Roger Ebert, Kritikus yang Menulis Puluhan Ribu Ulasan Film
https://www.belajarsampaimati.com/2026/09/roger-ebert-kritikus-yang-menulis.html?m=0
![]() |
| Ilustrasi/variety.com |
Pada masa Roger Ebert mulai menjadi kritikus film, seorang penonton yang ingin tahu apakah sebuah film layak ditonton harus berhadapan dengan benda yang agak kaku: koran. Ulasan muncul di halaman hiburan, dibaca, mungkin dipotong dan disimpan, lalu hilang bersama koran-koran berikutnya.
Ebert mengubah jangkauan benda itu. Ia mulai menjadi kritikus film Chicago Sun-Times pada 1967, dan bertahan di sana sampai meninggal pada 2013. Pada 1975, ia memperoleh Pulitzer Prize for Criticism untuk tulisan-tulisannya selama 1974, menjadi kritikus film pertama yang memenangkan penghargaan tersebut.
Usianya baru sekitar enam bulan sebagai kritikus ketika ia menulis tentang “Bonnie and Clyde” karya Arthur Penn. Film itu sekarang terasa begitu akrab sehingga kita gampang lupa betapa ganjilnya ia pada 1967: Warren Beatty dan Faye Dunaway sebagai pasangan kriminal yang sekaligus memikat dan mengerikan, kekerasan yang tiba-tiba meledak, humor yang berdampingan dengan kematian.
Ebert tidak menulis seolah-olah sedang mengisi formulir penilaian. Ia menyebut film itu sebagai karya yang “pitilessly cruel”, lucu, menyakitkan, indah, dan mengejutkan dalam waktu yang sama. Ia bahkan menangkap sesuatu yang lebih penting: film tentang kriminal tahun 1930-an itu sebenarnya sedang berbicara tentang Amerika tahun 1967.
Itu salah satu kemampuan Ebert yang sering hilang ketika orang hanya mengingatnya sebagai lelaki yang mengangkat atau menurunkan ibu jari. Ia bisa melihat film sebagai benda yang dibuat pada suatu zaman dan ditonton oleh manusia yang hidup pada zaman tersebut.
Dalam ulasannya tentang “Bonnie and Clyde”, ia tidak terjebak pada pertanyaan apakah kisahnya akurat sebagai film periode. Ceritanya memang terjadi 35 tahun sebelumnya, tetapi filmnya dibuat sekarang, tulisnya, dan karena itu film tersebut berbicara tentang orang-orang yang hidup sekarang. Kalimat seperti itu menjelaskan mengapa kritik Ebert lebih tahan lama daripada sekadar rekomendasi “bagus” atau “jelek”.
Kemampuan itu bertemu dengan sesuatu yang jauh lebih besar: televisi.
Pada 1975, Ebert mulai tampil dalam program Sneak Previews bersama Gene Siskel, kritikus film Chicago Tribune. Program lokal Chicago itu kemudian masuk jaringan PBS secara nasional dan berkembang menjadi At the Movies. Mereka berdua duduk bersebelahan, membicarakan film, saling menyela, tidak selalu sepakat, dan pada satu titik menghasilkan perangkat yang mungkin terlihat remeh tetapi dampaknya luar biasa: ibu jari ke atas atau ke bawah. “Two thumbs up” menjadi semacam bahasa singkat untuk kualitas film. Orang yang tidak pernah membaca kritik film pun mengenal simbol itu.
Di sana Ebert melakukan sesuatu yang sebenarnya agak berbahaya bagi kritik film: ia menyederhanakannya. Film yang berdurasi dua jam dan dibuat dengan ratusan keputusan artistik bisa diringkas menjadi satu gerakan tangan. Tetapi justru penyederhanaan itulah yang membuat kritik masuk ke rumah orang yang sebelumnya tidak peduli dengan kritik. Televisi membutuhkan bahasa yang cepat. Ebert memberikannya tanpa sepenuhnya mengorbankan tulisan panjangnya. Ibu jari itu pintu masuk; esainya adalah ruangan yang jauh lebih besar.
Ia juga tidak memiliki alergi terhadap film populer. Itu penting. Kritik film mudah berubah menjadi klub eksklusif tempat pengetahuan tentang sutradara, sinematografi, festival, dan film-film Eropa dipakai sebagai semacam kartu anggota. Ebert bisa menulis dengan serius tentang “La Dolce Vita”, tetapi ia juga bisa masuk ke film Hollywood, komedi, horor, eksploitasi, animasi, atau film yang secara akademis tidak perlu diperlakukan dengan sarung tangan.
Dalam kenangan yang dikumpulkan situsnya setelah kematiannya, kritikus Andrew O’Hehir menggambarkan Ebert sebagai orang yang sangat berpengetahuan tentang film tetapi tidak bersikap seperti penjaga gerbang budaya.
Hal itu terasa jelas ketika membaca ulasannya, bukan ketika membaca daftar penghargaan.
Ambil “Little Miss Sunshine”. Ebert tidak berhenti pada “komedi keluarga yang bagus”. Ia memperhatikan mata Olive yang menatap televisi melalui kacamata plastiknya, perjalanan keluarga dengan Volkswagen van tua dari Albuquerque menuju Redondo Beach, jalan keluar freeway yang tidak kunjung mereka temukan, bahkan cara Steve Carell berlari sebagai Uncle Frank. Ia bisa memperlakukan gerakan kecil seorang aktor sebagai informasi tentang watak. Ia juga menemukan struktur film dalam sebuah adegan makan malam dengan ayam goreng: hampir dua puluh menit, tetapi hubungan seluruh keluarga terbuka di sana.
Itulah, saya kira, jenis kritik yang membuat Ebert sering terasa lebih berguna daripada sekadar situs pemberi skor. Ia memberi tahu pembaca apa yang harus diperhatikan.
Perbedaan itu besar. “Film ini bagus” tidak mengajarkan apa-apa. “Perhatikan bagaimana Paul Dano hampir tidak perlu bergerak untuk membuat Dwayne lucu” membuat kita menonton ulang adegan tersebut dengan mata berbeda. Kritik semacam itu tidak hanya memberi keputusan; ia memberi alat penglihatan.
Pengaruh Ebert kemudian melewati televisi dan masuk ke wilayah yang bahkan lebih menentukan: internet. Ia sudah menggunakan CompuServe sejak awal 1990-an dan memuat ulasannya di sana, sekaligus berdiskusi langsung dengan pembaca. Wired pada 1996 mencatat bahwa ulasan Ebert telah disindikasikan ke lebih dari 200 surat kabar dan tersedia di CompuServe. Dalam wawancara itu Ebert bercerita bahwa setelah sebuah ulasan masuk ke forum daring, detail-detailnya bisa langsung dipertanyakan oleh pembaca. Ia tidak lagi hanya menulis lalu menunggu surat pembaca. Orang-orang membalasnya hampir seketika.
Itu terasa biasa sekarang karena internet telah membuat semua kritikus bisa dibantah dalam hitungan detik. Pada awal 1990-an, itu masih baru. Ebert melihat kemungkinan tersebut lebih awal. Pada 1996 ia bahkan mendorong Chicago Sun-Times untuk menaruh ribuan ulasannya secara daring secara gratis. Beberapa tahun kemudian arsipnya berkembang menjadi lebih dari 10.000 ulasan yang dapat dicari.
Bayangkan pekerjaan seorang kritikus yang menulis selama puluhan tahun. Biasanya karya itu terkubur dalam tumpukan koran. Ebert justru ikut memindahkan tumpukan tersebut ke internet. Ulasan tentang film 1967 dapat dibaca seseorang puluhan tahun kemudian dari kamar tidur di negara yang bahkan tidak pernah didatangi Ebert. Kritik film berubah menjadi arsip hidup.
Ia bahkan terus menulis ketika kondisi kesehatannya membuat tampil di televisi hampir mustahil. Setelah kehilangan kemampuan berbicara akibat komplikasi perawatan kanker, internet jadi ruang baru baginya. Blog, Twitter, dan tulisan panjang, memungkinkan suaranya tetap terdengar. Ia menulis tentang film, makanan, teknologi, politik, buku, pengalaman sakit, dan hal-hal kecil yang ia temukan di internet. Pada 2013, ketika meninggal, pengaruhnya tidak lagi hanya berada di koran atau televisi.
Karena itu, menyebut Ebert sebagai “kritikus film paling berpengaruh” sebenarnya membutuhkan sedikit kehati-hatian. Tidak ada ukuran ilmiah tunggal untuk menentukan siapa yang paling berpengaruh. Pauline Kael, Andrew Sarris, Bosley Crowther, Manny Farber, James Agee, dan banyak nama lain, memiliki pengaruh besar terhadap cara film dibaca dan dinilai. Ebert bukan satu-satunya raksasa.
Keistimewaannya adalah jangkauan. Ia memiliki Pulitzer, kolom surat kabar nasional, acara televisi, lebih dari 20 buku, festival filmnya sendiri, arsip daring, forum internet, blog, dan kemudian media sosial. Situs resminya mencatat bahwa ia menjadi satu-satunya kritikus film yang memiliki bintang di Hollywood Walk of Fame. Ia juga menjadi anggota kehormatan seumur hidup Directors Guild of America.
Lebih penting lagi, ia berhasil melakukan sesuatu yang tidak mudah dilakukan seorang kritikus: membuat orang merasa bahwa mereka boleh menikmati film tanpa harus terlebih dulu belajar berbicara seperti akademisi film.
Ebert telah jadi semacam singkatan budaya untuk gagasan bahwa film bisa dibicarakan dengan serius tanpa harus dibuat terasa seperti kuliah. Ia bisa membedah sebuah adegan dengan teliti, kemudian beberapa paragraf setelahnya mengakui bahwa sebuah film membuatnya tertawa atau terharu. Ia tidak selalu benar. Bahkan Ebert sendiri berubah pikiran mengenai beberapa film. Ia pernah menulis ulang penilaiannya terhadap karya-karya lama. Kritiknya juga kadang keras, kadang berlebihan, kadang jelas dipengaruhi selera pribadinya.
Justru itu yang membuat arsipnya enak dibaca.
Ketika membuka kembali ulasan “Bonnie and Clyde” hari ini, kita tidak hanya menemukan penilaian terhadap sebuah film. Kita menemukan seorang kritikus muda yang baru enam bulan bekerja, duduk menonton sebuah film yang belum memiliki reputasi sejarah, lalu tiba-tiba menyadari bahwa ia sedang menyaksikan sesuatu yang besar. Ia belum tahu bagaimana film itu akan dikenang. Ia hanya tahu bahwa ketika layar menyala, sesuatu sedang terjadi.
Tiga puluh satu tahun kemudian ia membaca kembali tulisan itu, dan mengingat bahwa itulah film masterpiece pertama yang ia temui selama bekerja sebagai kritikus. Ia menulis bahwa pengalaman itu memberinya satu pengetahuan sederhana: pengalaman semacam itu mungkin terjadi.
Mungkin itu juga alasan tulisan Ebert masih dicari ketika film yang ia ulas sudah tua, aktornya sudah meninggal, bioskop tempat pemutarannya sudah berubah menjadi toko, dan pembacanya menonton lewat layar laptop dengan headphone yang kadang membuat telinga sedikit pegal.
Filmnya selesai dua jam lalu. Ulasannya masih berbicara.
Catatan terkait: Christopher Nolan, Adegan Nyata, dan Efek CGI dalam Film


