The Wall Street Journal, Media Bisnis Paling Berpengaruh di Dunia

Ilustrasi/historic-newspapers.com
Tidak banyak orang yang akan berdiri di kios koran, membeli surat kabar bisnis, lalu merasa sedang menyaksikan lahirnya sebuah kekuatan sejarah. 

Sebagian besar revolusi terlihat lebih dramatis. Orang cenderung membayangkan revolusi dalam bentuk benteng yang diserbu, raja yang digulingkan, atau tentara yang berbaris. Kenyataannya, pengaruh terbesar kadang muncul dari lembaran kertas tipis yang berbau tinta dan sedikit lembap karena baru keluar dari mesin cetak.

Ketika edisi pertama The Wall Street Journal terbit pada musim panas 1889 di New York, dunia tidak sedang menunggu kedatangannya.

Tidak ada kerumunan besar. Tidak ada pidato kenegaraan. Tidak ada lonceng gereja berdentang. Hanya sebuah surat kabar baru dengan empat halaman. Harganya dua sen.

Empat halaman itu kelak menjadi salah satu jendela utama dunia untuk memahami uang, perusahaan, pasar, dan kekuasaan.

Saya selalu menganggap menarik bahwa banyak orang memahami sejarah melalui perang, padahal sebagian besar kehidupan manusia sebenarnya ditentukan oleh transaksi. Napoleon mungkin mengubah peta Eropa, tetapi harga gandum menentukan apakah keluarga bisa makan malam. Kaisar bisa menjatuhkan hukuman mati, tetapi suku bunga menentukan apakah sebuah perusahaan bertahan hidup.

Wall Street memahami hal itu jauh lebih awal daripada banyak orang lain.

Kisahnya bermula dari tiga nama yang sekarang tidak terlalu sering dibicarakan di luar lingkaran sejarah bisnis: Charles Dow, Edward Jones, dan Charles Bergstresser.

Nama Dow mungkin terdengar familiar karena masih hidup dalam indeks saham Dow Jones Industrial Average. Sebagian orang mengenal namanya setiap hari tanpa benar-benar tahu siapa orangnya.

Charles Dow bukan tokoh flamboyan. Ia bukan orator besar. Ia tidak memiliki aura industrialis seperti John D. Rockefeller atau Andrew Carnegie. Ia seorang wartawan.

Justru di situlah letak keanehannya. Sejarah modern sebagian dibentuk oleh orang yang mengumpulkan informasi.

Pada awal 1880-an, dunia keuangan Amerika berkembang jauh lebih cepat daripada kemampuan publik untuk memahaminya. Jalur kereta api membentang ke berbagai wilayah. Perusahaan-perusahaan tumbuh besar. Saham diperdagangkan dalam jumlah yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Informasi menjadi komoditas. Orang kaya memiliki akses lebih cepat. Orang biasa sering tertinggal. Dow dan Jones melihat peluang.

Mereka mendirikan perusahaan berita kecil bernama Dow Jones & Company. Kantornya berada di dekat pusat keuangan Manhattan. Pada masa itu, berita bisnis tidak mengalir melalui internet, televisi, atau aplikasi ponsel. Berita bergerak melalui kabel telegraf, surat, kurir, dan kaki manusia. Bahkan beberapa menit bisa bernilai besar.

Sebelum The Wall Street Journal lahir, Dow Jones menerbitkan sebuah buletin bernama Customers’ Afternoon Letter. Bentuknya sederhana. Beberapa halaman ringkasan informasi pasar yang dikirim kepada pelanggan. Sederhana, tetapi efektif.

Banyak surat kabar saat itu mencampur laporan keuangan dengan rumor, gosip, dan promosi terselubung. Dunia bisnis Amerika pada akhir abad ke-19 dipenuhi manipulasi. Orang dalam mendapatkan informasi lebih dulu. Investor kecil sering menjadi korban permainan yang bahkan tidak mereka pahami.

Charles Dow memiliki obsesi yang hampir kuno: akurasi. Kata itu terdengar biasa sekarang. Pada masa ledakan spekulasi, akurasi sering menjadi barang mewah.

Pada 8 Juli 1889, The Wall Street Journal resmi terbit. Kantornya berada di 15 Wall Street, tidak jauh dari pusat denyut keuangan Amerika. Edisi pertama terdiri dari empat halaman yang dipenuhi laporan pasar, berita perusahaan, harga saham, obligasi, dan analisis ekonomi.

Desainnya tidak mengesankan. Tidak ada foto besar. Tidak ada warna mencolok. Tidak ada judul bombastis. Jika seseorang yang terbiasa dengan media modern melihatnya, mungkin reaksinya hanya, "Ini saja?"

Ya, itu saja. Terkadang sejarah memang berpenampilan biasa.

New York saat itu sedang berubah menjadi mesin ekonomi raksasa. Jalanan dipenuhi kereta kuda. Asap batu bara menggantung di udara. Peluit kapal terdengar dari pelabuhan. Gedung-gedung semakin tinggi. Para kurir berlari membawa dokumen.

Coba bayangkan suasana di sekitar Wall Street pada akhir abad ke-19. Sepatu kulit menghantam trotoar batu. Kertas-kertas saham berpindah tangan. Teriakan para pialang memenuhi ruangan perdagangan. Udara panas bercampur bau tinta cetak dan keringat. The Wall Street Journal lahir tepat di tengah kebisingan itu.

Yang sering dilupakan adalah bahwa surat kabar itu tidak sekadar melaporkan kapitalisme. Ia ikut membentuk cara kapitalisme dipahami.

Charles Dow mengembangkan gagasan yang kemudian dikenal sebagai Dow Theory. Teori itu menjadi salah satu fondasi analisis pasar modern. Sebagian konsepnya masih digunakan hingga sekarang meskipun telah dimodifikasi berkali-kali.

Aneh juga memikirkan bahwa sebagian besar investor modern menghabiskan waktu membaca grafik yang akarnya berasal dari pengamatan seorang wartawan abad ke-19 yang tidak pernah melihat komputer.

Dow tidak memandang pasar sebagai kumpulan angka acak. Ia melihatnya sebagai ekspresi psikologi kolektif. Optimisme, ketakutan, keserakahan, kepanikan—semuanya meninggalkan jejak dalam harga saham. Di bagian itu saya justru merasa dunia tidak banyak berubah.

Teknologi berubah. Kecepatan berubah. Emosi manusia tidak. Layar perdagangan elektronik yang berkedip hari ini pada dasarnya masih memuat rasa takut yang sama seperti yang dirasakan investor tahun 1889.

The Wall Street Journal tumbuh bersama kebangkitan Amerika Serikat sebagai kekuatan ekonomi global. Surat kabar itu meliput gelombang industrialisasi, kelahiran perusahaan-perusahaan raksasa, krisis keuangan, Perang Dunia, Depresi Besar, ledakan ekonomi pascaperang, gelembung dot-com, hingga krisis keuangan 2008.

Kadang saya merasa sejarah modern bisa dibaca melalui halaman-halaman koran bisnis lebih baik daripada melalui pidato politik.

Politisi sering menjelaskan apa yang ingin mereka lakukan. Pasar menunjukkan apa yang benar-benar terjadi. Pendapat itu tentu bisa diperdebatkan. Saya sengaja tidak terlalu netral dalam hal ini.

Perusahaan-perusahaan besar memahami pengaruh surat kabar tersebut. Pemerintah memahami pengaruhnya. Investor memahami pengaruhnya. Ketika The Wall Street Journal menerbitkan investigasi atau laporan penting, reaksinya sering muncul bukan dalam bentuk debat filosofis, tetapi dalam bentuk pergerakan miliaran dolar.

Pengaruh seperti itu terasa hampir tidak masuk akal bagi sebuah produk yang pada awalnya hanya terdiri dari empat halaman.

Kekuasaan media sering dibicarakan secara abstrak. Saya lebih tertarik melihat bentuk fisiknya. Selembar koran di tangan. Jari yang menghitam karena tinta. Tumpukan kertas yang berat. Bunyi halaman dibalik.

Seluruh ekosistem keuangan global pada akhirnya membutuhkan sesuatu yang sangat sederhana: informasi yang dipercaya.

Tentu saja tidak semua orang menganggap The Wall Street Journal selalu benar. Tidak semua liputannya sempurna. Tidak semua analisisnya berhasil. Surat kabar adalah produk manusia, dan manusia memiliki keterbatasan yang cukup spektakuler. Keterbatasan itu tidak menghalangi pengaruhnya. 

Pada tahun 2007, perusahaan induknya dibeli oleh News Corp milik Rupert Murdoch dalam transaksi bernilai miliaran dolar. Banyak jurnalis khawatir arah editorialnya akan berubah. Sebagian kekhawatiran itu bertahan hingga sekarang.

Perdebatan semacam itu justru menunjukkan sesuatu yang menarik. Orang tidak memperdebatkan benda yang tidak berpengaruh.

Sore hari ketika edisi pertama The Wall Street Journal selesai dicetak pada tahun 1889, mungkin ada pekerja percetakan yang hanya ingin pulang. Tangannya lelah. Bajunya berbau tinta. Mesin cetak masih berdengung di telinga.

Di meja lain, seseorang mungkin sedang membaca harga saham kereta api. Di luar gedung, kereta kuda lewat. Manhattan terus bergerak. Empat halaman koran baru itu mulai berpindah dari tangan ke tangan.

Tidak ada yang tahu bahwa lebih dari satu abad kemudian, jutaan orang masih akan membaca nama yang tercetak di bagian atas halaman depan: The Wall Street Journal.

Mesin cetaknya masih panas.

Related

Umum 3883835794089721069

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item