Christopher Nolan, Adegan Nyata, dan Efek CGI dalam Film

Ilustrasi/empireonline.com
Christopher Nolan kerap dianggap sutradara genius karena kerjanya dalam film yang dianggap hebat. Dia juga sering disebut lebih suka membuat adegan nyata daripada menggunakan CGI. Misalnya benar-benar meledakkan pesawat dalam Tenet, benar-benar membakar uang asli dalam The Dark Knight, dan lain-lain. 

Banyak orang yang awam film, termasuk saya, bertanya-tanya apa pentingnya hal semacam itu? Jika ada sarana teknologi yang memungkinkan adegan pesawat meledak tanpa harus benar-benar meledakkan pesawat asli, kenapa tidak dipakai? Kalau kita bisa membuat uang palsu yang tampak asli untuk dibakar dalam film, kenapa tidak dilakukan? Bukankah penonton lebih mementingkan hasilnya di layar daripada kisah produksi di baliknya? 

Saya menulis catatan ini untuk membahas pertanyaan tersebut, sekaligus mendudukkan posisi Christopher Nolan secara proporsional. Tentu dalam kacamata orang awam.

Dalam banyak kasus, penonton memang tidak perlu tahu—dan tidak ingin tahu—apakah adegan itu dibuat secara nyata atau CGI. Yang penting adalah apa yang mereka rasakan ketika melihatnya di layar. Bahkan, kalau CGI menghasilkan gambar yang sama persis, secara artistik tidak ada alasan otomatis bahwa metode “benar-benar melakukannya” lebih unggul.

Tetapi ada beberapa alasan mengapa sutradara seperti Nolan tetap memilih cara praktikal. Menariknya, alasan terbaiknya bukan “karena nyata selalu lebih bagus.”

Pertama, yang perlu kita pahami, CGI bukan berarti hasilnya pasti lebih buruk. Ini yang pertama harus diluruskan. Ada anggapan bahwa efek praktikal atau nyata hasilnya bagus. Sementara CGI atau adegan palsu (buatan) akan menghasilkan adegan yang kurang bagus. Kenyataannya tidak sesederhana itu.

Dalam The Dark Knight, misalnya. Kalau sebuah mobil benar-benar dibalik dengan mekanisme khusus di jalan, kamera akan menangkap cahaya, bayangan, serpihan, gerakan kamera, debu, pantulan, dan interaksi benda dengan lingkungan secara otomatis. Nolan benar-benar melakukan hal itu. Batman menjerat truk yang dikemudikan Joker, lalu membuat truk itu benar-benar terbalik di jalan.

CGI bisa menghasilkan adegan semacam itu, tapi semuanya harus diciptakan secara digital. Dari truk yang terbalik, sampai berbagai efek yang harus muncul dari adegan truk terbalik tersebut. Secara teori, benar-benar membalik sebuah truk dalam adegan nyata jauh lebih mudah, daripada membuat adegan serupa menggunakan CGI.

Jadi efek praktikal kadang bukan dipilih karena CGI tidak mampu melakukannya, tetapi karena lebih mudah mendapatkan kompleksitas visual secara alami.

Bayangkan kamu memotret sebuah gelas yang dijatuhkan ke lantai. Kamera tinggal merekam. Mudah, praktis, tanpa repot-repot.

Kalau kamu membuat gelas jatuh itu secara digital, komputer harus mengetahui bagaimana kaca pecah, bagaimana setiap pecahan bergerak, bagaimana cahaya memantul pada pecahan tersebut, bagaimana bayangan jatuh, bagaimana serpihan mengenai lantai, dan sebagainya.

Jadi ada paradoks: kadang melakukan sesuatu secara sungguhan justru merupakan cara termudah untuk membuatnya terlihat sungguhan.

Dari sudut pandang penonton, proses pembuatan film juga sering kali tidak penting-penting amat. Misalnya Nolan berkata, “Kami benar-benar menghancurkan sebuah pesawat Boeing 747.”

Penonton mungkin berpikir, “Oh, keren.”

Lalu ternyata pesawat itu miniatur. Kalau hasil gambarnya persis sama, apakah pengalaman menonton berubah? Tidak. Penonton tidak memiliki indra keenam yang bisa mendeteksi bahwa sebuah pesawat benar-benar dihancurkan. Film adalah medium rekaman. Yang masuk ke kepala kita adalah gambar dan suara, bukan metode produksinya.

Karena itu, “kami benar-benar melakukannya” sebenarnya bukan kualitas film itu sendiri. Ia adalah fakta produksi. Dan fakta produksi tidak otomatis menjadi kualitas artistik.

Lalu mengapa Nolan sangat menyukai efek praktikal? Karena ada konsekuensi yang lebih halus. Nolan tampaknya sangat percaya pada hubungan langsung antara kamera dan objek.

Dalam film yang menggunakan CGI secara berat, sutradara sering bekerja dengan dunia yang sebagian belum ada ketika kamera dinyalakan. Aktor mungkin berdiri di depan green screen, sementara pesawat, gedung, monster, ledakan, atau lingkungan, akan ditambahkan kemudian.

Nolan cenderung mengatakan, “Kalau memungkinkan, mari kita buat objek itu benar-benar ada di depan kamera.”

Bukan karena penonton harus mengetahui hal tersebut. Tetapi karena aktor, kamera, cahaya, dan benda nyata itu kemudian saling mempengaruhi. Itu bisa menghasilkan sesuatu yang sulit direncanakan secara digital.

Adegan nyata juga memiliki manfaat psikologis untuk aktor. Itu sering diremehkan. Bayangkan dua situasi.

Situasi pertama: Kamu berlari karena sebuah gedung sungguhan sedang runtuh di belakangmu.

Situasi kedua: Sutradara berkata, “Nanti di belakangmu akan ada gedung runtuh. Sekarang bayangkan ledakannya.”

Keduanya bisa menghasilkan akting yang bagus. Tetapi tidak identik.

Ketika sesuatu benar-benar terjadi di ruang yang sama, tubuh manusia mendapatkan informasi nyata: suara, getaran, cahaya, gerakan udara, benda yang bergerak.

Aktor kemudian bereaksi, bukan sekadar berpura-pura bereaksi. Dan reaksi itu bisa tertangkap kamera.

Adegan pesawat di film Tenet bisa menjadi contoh menarik. Dalam Tenet, Nolan terkenal karena menggunakan Boeing 747 sungguhan untuk adegan pesawat menabrak hanggar.

Tetapi ada satu hal yang sering hilang dalam cerita populer tentangnya: Nolan tidak membeli pesawat mahal hanya untuk membuktikan bahwa ia berani.

Produksi awalnya bahkan mempertimbangkan membuat adegan tersebut dengan miniatur dan visual effects. Kemudian mereka menemukan bahwa membeli pesawat bekas ternyata lebih ekonomis daripada membangun miniatur dalam skala besar dan melakukan pekerjaan digital dalam jumlah besar.

Jadi keputusan “praktikal” itu juga merupakan keputusan produksi yang pragmatis. Ini penting dipahami, karena mitologi tentang Nolan kadang membuatnya terdengar seperti: “CGI buruk. Saya tidak mau CGI. Saya akan menghancurkan pesawat sungguhan.”

Padahal kenyataannya jauh lebih menarik: “Jika efek nyata merupakan cara paling efektif untuk mendapatkan gambar yang kami inginkan, lakukan secara nyata.”

Dan Tenet tetap menggunakan CGI, omong-omong.

Kemudian, “efek praktikal” tidak berarti semuanya benar-benar terjadi. Ini juga penting. Film hampir selalu merupakan campuran. Ledakan bisa nyata, tetapi bagian tertentu diperbesar secara digital. Pesawat bisa nyata, tetapi langit di belakangnya dimodifikasi. Mobil bisa sungguhan, tetapi serpihan tertentu ditambahkan CGI. Aktor bisa benar-benar berada di lokasi, tetapi lingkungan diperluas secara digital.

Jadi pembagian “praktikal vs CGI” sebenarnya agak menyesatkan. Film modern lebih sering menggunakan praktikal + CGI + compositing + miniature + stunt + sound design. Tujuannya bukan menentukan siapa yang menang. Tujuannya untuk mendapatkan gambar/visual terbaik.

Di titik inilah saya agak tidak setuju dengan pemujaan terhadap Nolan. Ada kecenderungan dalam budaya film untuk mengubah keputusan teknis menjadi bukti kejeniusan.

“Dia benar-benar membakar ini.”

“Dia benar-benar menghancurkan itu.”

“Dia benar-benar membangun set sebesar itu.”

“Dia tidak menggunakan CGI.”

Kemudian semua itu dianggap sebagai bukti bahwa dia adalah sutradara yang lebih “serius”. Padahal kesulitan membuat film bukan ukuran langsung kualitas film.

Kalau seseorang membuat adegan luar biasa dengan CGI selama enam bulan, sedangkan orang lain menghancurkan benda sungguhan selama dua menit, bukan berarti yang kedua lebih jenius. Film bukan kompetisi siapa yang paling susah bekerja. Film adalah apa yang akhirnya terlihat dan terasa di layar.

Kita bahkan bisa menemukan contoh yang secara nyata membalik seluruh argumen tersebut.

Pikirkan Jurassic Park. Film itu terkenal karena menggabungkan animatronik, puppetry, miniatur, dan CGI dengan sangat cerdas. Tetapi penonton tidak duduk di bioskop sambil berkata, “Ah, animatroniknya bagus.” Mereka melihat Tyrannosaurus rex dan berpikir, “Itu benar-benar dinosaurus.” Itulah keberhasilan efek visual. Efek visual terbaik adalah ketika kita berhenti memikirkan efek visualnya.

Jadi, apakah Nolan “genius” karena melakukan semuanya secara nyata? Tidak.

Kalau seseorang mengatakan Nolan genius karena dia menghancurkan pesawat sungguhan, alasannya terlalu dangkal.

Nolan lebih menarik untuk dibicarakan karena ia mempunyai keyakinan artistik yang konsisten mengenai bagaimana sebuah adegan sebaiknya dibuat: kamera sedekat mungkin dengan objek nyata, lokasi nyata ketika memungkinkan, efek praktikal ketika memberikan keuntungan visual atau performatif, dan CGI digunakan ketika memang lebih masuk akal.

Penonton membeli tiket untuk menonton film, bukan membeli proses produksi. 

Kalau Nolan membuat ledakan dengan CGI dan hasilnya terlihat persis seperti ledakan sungguhan, ledakan itu berhasil. Kalau Nolan benar-benar meledakkan sesuatu dan hasilnya terlihat buruk, ledakan itu gagal. Tidak ada bonus nilai artistik hanya karena sesuatu benar-benar meledak.

Yang menarik adalah bahwa dalam praktiknya, cara membuat sesuatu secara nyata kadang justru merupakan cara paling efisien untuk menghasilkan ilusi yang meyakinkan. Dan itulah alasan praktikal effects tetap hidup di zaman CGI—bukan karena teknologi digital itu “palsu”, tetapi karena dunia nyata kadang masih menjadi komputer rendering terbaik yang kita punya.


Related

Entertainment 2353198472598812961

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item