Mengapa Melihat Makanan di Foto Membuat Kita Merasa Lapar?
https://www.belajarsampaimati.com/2026/08/mengapa-melihat-makanan-di-foto-membuat.html
![]() |
| Ilustrasi/detik.com |
Perut sebenarnya belum lapar. Tangan juga tidak sedang memegang sendok. Dapur jauh. Warung terdekat mungkin beberapa ratus meter dari rumah. Tubuh sedang duduk diam di depan layar. Namun satu foto muncul: semangkuk bakso dengan kuah yang masih mengeluarkan uap tipis, minyak kaldu membentuk lingkaran-lingkaran kecil berkilau di permukaan, potongan daun bawang hijau terang mengambang di antara bola-bola daging yang tampak padat dan kenyal. Dalam hitungan detik, mulut mulai memproduksi air liur.
Keanehan itu terjadi setiap hari pada miliaran manusia.
Kita hidup pada zaman ketika makanan tidak hanya dimakan. Makanan dipertontonkan. Difoto. Disunting. Diterangi dengan lampu khusus. Disusun seperti benda seni. Sebelum masuk ke perut, makanan lebih dulu masuk ke mata.
Suzanne Higgs, profesor psikobiologi yang meneliti nafsu makan di University of Birmingham, pernah menjelaskan terdapat bukti bahwa melihat gambar makanan dapat memicu keinginan untuk makan. Pernyataan itu terdengar sederhana. Hampir terlalu sederhana. Banyak orang mungkin menganggapnya sekadar pengetahuan umum. Tentu saja foto makanan membuat lapar.
Masalahnya, tubuh manusia ternyata tidak membedakan dengan tegas antara makanan yang benar-benar ada, dan makanan yang hanya muncul sebagai rangkaian piksel.
Otak manusia berkembang selama ratusan ribu tahun dalam lingkungan yang sangat berbeda dengan Instagram, TikTok, atau Facebook. Nenek moyang kita tidak pernah menghadapi situasi melihat lima ratus gambar makanan dalam satu jam. Mereka melihat buah karena buah itu ada. Mereka melihat daging karena daging itu memang berada di depan mereka. Penglihatan berfungsi sebagai sistem informasi yang relatif dapat dipercaya.
Tahun 2026, sistem itu dipermainkan habis-habisan.
Setiap kali seseorang membuka media sosial, ia memasuki semacam pasar makanan global yang tidak pernah tutup. Sate Padang dari Bukittinggi muncul berdampingan dengan ramen dari Tokyo. Burger bertingkat dari Texas muncul beberapa detik sebelum video croissant dari Paris. Durasi paparan makanan yang dialami otak modern mungkin jauh melampaui apa yang pernah dialami manusia mana pun sepanjang sejarah.
Peneliti neurosains telah lama mengetahui bahwa isyarat visual berkaitan erat dengan sistem penghargaan di otak. Ketika seseorang melihat makanan yang dianggap menarik, beberapa wilayah otak yang terlibat dalam motivasi dan antisipasi kesenangan jadi aktif. Tubuh mulai bersiap bahkan sebelum satu gigitan terjadi. Air liur meningkat. Perhatian terfokus. Pikiran mulai mengarah ke makanan. Tubuh bereaksi terhadap kemungkinan.
Seorang fotografer makanan profesional memahami mekanisme itu dengan sangat baik, bahkan jika ia tidak pernah membaca jurnal psikobiologi. Mereka tahu telur setengah matang harus dipotret ketika kuning telurnya baru saja pecah. Mereka tahu lelehan keju harus ditarik perlahan agar membentuk benang panjang. Mereka tahu ayam goreng harus tampak renyah bahkan dalam gambar diam.
Studio makanan sering kali terlihat seperti laboratorium kecil. Lampu besar menyinari satu piring dari berbagai sudut. Kuas kecil digunakan untuk mengoleskan minyak pada permukaan daging agar tampak lebih segar. Pinset dipakai untuk memindahkan sebutir wijen yang posisinya dianggap mengganggu komposisi visual. Fotografer menghabiskan berjam-jam untuk menghasilkan ilusi yang akan dilihat orang selama tiga detik saat menggulir layar.
Tiga detik cukup.
Sebuah penelitian dari beberapa tahun lalu menemukan bahwa paparan berulang terhadap gambar makanan dapat meningkatkan keinginan untuk mengonsumsi makanan tertentu. Penelitian lain menunjukkan bahwa makanan tinggi kalori cenderung memancing respons yang lebih kuat. Otak manusia tampaknya masih membawa warisan biologis dari masa ketika kalori sulit diperoleh. Gula, lemak, dan garam merupakan hadiah langka dalam sebagian besar sejarah manusia.
Sekarang hadiah itu mengejar kita.
Pernah memperhatikan bagaimana foto salad jarang viral dibanding burger yang kejunya meleleh ke segala arah? Terdapat alasan biologis yang tidak romantis. Otak menghitung peluang energi. Burger menang telak.
Saya curiga sebagian besar orang meremehkan betapa agresifnya lingkungan visual modern. Mereka menganggap keputusan makan sepenuhnya lahir dari kehendak pribadi. Padahal keputusan itu sering kali sudah mulai dibentuk jauh sebelum rasa lapar muncul. Ketika seseorang memesan ayam geprek pukul sembilan malam, mungkin keputusan itu sebenarnya dimulai tiga jam sebelumnya saat ia melihat video mukbang dari Korea Selatan yang bahkan sudah hampir terlupakan oleh ingatannya.
Ingatan manusia tidak bekerja seperti arsip yang rapi. Banyak pengaruh masuk tanpa izin.
Fenomena mukbang sendiri layak mendapat perhatian khusus. Format video yang lahir di Korea Selatan itu pada dasarnya menampilkan seseorang makan dalam jumlah besar sambil berinteraksi dengan penonton. Secara rasional, aktivitas itu terdengar membosankan. Menonton orang lain makan selama satu jam seharusnya tidak menarik. Faktanya, jutaan orang menontonnya.
Suara kulit ayam yang retak saat digigit. Kuah pedas yang mendidih. Es batu yang beradu dengan gelas. Mikrofon berkualitas tinggi menangkap detail-detail kecil yang bahkan mungkin tidak terlalu diperhatikan saat kita makan sendiri. Kadang telinga terasa hampir bisa merasakan kerenyahan makanan yang sebenarnya tidak pernah disentuh.
Industri makanan memahami persoalan itu jauh lebih cepat daripada banyak ilmuwan. Restoran berlomba membuat hidangan yang fotogenik. Warna jadi semakin penting. Penyajian semakin teatrikal. Minuman disusun dalam lapisan-lapisan mencolok. Burger dibuat semakin tinggi meskipun tidak nyaman dimakan. Hidangan tertentu tampak dirancang pertama-tama untuk kamera, baru kemudian untuk lidah.
Beberapa tahun lalu saya melihat foto croffle yang begitu sempurna, hingga terasa tidak masuk akal. Permukaannya keemasan merata. Bayangan cahaya jatuh tepat di sisi kiri. Gula bubuk tersebar tipis seperti hasil perhitungan matematis. Ketika akhirnya mencoba croffle yang sama di sebuah kafe, rasanya biasa saja. Tidak buruk. Tidak luar biasa. Kekecewaan muncul bukan karena makanannya jelek, tapi karena mata telah dijanjikan sesuatu yang tidak bisa dipenuhi oleh kenyataan.
Media sosial diam-diam menggeser pusat pengalaman makan. Dulu makanan dinilai terutama melalui rasa. Sekarang makanan harus lolos seleksi visual terlebih dulu. Banyak orang memotret sebelum mencicipi. Sebagian bahkan menghabiskan lebih banyak waktu mengatur sudut pengambilan gambar daripada menikmati hidangan itu sendiri.
Mata memperoleh prioritas yang belum pernah dimilikinya dalam sejarah makan manusia.
Di sebuah kedai kopi, saya pernah melihat secangkir latte jadi dingin karena empat orang bergantian mengambil foto dari berbagai sudut. Busa susunya perlahan turun. Uap panas menghilang. Cahaya sore berubah. Foto-fotonya mungkin bagus. Kopinya tidak lagi sama.
Tubuh manusia masih membawa perangkat biologis zaman pemburu-peramu. Perangkat itu kini ditempatkan dalam lingkungan yang dirancang oleh fotografer, pemasar, algoritma, dan perusahaan teknologi bernilai miliaran dolar. Pertarungannya terasa tidak seimbang.
Gulir satu layar lagi. Muncul martabak dengan lapisan cokelat setebal jari. Gulir lagi. Mi pedas dengan cabai merah mengilap. Gulir lagi. Ayam bakar dengan kulit yang sedikit gosong di tepinya.
Perut belum lapar. Sebenarnya malah tidak. Namun tangan mulai bergerak ke arah aplikasi pesan makanan.
Catatan terkait: Mengapa Orang Dapat Kecanduan Makanan Manis?


