Seorang Pria Nonton Film di Bioskop Pakai Sandal, Lalu Internet Marah

Ilustrasi/tangerangnews.com
Lampu bioskop belum padam ketika seseorang diam-diam mengangkat ponsel dan memotret kaki orang lain. Bukan karena ada darah. Bukan karena ada senjata. Cuma sepasang sandal.

Foto itu kemudian naik ke media sosial dengan nada yang hampir seperti laporan pelanggaran moral. Ada kemarahan kecil di sana, jenis kemarahan yang sekarang tumbuh subur di internet Indonesia; orang merasa punya hak untuk mendisiplinkan orang lain. Caption-nya kira-kira berbunyi bahwa bioskop bukan tempat memakai sandal. Bahwa ada standar kepantasan. Bahwa ini “nggak classy”.

Saya membaca keributan itu sambil membayangkan aroma khas bioskop XXI; campuran karpet lembap, mentega popcorn sintetis, pendingin ruangan yang terlalu dingin sampai betis terasa kering. Tempat yang sebenarnya sangat banal. Orang masuk ke ruangan gelap untuk duduk dua jam sambil menatap layar raksasa. Selesai. Pulang. Aneh sekali ketika ruang sesederhana itu mulai diperlakukan seperti ballroom hotel.

Orang yang membela si pemakai sandal kemudian datang dengan argumen lain; harga sandal itu mungkin lebih mahal daripada sepatu orang-orang yang mengejeknya. Muncul foto sandal Birkenstock, Yeezy Slide, Crocs edisi terbatas, sandal kulit buatan tangan yang harganya jutaan rupiah. Internet Indonesia memang punya bakat luar biasa untuk mengubah semua perdebatan menjadi katalog harga.

Saya justru terganggu pada dua kubu sekaligus. Yang satu sibuk menjaga “martabat bioskop” seolah Studio 3 di mall kota satelit adalah opera house di Milan. Yang satu lagi sibuk membela sandal karena mahal. Seolah nilai manusia tetap harus diselamatkan lewat nominal.

Padahal inti persoalannya jauh lebih telanjang; kenapa orang lain begitu gelisah melihat kaki terbuka di bioskop?

Saya besar di Indonesia yang punya hubungan aneh dengan sandal. Di sekolah, sandal dianggap simbol kemalasan. Di kantor pemerintahan, sandal dianggap tidak sopan. Banyak masjid bahkan lebih menerima sandal dibanding pusat perbelanjaan modern. Ironis juga. Tempat ibadah yang lantainya dipijak dahi manusia justru lebih santai soal alas kaki dibanding bioskop yang lantainya lengket bekas tumpahan Coca-Cola.

Di banyak mall Jakarta, Surabaya, Semarang, aturan berpakaian sebenarnya tidak pernah benar-benar tertulis secara jelas. Tapi semua orang tahu ada kode tak kasatmata. Satpam mungkin tidak akan menghentikan orang bersandal, tapi tatapan orang lain bekerja lebih efektif daripada papan larangan. Tatapan kelas sosial.

Sandal di Indonesia bukan cuma alas kaki. Ia penanda. Tukang galon pakai sandal swallow biru. Buruh proyek pakai sandal gunung lusuh dengan bekas semen mengering di pinggirnya. Bapak-bapak ronda pakai sandal jepit sambil merokok kretek di gardu. Ketika seseorang masuk bioskop memakai sandal, sebagian orang langsung membaca tubuhnya sebagai “tidak niat”, “kurang pantas”, atau kalimat yang sebenarnya lebih kasar; bukan golongan kita.

Lucunya, bioskop modern sejak awal memang dibangun sebagai mesin pemisah kelas. Harga tiket premiere lebih mahal. Sofa lebih empuk. Selimut tersedia. Harga popcorn ukuran besar bisa menyamai makan siang warteg tiga orang. Ada orang rela antre untuk nonton film Marvel jam pertama hanya agar bisa upload foto tiket dan kursi kulit.

Pengalaman menonton sekarang makin mirip ritual status. Makanya saya tidak heran ketika sandal jadi masalah. Bukan karena sandalnya. Tapi karena ada orang yang merasa pengalaman konsumsi mereka “tercemari”. Mereka sudah memakai parfum, memilih outfit, foto mirror selfie sebelum masuk studio, lalu duduk di sebelah seseorang yang terlihat terlalu santai. Terlalu tidak hormat pada atmosfer konsumsi yang sedang mereka bangun.

Padahal bioskop Indonesia sendiri sering kacau. Orang main HP dengan brightness maksimal. Anak kecil menangis di film horor jam sembilan malam. Pasangan ngobrol sepanjang film. Suara kunyahan nachos terdengar seperti kerupuk dilempar ke dinding. Kursi kadang bau apek. Pendingin ruangan kadang terlalu dingin sampai telinga berdenging waktu keluar studio. Tapi sandal dianggap ancaman utama.

Saya pernah menonton film di bioskop kecil, sendirian. Seorang lelaki masuk memakai kaus oblong lusuh dan sandal jepit hitam. Ia membeli tiket sendiri, duduk tidak jauh dari saya, menonton dengan tenang. Tidak mengganggu siapa pun. Yang mengganggu justru sekelompok mahasiswa rapi di belakang, yang sibuk tertawa dan merekam reaction untuk Instagram Story.

Orang sering lupa bahwa sopan santun publik seharusnya diukur dari perilaku, bukan kostum.

Media sosial memperburuk semuanya, karena sekarang semua orang bisa menjadi polisi estetika. Sedikit-sedikit difoto. Sedikit-sedikit diunggah. Tubuh orang lain berubah jadi konten tanpa izin. Ada kepuasan aneh ketika berhasil menemukan “penyimpangan kecil” di ruang publik. Seorang lelaki makan di restoran sendirian, difoto. Orang tidur di KRL, difoto. Ibu-ibu pakai daster di minimarket, difoto. Pemakai sandal di bioskop, difoto.

Orang Indonesia sebenarnya makin haus menertibkan sesama warga lewat rasa malu. Mungkin karena hidup kita sendiri terlalu sempit dan terlalu diawasi. Jadi kesempatan menghakimi orang lain terasa seperti bonus kecil. Ada sensasi kuasa di sana. Jempol terasa ringan waktu menekan tombol upload.

Saya lebih terganggu pada tindakan memotretnya diam-diam dibanding sandal itu sendiri. Ada sesuatu yang licin secara moral ketika seseorang mengabadikan tubuh orang asing hanya karena merasa standar estetikanya terganggu. Apalagi di ruang gelap bioskop, tempat semua orang seharusnya anonim. Tempat orang datang untuk lenyap sebentar dari dunia luar.

Sekarang bahkan kaki orang bisa dijadikan bahan sidang nasional. Indonesia sedang masuk fase aneh ketika kelas sosial tidak lagi dibuktikan lewat pendidikan atau cara berpikir, tapi lewat performa kecil sehari-hari. Kopi harus artisanal. Sepatu harus merek tertentu. Tempat gym harus fotogenik. Outfit nonton bioskop harus cukup layak untuk diunggah ke TikTok.

Kita hidup di masa ketika orang lebih takut terlihat “nggak proper” dibanding benar-benar mengganggu orang lain.

Saya membayangkan orang yang memakai sandal itu mungkin cuma ingin nyaman. Mungkin habis kehujanan. Mungkin kukunya sedang luka kalau pakai sepatu tertutup. Mungkin ia baru pulang kerja shift malam dan terlalu capek untuk peduli dress code imajiner bioskop. Mungkin ia cuma manusia biasa yang ingin menonton film tanpa tahu bahwa kakinya akan jadi bahan diskusi nasional beberapa jam kemudian.

Internet membuat semua orang bisa dihukum tanpa pengadilan. Kadang cuma karena tumit terlihat.

Aneh juga, negara tropis dengan suhu siang 34 derajat bisa begitu terobsesi menutupi kaki demi dianggap beradab. Orang-orang berkeringat di parkiran mall, punggung lengket, leher bau matahari, tapi tetap memaksa memakai sneakers tebal supaya terlihat pantas membeli tiket film.

Di beberapa kota pesisir Indonesia, sandal justru terasa paling masuk akal. Di Tegal, Pekalongan, Makassar, Ambon, orang tumbuh bersama sandal. Air got meluap sedikit, sepatu langsung jadi beban. Sandal lebih jujur terhadap cuaca negeri ini.

Lampu studio menyala setelah credit title selesai. Orang-orang berdiri, meregangkan kaki, mengecek ponsel masing-masing. Seseorang mungkin masih sibuk menulis caption soal etika berpakaian di bioskop.

Orang bersandal itu mungkin bahkan tidak sadar dirinya baru saja dijadikan barang tontonan kedua malam itu.

Related

Indonesia 3924406766367574220

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

item