CDC Melaporkan Kasus AIDS Pertama, Dunia Belum Siap Mendengarnya


Pada 5 Juni 1981, Centers for Disease Control and Prevention menerbitkan laporan kecil di buletin mingguan mereka, Morbidity and Mortality Weekly Report. Panjangnya cuma beberapa halaman. Tidak dramatis. Tidak ada judul apokaliptik. Tidak ada musik mencekam seperti pembuka serial Netflix. Judulnya dingin sekali: “Pneumocystis Pneumonia, Los Angeles.”

Lima pria muda. Semua homoseksual, sebelumnya relatif sehat. Semua terkena pneumonia langka yang biasanya cuma muncul pada orang dengan sistem imun hancur. Dua sudah meninggal ketika laporan itu terbit. Itu awal resmi epidemi AIDS yang kelak membunuh jutaan orang.

Tetapi pada hari laporan itu muncul, dunia belum merasa sedang memasuki sesuatu yang besar. Amerika tetap berjalan seperti biasa. Orang pergi kerja. Musik disko mulai digantikan synth-pop. Kelab malam penuh asap rokok dan lampu neon merah muda. Di Los Angeles, lalu lintas tetap macet. Orang jogging di Venice Beach. Bioskop memutar Raiders of the Lost Ark.

Di sebuah rumah sakit, paru-paru seorang pria muda dipenuhi infeksi yang seharusnya tidak terjadi pada tubuh seusianya.

Dokter-dokter mulai bingung karena pola kasusnya aneh. Pria-pria itu bukan pasien kanker stadium akhir. Bukan penerima transplantasi organ. Mereka tidak sedang menjalani kemoterapi berat. Tetapi sistem imun mereka runtuh seperti bangunan yang fondasinya dicabut diam-diam.

Di kulit beberapa pasien mulai muncul bercak ungu gelap. Kaposi’s sarcoma. Biasanya kanker itu muncul pada pria tua Mediterania. Sekarang dokter melihatnya pada pria muda di California dan New York City. Lesi ungu di kaki, dada, wajah. Ada pasien yang datang dengan jamur di mulut begitu parah hingga sulit menelan.

Tubuh mereka seperti berhenti mempertahankan diri. Dan hampir semua kasus awal muncul di komunitas gay.

Amerika awal 1980-an bukan tempat ramah untuk homoseksualitas. Memang ada kebebasan lebih besar dibanding dekade sebelumnya, terutama setelah kerusuhan Stonewall riots. Bar-bar gay berkembang, sauna seks ramai, kehidupan malam queer di kota-kota besar penuh energi liar setelah 1970-an. Orang merasa akhirnya bisa hidup lebih terbuka. Lalu penyakit itu muncul seperti sesuatu yang keluar dari ventilasi gelap.

Awalnya bahkan belum punya nama jelas. Orang menyebutnya “gay cancer”. Ada juga istilah GRID—Gay-Related Immune Deficiency. Nama yang langsung mengandung stigma bahkan sebelum ilmu medis memahami apa yang sebenarnya terjadi.

Dan stigma itu cepat berubah jadi kebencian terbuka. Beberapa pendeta fundamentalis menyebut AIDS sebagai hukuman Tuhan. Komedian membuat lelucon di televisi. Surat kabar kadang menulis dengan nada hampir jijik. Banyak keluarga menolak mengambil jenazah anak mereka sendiri.

Ada pria-pria muda yang tubuhnya berubah kurus secara drastis dalam beberapa bulan. Teman-temannya mulai menghadiri pemakaman terlalu sering. Kelab malam yang dulu penuh tiba-tiba dipenuhi obrolan tentang hasil tes darah dan bercak kulit. Lalu ada ketakutan yang lebih kasar; orang belum tahu bagaimana penyakit itu menular.

Catatan sebelumnya:

Beberapa orang takut menyentuh pasien AIDS. Ada perawat yang panik. Ada rumah sakit yang memperlakukan pasien seperti limbah biologis berjalan. Anak-anak penderita HIV ditolak sekolah. Orang berpikir virus bisa menular lewat dudukan toilet, lewat udara, lewat sentuhan biasa. Ketidaktahuan yang bercampur kepanikan moral selalu menghasilkan suasana yang busuk.

Ribuan orang sudah mati sebelum pemerintah federal benar-benar bergerak serius. Presiden Ronald Reagan nyaris tidak menyebut AIDS secara publik pada tahun-tahun awal epidemi. Ada wartawan yang bertanya soal AIDS di konferensi pers Gedung Putih, lalu ruangan tertawa. 

Sementara itu, bangsal rumah sakit mulai penuh. Di San Francisco, dokter seperti Marcus Conant melihat pola yang makin mengerikan. Pasien muda datang dengan infeksi oportunistik aneh; pneumonia langka, toksoplasmosis otak, infeksi jamur brutal. Banyak yang sebelumnya tampak sehat dan aktif. Tubuh mereka seperti kehilangan kemampuan paling dasar untuk bertahan hidup.

Ada detail-detail kecil dari era awal AIDS yang lebih menyeramkan daripada statistik. Bunyi alarm monitor rumah sakit tengah malam. Bau disinfektan dan muntah. Ruang apartemen kecil tempat teman-teman pasien bergantian merawat seseorang yang terlalu lemah untuk bangun dari tempat tidur. Handuk basah di dahi. Obat-obatan yang belum tentu bekerja. Telepon rumah berdering membawa kabar kematian lain.

Banyak penderita AIDS muda kehilangan hampir semua jaringan sosialnya sekaligus. Kekasih sakit. Teman sakit. Mantan kekasih sakit. Bartender langganan sakit. Dalam komunitas tertentu, obituari mulai terasa seperti rubrik tetap.

Aktivis queer akhirnya marah. Kelompok seperti ACT UP muncul dengan energi konfrontatif yang nyaris brutal. Mereka mengganggu konferensi medis, memblokade jalan, melempar abu jenazah ke halaman Gedung Putih, meneriakkan slogan di depan kamera televisi.

“SILENCE = DEATH.”

Mereka tahu kalau tetap sopan, mereka akan mati diam-diam.

Sementara ilmu pengetahuan bergerak lambat sekaligus panik. Virus penyebab AIDS baru diidentifikasi pada 1980-an oleh tim ilmuwan, termasuk Luc Montagnier, dan kemudian terkait dengan Robert Gallo di Amerika. Bahkan setelah virus HIV ditemukan, pengobatan efektif masih jauh.

Ada pasien yang mencoba obat eksperimental dengan efek samping berat, karena alternatifnya cuma menunggu tubuh runtuh. AZT, salah satu obat awal AIDS, begitu keras sampai beberapa pasien muntah hebat atau mengalami anemia parah. Tetapi orang tetap meminumnya karena pilihan lain lebih buruk.

Dan epidemi terus meluas. Pengguna narkoba suntik. Penerima transfusi darah. Bayi yang lahir dari ibu terinfeksi. Afrika bagian tertentu mulai mengalami ledakan kasus yang jauh lebih besar daripada yang disadari dunia Barat saat itu. Tetapi media Amerika awalnya tetap membingkai AIDS terutama sebagai “penyakit gay”. Stigma itu melekat lama sekali.

Catatan sebelumnya:

Ada foto-foto era AIDS awal yang sulit dilupakan. Wajah pria muda yang terlalu kurus di ranjang rumah sakit. Lesi ungu di kulit. Masker oksigen. Mata cekung. Lalu di foto lain; demonstran ACT UP membawa poster neon sambil marah di jalanan Manhattan. Kontrasnya kasar. Orang-orang sekarat, sementara politisi berdebat soal moralitas.

Hollywood bahkan takut menyentuh isu AIDS secara langsung. Industri hiburan penuh kepanikan diam-diam. Aktor, penari, penulis, musisi, mulai sakit. Rumor menyebar cepat. Orang takut karier mereka hancur jika status HIV diketahui.

Lalu Rock Hudson mengumumkan dirinya mengidap AIDS pada 1985. Itu mengguncang Amerika. Hudson adalah simbol maskulinitas Hollywood lama; tinggi, tampan, bintang film romantis. Tiba-tiba AIDS tidak lagi bisa sepenuhnya dipinggirkan sebagai “penyakit kelompok tertentu”. Kamera televisi menyorot tubuh Hudson yang kurus drastis. Publik mulai melihat wajah nyata epidemi.

Dan semua itu bermula dari laporan pendek CDC tahun 1981 tadi. Lima pria. Pneumonia langka. Kalimat-kalimat teknis yang dibaca sebagian kecil dokter dan epidemiolog.

Di kantor CDC, laporan itu mungkin terasa seperti satu anomali medis lain yang perlu diamati. Tidak ada alarm besar. Kertas dicetak seperti biasa. Data diketik. Nama pasien disamarkan.

Di sebuah apartemen di Los Angeles, seorang pria muda berdiri terlalu lama di depan cermin kamar mandi, sambil melihat bercak keunguan kecil dekat tulang selangkanya. Lampu neon di atas wastafel membuat kulitnya terlihat pucat kehijauan. Telepon rumah belum berdering malam itu. Di luar jendela, suara mobil masih lewat seperti biasa.

Related

Sains 1830703620419210137

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

item