan modern, mulai dari sekularisme hingga relativisme agama.

Suasana psikologis itulah yang penting. Gereja sedang kehilangan kekuasaan politik. Eropa sedang berubah dengan kecepatan yang membuat banyak orang gelisah. Kereta api mempercepat perjalanan. Telegraf mempercepat informasi. Sains mengguncang keyakinan lama. Kritik historis terhadap Alkitab berkembang di universitas-universitas Jerman. Buku-buku baru beredar semakin cepat.

Banyak institusi merasa tanah di bawah kaki mereka bergerak. Vatikan merespons dengan cara yang khas: memperkuat pusat.

Konsili Vatikan I dibuka pada Desember 1869. Lebih dari tujuh ratus uskup datang dari berbagai penjuru dunia. Sebagian menempuh perjalanan berbulan-bulan. Mereka datang dari Brasil, Amerika Serikat, Irlandia, Austria, Prancis, India, dan wilayah-wilayah misi yang sangat jauh dari Roma.

Perdebatan segera muncul. Tidak semua uskup mendukung infalibilitas paus. Félix Dupanloup, Uskup Orléans dari Prancis, termasuk yang paling vokal menentang definisi resmi tersebut. Banyak uskup Jerman juga merasa khawatir. Mereka tidak selalu menolak gagasan dasarnya, tetapi mempertanyakan apakah saat itu merupakan waktu yang tepat untuk mengumumkannya.

Kekhawatiran mereka masuk akal. Mereka tahu keputusan itu bisa memperburuk hubungan Gereja dengan dunia modern. Mereka tahu sebagian umat akan menolak. Mereka tahu kontroversinya tidak akan kecil.

Di luar aula konsili, surat kabar Eropa melaporkan perdebatan itu hampir seperti pertandingan politik besar. Wartawan menunggu kabar dari balik tembok Vatikan. Spekulasi beredar ke mana-mana.

Salah satu tokoh yang paling menarik dalam drama itu adalah Ignaz von Döllinger, imam dan sejarawan Jerman yang sangat dihormati. Döllinger bukan ateis. Ia bukan musuh Gereja. Ia menghabiskan hidupnya mempelajari sejarah Kekristenan. Justru karena itulah ia menolak infalibilitas paus. Menurutnya, sejarah gereja terlalu rumit untuk mendukung klaim semacam itu.

Penolakan Döllinger berujung pada ekskomunikasi. Peristiwa tersebut memperlihatkan bahwa yang sedang dipertaruhkan bukan sekadar teori teologi. Tapi menyangkut otoritas. Siapa yang berhak menentukan kebenaran? Seberapa jauh lembaga dapat berbicara atas nama Tuhan? Pertanyaan semacam itu tidak pernah benar-benar tenang.

Pemungutan suara final berlangsung pada 18 Juli 1870. Hasilnya hampir bulat. Sebagian besar uskup yang menentang memilih meninggalkan Roma sebelum pemungutan suara terakhir, agar tidak harus memberikan suara langsung menentang paus.

Dokumen Pastor Aeternus pun disahkan. Infalibilitas paus resmi menjadi ajaran Gereja Katolik.

Kejadian berikutnya terasa hampir seperti ironi yang ditulis oleh novelis dengan selera humor gelap. Hanya dua bulan kemudian, perang meletus antara Prancis dan Prusia. Pasukan Prancis yang sebelumnya melindungi Roma ditarik pulang. Kesempatan itu dimanfaatkan Kerajaan Italia.

Pada September 1870, tentara Italia menembus tembok kota melalui Porta Pia. Negara Gereja runtuh. Paus kehilangan sebagian besar wilayah politiknya. Sang pemimpin agama baru saja memperoleh definisi otoritas spiritual yang lebih kuat, tepat ketika kekuasaan duniawinya menguap. Kebetulan sejarah terkadang terasa terlalu rapi untuk dipercaya.

Banyak pengamat melihat hubungan yang jelas. Ketika kekuasaan teritorial hilang, otoritas spiritual diperkuat. Tahta kepausan berubah karakter. Paus perlahan berhenti menjadi raja dalam pengertian lama dan semakin menjadi simbol moral global.

Abad berikutnya membuktikan perubahan itu. Paus tidak lagi mengendalikan wilayah luas. Mereka tidak memimpin pasukan besar. Mereka tidak memiliki armada perang. Pengaruh mereka justru meluas.

Ketika Paus Yohanes Paulus II berbicara tentang komunisme, dunia mendengarkan. Ketika Paus Fransiskus berbicara tentang perubahan iklim atau migrasi, berita itu menyebar ke seluruh planet dalam hitungan menit. Semua jejak tersebut mengarah kembali ke musim panas tahun 1870.

Saya selalu tertarik pada fakta bahwa doktrin yang terdengar sangat absolut itu lahir pada saat ketidakpastian sedang mencapai puncaknya. Institusi yang merasa aman jarang merasa perlu mendefinisikan otoritasnya secara begitu tegas. Langkah seperti itu biasanya muncul ketika fondasi lama mulai berguncang.

Badai yang mengguyur Roma pada hari pengesahan doktrin itu masih sering disebut dalam berbagai kisah sejarah. Sebagian orang menganggapnya pertanda surgawi. Sebagian menganggapnya kebetulan meteorologis biasa.

Hujan berhenti. Petir menghilang. Para uskup pulang ke negara masing-masing.

Tentara Italia bergerak mendekati Roma. 

Di dalam Vatikan, dokumen Pastor Aeternus telah selesai ditandatangani. Di luar tembok kota, dunia yang melahirkan dokumen itu sedang berakhir.

Related

Peristiwa 1194355729428264551

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item