Operasi Eagle Claw, Pasukan Elite Amerika Terjebak Badai Pasir Iran

Ilustrasi/reddit.com
Rotor helikopter berputar di tengah malam gurun Iran, mengaduk pasir halus sampai udara terasa seperti dilempari pecahan kaca kecil. Mata pedih. Mulut penuh debu. Lampu-lampu redup kendaraan militer tampak seperti bayangan hantu di tengah kekosongan bernama Desert One, titik rahasia di gurun Dasht-e Kavir, yang beberapa jam sebelumnya bahkan tidak dikenal publik Amerika.

Lalu semuanya mulai rusak hampir bersamaan. Pilot kehilangan orientasi. Sistem hidrolik bermasalah. Komunikasi kacau. Helikopter RH-53D Sea Stallion yang dipaksa terbang rendah menghadapi badai pasir haboob mulai tumbang satu per satu—bukan karena ditembak Iran, tapi karena alam gurun dan kekacauan manusia sendiri.

Operasi Eagle Claw sering diingat sebagai kegagalan militer Amerika. Sebutan itu terlalu sederhana. Yang runtuh malam itu bukan cuma operasi penyelamatan sandera. Ada sesuatu yang ikut terbakar bersama bangkai pesawat di gurun Iran; citra Amerika sebagai negara yang selalu mampu mengendalikan situasi lewat teknologi, uang, dan pasukan elite.

Api membakar tubuh pesawat Hercules EC-130 dan helikopter yang bertabrakan di landasan darurat. Delapan personel militer AS tewas. Beberapa jenazah nyaris sulit dikenali. Sisa-sisa logam hangus tertinggal di pasir Iran, seperti puing film perang yang terlalu mahal untuk gagal.

Di Teheran, Ayatollah Khomeini mendapat hadiah propaganda yang luar biasa.

Semua bermula dari kekacauan Revolusi Iran tahun 1979. Shah Mohammad Reza Pahlavi, sekutu utama Amerika di Timur Tengah, jatuh. Foto-foto lama dari Teheran sebelum revolusi kadang terasa aneh dilihat sekarang; perempuan dengan rok mini di utara kota, hotel Hilton penuh diplomat Barat, pesta elite di Istana Niavaran. Shah hidup seperti monarki minyak yang percaya modernisasi bisa dibeli lewat senjata Amerika dan konser musik Barat.

Lalu kemarahan meledak.

Khomeini pulang dari pengasingan di Prancis dengan pesawat Air France. Jutaan orang menyambutnya di jalan-jalan Teheran. Spanduk anti-Amerika memenuhi kota. Kedutaan Besar Amerika di Teheran berubah jadi simbol kebencian terhadap campur tangan Washington selama puluhan tahun, terutama sejak CIA membantu menggulingkan Perdana Menteri Mohammad Mossadegh pada 1953. Luka lama punya cara buruk untuk muncul kembali dalam bentuk yang lebih brutal.

Tanggal 4 November 1979, mahasiswa revolusioner menyerbu Kedutaan Besar AS di Teheran. Enam puluh enam warga Amerika disandera. Kamera televisi menangkap wajah para diplomat dengan mata ditutup, tangan diikat. Bagi Amerika, penghinaan itu terasa sangat terbuka. Negara adidaya dipermalukan setiap malam di layar TV.

Presiden Jimmy Carter tampak makin lelah dari minggu ke minggu. Carter sebenarnya bukan tokoh perang ala Hollywood. Ia mantan petani kacang dari Georgia, religius, hati-hati, kadang terlalu hati-hati. Krisis sandera Iran menghancurkan presidensinya perlahan-lahan. Setiap hari, sandera yang masih ditahan menjadi hitungan politik yang mematikan. Di acara berita malam CBS, angka jumlah hari penyanderaan muncul terus-menerus seperti penghitung rasa malu nasional.

Tekanan di Gedung Putih luar biasa. Pentagon, CIA, dan pasukan operasi khusus mulai merancang misi penyelamatan. Nama operasinya terdengar seperti komik perang murahan; Eagle Claw.

Rencananya sangat rumit. Mungkin terlalu rumit sejak awal. Delapan helikopter RH-53D akan terbang dari kapal induk USS Nimitz di Laut Arab menuju titik rahasia di gurun Iran bernama Desert One. Pasukan Delta Force di bawah Kolonel Charlie Beckwith akan bertemu di sana dengan pesawat C-130. Setelah itu mereka bergerak diam-diam ke dekat Teheran, bersembunyi sehari penuh, lalu malam berikutnya menyerbu kedutaan dan mengevakuasi sandera. Semua bergantung pada presisi. Semua bergantung pada cuaca. Semua bergantung pada mesin.

Militer Amerika waktu itu sebenarnya belum punya struktur operasi khusus terpadu seperti sekarang. Delta Force masih relatif baru. Koordinasi antar-cabang kacau. Angkatan Laut, Angkatan Udara, Marinir, pasukan elite—masing-masing membawa kultur sendiri, ego sendiri, sistem komunikasi sendiri. Operasi sebesar itu terasa seperti mencoba merakit jam Swiss di tengah badai.

Pilot-pilot helikopter menghadapi haboob dalam perjalanan menuju Iran. Haboob bukan sekadar badai pasir biasa. Dinding debu raksasa bergerak cepat, menelan visibilitas sampai nyaris nol. Kokpit dipenuhi partikel pasir. Instrumen terganggu. Salah satu pilot menggambarkan kondisi itu seperti “terbang di dalam susu cokelat”.

Helikopter pertama gagal karena kerusakan rotor blade. Helikopter lain mengalami masalah hidrolik. Jumlah helikopter yang tersisa turun di bawah batas minimum untuk melanjutkan operasi.

Di Desert One, ketegangan mulai berubah jadi kekacauan fisik. Debu masuk ke mata, telinga, sela gigi. Personel Delta Force duduk menunggu keputusan, sementara wajah mereka tertutup pasir tipis. Mesin pesawat meraung keras. Bahan bakar dipindahkan dalam kondisi gelap dan tergesa-gesa.

Lalu tabrakan terjadi. Sebuah RH-53D bergerak terlalu dekat ke pesawat EC-130 yang sedang parkir. Rotor menghantam badan pesawat. Ledakan besar langsung menyala di tengah malam gurun. Bahan bakar avtur terbakar hebat. Beberapa personel tidak sempat keluar. Tubuh manusia terbakar cepat di dekat ribuan liter bahan bakar pesawat.

Foto-foto setelah kejadian punya atmosfer yang mengerikan. Besi hangus. Pasir hitam. Sisa helikopter yang meleleh. Sulit percaya operasi itu dirancang oleh negara dengan anggaran militer terbesar di dunia.

Pasukan Amerika akhirnya mundur terburu-buru, meninggalkan bangkai pesawat dan dokumen rahasia di lokasi. Orang Iran menemukan peta, kode, bahkan identitas personel. Televisi Iran kemudian menayangkan puing-puing operasi itu berulang kali. Khomeini menyebut kegagalan Amerika sebagai intervensi Tuhan.

Kalimat itu terdengar propagandistik, tentu saja. Tapi ada sesuatu yang ironis ketika negara superpower dengan teknologi canggih dihentikan oleh debu gurun dan kesalahan koordinasi. Amerika datang dengan satelit, pesawat, pasukan elite, perangkat komunikasi mutakhir. Gurun Iran menjawab dengan angin.

Washington langsung memasuki mode saling menyalahkan. Presiden Carter menerima tanggung jawab penuh di depan publik, tapi kerusakan politik sudah telanjur terjadi. Wajahnya di televisi tampak semakin cekung. Nada bicaranya melemah. Ronald Reagan, lawannya dalam pemilu 1980, tampak jauh lebih tegas dan agresif di mata banyak pemilih Amerika yang frustrasi.

Krisis sandera Iran berubah jadi semacam luka psikologis nasional. Orang Amerika terbiasa melihat negaranya tampil dominan setelah Perang Dunia II. Eagle Claw memperlihatkan sesuatu yang jarang mereka lihat; Amerika bisa kikuk. Bisa bingung. Bisa gagal total di depan kamera dunia.

Militer AS kemudian melakukan reformasi besar setelah bencana itu. Lahirnya US Special Operations Command beberapa tahun kemudian tidak bisa dilepaskan dari puing Desert One. Unit seperti SEAL Team Six berkembang dalam atmosfer rasa malu pasca-Iran. Kegagalan sering menjadi bahan bakar paling mahal dalam sejarah militer.

Di Teheran sendiri, bangunan bekas Kedutaan AS berubah menjadi museum revolusi anti-Amerika. Tembok-temboknya dipenuhi mural tengkorak, Patung Liberty bercampur simbol kematian, slogan “Down with USA”. Aroma cat dan debu tua memenuhi beberapa ruangan. Mesin penghancur dokumen CIA yang dulu dipakai diplomat Amerika masih dipamerkan. Orang Iran menyebut tempat itu “Den of Spies”—sarang mata-mata.

Kadang detail-detail kecil justru terasa paling mengganggu. Seorang operator radio Amerika malam itu kabarnya masih sempat bercanda soal kopi sebelum situasi runtuh. Ada juga cerita tentang personel yang menyimpan foto keluarga di saku seragam mereka saat menunggu di gurun. Hal-hal kecil seperti itu membuat seluruh operasi terasa lebih manusia, sekaligus lebih tragis. Mereka bukan pion abstrak dalam dokumen Pentagon. Mereka laki-laki sungguhan yang berkeringat di bawah helm, kelelahan, bingung, lalu mendadak terbakar hidup-hidup di tengah pasir asing.

Di Washington, lampu-lampu Gedung Putih masih menyala ketika Presiden Carter menerima laporan kegagalan operasi. Beberapa staf menggambarkan suasana malam itu nyaris tanpa suara. Tidak ada pidato heroik. Tidak ada dialog ala film perang. Hanya wajah-wajah pucat, abu rokok, telepon yang terus berbunyi.

Di gurun Iran, bangkai helikopter masih mengeluarkan asap tipis saat matahari mulai naik.

Related

Peristiwa 1262929452937163449

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item