Mengenang Dolores O’Riordan dan Marie Fredriksson

Ilustrasi/news.com.au
Banyak orang baru sadar betapa pentingnya sebuah suara setelah suara itu hilang.

Bukan lagu dulu yang terasa hilang. Suaranya.

Suara Dolores O’Riordan yang pecah seperti orang sedang menahan sesuatu di tenggorokan. Suara Marie Fredriksson yang bisa terdengar keras, romantis, dan putus asa dalam satu lagu yang sama. Dua perempuan dari dua grup besar Eropa yang musiknya menyebar sampai ke kota-kota kecil Indonesia, masuk lewat kaset bajakan, radio FM lokal, MTV Asia, dan speaker tape recorder yang cone-nya mulai berdebu.

Kematian mereka terasa aneh, karena mereka bukan tipe bintang yang hidup dari skandal atau sensasi murahan. Orang mengenang mereka lewat suara. Dan suara jauh lebih sulit digantikan dibanding wajah.

Coba putar Zombie tanpa Dolores. Lagu itu langsung terasa seperti tubuh kosong.

Lagu tersebut muncul pada 1994, terinspirasi pengeboman IRA di Warrington, Inggris, yang menewaskan dua anak kecil; Jonathan Ball dan Tim Parry. Banyak musisi membuat lagu protes politik pada era itu, tetapi “Zombie” punya kemarahan yang berbeda. Dolores tidak bernyanyi seperti aktivis kampus yang sedang pidato. Ia terdengar seperti seseorang yang benar-benar muak melihat manusia mengulang kebodohan berdarah yang sama terus-menerus.

“In your head… in your head…”

Cara ia menyanyikannya hampir seperti orang ekstase.

Video klipnya masih terasa menggetarkan sampai sekarang. Anak-anak berdiri diam. Tentara patroli. Warna emas pucat. Mata Dolores menatap kamera dengan tatapan yang sulit dijelaskan—setengah marah, setengah lelah. MTV memutarnya terus-menerus pada pertengahan 1990-an. Di Indonesia, anak-anak SMP yang bahkan belum paham konflik Irlandia ikut menyanyikannya dengan logat berantakan.

Itu kekuatan musik era tersebut. Lagu bisa melintasi bahasa, politik, dan geografi tanpa perlu dijelaskan dulu lewat thread panjang internet.

The Cranberries sebenarnya tidak pernah benar-benar cocok dimasukkan ke satu kotak genre. Mereka muncul ketika alternative rock sedang meledak setelah Nirvana, tetapi musik mereka membawa sesuatu yang lebih tua dan lebih Eropa. Ada folk Irlandia di sana. Ada gereja Katolik. Ada kesunyian kota kecil Limerick. Ada suara hujan dingin dan jalan batu.

Dolores lahir di Ballybricken, County Limerick, anak bungsu dari keluarga Katolik pekerja. Ia tumbuh dengan musik gereja dan kesederhanaan hidup Irlandia pedesaan. Itu terasa pada cara ia bernyanyi. Kadang suaranya terdengar seperti nyanyian liturgi yang dilempar ke musik rock.

Lalu ada yodel kecil khasnya. Naik-turun vokal aneh yang dulu sering ditiru anak-anak sekolah tanpa benar-benar bisa dilakukan dengan benar. Banyak penyanyi perempuan setelahnya terdengar terlalu sadar teknik. Dolores terdengar liar dan sedikit berbahaya. Kadang nadanya nyaris pecah. Justru itu yang membuatnya hidup.

Kematiannya pada 2018 terasa mengejutkan karena datang mendadak. Ia ditemukan meninggal di kamar hotel di London pada usia 46 tahun. Belakangan diketahui penyebabnya tenggelam akibat keracunan alkohol. Berita itu lewat cepat di internet, lalu orang-orang mulai memutar lagu-lagunya lagi semalaman.

Ada rasa tidak rela ketika penyanyi yang suaranya dulu menemani masa remaja ternyata meninggal sendirian di kamar hotel.

Tubuh manusia memang menyedihkan sekali dibanding suara yang ditinggalkannya.


Marie Fredriksson berbeda. Roxette datang dari dunia pop yang lebih terang, lebih radio-friendly, lebih penuh hook besar. Tetapi Marie punya sesuatu yang tidak dimiliki banyak penyanyi pop; tenaga.

Ia bisa membuat lagu pop terdengar seperti sedang dipertaruhkan dengan nyawa.

Dengarkan “Listen to Your Heart”. Lagu itu sebenarnya sangat melodramatis. Kalau jatuh ke tangan penyanyi lain, mungkin akan terdengar murahan. Marie menyanyikannya dengan keyakinan penuh, nyaris terlalu serius. Hasilnya sangat menghantam.

Roxette dibentuk Marie bersama Per Gessle pada pertengahan 1980-an. Mereka berasal dari Swedia, negara yang kelihatannya terlalu rapi untuk melahirkan musik seemosional itu. Tetapi pop Swedia memang punya tradisi aneh; melodinya sangat bersih, sangat mudah diingat, tapi emosinya besar sekali. ABBA punya itu. Roxette punya itu.

Kaset Roxette dulu ada di mana-mana di Indonesia.

Di toko elektronik kecil. Di dashboard bus malam. Di rumah-rumah yang punya tape deck Polytron. Lagu “It Must Have Been Love” diputar di radio malam bersama suara penyiar yang terlalu lembut. Banyak orang Indonesia pertama kali mendengar lagu itu lewat film Pretty Woman, lalu tidak bisa melepaskannya.

Marie punya potongan rambut pendek pirang yang sangat khas awal 1990-an. Wajahnya tajam. Ketika bernyanyi, ia tidak terlihat manis dalam pengertian pop biasa. Ada sesuatu yang keras di sana. Hampir dingin. Tetapi saat masuk bagian chorus, suaranya membuka semua lapisan itu sekaligus.

Kanker otak menyerangnya pada 2002. Ia sempat kehilangan penglihatan sebagian, sulit membaca, sulit menghitung. Dokter bahkan memperkirakan peluang hidupnya kecil. Tetapi ia kembali tampil. Itu yang membuat banyak orang begitu menghormatinya. Marie bukan figur pop plastik yang hidup dari pencitraan awet muda. Tubuhnya benar-benar dihajar penyakit.

Foto-foto penampilan akhirnya bersama Roxette terasa menyakitkan dilihat sekarang. Tubuhnya lebih rapuh. Gerakannya terbatas. Tetapi ia tetap naik panggung.

Industri musik modern terlalu sering menghasilkan penyanyi yang terdengar sempurna tetapi tidak punya bekas luka. Suara mereka bersih seperti hasil laboratorium software.

Dolores dan Marie datang dari era berbeda. Era ketika suara manusia masih boleh retak.

Mereka juga berasal dari dua dunia musik yang berbeda total. The Cranberries membawa kesedihan Irlandia yang muram dan dingin. Roxette membawa pop Swedia yang besar dan mengilap. Tetapi keduanya punya kesamaan penting; mereka terdengar manusia.

Dan “manusia” dalam musik sekarang makin langka.

Streaming membuat lagu jadi konsumsi cepat. Orang mendengar potongan 15 detik di TikTok lalu pindah ke lagu lain. Era Dolores dan Marie berbeda. Orang mendengar satu album berkali-kali karena cuma punya beberapa kaset. Orang hafal napas penyanyinya. Hafal bagian vokal yang sedikit fals. Hafal suara serak kecil di akhir lirik.

Hubungan emosionalnya lebih intim. Lebih melekat di tubuh.

Mungkin karena itu kematian penyanyi-penyanyi semacam mereka terasa lebih personal dibanding kematian banyak selebritas modern. Orang merasa kehilangan bagian kecil dari masa hidupnya sendiri.

Di YouTube sekarang masih banyak video konser lama mereka. Resolusinya buram. Kamera goyang. Suara penonton pecah. Dolores berdiri dengan rambut pendek sambil memegang mikrofon seperti sedang mencengkeram sesuatu yang tidak ingin lepas. Marie tersenyum kecil ke arah penonton sebelum mulai menyanyikan chorus.

Komentar-komentar di bawah video itu penuh orang berusia empat puluhan dan lima puluhan dari berbagai negara. Brasil. Filipina. Indonesia. Polandia. Mereka menulis hal-hal sederhana:

“Lagu ini menemani saya naik angkot ke sekolah.”

“Pacar pertama saya menyukai lagu ini.”

“Saya memutar ini saat ayah meninggal.”

Lalu lagu kembali dinikmati.

Related

Tokoh 7946653908115228701

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item