Ulasan Novel The Mystery of the Blue Train Karya Agatha Christie

Ilustrasi/betweenthelinesbookblog.com
Kereta malam melaju menembus kegelapan Eropa dengan kemewahan yang hampir terasa tidak nyata. Gelas-gelas kristal berkilau. Pelayan berjalan tenang di lorong sempit. Para penumpang tidur dengan mantel mahal, rahasia mahal, dosa mahal. Lalu pagi datang bersama mayat seorang perempuan kaya raya yang wajahnya nyaris hancur karena pukulan brutal.

The Mystery of the Blue Train (Misteri Kereta Api Biru) dimulai dengan cara elegan sekaligus kejam. Seperti pesta aristokrat yang mendadak berbau darah.

Novel ini sering hidup di bawah bayang-bayang Murder on the Orient Express. Banyak pembaca modern mengingat Christie lewat Orient Express, sementara The Mystery of the Blue Train terasa seperti saudara yang kurang populer di keluarga besar Poirot. Padahal di dalam novel ini, Agatha Christie sedang menulis sesuatu yang lebih gelisah dibanding sekadar teka-teki pembunuhan biasa. Dan kegelisahan itu terasa nyata.

Agatha Christie sendiri pernah mengaku tidak terlalu menyukai novel ini. Ia menulisnya pada masa hidup yang buruk; perceraian, tekanan emosional, kelelahan mental. Ada rasa tidak utuh dalam proses kreatifnya saat itu. Anehnya, justru karena itu novel ini punya tekstur emosional yang berbeda dibanding novel Poirot lain yang lebih “rapi”. Buku ini terasa seperti seseorang yang tetap mencoba bekerja sambil batinnya retak. Mungkin karena itu suasana novel ini begitu muram.

Korban pembunuhan dalam cerita adalah Ruth Kettering, perempuan kaya yang hidup di tengah kemewahan tetapi tidak pernah benar-benar bahagia. Ia menikah dengan lelaki yang tidak mencintainya, dikelilingi orang-orang yang tertarik pada uang dan perhiasannya, lalu bepergian menggunakan kereta mewah menuju Riviera—tempat orang kaya Eropa biasa membuang kebosanan di bawah matahari.

Di titik tertentu, The Mystery of the Blue Train terasa seperti otopsi terhadap kelas atas Eropa pasca-Perang Dunia I. Orang-orang dalam novel ini punya segalanya, kecuali ketenangan. Mereka hidup di hotel mewah, kasino, pesta sosial, perjalanan eksklusif, tetapi hubungan mereka kosong. Percakapan mereka dipenuhi basa-basi sopan yang menyembunyikan kerakusan, perselingkuhan, kecemburuan, dan keputusasaan.

Christie sangat tajam ketika menulis manusia semacam itu. Ia memahami bahwa kaum elite sering tampak paling elegan tepat sebelum kehancuran mereka terlihat.

Lalu muncullah Hercule Poirot.

Poirot dalam novel ini belum sepenuhnya berubah menjadi figur legendaris seperti yang dikenal banyak orang sekarang. Ia masih eksentrik, masih bangga dengan “sel-sel kelabu kecil”-nya, masih cerewet soal keteraturan dan detail kecil. Tetapi ada sesuatu yang lebih tenang di sini. Ia tidak tampil seperti superhero intelektual. Ia lebih mirip pengamat manusia. Seseorang yang tahu bahwa pembunuhan jarang dimulai dari kebencian besar. Kadang dimulai dari luka kecil yang dipelihara terlalu lama.

Kasus utama novel ini berkisar pada pembunuhan Ruth Kettering dan hilangnya permata legendaris bernama “Heart of Fire”, rubi besar dengan reputasi hampir mistis. Secara teknis, premisnya klasik Christie; perempuan kaya, perhiasan mahal, perjalanan kereta, lingkaran tersangka terbatas. Semua elemen misteri tradisional tersedia lengkap.

Tetapi yang membuat novel ini terasa hidup justru bagian-bagian kecil di luarnya.

Percakapan yang terdengar biasa tetapi menyimpan kesedihan. Tatapan antartokoh yang terasa lebih dingin daripada kata-kata mereka. Perasaan bahwa hampir semua orang di novel ini sedang memainkan peran sosial masing-masing. Orang kaya berpura-pura bahagia. Suami berpura-pura setia. Kekasih berpura-pura tulus. Bahkan identitas sosial tampak seperti kostum.

Christie menulis dunia semacam itu dengan ketelitian yang nyaris sinis.

Banyak pembaca datang ke novel detektif untuk mencari jawaban; siapa pembunuhnya? Christie paham itu. Ia memberi petunjuk, jebakan logika, alibi, pengalihan perhatian. Tetapi dalam The Mystery of the Blue Train, pertanyaan yang lebih mengganggu justru bukan soal pembunuh. Pertanyaannya; mengapa orang-orang yang tampaknya memiliki segalanya justru hidup begitu menyedihkan?

Novel ini terasa penuh kesepian. Ruth Kettering seperti simbol dari kemewahan tanpa makna. Ia cantik, kaya, bergengsi, tetapi hidupnya kosong. Suaminya tidak mencintainya. Lingkungan sosialnya penuh kepalsuan. Bahkan perjalanan mewahnya terasa seperti pelarian dari sesuatu yang tidak bisa ia namai. Ketika ia mati, kematiannya bukan sekadar kejutan kriminal. Rasanya seperti konsekuensi dari dunia yang sudah membusuk sejak awal.

Membaca novel ini sekarang memberi sensasi aneh karena suasananya terasa sangat modern. Orang-orang kaya di media sosial juga tampak hidup dalam versi baru dari “Blue Train”; perjalanan glamor, pakaian mahal, pesta, foto sempurna. Tetapi di balik semua itu sering tersembunyi kegelisahan yang sama. Christie seperti memahami bahwa kemewahan tidak pernah benar-benar menghapus kehampaan manusia. Ia cuma memberi dekorasi lebih mahal pada kehampaan tersebut.

Novel ini memang tidak sesempurna karya Christie terbaik. Ritmenya kadang terasa terlalu panjang. Beberapa karakter tidak terlalu kuat. Ada bagian-bagian yang bergerak lambat sebelum misterinya kembali menggigit. Dibanding The Murder of Roger Ackroyd atau Death on the Nile, struktur The Mystery of the Blue Train memang kurang tajam.

Tetapi justru karena ketidaksempurnaannya, novel ini terasa lebih manusiawi.

Christie tampak seperti sedang mencoba bertahan lewat menulis. Dan pembaca bisa merasakan itu di sela-sela cerita. Ada melankolia yang tidak biasa dalam novel ini. Bahkan Riviera yang seharusnya indah terasa seperti tempat orang kaya menyembunyikan kehampaan mereka di bawah cahaya matahari Mediterania.

Lalu soal kereta itu sendiri. Kereta dalam karya Christie selalu lebih dari sekadar alat transportasi. Kereta adalah ruang transisi. Orang masuk sebagai seseorang, lalu keluar sebagai orang lain—atau tidak keluar sama sekali. Di dalam gerbong, identitas menjadi cair. Orang bisa berpura-pura, berbohong, menyamar, menghilang. Dunia luar bergerak cepat di balik jendela, sementara di dalamnya manusia saling mengawasi dengan sopan santun yang rapuh.

Blue Train terasa seperti simbol Eropa lama yang masih mencoba mempertahankan kemewahan setelah perang mengubah segalanya. Dunia aristokrat masih berdandan elegan, tetapi fondasinya mulai retak. Christie menangkap suasana itu dengan halus, tanpa pidato sosial panjang. Ia cukup memperlihatkan manusia-manusia kosong yang hidup terlalu nyaman.

Mungkin itu yang menjadikan novel ini bertahan. Bukan karena misterinya paling cemerlang. Bukan karena twist-nya paling mengejutkan. Tapi karena ada rasa lelah yang sangat manusiawi di dalamnya. Rasa bahwa orang bisa bepergian sejauh apa pun, tidur di kabin termewah, memakai permata paling mahal, lalu tetap tidak berhasil lari dari dirinya sendiri.

Ketika Poirot menyelesaikan kasusnya, dunia kembali tertata. Pembunuh terungkap. Misteri selesai. Kereta terus berjalan. Tetapi aroma logam dingin dari rel kereta seperti masih tertinggal lama setelah buku ditutup.

Related

Buku 4942097799342408890

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item