Adegan Muntah di Film, Hal Menjijikkan dari Sinema Hollywood

Ilustrasi/harpersbazaar.co.id
Suara orang muntah di bioskop punya kualitas yang aneh. Setengah cairan, setengah penderitaan. Kadang disusul bunyi tercekat pendek, lalu cipratan yang sengaja diperkeras oleh departemen sound design. Penonton tertawa. Sebagian meringis sambil menutup mulut sendiri. Saya justru sering merasa kesal. Bukan jijik biasa—lebih seperti merasa sedang dipaksa ikut menikmati sesuatu yang sebenarnya tidak perlu ada.

Hollywood tampaknya sangat menyukai muntah. Bukan cuma film horor murahan. Film superhero juga. Komedi remaja. Film aksi. Bahkan karakter-karakter yang dibangun begitu glamor tetap harus muntah di satu titik, seolah tubuh manusia modern tidak lengkap tanpa adegan lambung memberontak di depan kamera.

Saya ingat salah satu adegan di Thor: Love and Thunder ketika karakter Stormbreaker—kapak ajaib Thor—digambarkan “cemburu”, lalu muncul humor yang melibatkan muntah. Marvel beberapa kali memakai muntah sebagai punchline. Dalam Iron Man 2, ada adegan muntah Tony Stark yang sangat vulgar, tapi belakangan dihapus, meski potongannya dapat ditonton di YouTube. Guardians of the Galaxy memainkan humor tubuh dengan cara serupa. Studio sebesar Marvel, dengan anggaran ratusan juta dolar, kadang terasa seperti anak SMP yang baru menemukan bahwa muntah bisa bikin orang ketawa. Lebih aneh lagi, trik itu sering berhasil di kalangan penonton.

Ada sesuatu dalam budaya visual modern yang sangat tergoda untuk mempertontonkan tubuh manusia saat kehilangan kendali. Orang muntah, buang air kecil, berdarah, cegukan, kentut, orgasme, panik, tersedak. Tubuh yang gagal menjaga martabatnya. Kamera menyukai momen itu.

Film-film lama Hollywood sebenarnya lebih menjaga jarak. Era klasik seperti film-film Alfred Hitchcock, atau drama studio MGM tahun 1940-an, jarang mempertontonkan muntah eksplisit. Sensor Hays Code membuat banyak hal harus disamarkan. Orang mabuk cuma tampak limbung. Orang sakit cukup berkeringat dan rebahan. Penonton dipaksa membayangkan sendiri bagian kotornya.

Lalu budaya film berubah. Tahun 1973, The Exorcist datang seperti palu godam. Kepala berputar, tubuh kerasukan, lalu muntah hijau menyembur ke wajah Pastor Karras. Penonton pingsan di bioskop. Sebagian keluar sambil mual. Adegan itu terkenal justru karena menjijikkan. Efek spesialnya memakai sup kacang polong Andersen’s split pea soup yang disemprotkan lewat selang tekanan tinggi ke wajah aktor Jason Miller. Bahkan reaksinya di layar sebagian asli, karena semprotan cairan itu ternyata jauh lebih keras dari dugaan.

Setelah itu, muntah mendapat status baru dalam sinema; alat kejut. Film horor memakainya untuk membuat tubuh penonton bereaksi spontan. Refleks jijik manusia sangat primal. Otak kita dirancang menghindari cairan tubuh karena berkaitan dengan penyakit. Ketika layar besar IMAX memperlihatkan orang muntah dengan sangat detail—tekstur cairan, suara tenggorokan, sisa makanan—tubuh penonton ikut menegang. Mata menyipit otomatis. Ada orang yang langsung kehilangan selera makan.

Hollywood menyadari itu cepat sekali. Komedi kemudian ikut memakainya. Di sinilah saya mulai merasa ada sesuatu yang malas dalam penulisan banyak film modern. Muntah sering dipakai sebagai shortcut. Penulis tidak tahu bagaimana membuat adegan lucu? Suruh karakter muntah. Ingin menunjukkan seseorang terlalu mabuk? Muntah. Ingin menegaskan kecemasan? Muntah. Ingin membuat karakter tampak “realistis”? Muntah lagi.

Pitch Perfect punya salah satu contoh paling terkenal; adegan “vomit fountain” di panggung kompetisi acapella. Karakter Aubrey muntah terus-menerus ke penonton dalam volume yang sengaja dibuat absurd. Bioskop penuh suara tertawa waktu itu. Saya cuma merasa lelah. Rasanya seperti melihat film berkata, “Hei, lihat, cairan tubuh! Lucu, kan?”

Ada jenis humor yang terasa putus asa ketika terlalu bergantung pada muntah. 

Kadang saya curiga Hollywood memakai muntah karena industri film modern makin takut pada keheningan emosional. Semua harus cepat. Semua harus punya stimulus fisik instan. Penonton tidak boleh sempat bosan. Tubuh harus terus diganggu. Ledakan. Teriakan. Potongan cepat. Lalu muntah. Tubuh manusia dijadikan tombol.

Aneh juga melihat bagaimana sensor moral Amerika bekerja. Film bisa penuh tembakan kepala dan tulang patah, tapi seks sering lebih disensor. Muntah justru lolos santai sebagai hiburan keluarga. Anak kecil bisa menonton karakter muntah hijau ke wajah orang lain dalam film PG-13 sambil makan popcorn rasa karamel.

Saya pernah menonton bioskop ketika seseorang di baris belakang benar-benar muntah gara-gara adegan ekstrem di Triangle of Sadness. Film itu punya sekuens makan malam kapal pesiar yang panjang dan brutal; orang kaya mabuk laut sambil muntah massal. Kamera tidak memotong cepat. Sutradara Ruben Östlund sengaja membiarkan penonton tenggelam dalam kekacauan tubuh manusia. Toilet meluap, makanan bercampur cairan lambung, gaun mahal kena cipratan muntah.

Saya sebenarnya mengerti kenapa adegan itu ada. Östlund sedang menghancurkan citra elegan kaum elite. Ia ingin tubuh mereka tampak hina, sama rapuhnya dengan siapa pun. Tetap saja, mata terasa capek melihatnya terlalu lama. Bau imajiner seperti ikut naik ke hidung.

Ada perbedaan besar antara muntah yang punya fungsi dramatik dengan muntah yang sekadar jadi gimmick. Film seperti Trainspotting memakai tubuh yang rusak untuk menunjukkan kecanduan heroin secara brutal. Ketika karakter-karakternya muntah atau overdosis, penonton dipaksa melihat degradasi fisik yang nyata. Rasa jijiknya punya konteks sosial. Ada keputusasaan kelas pekerja Edinburgh di sana. Ada tubuh muda yang habis perlahan. Sayangnya, film blockbuster sering memakai muntah seperti efek suara tambahan.

Lalu internet memperparah semuanya. Budaya video viral, prank, reaction video, membuat muntah makin diterima sebagai tontonan lucu. Orang merekam temannya muntah usai naik wahana. Streamer muntah karena challenge makanan pedas. TikTok penuh video orang mual. Hollywood hidup di atmosfer budaya yang sama; mereka tahu penonton modern sudah makin kebal terhadap rasa jijik ringan.

Bahkan kadang adegan muntah dibuat sangat teknis. Industri efek spesial punya resep sendiri; oatmeal, sup kacang, susu basi palsu, pewarna makanan, potongan biskuit, cokelat cair. Aktor memakai selang tersembunyi di pipi untuk memuntahkan cairan secara dramatis. Kru film menyebutnya “vomit rig”. Ada orang yang kariernya memang merancang muntahan palsu agar terlihat sinematik. Kalimat itu saja sudah terasa aneh ketika dipikirkan terlalu lama.

Yang paling mengganggu saya sebenarnya bukan jijiknya. Tubuh manusia memang menjijikkan, kadang-kadang. Orang sakit muntah. Anak kecil muntah. Mabuk laut muntah. Itu nyata. Masalahnya, film modern sering terasa terlalu menikmati kehancuran kecil tubuh manusia. Kamera linger terlalu lama. Efek suara diperbesar. Penonton diajak menikmati rasa jijik bersama-sama seperti ritual komunal. Ada semacam infantilisme di sana. Sensasi murahan yang dibungkus sinema mahal.

Lucunya, banyak sutradara hebat justru mampu menunjukkan penderitaan fisik tanpa muntah eksplisit. Akira Kurosawa bisa membuat tubuh kelelahan terasa nyata hanya lewat napas aktor dan lumpur di wajah mereka. David Fincher sering memakai detail kecil—keringat dingin, mata kosong, tangan gemetar—tanpa harus menyemburkan cairan ke layar tiap dua puluh menit.

Hollywood sekarang tampaknya kurang percaya penonton bisa merasakan sesuatu tanpa dipukul langsung ke sistem sarafnya.

Kadang saya membayangkan ruang editing film blockbuster modern. Produser duduk sambil menonton rough cut lalu berkata, “Bagian ini kurang lucu. Tambahkan muntah.”

Lalu seseorang benar-benar mengangguk serius.

Related

Entertainment 1272794079744429996

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item