Mengapa Sampai Sekarang Belum Ada Vaksin HIV/AIDS?

Ilustrasi/science photo library
HIV/AIDS sudah lama jadi penyakit menular, namun sampai sekarang belum ada vaksin efektif yang bisa menghentikannya. Padahal dampak yang ditimbulkan virus HIV tidak main-main, karena menyerang sel kekebalan tubuh manusia. Karena hal itu, sistem imunitas penderitanya pun memburuk, dan risiko terkena komplikasi penyakit akan sulit dihindari.

Sampai sekarang, upaya pengobatan HIV/AIDS yang dilakukan hanya berfungsi memperlambat perjalanan penyakit, mengendalikan gejala, dan meminimalkan risiko komplikasinya. Penyembuhan secara total bagi penderitanya sehingga dapat kembali hidup normal, hingga saat ini belum dapat dilakukan. Pengobatan yang saat ini dijalankan ialah antiretroviral (ARV) yang dapat diperoleh di pusat-pusat penanggulangan HIV.

Obat-obatan ARV juga harus diminum seumur hidup untuk menekan keparahan komplikasi penyakit. Beberapa komplikasi penyakit yang kerap menyerang penderita HIV/AIDS antara lain tuberkulosis, MAC, CMV, pneumonia, kanker, infeksi oportunistik, dan demensia.

Dengan kenyataan “parah” semacam itu, mengapa para ilmuwan belum juga menghasilkan vaksin untuk HIV/AIDS?

Sebenarnya, ilmuwan sudah bekerja keras menemukan vaksin yang efektif untuk mengatasi HIV/AIDS, tapi upaya itu terus terbentur pada kenyataan bahwa virus HIV/AIDS sangat sulit ditaklukkan. Setiap kali ilmuwan mencapai satu langkah baru, virus HIV/AIDS telah maju dua langkah di depan, dan begitu terus menerus, karena virus ini terus bermutasi. Ia ibarat bunglon di dunia virus; mudah berubah, dan kadang sulit dikenali.

Ketika virus masuk ke dalam tubuh, dalam kondisi normal, sel darah putih khusus yang disebut sel T CD4 memulai respons dengan memberi sinyal sel pembunuh ke lokasi infeksi. Ironisnya, ini adalah sel-sel yang menjadi target infeksi HIV, sehingga populasi sel T CD4 akan habis akibat mengalami dua dampak.

Dampak pertama, sel mengirim sinyal infeksi. Dampak kedua, sel dirusak oleh virus HIV. Saat itu terjadi, kondisi sistem sel kekebalan tubuh manusia akan berubah menjadi immune exhaustion (kelelahan kekebalan). Selain itu, virus HIV “pintar bersembunyi” dari pertahanan kekebalan tubuh, sehingga bisa beredar bebas di dalam aliran darah.

Yang makin menyulitkan para peneliti, virus HIV punya struktur permukaan yang rumit, berbentuk tiga dimensi. Selain itu, setengah permukaan virus dilapisi gula, yang disebut glykolisasi. Sistem kekebalan tubuh manusia sulit menyerang permukaan virus berlapis gula semacam itu. Vaksin juga gagal berfungsi pada virus yang melindungi diri dengan glykolisasi.

Kemudian, seperti disebut tadi, penelitian vaksin HIV terus mengalami kegagalan, karena virusnya terus melakukan mutasi sangat cepat, dari satu generasi ke generasi berikutnya. Padahal untuk memerangi virus, sistem kekebalan tubuh harus bisa mengenali kembali musuh bersangkutan. 

Ketika virus berubah (bermutasi), sistem kekebalan tubuh tidak bisa mengenalinya lagi, dan menganggapnya bukan sebagai patogen, hingga tidak menyerang virusnya. Dengan melakukan mutasi terus menerus, virus HIV juga bisa terus menipu sistem kekebalan tubuh. Para ilmuwan menyebut, virus ini selalu berada selangkah di depan hasil penelitian.

Kemudian, virus HIV termasuk kelompok retrovirus, yang mampu mengembangbiakkan kode genetiknya di dalam sel inang. Para peneliti sejak lama berusaha memahami bagaimana cara retrovirus ini berkembang biak, untuk bisa mengembangkan strategi bagi penyembuhan penyakitnya.

Selalu ada hasil riset terbaru, tapi peneliti harus terus kecewa, karena virusnya tetap tidak bisa dikendalikan. Seperti yang dikatakan tadi, jika ilmuwan bergerak satu langkah ke depan, virusnya sudah melesat dua langkah... entah sampai kapan.

Hmm... ada yang mau menambahkan?

Related

Umum 1766105112480274462

Posting Komentar

emo-but-icon

Recent

Banyak Dibaca

item