Thanos, di Antara Idealisme dan Lenyapnya Separuh Kehidupan

Ilustrasi/kaltengpos.info
Suara jari yang dijentikkan Thanos tidak terdengar keras. Tidak ada ledakan. Hanya bunyi kecil—kering, hampir sopan. Lalu separuh kehidupan di alam semesta lenyap dalam satu gerakan yang terasa terlalu sederhana untuk konsekuensi sebesar itu. Debu beterbangan, pelan, seperti abu rokok yang jatuh dari ujung yang sudah terlalu lama dibiarkan menyala. 

Thanos berdiri di tengah kehancuran itu tanpa terengah-engah, tanpa teriakan kemenangan. Wajahnya justru tampak seperti seseorang yang baru saja menyelesaikan pekerjaan panjang yang melelahkan. Ada kelegaan di sana. Sesuatu yang lebih mirip ketenangan—sejenis kepuasan yang dingin.

Film Avengers: Infinity War membingkai momen itu sebagai kekalahan besar. Para pahlawan tumbang, satu per satu, dengan cara yang tidak heroik. Peter Parker memegang tangan Tony Stark sambil berkata ia tidak ingin pergi. Tubuhnya hancur menjadi partikel-partikel yang melayang. Di bioskop, ada suara orang menarik napas panjang, beberapa menutup mulut dengan tangan, yang lain diam seperti tak percaya.

Tapi kalau sudut pandangnya digeser sedikit saja, adegan itu berubah bentuk. Bagi seseorang yang memegang prinsip dengan cara yang ekstrem, itu bukan tragedi. Itu keberhasilan. Atau kemenangan.

Thanos bukan penjahat yang impulsif. Ia bukan tipe yang tersinggung lalu menghancurkan dunia. Ia datang dengan tesis. Planet asalnya, Titan, pernah berada di ambang kehancuran karena kelebihan populasi dan kekurangan sumber daya. Ia menawarkan solusi—mengurangi jumlah penduduk secara acak agar keseimbangan kembali. Ia ditolak, dianggap gila, lalu menyaksikan kehancuran itu benar-benar terjadi.

Detail kecil itu penting. Ia tidak sekadar “ingin membunuh setengah populasi”. Ia pernah merasa benar, ditertawakan, lalu sejarah seperti mengonfirmasi ketakutannya. Di kepalanya, tragedi Titan bukan peringatan untuk berhenti, tapi bukti bahwa ia terlambat.

Di Avengers: Endgame, ada adegan singkat ketika ia tinggal di sebuah pondok sederhana setelah berhasil melenyapkan separuh kehidupan. Ia memasak sup. Gerakannya pelan, hampir seperti ritual. Tangan sama yang menghancurkan setengah alam semesta kini menyiapkan bahan makanan dengan ritme yang biasa saja. Tidak ada musik heroik, tidak ada rasa bersalah yang ditunjukkan secara eksplisit.

Kesan yang muncul justru aneh; ia merasa sudah menyelamatkan sesuatu.

Bagi seorang idealis, logika seperti itu tidak asing. Ada garis lurus yang ditarik dari masalah ke solusi, tanpa banyak tikungan. Jika populasi terlalu banyak dan sumber daya terbatas, mengurangi populasi dianggap tindakan rasional. Tidak ada ruang untuk kompromi, karena kompromi dianggap penundaan menuju kehancuran yang lebih besar.

Masalahnya bukan pada logika awalnya. Banyak orang bisa sepakat bahwa sumber daya terbatas dan populasi yang terus bertambah menciptakan tekanan. Yang jadi masalah adalah keberanian untuk mengeksekusi kesimpulan itu tanpa mempertimbangkan nilai lain—kehidupan individu, hubungan, kenangan, hal-hal yang tidak bisa diukur dalam angka.

Thanos menghapus semua itu dari persamaan.

Ketika ia mengorbankan Gamora di Vormir demi mendapatkan Soul Stone, momen itu sering dibaca sebagai bukti bahwa ia juga “menderita”. Ia menangis. Ia ragu sejenak. Tapi yang lebih mengganggu justru keputusan akhirnya. Ia tetap melakukannya. Air mata tidak mengubah hasil.

Dalam kerangka idealisme yang ekstrem, pengorbanan seperti itu justru memperkuat posisi. Jika seseorang rela kehilangan hal yang paling ia cintai demi sebuah tujuan, maka tujuan itu dianggap semakin sah. Seolah-olah rasa sakit menjadi mata uang moral.

Apakah itu membuatnya pahlawan?

Pertanyaan itu tidak nyaman, karena jawabannya tergantung pada posisi berdiri. Dari sudut pandang korban, tentu tidak. Dari sudut pandang seseorang yang percaya bahwa tujuan kolektif lebih penting daripada individu, jawabannya bisa bergeser.

Di sini, Marvel melakukan sesuatu yang jarang mereka lakukan pada antagonis lain; memberi ruang bagi penonton untuk memahami, bahkan sesekali mengangguk kecil pada argumen yang diajukan. Tidak berarti setuju, tapi cukup untuk merasa bahwa itu bukan kegilaan tanpa dasar.

Josh Brolin, yang memerankan Thanos, memberikan nuansa yang tidak berisik. Suaranya rendah, tidak terburu-buru. Ia tidak berbicara seperti orang yang mencoba meyakinkan orang lain; ia berbicara seperti seseorang yang sudah yakin, dan hanya menjelaskan. Ada perbedaan halus di sana. Tidak ada urgensi untuk disetujui.

Bandingkan dengan para Avengers. Mereka sering bergerak dari satu krisis ke krisis lain, bereaksi, memperbaiki, menyelamatkan. Mereka tidak memiliki satu visi besar yang tunggal. Mereka lebih dekat dengan dunia nyata—penuh improvisasi, penuh kesalahan, penuh keputusan yang diambil dalam tekanan waktu.

Thanos berdiri di sisi lain; satu visi, satu arah, satu solusi.

Di kepala seorang idealis, konsistensi seperti itu memiliki daya tarik yang kuat. Dunia terasa lebih sederhana. Tidak ada kebingungan. Tidak ada tarik-menarik antara pilihan. Semua sudah jelas, tinggal dilaksanakan.

Tapi ada sesuatu yang dingin dalam kejelasan itu. Sesuatu yang menghapus kompleksitas manusia menjadi angka-angka. Separuh populasi bukan lagi kumpulan individu dengan cerita masing-masing, tapi variabel dalam sebuah persamaan.

Saya ingat satu momen kecil di Avengers: Infinity War, ketika Doctor Strange melihat jutaan kemungkinan masa depan. Ia mencari satu jalur yang memungkinkan mereka bisa menang. Ada kesan bahwa masa depan tidak tunggal, bahwa selalu ada cabang-cabang yang bisa dipilih.

Thanos tidak berpikir seperti itu. Ia tidak mencari kemungkinan; ia menetapkan hasil.

Dan mungkin di situlah letak perbedaan paling tajam antara pahlawan dan sosok seperti Thanos. Bukan soal siapa yang benar secara absolut, tapi bagaimana mereka memperlakukan ketidakpastian. Para pahlawan hidup dengan ketidakpastian, bahkan sering kali tersandung olehnya. Thanos menolaknya mentah-mentah.

Ketika Steve Rogers berkata, “We don’t trade lives,” itu terdengar seperti prinsip yang kuat. Tapi kalimat itu juga membuka celah; jika tidak pernah ada pertukaran, bagaimana menghadapi situasi ketika pilihan buruk tak bisa dihindari? Apakah itu berarti membiarkan lebih banyak orang mati demi menjaga prinsip tetap bersih?

Thanos akan menjawab dengan cepat; pilih angka yang lebih kecil.

Di titik tertentu, seri Avangers berhenti menjadi sekadar tontonan superhero. Ia berubah menjadi semacam eksperimen pikiran tentang apa yang terjadi ketika idealisme tidak dibatasi oleh empati. Atau ketika empati dianggap sebagai gangguan terhadap tujuan yang lebih besar.

Ada sebagian penonton seri Avengers yang setuju dengan Thanos, sebagian lain menentangnya. Bagaimana pun, ada bagian kecil dari argumen Thanos yang terasa terlalu rapi untuk diabaikan begitu saja.

Dan bagian kecil itu berbahaya.

Karena dari sana, seseorang bisa mulai membenarkan langkah-langkah berikutnya. Sedikit demi sedikit. Sampai suatu hari, garis yang tadinya terasa jelas antara pahlawan dan penjahat menjadi kabur, lalu hilang sama sekali.

Ketika akhirnya Thanos sendiri hancur menjadi debu, partikel-partikel itu jatuh pelan, lalu hilang. Yang tidak ikut menghilang justru pikiran bahwa logika seperti itu tidak ikut lenyap—ia bisa muncul lagi, kapan saja, pada siapa saja.

Related

Entertainment 3975798290880537519

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item