Enam Juta Tikus di Paris, Fakta Mencengangkan dari Kota Romantis

Ilustrasi/kontakbanten.co.id
Paris digerogoti dari bawah tanah. Bukan metafora. Benar-benar dari bawah tanah.

Di sela batu trotoar dekat Sungai Seine, di lorong metro yang lembap, di bawah restoran kecil yang menjual croissant seharga belasan euro untuk turis Jepang, jutaan tikus bergerak tanpa suara. Kota yang selama puluhan tahun dijual sebagai simbol romantisme Eropa ternyata berdiri di atas koloni hewan pengerat yang populasinya diperkirakan mencapai enam juta ekor. Tiga kali lebih banyak daripada manusia di Paris sendiri.

Enam juta. Sulit memahami angka sebesar itu sampai membayangkan seekor tikus muncul setiap kali tiga orang Paris berjalan lewat.

Wali Kota Paris, Anne Hidalgo, pernah bicara tentang kemungkinan “hidup berdampingan” dengan tikus. Kalimat itu langsung memancing reaksi keras. Sebagian warga marah karena terdengar seperti menyerah. Yang lain justru menganggapnya realistis. Pemerintah kota bahkan membentuk komite untuk memikirkan ulang cara menghadapi tikus; apakah mereka harus terus dimusnahkan, atau diterima sebagai bagian permanen dari ekosistem kota.

Lucu juga. Salah satu kota paling elegan di dunia sekarang mendiskusikan koeksistensi dengan tikus seperti sedang membahas hak minoritas baru.

Foto-foto Paris selama demonstrasi reformasi pensiun membuat semuanya tampak makin brutal. Gunungan kantong sampah hitam menumpuk di Boulevard Saint-Germain dan sekitar Place de la Concorde karena petugas kebersihan mogok kerja. Bau asam sampah basah nyaris bisa terasa bahkan lewat video ponsel. Tikus-tikus keluar malam hari dengan percaya diri yang menjengkelkan. Mereka tidak lagi bergerak cepat sambil bersembunyi. Mereka berjalan pelan.

Ada rekaman seekor tikus besar memanjat tumpukan sampah dekat sebuah kafe, sementara orang-orang tetap duduk minum anggur beberapa meter darinya. Seorang perempuan mengangkat kaki sambil meringis. Pria di sebelahnya tetap mengisap rokok dengan santai. Orang Paris punya bakat unik untuk terlihat bosan bahkan di tengah kekacauan biologis.

Paris memang selalu punya hubungan panjang dengan tikus. Kota tua Eropa dibangun di atas jaringan selokan, ruang bawah tanah, katakombe, terowongan metro, dan lorong servis yang rumit seperti saraf busuk. Tikus mencintai kota seperti itu. Mereka punya makanan melimpah, celah perlindungan, musim dingin yang masih bisa ditoleransi, dan manusia yang terlalu sibuk untuk benar-benar memusnahkan mereka.

Abad ke-14, tikus dan kutu ikut membantu menyebarkan Black Death yang membunuh jutaan orang Eropa. Orang Paris modern mungkin suka memotret Menara Eiffel dengan cahaya keemasan sambil mendengarkan akordeon jalanan, tetapi kota itu juga pernah penuh gerobak mayat dan bau tubuh membusuk.

Romantisme Paris sering bekerja seperti filter Instagram raksasa. Orang hanya melihat fasad krem dan balkon besi hitam. Mereka lupa kota besar selalu punya isi perut.

Tikus adalah isi perut Paris.

Saya menonton video petugas pengendali hama membuka saluran air kota. Kamera menyorot air keruh kecokelatan bergerak pelan. Puluhan mata kecil berkilat dari sudut gelap. Tikus-tikus berlarian saling menabrak. Suara cipratan airnya membuat tengkuk terasa gatal. Rasanya seperti melihat sesuatu yang seharusnya tetap tersembunyi.

Orang modern punya obsesi aneh pada kebersihan visual. Sampah harus hilang cepat. Bangkai harus segera disingkirkan. Bau busuk dianggap kegagalan administratif. Tikus membuat semua ilusi itu runtuh. Mereka pengingat bahwa kota secanggih apa pun tetap menghasilkan limbah organik dalam jumlah mengerikan.

Setiap baguette yang dibuang, setiap sisa keju, setiap kantong McDonald’s yang dilempar sembarangan, semuanya berubah jadi pesta tengah malam bagi makhluk-makhluk kecil berbulu abu-abu itu.

Banyak warga Paris marah ketika Anne Hidalgo terdengar terlalu “lunak” terhadap tikus. Mereka ingin pembasmian total. Racun lebih banyak. Perang besar-besaran. Problemnya sederhana; perang melawan tikus hampir selalu kalah.

New York mencoba. London mencoba. Mumbai mencoba. Tikus tetap ada. 

Hewan itu terlalu adaptif. Mereka bisa belajar menghindari jebakan, berkembang biak sangat cepat, bahkan mengenali pola ancaman. Penelitian menunjukkan, tikus mampu mengingat rute dan mengajari sesamanya. Kadang mereka terdengar lebih cocok jadi antagonis film sci-fi dibanding hewan selokan biasa.

Paris sendiri punya sejarah kontradiktif soal hewan. Kota itu melarang banyak hal demi estetika urban modern, tetapi jutaan turis tetap membuang makanan sembarangan di taman. Orang-orang piknik di Champ de Mars sambil meninggalkan remah roti dan kemasan. Malam turun, tikus mengambil giliran.

Mungkin yang membuat banyak orang jijik bukan cuma risiko penyakit. Tikus terasa ofensif secara simbolik. Mereka hidup dari sisa kita. Mereka berkembang karena kegagalan kita menjaga kota tetap terkendali. Kehadiran mereka seperti penghinaan terhadap gagasan manusia modern yang merasa sudah menguasai alam. Seekor tikus melintas di rel metro Paris mungkin lebih jujur daripada slogan kota pintar mana pun.

Ada bagian yang terasa ironis. Paris selama ini dipromosikan sebagai kota haute couture, parfum mahal, museum kelas dunia, dan restoran Michelin. Kota yang menjual mimpi keindahan Eropa kepada dunia. Turis berdiri antre berjam-jam demi foto di Louvre, sementara beberapa meter di bawah kaki mereka, ribuan tikus mungkin sedang menggigiti plastik bekas dan saling kawin di lorong gelap. Kontrasnya terlalu sempurna sampai terasa seperti satire.

Saya membaca komentar warga Paris di forum lokal. Sebagian terdengar lelah. Mereka bilang tikus sekarang muncul siang hari, tidak takut manusia, bahkan mendekati bangku taman tempat orang makan siang. Seorang warga menulis bahwa anaknya melihat tikus sebesar anak kucing dekat Canal Saint-Martin. Saya tidak tahu apakah itu dilebih-lebihkan atau tidak. Internet memang suka drama. Tapi video-video yang beredar cukup membuat kulit terasa tidak nyaman.

Mata tikus punya kilau khas yang membuat orang merinding. Bukan karena menyeramkan secara objektif, mungkin lebih karena manusia sudah lama memutuskan bahwa hewan itu simbol kekotoran. Kalau bentuknya lebih lucu dan berbulu halus seperti tupai, reaksinya mungkin berbeda.

Disney berhasil membuat jutaan anak mencintai tikus lewat karakter Remy di film Ratatouille. Tikus Paris versi nyata tidak memasak sup elegan. Mereka menggigit kantong sampah bocor di gang belakang restoran.

Anne Hidalgo sendiri figur politik yang sering memancing kontroversi. Ia didukung karena upayanya mengurangi mobil dan memperbanyak jalur sepeda di Paris, tetapi juga dikritik karena dianggap gagal menjaga kebersihan dan keamanan kota. Pernyataannya soal hidup berdampingan dengan tikus terdengar seperti kalimat yang lahir dari kelelahan birokrasi kota besar. Semacam pengakuan samar bahwa ada masalah yang terlalu besar untuk benar-benar dibereskan. Kadang pemerintah modern terdengar seperti orang yang mencoba negosiasi dengan banjir.

Di malam tertentu, Paris masih terlihat sangat indah. Lampu kuning memantul di permukaan Seine. Musik jalanan terdengar dari sudut Montmartre. Pasangan-pasangan berpelukan di trotoar sambil tertawa kecil. Kota itu memang tahu cara membuat dirinya tampak mempesona.

Tikus-tikus tetap bergerak di bawah sana. Mereka tidak peduli pada puisi Prancis, revolusi, mode, atau sejarah seni Eropa. Mereka cuma mengikuti bau makanan dan kehangatan pipa bawah tanah.

Seekor tikus muncul dari sela got dekat Rue de Rivoli dalam salah satu video yang saya tonton. Tubuhnya basah. Ekornya panjang dan pucat seperti kabel hidup. Orang-orang lewat tanpa berhenti. Mobil terus bergerak. Lampu toko tetap menyala. Tikus itu berdiri beberapa detik di pinggir trotoar, lalu masuk lagi ke lubang gelap.

Related

Internasional 6925126614202602166

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item