Bukan Kematian yang Sebenarnya Ditakuti Manusia, Tapi Dilupakan

Ilustrasi/klikbmi.com
Bangsal rumah sakit biasanya lebih sunyi pada pukul tiga dini hari. Mesin monitor masih berbunyi. Lampu koridor masih menyala. Perawat masih berjalan pelan dengan sepatu karet yang hampir tidak mengeluarkan suara. Dunia belum tidur sepenuhnya, tetapi juga belum benar-benar bangun.

Di jam-jam seperti itu, orang sering mengatakan hal-hal yang tidak mereka katakan pada siang hari.

Seorang dokter paliatif asal Amerika bernama Christopher Kerr pernah menceritakan pengalaman bertahun-tahun mendampingi pasien yang mendekati ajal. Banyak pasiennya tidak bertanya tentang rasa sakit. Tidak bertanya tentang surga. Tidak bertanya tentang berapa lama lagi mereka akan hidup. Mereka bertanya hal-hal yang terdengar jauh lebih sederhana.

"Anak saya sudah datang?"

"Istri saya tahu saya mencintainya?"

"Ada yang mencari saya tadi?"

Pertanyaan-pertanyaan kecil. Pertanyaan yang bahkan terdengar biasa. Tetapi di baliknya ada sesuatu yang besar dan tidak nyaman untuk diakui. Banyak manusia ternyata tidak terlalu takut pada kematian. Yang membuat mereka gemetar adalah kemungkinan menjadi tidak penting.

Kita tumbuh dengan asumsi bahwa ketakutan terbesar manusia adalah berhentinya jantung. Padahal kehidupan sehari-hari memberikan petunjuk berbeda.

Orang rela bekerja delapan belas jam sehari demi diakui. Orang bertengkar bertahun-tahun karena merasa diabaikan. Orang menulis buku yang mungkin tidak akan laku. Orang mengunggah foto ke internet dan berkali-kali memeriksa siapa yang menyukai atau mengomentarinya.

Kedengarannya sepele. Tetapi aktivitas semacam itu sering kali berakar pada kebutuhan yang sama; memastikan keberadaan kita tercatat oleh orang lain. Nama kita disebut. Wajah kita dikenali. Kehadiran kita meninggalkan bekas.

Ernest Becker, seorang antropolog dan penulis buku The Denial of Death, membangun seluruh teorinya di atas gagasan yang cukup mengganggu. Menurut Becker, banyak hal yang kita lakukan sebenarnya adalah usaha untuk melawan kematian secara simbolis.

Bukan kematian biologis. Kematian eksistensial.

Manusia tahu dirinya akan mati. Kesadaran itu adalah kutukan sekaligus keistimewaan. Seekor rusa yang sedang merumput tidak menghabiskan sore harinya memikirkan kemungkinan bahwa suatu hari semua orang akan melupakannya. Manusia melakukannya.

Karena itulah kita membangun keluarga, agama, bangsa, perusahaan, monumen, karya seni, bahkan akun media sosial. Kita ingin sebagian diri kita bertahan lebih lama daripada tubuh kita. Masalahnya, tidak semua orang takut dengan cara yang sama.

Tulisan-tulisan populer sering menyederhanakan persoalan ini menjadi satu kalimat; manusia sebenarnya takut kesepian, bukan kematian.

Saya tidak yakin sesederhana itu. Coba bayangkan seorang pria berusia tiga puluh tahun yang sehat tiba-tiba diberi tahu bahwa ia akan meninggal minggu depan akibat penyakit yang tidak bisa disembuhkan. Ia mungkin memiliki keluarga yang mencintainya. Ia mungkin tidak kesepian sama sekali. Tetap saja ia akan ketakutan.

Banyak orang memang takut pada kematian itu sendiri. Takut kehilangan kesadaran. Takut tidak pernah lagi mendengar suara hujan. Takut tidak pernah lagi mencium aroma kopi pagi. Takut karena semua kemungkinan tiba-tiba tertutup. Ketakutan semacam itu nyata.

Martin Heidegger memahami hal itu dengan sangat baik. Dalam filsafatnya, kematian bukan sekadar peristiwa biologis. Kematian adalah pengalaman yang tidak bisa diwakilkan.

Orang lain bisa masuk penjara menggantikan kita. Orang lain bisa bekerja menggantikan kita. Orang lain bisa menikahi pasangan kita setelah kita meninggal. Tapi tidak ada orang yang bisa mati menggantikan kita. Di titik paling akhir, setiap manusia menghadapi sesuatu yang sangat pribadi. Sangat sunyi.

Heidegger menyebut kesadaran akan kematian sebagai sesuatu yang justru membuat hidup jadi lebih otentik. Kedengarannya abstrak, tetapi sebenarnya sangat konkret.

Ketika seseorang sadar bahwa waktunya terbatas, banyak topeng mulai rontok. Tiba-tiba promosi jabatan yang dulu terasa sangat penting jadi tidak terlalu penting. Pertengkaran lima tahun lalu terlihat konyol. Dendam yang dipelihara bertahun-tahun tampak melelahkan.

Saya membaca wawancara dengan seorang perawat hospice bernama Bronnie Ware. Ia mencatat penyesalan paling umum dari orang-orang yang sedang mendekati kematian. Hampir tidak ada yang berkata, "Seandainya saya menghabiskan lebih banyak waktu di kantor."

Hampir tidak ada yang menyesal karena tidak membeli mobil yang lebih mahal. Yang sering muncul justru hubungan manusia. Anak. Pasangan. Sahabat. Keluarga. Nama-nama tertentu muncul berulang kali. Nama seseorang yang sudah lama tidak ditemui. Nama seseorang yang seharusnya dihubungi. Nama seseorang yang dulu dicintai.

Agak aneh memikirkan bahwa kehidupan yang begitu rumit sering menyempit jadi beberapa wajah saja ketika mendekati ujungnya. 

Kesepian memang memiliki hubungan yang sangat erat dengan kematian. Bahkan secara biologis. Penelitian psikologis selama beberapa dekade menunjukkan bahwa isolasi sosial berkepanjangan meningkatkan risiko depresi, penyakit jantung, gangguan imun, bahkan kematian dini.

Tubuh manusia tampaknya tidak dirancang untuk hidup sendirian terlalu lama. Di Jepang ada istilah kodokushi, "kematian kesepian". Orang meninggal sendirian di apartemennya. Tubuhnya baru ditemukan berminggu-minggu kemudian. Kadang berbulan-bulan. Petugas kebersihan khusus datang membersihkan ruangan yang telah menyimpan mayat terlalu lama. Ada perusahaan yang memang bergerak di bidang itu.

Saya pernah melihat foto-foto dokumenternya. Kasur yang menghitam. Dinding yang berubah warna. Ruangan yang tampak seperti waktu berhenti bergerak. Mata terasa perih melihat gambar-gambar itu. Bukan karena kematiannya. Tapi karena tidak ada seorang pun yang menyadarinya.

Mungkin di situlah sebagian orang menemukan bentuk ketakutan yang berbeda. Mereka tidak takut berhenti hidup. Mereka takut berhenti berarti. Takut menjadi nama yang tidak lagi disebut. Takut menjadi nomor telepon yang tidak pernah dihubungi. Takut menjadi foto yang akhirnya terhapus ketika penyimpanan ponsel penuh.

Media sosial membuat persoalan itu semakin aneh. Kita hidup pada zaman ketika seseorang bisa memiliki lima juta pengikut dan tetap merasa sendirian.

Michael Jackson pernah mengalami sesuatu yang mirip dalam skala ekstrem. Ia mungkin manusia paling terkenal di planet ini selama bertahun-tahun. Wajahnya dikenali dari Tokyo sampai Lagos. Suaranya terdengar dari Jakarta sampai Buenos Aires.

Popularitas ternyata tidak otomatis menghasilkan kedekatan. Sorak-sorai stadion dan kehangatan hubungan manusia adalah dua hal berbeda. Yang satu bisa dibeli. Yang satu tidak. Mungkin karena itulah banyak orang rela mempertaruhkan nyawanya untuk orang lain. Seorang ayah melompat ke sungai demi anaknya. Seorang tentara melindungi rekannya. Seorang ibu masuk ke rumah yang terbakar.

Dari sudut pandang evolusi, ada banyak penjelasan. Dari sudut pandang manusia biasa, tindakan itu sering terasa jauh lebih sederhana. Hidup yang dibagikan terasa lebih ringan daripada hidup yang dijalani sendirian.

Lampu koridor rumah sakit masih menyala. Monitor masih berbunyi. Seseorang mungkin sedang menggenggam tangan orang yang dicintainya di sebuah kamar yang tidak akan pernah muncul dalam buku sejarah.

Di luar jendela, kota tetap bergerak seperti biasa. Taksi lewat. Lampu merah berganti hijau. Orang-orang tertawa di restoran yang masih buka. 

Seorang pasien membuka mata sebentar, lalu bertanya apakah anaknya sudah datang.

Related

Hoeda's Note 8490141732055804178

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item