Warga Indonesia Disandera Perompak Somalia, Kemana Pemerintah?
https://www.belajarsampaimati.com/2026/05/warga-indonesia-disandera-perompak.html?m=0
![]() |
| Ilustrasi/beritasatu.com |
Laut di sekitar Somalia selalu tampak terlalu biru dalam foto-foto satelit. Biru yang bersih, hampir indah. Padahal di bawah ketenangan visual itu, ada kapal-kapal yang mengapung seperti penjara terapung, mesin diesel yang bau solar mentahnya menempel di baju, awak kapal yang tidur dengan mata setengah terbuka, dan orang-orang bersenjata yang berdiri sambil menggenggam AK-47 karatan.
Di kapal tanker MT Honour 25, empat warga negara Indonesia sekarang hidup dalam kondisi seperti itu. Sudah berbulan-bulan.
Video terbaru yang beredar memperlihatkan situasi yang terasa makin mengerikan justru karena tampilannya biasa saja. Tidak ada ledakan. Tidak ada darah. Hanya wajah-wajah letih, tubuh yang makin kurus, logistik habis, dan suara orang yang berbicara dengan nada kelelahan yang panjang. Persediaan makanan disebut nyaris nol. Air bersih terbatas. Solar menipis. Orang yang lama terjebak di laut mulai kehilangan bentuk waktu. Hari Senin dan Kamis tidak beda lagi. Yang ada cuma panas, asin, dan menunggu.
Kementerian Luar Negeri Indonesia mengatakan negosiasi masih berjalan. Pernyataan resmi selalu terdengar rapi; “koordinasi lintas pihak”, “upaya perlindungan WNI”, “komunikasi intensif”. Bahasa birokrasi memang diciptakan untuk terdengar stabil bahkan ketika situasinya tidak stabil sama sekali.
Sementara di kapal, beras bisa habis. Air galon bisa habis. Obat bisa habis lebih dulu.
MT Honour 25 bukan kapal pesiar. Kapal tanker seperti itu biasanya sempit, panas, penuh bunyi logam dan dengungan mesin konstan yang tidak pernah benar-benar berhenti. Awak kapal hidup dengan ritme kerja yang keras bahkan dalam kondisi normal. Bau oli masuk ke pori-pori. Tangga besi licin oleh garam laut. Kabin kecil dengan pendingin udara yang kadang mati. Orang makan sambil tubuh digoyang ombak.
Lalu kapal itu dibajak.
Perompakan Somalia selalu punya aura seperti cerita awal 2000-an yang belum selesai. Dunia sudah sibuk bicara AI, chip Nvidia, perang siber, wisata luar angkasa, tapi di Tanduk Afrika masih ada kelompok bersenjata yang naik speedboat, memanjat kapal dengan tangga kait, lalu menyandera awak kapal demi uang tebusan. Praktik abad modern dengan metode yang terasa abad lama.
Somalia sendiri sudah terlalu lama pecah. Pemerintah lemah, milisi bersenjata, kemiskinan ekstrem, wilayah laut yang dulu dipenuhi kapal asing pencuri ikan. Banyak perompak Somalia awalnya memang nelayan yang marah karena laut mereka dijarah kapal asing. Narasi itu dulu sering dipakai untuk memberi romantisasi pada pembajakan. “Penjaga laut rakyat miskin”. Kedengarannya dramatis dan politis.
Romantisme itu cepat busuk ketika yang disandera mulai awak kapal dari negara-negara miskin juga.
ABK Indonesia sering berada di lapisan paling rentan dalam industri maritim global. Mereka bekerja jauh dari rumah dengan kontrak keras dan gaji yang bagi orang kota besar mungkin terlihat kecil, tapi cukup untuk membayar sekolah anak atau cicilan rumah di Tegal, Indramayu, Bitung, atau Lamongan. Banyak yang berangkat karena tidak ada pilihan kerja lain yang mendekati pendapatan kapal.
Laut menyerap orang-orang seperti itu terus-menerus.
Di Batam, Surabaya, hingga Makassar, sekolah pelayaran terus meluluskan anak muda yang tahu mereka akan hidup berbulan-bulan di kapal asing, makan mi instan tengah malam di dapur sempit sambil menatap laut hitam dari jendela bundar kecil. Orang di darat sering membayangkan kerja pelaut sebagai petualangan. Kenyataannya lebih dekat pada kesepian industri.
Lalu pembajakan datang seperti lotere buruk.
Video yang beredar dari kapal terasa mengganggu, karena tidak histeris. Tidak ada soundtrack dramatis. Salah satu bagian paling menyiksa justru ekspresi pasrah para awak kapal. Mata mereka tampak cekung. Kulit menghitam terbakar matahari. Ada kelelahan yang bukan sekadar kurang tidur. Tubuh manusia berubah ketika terlalu lama hidup dalam ancaman. Gerak jadi lambat. Wajah kehilangan energi untuk marah.
Orang lapar tidak selalu berteriak. Kadang malah diam lebih lama.
Media sosial Indonesia punya kebiasaan aneh menghadapi tragedi seperti itu. Beberapa hari ramai. Tagar muncul. Potongan video diputar berkali-kali. Lalu perhatian pindah ke artis selingkuh, selebgram berkelahi, atau video kucing lucu. Nasib empat ABK itu pelan-pelan tenggelam di bawah arus konten.
Padahal mereka masih di sana. Laut Somalia tetap panas bahkan ketika timeline sudah pindah topik.
Ada detail yang selalu membuat berita pembajakan terasa lebih dingin; jarak. Kapal di tengah laut memberi sensasi keterputusan total. Tidak ada tetangga mendengar teriakan. Tidak ada polisi patroli lewat. Tidak ada warung terang pukul dua pagi. Laut menghapus semua tanda kehidupan biasa.
Coba bayangkan sakit demam di tengah kapal yang dibajak. Atau diare karena air mulai kotor. Atau luka kecil yang mulai infeksi karena obat habis. Tubuh manusia sangat cepat rusak di lingkungan panas dan lembap.
Pemerintah Indonesia tentu punya keterbatasan. Negosiasi sandera tidak sesederhana film aksi. Salah langkah bisa membuat sandera dibunuh. Banyak proses berlangsung diam-diam. Tebusan, mediator lokal, komunikasi dengan pemilik kapal, jalur intelijen regional. Semua kusut.
Tetap saja ada sesuatu yang terasa getir ketika nasib pekerja migran Indonesia di luar negeri hampir selalu muncul ke permukaan hanya saat mereka berada di ambang bencana. Disiksa majikan. Terancam hukuman mati. Kapal tenggelam. Disandera perompak. Sebelum itu, mereka nyaris tidak terlihat.
Empat ABK di MT Honour 25 kemungkinan besar punya keluarga yang tiap hari memegang ponsel sambil menunggu kabar. Ada ibu yang terus membuka video terakhir anaknya. Ada istri yang mulai menghitung tabungan makin tipis. Ada anak kecil yang mungkin belum benar-benar mengerti kenapa ayahnya tidak pulang-pulang.
Televisi rumah tetap menyala. Tetangga datang membawa kabar setengah simpang siur. Orang-orang bilang, “sabar ya.”
Kata “sabar” sering terlalu murah dibanding penderitaan yang harus ditanggung orang lain.
Laut Somalia sendiri bukan tempat romantis seperti di kartu pos wisata. Air asin menempel di bibir. Besi kapal cepat berkarat. Angin membawa panas kering bercampur bau solar. Malam hari gelapnya pekat sekali. Awak kapal biasanya bisa melihat bintang sangat jelas di laut lepas, tapi sulit membayangkan orang sempat menikmati langit ketika tiap saat ada pria bersenjata mondar-mandir di dek.
Pembajakan modern juga punya ekonomi sendiri. Sandera adalah aset hidup. Semakin lama ditahan, semakin mahal tekanannya. Awak kapal berubah menjadi angka negosiasi.
Saya membaca komentar-komentar di media sosial tentang kasus ini. Sebagian orang marah pada pemerintah. Sebagian menyalahkan perusahaan kapal. Sebagian lain malah bercanda, seperti semua tragedi di internet yang cepat berubah jadi bahan konsumsi ringan.
Lalu video itu diputar lagi. Wajah kurus. Mata merah. Suara lemah.
Tidak ada musik latar. Tidak ada pidato heroik. Hanya laut yang tidak selesai-selesai.

.png)

