Disclosure Day, Film Steven Spielberg yang Sangat Mengecewakan
https://www.belajarsampaimati.com/2026/08/disclosure-day-film-steven-spielberg.html
![]() |
| Ilustrasi/euronews.com |
Lampu bioskop menyala, kredit penutup mulai bergulir, lalu muncul perasaan yang lebih aneh daripada kecewa. Dua jam lebih baru saja lewat. Steven Spielberg baru saja membuat film tentang alien lagi. Emily Blunt, Josh O'Connor, Colin Firth, John Williams, Janusz KamiĆski—nama-nama yang biasanya cukup untuk membuat orang membeli tiket tanpa membaca sinopsis. Anehnya, yang tertinggal di kepala justru pertanyaan sederhana: sebenarnya film itu mau membawa saya ke mana?
Disclosure Day datang dengan beban yang sangat besar. Spielberg bukan sutradara sembarangan. Ketika namanya muncul di poster film bertema makhluk luar angkasa, orang otomatis mengingat Close Encounters of the Third Kind (1977), lalu E.T. (1982), bahkan War of the Worlds (2005). Tiga film itu berbeda, tetapi memiliki satu kesamaan: penonton segera tahu sedang memasuki dunia yang asing. Spielberg selalu pandai menciptakan rasa ingin tahu sebelum menjelaskan apa pun. Ia tidak buru-buru membuka kartu, tetapi selalu memberi cukup petunjuk agar rasa penasaran terus hidup.
Disclosure Day justru melakukan kebalikannya.
Hampir satu jam pertama terasa seperti seseorang berbicara panjang tanpa pernah sampai pada inti kalimat. Daniel Kellner, pakar keamanan siber yang diperankan Josh O'Connor, berlari, bersembunyi, bertemu orang baru, berpindah tempat.
Margaret Fairchild, pembawa acara cuaca yang dimainkan Emily Blunt, mulai mengalami fenomena-fenomena aneh. Seekor burung merah masuk ke ruangan. Bahasa asing tiba-tiba keluar dari mulutnya.
Kamera bergerak anggun. Musik John Williams mengalun pelan.
Semua elemen tampak meyakinkan jika dipisahkan satu per satu. Masalahnya, potongan-potongan itu lama sekali membentuk gambar.
Andai saya menonton film ini tanpa pernah melihat trailer atau membaca artikel bahwa Disclosure Day adalah tentang alien, mungkin saya akan mengira sedang menonton thriller politik. Lima belas menit kemudian berubah jadi drama keluarga. Setelah itu seperti film konspirasi korporasi. Beberapa adegan terasa ingin menjadi misteri spiritual. Alien baru benar-benar hadir sebagai pusat cerita ketika kesabaran penonton mulai habis.
Pacing lambat tidak pernah menjadi dosa dalam sinema. 2001: A Space Odyssey bergerak sangat lambat. Arrival bahkan lebih banyak diam daripada berbicara. Persoalannya bukan lambat atau cepat. Persoalannya apakah penonton diberi cukup alasan untuk tetap berjalan bersama film.
Di situlah saya mulai kehilangan hubungan dengan Disclosure Day.
Karakter-karakternya sulit disukai. Daniel Kellner terus bergerak seolah dunia mengejarnya, tetapi saya tidak pernah benar-benar peduli apakah ia lolos atau tertangkap. Margaret Fairchild berkali-kali mengalami perubahan psikologis yang seharusnya mengejutkan. Emily Blunt memainkan perannya dengan sangat serius, tetapi naskah tidak memberi ruang agar penonton mengenalnya sebagai manusia lebih dulu. Colin Firth tampil sebagai Noah Scanlon dengan aura dingin yang khas, hanya saja tokoh antagonisnya terasa seperti kumpulan fungsi cerita, bukan seseorang yang hidup.
David Koepp pernah menulis skrip Jurassic Park, Mission: Impossible, Spider-Man, sampai War of the Worlds. Ia tahu cara menjaga ketegangan. Justru karena itulah saya heran. Naskah Disclosure Day seperti kehilangan naluri paling dasar tentang ritme. Percakapan berlangsung panjang. Informasi ditahan terlalu lama. Ketika jawaban akhirnya datang, nilainya tidak sebanding dengan waktu tunggu.
Mata mulai terasa lelah sekitar pertengahan film. Bukan karena visualnya buruk. KamiĆski tetap menghasilkan gambar-gambar yang indah. Cahaya sore memantul di kaca mobil, langit mendung terlihat megah, komposisi setiap frame nyaris selalu rapi. Justru kerapian itu lama-lama terasa mengganggu. Saya sibuk mengagumi pencahayaan sementara isi adegan berjalan di tempat.
Ironisnya, promosi film ini sangat berhasil. Poster bertuliskan "If you found out we weren't alone..." terdengar mengundang. Trailer memperlihatkan kilasan-kilasan yang membuat orang mengira akan menyaksikan thriller konspirasi berskala global. Spielberg sendiri kembali bekerja sama dengan David Koepp, Janusz KamiĆski, serta John Williams dalam kolaborasi mereka yang ketiga puluh. Semua itu membangun ekspektasi bahwa akan lahir sebuah film fiksi ilmiah besar.
Ekspektasi memang bukan kesalahan film. Kalimat itu sering dipakai untuk membela karya yang mengecewakan. Saya tidak terlalu percaya.
Nama Steven Spielberg bukan sekadar nama sutradara. Ia adalah merek. Orang membeli tiket bukan hanya karena cerita tentang alien. Mereka membeli janji pengalaman sinematik yang pernah diberikan Spielberg berkali-kali selama puluhan tahun. Ketika poster menampilkan namanya jauh lebih besar daripada judul film, ekspektasi bukan lagi beban yang datang dari penonton. Ekspektasi sengaja dijual sebagai bagian dari produk.
Bagian akhir film tampaknya dimaksudkan sebagai ledakan emosional sekaligus pengungkapan terbesar. Rahasia yang selama ini disembunyikan akhirnya terbuka. Alien benar-benar muncul. Pemerintah, konspirasi, sejarah, semua mulai tersambung. Saya justru duduk tanpa reaksi berarti.
"Oh, hanya ini?" Kalimat itu keluar begitu saja.
Bukan karena saya mengharapkan ledakan CGI atau invasi masif. Saya justru berharap ada gagasan yang benar-benar mengubah cara memandang cerita sebelumnya. Plot twist yang baik membuat penonton ingin mengingat ulang seluruh film dari awal. Plot twist di Disclosure Day hanya membuat saya mengingat berapa lama saya menunggu untuk sampai ke sana.
Lucunya, setelah pulang, saya membaca ulasan penonton di IMDb. Keluhannya ternyata mirip. Banyak yang menyebut film ini terlalu banyak bicara, bergerak lambat, lalu ditutup dengan pengungkapan yang terasa biasa. Sebagian tetap memuji akting Emily Blunt dan sinematografinya, sebagian lain menganggap ini salah satu karya Spielberg yang paling mengecewakan. Nilai IMDb memang tidak buruk, sekitar 6,7, tetapi membaca komentar-komentarnya memberi kesan bahwa film ini memecah penonton menjadi dua kubu yang sama-sama keras.
Spielberg pernah membuat hiu yang hampir tidak muncul di layar tapi terasa mengerikan, dalam Jaws. Ia membuat sepeda terbang menjadi salah satu gambar paling ikonik dalam sejarah perfilman. Ia membuat anak kecil berbicara kepada alien, dan dunia ikut menangis. Semua itu lahir jauh sebelum teknologi digital berkembang seperti sekarang.
Disclosure Day memiliki teknologi yang lebih hebat, kamera yang lebih canggih, efek visual yang jauh lebih mahal. Saya tetap lebih sering mengingat wajah Roy Neary yang menatap Devil's Tower dalam Close Encounters daripada hampir seluruh adegan di Disclosure Day.
Sesekali saya berpikir jangan-jangan masalahnya bukan pada filmnya. Mungkin Spielberg memang sengaja membuat cerita yang lebih tenang, lebih banyak dialog, lebih sedikit sensasi. Pikiran itu bertahan sekitar lima menit. Sesudahnya saya kembali mengingat satu jam pertama yang nyaris tidak bergerak ke mana-mana.
Film ini menghasilkan ratusan juta dolar di box office dunia, meski pendapat kritikus dan penonton tetap terbelah. Secara komersial ia tidak gagal. Secara artistik, saya tidak menemukan alasan untuk mengingatnya beberapa tahun lagi.
Kredit penutup selesai. Orang-orang mulai berdiri. Bungkus popcorn berdesis ketika diremas. Pintu studio terbuka perlahan. Udara dari luar terasa lebih segar daripada dua jam sebelumnya.
Catatan terkait: Jolt, Kate Beckinsale, dan Wanita yang Punya Masalah dengan Amarah


