Empat Penunggang Kuda: Penaklukan, Perang, Kelaparan, dan Maut

Ilustrasi/ibelieve.com
Kuda pertama berwarna putih. Kuda kedua merah menyala. Kuda ketiga hitam. Kuda terakhir pucat kehijauan, warna kulit mayat yang sudah lama kehilangan darah.

Banyak orang mengenal Empat Penunggang Kuda Kiamat sebagai gambar-gambar spektakuler: sosok berjubah gelap, tengkorak, langit terbakar, bumi retak. Padahal ketika membaca bagian aslinya dalam Kitab Wahyu, kesan yang muncul justru lebih aneh. Lebih dingin. Lebih tidak nyaman. Teksnya pendek. Hampir hemat kata. Tidak banyak penjelasan. Beberapa ayat saja mampu menghasilkan ribuan lukisan, khotbah, film, teori konspirasi, dan mimpi buruk selama hampir dua ribu tahun.

Penunggang-penunggang itu muncul dalam penglihatan yang dialami Yohanes dari Patmos, seorang tokoh yang menurut tradisi Kristen sedang berada di pulau berbatu bernama Patmos. Patmos bukan tempat yang mengundang romantisme. Pulau kecil di Laut Aegea, penuh batu, panas, berangin. Ketika membayangkan lahirnya salah satu kitab paling mengerikan dalam sejarah agama, yang muncul bukan katedral megah tapi sebuah pulau terpencil di pinggir kekaisaran.

Yohanes menulis tentang gulungan kitab yang disegel tujuh meterai. Seekor Anak Domba—simbol Kristus—mulai membuka segel-segel itu satu demi satu. Ketika segel pertama dibuka, makhluk hidup berseru seperti suara guntur: "Mari!"

Kuda putih muncul. Penunggangnya membawa busur dan menerima mahkota. Ia berangkat sebagai penakluk.

Masalahnya, identitas penunggang pertama itu selalu jadi bahan perdebatan. Penunggang kedua, ketiga, dan keempat relatif jelas. Yang pertama tidak. Sebagian penafsir Kristen awal menganggapnya lambang Kristus atau kemenangan Injil. Banyak penafsir modern melihatnya sebagai penakluk palsu, penguasa tiran, atau bahkan antikristus. Kuda putih menjadi sosok yang licin. Warnanya menyerupai kesucian, tetapi tindakannya adalah penaklukan.

Saya selalu merasa kuda putih adalah yang paling menyeramkan, justru karena ketidakjelasan itu. Kelaparan terlihat seperti kelaparan. Wabah terlihat seperti wabah. Penaklukan sering datang dengan pakaian yang jauh lebih menarik. Orang-orang jarang menyambut perang dengan slogan "Mari hancurkan semuanya." Mereka datang dengan panji-panji, lagu, janji keselamatan, janji kejayaan nasional, atau janji surga.

Buku sejarah penuh dengan kuda putih.

Ketika Napoleon Bonaparte memasuki berbagai wilayah Eropa, banyak orang awalnya menyambutnya sebagai pembawa pembebasan. Ketika tentara salib bergerak menuju Yerusalem pada abad ke-11, mereka membawa salib di dada dan keyakinan bahwa mereka sedang menjalankan kehendak Tuhan. Penaklukan hampir selalu memiliki departemen hubungan masyarakat yang sangat baik.

Segel kedua dibuka. Kuda merah keluar. Penunggangnya diberi kuasa mengambil damai dari bumi sehingga manusia saling membunuh. Sebilah pedang besar diberikan kepadanya.

Teks itu tidak berbicara tentang perang antarnegara secara spesifik. Frasa yang digunakan lebih luas dan lebih liar. Manusia saling membunuh. Kalimat itu terasa mentah.

Lukisan-lukisan abad pertengahan sering menggambarkan penunggang merah sebagai panglima perang. Masuk akal. Warna merah langsung mengingatkan darah. Tetapi ketika membaca berita dari abad ke-20, sosok itu terasa lebih besar daripada seorang jenderal. Perang Dunia Pertama menewaskan jutaan orang dalam lumpur parit-parit di Somme dan Verdun. Perang Dunia Kedua menghasilkan Auschwitz, Stalingrad, Hiroshima, Nanjing.

Foto-foto hitam putih dari abad lalu masih memiliki kemampuan aneh membuat dada terasa berat. Wajah tentara berusia sembilan belas tahun yang berdiri di pinggir kawah ledakan terlihat sangat biasa. Mereka tampak seperti kasir minimarket atau mahasiswa semester awal. Beberapa minggu kemudian banyak yang mati.

Kuda merah tidak memerlukan ideologi tertentu. Ia cukup membutuhkan manusia.

Segel ketiga dibuka. Kuda hitam muncul. Penunggangnya membawa timbangan. Suara dari tengah empat makhluk hidup berkata bahwa satu takaran gandum dijual dengan harga satu dinar, tiga takaran jelai dengan harga satu dinar. Minyak dan anggur jangan dirusak.

Bacaan modern sering melewatkan detail itu karena terdengar teknis. Padahal justru di sanalah kengeriannya. Satu dinar adalah upah kerja sehari. Gambaran yang muncul bukan kekurangan pangan total. Makanan masih ada. Persediaan belum habis. Masalahnya, harganya melonjak sampai tidak masuk akal.

Kuda hitam terasa sangat kontemporer. Orang yang hidup di kota besar tahu sensasinya. Berdiri di depan rak supermarket, memandangi label harga yang berubah lebih cepat daripada gaji. Membuka aplikasi belanja dan menemukan harga telur, beras, atau minyak goreng naik lagi. Kelaparan modern sering tidak datang sebagai ladang kosong. Ia datang sebagai angka.

Timbangan di tangan penunggang hitam juga menarik. Dalam dunia Romawi kuno, timbangan adalah simbol perdagangan dan pengukuran. Gambaran yang muncul bukan kekacauan barbar, tetapi pasar yang tetap berfungsi sambil perlahan mencekik orang miskin.

Kelaparan sering dibayangkan sebagai perut kosong. Sejarah menunjukkan gambaran yang lebih rumit. Kelaparan Besar Irlandia pada 1840-an terjadi ketika makanan masih diekspor keluar negeri. Kelaparan Bengal tahun 1943 berlangsung ketika pasar masih berjalan. Kuda hitam tampaknya memahami ekonomi.

Segel keempat dibuka. Kuda pucat keluar. Bahasa Yunani yang digunakan dalam Kitab Wahyu adalah “chloros”. Warna kehijauan pucat. Warna daun yang mulai membusuk. Warna tubuh yang kehilangan kehidupan.

Nama penunggangnya sederhana: Maut.

Alam maut mengikuti di belakangnya. Tidak ada simbolisme rumit di sini. Tidak ada teka-teki. Penunggang terakhir bahkan tidak membutuhkan gelar.

Wabah penyakit sering dikaitkan dengan sosok ini. Ketika pes hitam menyapu Eropa abad ke-14, penduduk kota seperti Florence, Siena, dan Lübeck menyaksikan kereta penuh mayat bergerak setiap hari. Kronik-kronik masa itu menggambarkan lonceng gereja berbunyi tanpa henti sampai orang mulai terbiasa mendengarnya. Kebiasaan manusia terhadap horor kadang lebih mengganggu daripada horor itu sendiri.

Pandemi COVID-19 menghidupkan kembali citra yang hampir terlupakan. Foto rumah sakit penuh pasien. Sirene ambulans. Peti mati berjajar di Bergamo, Italia. Bau disinfektan yang menusuk hidung. Wajah tenaga medis penuh bekas masker.

Kuda pucat tidak selalu datang dengan kecepatan yang sama. Kadang ia berlari. Kadang ia berjalan santai.

Banyak khotbah akhir zaman memperlakukan Empat Penunggang Kuda sebagai daftar peristiwa masa depan yang akan muncul suatu hari nanti. Saya tidak terlalu yakin teks itu bekerja sesederhana itu. Ketika membaca sejarah, rasanya mereka tidak pernah benar-benar pergi. Penaklukan, perang, kelaparan, dan maut bukan tamu langka dalam peradaban manusia. Mereka penghuni lama.

Lukisan karya Albrecht Dürer tahun 1498 menangkap sesuatu yang penting. Dalam ukiran kayunya yang terkenal, keempat penunggang itu tidak bergerak berurutan seperti antrean. Mereka menerjang bersamaan. Tubuh-tubuh manusia tergilas di bawah kaki kuda. Tidak banyak ruang bernapas dalam gambar itu.

Penaklukan melahirkan perang. Perang memicu kelaparan. Kelaparan membuka pintu bagi penyakit. Penyakit menghasilkan kematian. Batas antarpenunggang menjadi kabur.

Beberapa abad setelah Yohanes menulis penglihatannya di Patmos, orang-orang masih terus mencoba menentukan apakah keempat sosok itu sudah datang, sedang datang, atau akan datang. Sementara perdebatan berlangsung, berita harian tetap terbit, harga pangan tetap bergerak, tentara tetap berbaris, rumah sakit tetap penuh, dan seekor kuda putih masih tampak sangat meyakinkan ketika muncul membawa mahkota.


Related

Filsafat 6492324502044864956

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item