Siapakah Soekarno?

Siapakah Soekarno? Belajar Sampai Mati, belajarsampaimati.com, hoeda manis
Ilustrasi/istimewa
Dilahirkan di Surabaya, Jawa Timur, pada 6 Juni 1901, Ir. Soekarno adalah proklamator kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, sekaligus presiden pertama Republik Indonesia. Ia menjabat pada periode 1945–1966, dan memiliki peran penting dalam kemerdekaan bangsa Indonesia dari penjajahan Belanda.

Nama lahirnya semula adalah Koesno Sosrodihardjo. Namun, karena sering sakit pada waktu berusia lima tahun, orangtuanya mengganti namanya menjadi Soekarno. Ketika dia menjadi pejuang dan kemudian menjadi presiden, Rakyat Indonesia pun memberikan sapaan khas untuknya, “Bung Karno”.

Setelah lulus dari Europeesche Lagere School (ELS) pada tahun 1915, Soekarno melanjutkan pendidikannya di Hoogere Burger School (HBS). Di HBS, Soekarno aktif dalam kegiatan organisasi pemuda Tri Koro Darmo, juga aktif menulis di harian “Oetoesan Hindia” yang dipimpin oleh Tjokroaminoto.

Ia menyelesaikan pendidikannya di HBS pada 1920, lalu melanjutkan ke Technische Hoge School (sekarang ITB) di Bandung, dengan mengambil jurusan teknik sipil dan lulus pada tahun 1925. Saat di Bandung, Soekarno tinggal di kediaman Haji Sanusi yang merupakan anggota Sarekat Islam dan sahabat karib Tjokroaminoto.

Di sana ia juga berinteraksi dengan Ki Hajar Dewantara, Tjipto Mangunkusumo, dan Dr. Douwes Dekker, yang waktu itu merupakan pemimpin organisasi National Indische Partij.

Pada tahun 1926, Soekarno mendirikan Algemene Studie Club, yang kemudian menjadi cikal bakal Partai Nasional Indonesia (PNI) yang didirikan pada tahun 1927. Pendirian partai itu menjadikan Soekarno mulai berhadapan dengan pemerintah kolonial Belanda yang waktu itu masih menjajah Indonesia.

Pada Desember 1929, Soekarno ditangkap dan dipenjara di Banceuy, lalu dipindahkan ke Sukamiskin, sampai akhirnya memunculkan pledoinya yang fenomenal, “Indonesia Menggugat”, hingga dibebaskan kembali pada 31 Desember 1931.

Setahun kemudian, Soekarno bergabung dengan Partai Indonesia (Partindo), yang merupakan pecahan dari PNI. Ia kembali ditangkap pada Agustus 1933, dan diasingkan ke Flores. Setelah itu, pada 1938 hingga 1942, Soekarno diasingkan ke Bengkulu. Ia baru kembali bebas pada masa penjajahan Jepang pada tahun 1942.

Ketika Indonesia mulai melakukan usaha persiapan kemerdekaan, Soekarno pun aktif dalam upaya itu dengan merumuskan Pancasila, UUD 1945, dan dasar-dasar pemerintahan Indonesia, termasuk merumuskan naskah proklamasi kemerdekaan. Ketika akhirnya Indonesia merdeka, ia menjadi proklamator kemerdekaan Indonesia, dan dipilih menjadi presiden pertama.

Selain memikirkan bangsanya, Soekarno juga banyak memberikan sumbangan pikirannya bagi dunia internasional. Keprihatinannya terhadap nasib bangsa Asia-Afrika—yang waktu itu belum merdeka dan belum mempunyai hak untuk menentukan nasibnya sendiri—menyebabkannya mengambil inisiatif untuk mengadakan Konferensi Asia-Afrika di Bandung pada 1955, yang menghasilkan Dasa Sila Bandung.

Bersama Presiden Josip Broz Tito (Yugoslavia), Gamal Abdul Nasser (Mesir), Mohammad Ali Jinnah (Pakistan), U Nu, (Birma), dan Jawaharlal Nehru (India), Soekarno mengadakan Konferensi Asia Afrika yang membuahkan Gerakan Non Blok, dan dari sana kemudian banyak negara Asia Afrika yang memperoleh kemerdekaannya.

Akhir pemerintahan Soekarno ditandai dengan keluarnya Surat Perintah Sebelas Maret, sehubungan dengan peristiwa G 30 S/PKI, yang kemudian dipungkasi dengan penandatanganan Surat Pernyataan Penyerahan Kekuasaan di Istana Merdeka, yang melimpahkan kekuasaan kepada Soeharto.

Memasuki Agustus 1965, kesehatan Soekarno terus menurun, hingga akhirnya meninggal pada hari Minggu, 21 Juni 1970, di RSPAD (Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat) Gatot Subroto, Jakarta, dengan status sebagai tahanan politik.

Semasa hidupnya, Soekarno mendapatkan gelar Doktor Honoris Causa dari 26 universitas dari dalam dan luar negeri, di antaranya dari Universitas Gadjah Mada, Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, Universitas Padjadjaran, Columbia University (Amerika Serikat), Berlin University (Jerman), Lomonosov University (Rusia) dan Al-Azhar University (Mesir).

Seratus empat tahun setelah meninggalnya, pada 2005, Soekarno kembali menerima penghargaan, kali ini The Order of the Supreme Companions of OR Tambo dari Presiden Afrika Selatan, Thabo Mbeki.

Penghargaan itu diberikan karena Soekarno dinilai telah mengembangkan solidaritas internasional demi melawan penindasan oleh negara maju, serta telah menjadi inspirasi bagi rakyat Afrika Selatan dalam melawan penjajahan dan membebaskan diri dari apartheid. Megawati Soekarnoputri mewakili ayahnya menerima penghargaan itu.

Hmm... ada yang mau menambahkan?

Related

Tokoh 540312965580695295

Posting Komentar

emo-but-icon

Recent

Banyak Dibaca

item