Mama Ghufron Bisa Berbahasa Semut dan Bahasa Angin, Katanya

Ilustrasi/suaraislam.id
Mama Ghufron adalah salah satu tokoh paling ganjil dalam lanskap keagamaan Indonesia modern. Ia pernah mengaku mampu berbicara dengan semut, memahami bahasa angin, hidup selama ratusan tahun, bertemu tokoh-tokoh sejarah yang secara kronologis mustahil ia temui, bahkan mengklaim berbagai kemampuan supranatural yang membuat banyak orang mengernyitkan dahi. 

Sebagian orang menganggapnya wali. Sebagian lain melihatnya sebagai pelawak tanpa sengaja. Ada pula yang menilainya sebagai gejala sosial yang jauh lebih menarik daripada isi ceramahnya sendiri.

Yang membuat saya tertarik bukan Mama Ghufron sebagai individu. Orang seperti dia selalu muncul dalam sejarah manusia. Hampir setiap masyarakat pernah melahirkan figur yang mengaku memiliki akses khusus kepada dunia gaib, pengetahuan rahasia, atau kemampuan luar biasa yang tak bisa diverifikasi. Yang lebih menarik adalah orang-orang yang duduk berjam-jam mendengarkannya.

Seseorang berbicara di depan mikrofon, dan menyatakan bisa berbicara dengan semut. Secara logika, kalimat itu seharusnya langsung memicu serangkaian pertanyaan sederhana. Semut yang mana? Bagaimana tata bahasanya? Mengapa tidak pernah didemonstrasikan secara ilmiah? Mengapa kemampuan sebesar itu tidak menghasilkan penemuan apa pun dalam biologi atau zoologi?

Pertanyaan-pertanyaan itu sering tidak muncul.

Di berbagai video yang beredar sejak bertahun lalu, Mama Ghufron berbicara dengan penuh keyakinan. Ia tidak terdengar ragu. Justru keyakinan itulah yang menjadi salah satu sumber kekuatannya. Banyak orang salah memahami bagaimana manusia membentuk kepercayaan. Mereka mengira orang percaya karena bukti. Kenyataannya, dalam banyak kasus, manusia percaya karena otoritas, emosi, identitas kelompok, atau sekadar karena orang yang berbicara terdengar sangat yakin.

Psikolog sosial sudah lama memahami gejala itu. Kepercayaan diri sering disalahartikan sebagai kompetensi. Seseorang yang berbicara dengan tenang, tegas, dan tanpa keraguan, sering dianggap lebih mengetahui sesuatu dibanding orang yang penuh nuansa dan kehati-hatian. Ilmuwan biasanya dipenuhi kata-kata seperti "berdasarkan data yang tersedia", "kemungkinan besar", atau "masih perlu penelitian lebih lanjut". Sementara seorang pengklaim mukjizat cukup berkata, "Saya tahu karena saya mengalami sendiri."

Bagi banyak telinga, kalimat kedua terdengar lebih memuaskan.

Sepertinya keliru jika fenomena semacam Mama Ghufron langsung dijelaskan dengan satu kata: kebodohan. Penjelasan itu terlalu malas. Terlalu mudah. Kalau seluruh persoalannya cuma soal tingkat pendidikan atau IQ, fenomena serupa tidak akan muncul di negara-negara maju. Faktanya, Amerika Serikat memiliki kultus-kultus aneh, Eropa memiliki paranormal televisi, Jepang memiliki sekte yang mengaku mendapat wahyu kosmik, dan India memiliki guru-guru spiritual yang mengklaim mampu melakukan keajaiban biologis.

Manusia memiliki kebutuhan yang tidak selalu dipenuhi oleh logika. Ketika hidup terasa membingungkan, figur yang menawarkan kepastian sering mendapat tempat. Ketika dunia terasa rumit, orang yang berbicara sederhana terasa menenangkan. Seorang profesor fisika mungkin membutuhkan dua jam untuk menjelaskan mengapa sesuatu belum diketahui. Seorang guru ajaib hanya perlu tiga menit untuk menjelaskan bahwa semuanya adalah rahasia alam gaib.

Cerita selesai. Kegelisahan ikut selesai.

Indonesia memiliki kondisi yang membuat figur semacam itu relatif mudah tumbuh. Budaya kita sejak lama akrab dengan kisah kesaktian. Dari cerita para wali, legenda kerajaan Jawa, hikayat para pendekar, sampai kisah-kisah karomah yang beredar dari mulut ke mulut. Di banyak desa, cerita tentang orang yang mampu melihat makhluk gaib sering diterima dengan santai, hampir seperti laporan cuaca.

Latar budaya semacam itu tidak otomatis menghasilkan tokoh seperti Mama Ghufron, tetapi menyediakan tanah yang subur bagi kemunculannya.

Yang membuat keadaan semakin menarik adalah kenyataan bahwa masyarakat modern sebenarnya tidak menghapus pola pikir lama. Telepon pintar, internet, kecerdasan buatan, dan media sosial, sering hanya menjadi kendaraan baru bagi naluri kuno manusia. Video ceramah yang dulu hanya didengar puluhan orang di sebuah pengajian kecil kini bisa menyebar ke jutaan layar. Teknologi meningkat. Mekanisme psikologisnya nyaris sama.

Saya pernah memperhatikan cuplikan video Mama Ghufron. Hal yang paling menonjol bukan isi klaimnya. Hal yang paling menonjol justru ekspresi audiens. Wajah-wajah serius. Kepala mengangguk. Beberapa tersenyum kagum. Momen semacam itu terasa jauh lebih menarik daripada pembicaranya sendiri. Rasanya seperti sedang menonton eksperimen psikologi sosial dalam ukuran besar.

Mengapa tidak ada yang tertawa? Mengapa klaim yang secara kasatmata bertabrakan dengan akal sehat bisa diterima begitu saja?

Jawabannya sering berkaitan dengan tekanan sosial yang halus. Ketika puluhan orang di sekitar terlihat percaya, seseorang jadi lebih sulit untuk mengungkapkan keraguan. Fenomena itu sudah diamati sejak eksperimen Solomon Asch pada 1950-an. Orang bisa menyetujui sesuatu yang jelas salah hanya karena mayoritas tampak menyetujuinya.

Ruang pengajian, ruang politik, ruang bisnis, bahkan ruang akademik, tidak kebal dari mekanisme itu.

Mama Ghufron sendiri kemungkinan tidak akan jadi fenomena nasional jika media tidak meliputnya. Di sini muncul ironi lain. Banyak orang menertawakannya, tetapi perhatian yang mereka berikan ikut memperbesar namanya. Kamera televisi, kanal YouTube, potongan video viral, semuanya menjadi bahan bakar. Dalam ekonomi perhatian modern, ditertawakan kadang hampir sama berharganya dengan dipuji.

Tokoh-tokoh eksentrik memahami hal itu secara naluriah. Mereka tidak perlu memenangkan perdebatan. Mereka hanya perlu tetap dibicarakan.

Saya juga tidak terlalu tertarik pada pertanyaan apakah Mama Ghufron benar-benar percaya pada klaimnya sendiri atau tidak. Sejarah penuh dengan tokoh yang akhirnya sulit membedakan antara peran publik dan keyakinan pribadi. Ketika seseorang mengulangi cerita yang sama selama bertahun-tahun di depan ribuan orang, cerita itu bisa berubah menjadi kenyataan psikologis bagi dirinya sendiri.

Manusia memiliki kemampuan luar biasa untuk meyakini kisah yang ia bangun sendiri.

Yang terasa lebih mendesak adalah pertanyaan tentang budaya skeptisisme. Indonesia sering memuji iman, menghormati otoritas, dan menghargai kesopanan. Semua itu memiliki sisi positif. Masalah muncul ketika skeptisisme dianggap identik dengan penghinaan. Padahal mempertanyakan klaim luar biasa bukan tindakan tidak sopan. Itu justru bentuk penghormatan terhadap akal sehat.

Kalau seseorang mengaku bisa berbicara dengan semut, meminta bukti bukanlah serangan pribadi. Kalau seseorang mengaku memahami bahasa angin, meminta demonstrasi bukanlah penghinaan terhadap agama. Standar yang sama berlaku bagi siapa pun.

Ironisnya, tradisi intelektual Islam klasik yang sering dikutip oleh para penceramah sebenarnya dipenuhi perdebatan keras. Para ulama, filsuf, ahli hadis, dan ilmuwan Muslim selama berabad-abad saling mengkritik dengan detail yang kadang melelahkan. Mereka mempertanyakan sanad, logika, metode, dan bukti. Tradisi itu jauh lebih dekat dengan sikap skeptis dibanding budaya menerima klaim begitu saja.

Ketika melihat fenomena Mama Ghufron, saya tidak melihat seorang manusia aneh yang kebetulan punya mikrofon. Saya melihat cermin kecil dari sesuatu yang lebih besar: hubungan masyarakat dengan otoritas, pendidikan, keinginan untuk percaya, dan rasa lapar terhadap keajaiban.

Mama Ghufron mungkin hanya satu nama. Beberapa tahun dari sekarang akan muncul nama lain. Wajah lain. Klaim lain yang sama mustahilnya.

Tikar pengajian akan kembali terisi. Sebagian orang akan kembali mengangguk. Seorang pria di depan mikrofon akan berkata bahwa ia mengetahui sesuatu yang tidak diketahui manusia biasa.

Ruangan jadi hening. Tidak ada yang mengangkat tangan. Tidak ada yang bertanya. Lampu neon tetap menyala pucat di atas kepala mereka.

Related

Indonesia 3769176995535999115

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item