Utang yang Awalnya Rp20 Juta Berubah Jadi Rp25 Miliar—Pecah Ndase!
https://www.belajarsampaimati.com/2026/07/utang-yang-awalnya-rp20-juta-berubah.html
![]() |
| Ilustrasi/sukoharjokab.go.id |
Seorang perempuan mengaku jadi korban pembegalan, dan uangnya yang lebih dari Rp1 miliar dibawa begal. Belakangan, perempuan yang disebut IS itu malah ditangkap polisi karena ketahuan berbohong. Karena sebenarnya dia tidak menjadi korban pembegalan. Yang sebenarnya terjadi, dia menjadi korban rentenir yang kini menjeratnya dengan utang Rp25 miliar.
Jumlah utang Rp25 miliar terdengar seperti angka yang cocok untuk konglomerat bangkrut, proyek infrastruktur mangkrak, atau perusahaan yang gagal membayar obligasi. Angka itu terasa tidak masuk akal ketika ditempelkan pada seorang perempuan penjual telur di Garut. Karena itulah kisah IS begitu mengganggu.
Bukan karena kebohongannya. Bukan karena drama pembegalan palsunya. Tapi karena jalur yang membawanya sampai ke sana terasa terlalu dekat dengan kehidupan sehari-hari banyak orang Indonesia.
Seekor ayam bertelur. Telur diangkut ke warung. Warung menjual ke pelanggan. Seluruh rantai ekonomi itu tampak sederhana. Uangnya kecil. Marginnya tipis. Orang yang berdagang telur biasanya menghitung untung dalam ratusan ribu atau jutaan rupiah, bukan miliaran. Ketika seorang pedagang telur tiba-tiba disebut memiliki utang Rp25 miliar, otak langsung tersentak. Ada sesuatu yang tidak normal sedang bekerja.
Awalnya hanya Rp20 juta.
Menurut keterangan yang disampaikan polisi, IS meminjam modal usaha sebesar Rp20 juta kepada rentenir. Syaratnya sederhana sekaligus brutal: pinjaman Rp20 juta harus dikembalikan dengan tambahan Rp8 juta. Dalam bahasa yang lebih lugas, untuk mendapatkan uang Rp20 juta, ia harus mengembalikan Rp28 juta.
Angka-angka semacam itu sering terdengar abstrak sampai dihitung dalam konteks nyata. Pedagang telur tidak menjual barang dengan margin fantastis. Selisih harga telur dari distributor ke warung sering kali tipis. Truk harus dibayar. Bensin harus dibeli. Telur pecah di jalan. Pembeli menunda pembayaran. Harga pakan ayam naik turun mengikuti pasar.
Rp8 juta bukan sekadar angka tambahan di atas kertas. Rp8 juta bisa berarti berbulan-bulan kerja.
Keterangan AKP Dede Sopandi dari Polres Garut menggambarkan bagaimana jebakan itu bekerja. Saat IS tidak mampu menutupi bunga pinjaman, ia meminjam lagi. Pinjaman baru dipakai membayar kewajiban lama. Utang berikutnya muncul untuk menutup utang sebelumnya. Siklusnya berjalan terus.
Skema seperti itu sebenarnya tidak membutuhkan niat jahat yang besar dari pihak peminjam. Cukup satu asumsi sederhana: bulan depan keadaan akan lebih baik.
Banyak keputusan ekonomi manusia berdiri di atas asumsi itu. Pedagang berharap penjualan naik bulan depan. Sopir berharap orderan lebih ramai bulan depan. Petani berharap panen berikutnya lebih baik. Pemilik warung berharap pelanggan yang berutang segera membayar.
Bulan depan memiliki reputasi yang sangat bagus di kepala manusia. Masalah muncul ketika bulan depan ternyata sama buruknya dengan bulan ini.
Menurut polisi, bunga pinjaman yang terus diakumulasikan berkembang jadi puluhan juta rupiah. Perhitungan rentenir kemudian terus berjalan sampai mencapai angka yang nyaris absurd. Catatan penagihan yang dimiliki para rentenir disebut mencapai kisaran Rp10 miliar hingga Rp25 miliar.
Saya berhenti cukup lama setiap kali membaca angka itu.
Dua puluh lima miliar rupiah. Jumlah tersebut setara harga puluhan rumah di banyak kota Indonesia. Seorang penjual telur harus menjual berapa banyak telur untuk melunasi angka sebesar itu? Berapa peti telur yang harus dipikul? Berapa kali bangun sebelum subuh untuk mengambil stok dari pemasok?
Perhitungan ekonomi normal sebenarnya sudah berhenti bekerja, jauh sebelum angka itu muncul. Yang berjalan bukan lagi logika perdagangan. Yang berjalan adalah logika penagihan.
Dalam dunia rentenir ekstrem, angka kadang berubah fungsi. Ia tidak lagi dipakai untuk menggambarkan nilai riil yang mungkin dibayar. Ia menjadi alat tekanan psikologis. Semakin besar angka yang tertulis, semakin besar rasa takut yang dihasilkan. Rasa takut sering lebih efektif daripada surat kontrak.
Kisah IS berubah arah ketika tekanan tersebut mencapai titik tertentu. Ia mengaku dirampok tiga pria. Motornya disebut dibawa kabur. Uang Rp1,3 miliar diklaim hilang. Sebagian uang bahkan disebut disimpan di bawah jok motor.
Cerita itu langsung terdengar ganjil. Motor yang membawa uang miliaran rupiah selalu terdengar seperti adegan yang ditulis terburu-buru. Tetapi orang yang sedang panik sering tidak menyusun cerita dengan rapi. Mereka menyusun cerita yang sekiranya cukup untuk bertahan satu hari lagi. Satu hari kadang terasa sangat berharga ketika telepon penagih terus berdering.
Penyelidikan polisi kemudian menemukan bahwa peristiwa pembegalan tersebut tidak pernah terjadi. IS berbohong. Ia ditetapkan sebagai tersangka.
Media cenderung menyukai bagian itu karena jelas. Pelakunya berbohong. Polisi membongkar kebohongan. Kasus selesai.
Saya justru tertarik pada bagian yang lebih berantakan. Bagian ketika seseorang mulai percaya bahwa satu-satunya jalan keluar adalah menciptakan kejahatan fiktif.
Sebelum menjadi tersangka, IS terlebih dulu menjadi orang yang ketakutan. Rasa takut memiliki gejala fisik yang nyata. Tangan dingin. Dada sesak. Perut terasa kosong meski sudah makan. Tidur tidak benar-benar menjadi tidur karena pikiran tetap bekerja. Nama-nama penagih muncul bahkan ketika mata tertutup. Telepon yang bergetar di meja bisa membuat jantung berdebar lebih cepat daripada suara petasan.
Menurut laporan, IS bahkan sempat pingsan dan histeris saat dimintai keterangan. Ia dibawa ke Puskesmas Cisurupan. Oksigen dipasang. Perawatan berlangsung selama dua hari.
Orang bisa berpura-pura tentang banyak hal. Tubuh sering lebih jujur. Tubuh memiliki cara sendiri untuk menyerah.
Kisah ini juga membuka sisi yang jarang dibahas dalam diskusi tentang utang. Banyak orang membayangkan jebakan rentenir hanya menimpa mereka yang tidak mampu berhitung. Gambaran itu terlalu malas.
Sebagian besar korban memahami bahwa bunga tinggi berbahaya. Mereka tidak bodoh. Mereka hanya berada dalam posisi yang buruk.
Ketika modal usaha habis, pemasok meminta pembayaran, pelanggan menunda pelunasan, dan anak membutuhkan biaya sekolah, pilihan yang tersedia sering kali mengecil dengan cepat. Rentenir tumbuh subur justru karena mereka menawarkan sesuatu yang sering gagal diberikan lembaga keuangan formal: kecepatan.
Datang pagi. Uang cair siang. Tidak perlu laporan keuangan yang rapi. Tidak perlu jaminan yang rumit. Tidak perlu menunggu. Harga dari kecepatan itu kadang baru terlihat beberapa bulan kemudian.
Kota Garut terus berjalan setelah kasus ini selesai. Warung-warung tetap buka. Truk pengangkut telur tetap melintas. Orang-orang membeli telur untuk sarapan tanpa memikirkan bagaimana komoditas sederhana itu pernah menjadi pusat sebuah kisah yang melibatkan utang miliaran rupiah, rentenir, laporan polisi palsu, dan seorang perempuan yang memilih menciptakan perampokan khayalan.
Saya membayangkan tumpukan buku catatan para penagih. Kertas kusam. Sudut halaman terlipat. Deretan angka yang terus bertambah setiap minggu. Nama IS tertulis di salah satu halaman. Mungkin dengan tinta biru. Mungkin dengan pensil.
Rp20 juta berada di baris pertama. Sisanya mengikuti.


