Thomas Jefferson, Mengecam Perbudakan tapi Punya Banyak Budak
https://www.belajarsampaimati.com/2026/08/thomas-jefferson-mengecam-perbudakan.html
![]() |
| Ilustrasi/zonautara.com |
Kalimat “all men are created equal” terdengar indah kalau dibaca pelan-pelan. Kata-katanya ringan, ritmenya bersih, hampir seperti doa sipil modern. Di sekolah-sekolah Amerika, kalimat itu diperlakukan seperti ayat pembuka kitab nasional. Anak-anak menghafalnya sebelum benar-benar paham arti “equal”. Politisi mengutipnya saat kampanye. Film-film dokumenter memutarnya dengan musik orkestra lembut dan gambar bendera berkibar.
Kalimat itu ditulis oleh Thomas Jefferson, lelaki tinggi kurus dari Virginia yang menyukai biola, anggur Prancis, arsitektur klasik, dan buku dalam jumlah absurd. Perpustakaan pribadinya sangat besar, sampai akhirnya menjadi fondasi Library of Congress setelah sebagian koleksi nasional terbakar pada perang 1812. Jefferson menyukai gagasan. Ia tipe manusia yang tampaknya bisa duduk semalaman membicarakan filsafat Pencerahan sambil menyeruput wine Madeira.
Lalu pagi datang, dan budak-budak di Monticello mulai bekerja.
Kontradiksi Jefferson bukan kontradiksi kecil yang bisa ditutup dengan catatan kaki akademik. Ia menulis tentang kebebasan manusia sambil memiliki ratusan budak sepanjang hidupnya. Bukan satu-dua. Ratusan. Lelaki, perempuan, anak-anak. Tubuh-tubuh yang secara hukum menjadi properti.
Monticello, perkebunan sekaligus rumah bersejarah milik Jefferson, sering dipotret seperti rumah impian bangsawan intelektual. Bukit hijau di Charlottesville, Virginia. Pilar-pilar neoklasik. Kebun luas. Cahaya sore jatuh cantik di dinding bata merah. Turis datang membeli tiket dan berjalan melewati ruang kerja Jefferson yang penuh alat tulis dan peta. Aroma kayu tua dan debu tipis masih terasa di beberapa sudut rumah.
Lalu ada area perbudakan di bawah bukit. Dapur panas. Bengkel paku. Kamar sempit. Orang-orang bekerja dari pagi sampai malam untuk menopang kehidupan elegan sang filsuf demokrasi.
Jefferson tahu perbudakan salah. Itu justru membuat semuanya lebih aneh. Ia menulis kritik terhadap perdagangan budak. Ia menyebut perbudakan sebagai kerusakan moral bagi masyarakat Amerika. Dalam draft awal Deklarasi Kemerdekaan, ia bahkan sempat menyalahkan Raja Inggris atas perdagangan budak Atlantik, meski bagian itu akhirnya dihapus. Tetap saja, ia tidak membebaskan sebagian besar budaknya.
Uang menjadi salah satu alasan. Jefferson hidup dengan utang kronis. Gaya hidup aristokrat Virginia mahal sekali. Anggur impor, renovasi rumah, buku dari Eropa, eksperimen pertanian yang gagal. Budak-budak di Monticello praktis menjadi aset ekonomi utama. Membebaskan mereka berarti menghancurkan fondasi keuangannya sendiri. Moralitas sering terdengar lebih jernih sebelum menyentuh rekening bank.
Hubungannya dengan Sally Hemings membuat semuanya makin rumit dan makin gelap. Hemings adalah perempuan budak yang jauh lebih muda darinya. Ia juga memiliki hubungan keluarga rumit dengan Jefferson; Sally adalah saudara tiri istri Jefferson yang sudah meninggal, Martha Wayles Jefferson, karena ayah Martha pernah memiliki anak dengan perempuan budak bernama Betty Hemings.
Amerika awal memang penuh kisah seperti itu; keluarga dibangun di atas relasi kuasa yang busuk dan intim sekaligus.
Sally Hemings pergi ke Paris bersama putri Jefferson pada akhir 1780-an, ketika Jefferson menjadi diplomat Amerika di Prancis. Paris saat itu sedang mendidih menuju Revolusi Prancis. Jalan-jalan sempit, bau roti, kotoran kuda, percakapan tentang Rousseau dan republik. Di Prancis, secara teknis Sally bisa mengklaim kebebasannya, karena hukum perbudakan berbeda di sana. Tapi ia tidak melakukannya.
Menurut kesaksian putranya kemudian, Madison Hemings, Sally setuju kembali ke Virginia setelah Jefferson menjanjikan anak-anak mereka kelak akan dibebaskan. Kesaksian itu lama diperdebatkan, bahkan ditertawakan sebagian sejarawan kulit putih Amerika selama puluhan tahun. Nama Jefferson terlalu besar untuk disentuh.
Lalu tes DNA tahun 1998 datang seperti palu godam. Analisis genetik menunjukkan hubungan kuat antara garis keturunan Jefferson dan keturunan Sally Hemings. Mayoritas sejarawan sekarang menerima bahwa Jefferson memang memiliki beberapa anak dengan Hemings. Museum Monticello sendiri akhirnya mengakui hubungan itu secara resmi.
Reaksi publik Amerika menarik dilihat. Sebagian orang konservatif lama tampak seperti kehilangan anggota keluarga. Jefferson bukan sekadar tokoh sejarah buat mereka; ia simbol nasional yang hampir suci. Ada semacam rasa tersinggung pribadi ketika fakta-fakta itu makin sulit disangkal.
Masalahnya bukan cuma seks. Persetujuan dalam relasi seperti itu nyaris mustahil dibicarakan secara normal. Jefferson adalah pemilik budak. Sally Hemings adalah properti legalnya. Bahkan kalau hubungan mereka memiliki unsur afeksi, struktur kekuasaan di bawahnya tetap brutal. Sulit membayangkan kebebasan memilih dalam situasi seperti itu.
Tubuh perempuan budak di Amerika Selatan memang sering berada dalam wilayah abu-abu mengerikan; dekat secara fisik dengan keluarga majikan, tetapi tanpa perlindungan hukum nyata. Anak-anak hasil hubungan semacam itu lahir ke dunia sebagai budak juga.
Amerika dibangun dengan kontradiksi yang hampir vulgar. Orang-orang bicara tentang republik dan kebebasan sambil mencambuk manusia di perkebunan tembakau. Jefferson bukan pengecualian; ia bagian inti dari struktur itu. Bedanya, ia terlalu pintar untuk bisa berpura-pura tidak mengerti.
Ia membaca Locke. Montesquieu. Voltaire. Ia memahami ide hak asasi manusia lebih baik daripada banyak orang sezamannya. Lalu ia tetap mempertahankan sistem yang menyangkal hak dasar manusia lain.
Kepalanya seperti memuat dua sistem moral yang saling bertabrakan tanpa pernah benar-benar diselesaikan.
Jefferson juga punya pandangan rasial yang jelas problematis. Dalam Notes on the State of Virginia, ia menulis spekulasi tentang inferioritas intelektual orang kulit hitam. Tulisan itu mirip campuran aneh antara filsafat, observasi pseudo-ilmiah, dan prasangka sosial khas elite kulit putih abad ke-18. Ia tampaknya benar-benar percaya bahwa koeksistensi setara antara kulit putih dan kulit hitam setelah penghapusan perbudakan akan sulit terjadi. Orang yang menulis “all men are created equal” ternyata punya definisi “men” yang sangat terbatas.
Washington DC penuh monumen Jefferson. Memorial marmer putihnya berdiri megah dekat Tidal Basin. Wisatawan naik tangga sambil memotret kutipan-kutipannya yang dipahat di dinding. Pada musim semi, bunga sakura bermekaran di sekitar area itu. Anak-anak kecil berlarian sambil makan pretzel. Di toko suvenir, wajah Jefferson dicetak di mug dan kaus patriotik.
Lalu beberapa kilometer dari sana, Museum Nasional Sejarah dan Budaya Afrika-Amerika menyimpan sejarah perbudakan yang ikut membiayai republik Amerika awal.
Bau kayu tua di bangunan-bangunan sejarah Amerika kadang terasa sedikit aneh setelah tahu siapa yang memotong kayunya.
Jefferson sendiri meninggal dalam utang besar tahun 1826. Ironisnya, ia wafat tepat lima puluh tahun setelah Deklarasi Kemerdekaan ditandatangani. Pada hari yang sama, John Adams juga meninggal. Dua bapak pendiri Amerika mati hampir bersamaan, seperti penutup drama nasional yang terlalu simbolis.
Setelah Jefferson mati, banyak budaknya dijual untuk membayar utang.
Dijual. Satu kata pendek yang dingin sekali.
Keluarga dipisahkan. Anak-anak dipindahkan. Hidup manusia berubah jadi angka dalam inventaris harta peninggalan. Beberapa nama budak di Monticello masih tercatat; John Hemings, Priscilla, Wormley Hughes, Edith Fossett. Nama-nama yang dulu cuma muncul kecil di arsip sekarang mulai dibawa ke permukaan oleh sejarawan modern.
Amerika lama terlalu sibuk memuja Jefferson, sampai lupa bertanya siapa yang mencuci pakaiannya.
Di Monticello hari ini, pemandu wisata kadang berhenti sejenak di koridor sempit dekat ruang bawah tanah tempat budak bekerja. Udara di sana lebih pengap daripada ruang tamu utama. Langit-langit rendah. Bata dinding terasa dingin saat disentuh. Dari atas rumah terdengar langkah pengunjung lain dan suara anak kecil tertawa.
Jefferson masih dipajang sebagai nabi demokrasi Amerika di banyak tempat. Wajahnya ada di uang koin nickel. Kutipannya masih dipakai politisi lintas partai. Turis tetap antre masuk memorialnya sambil membawa botol air mineral dan kamera ponsel.
Sally Hemings dulu berjalan di rumah yang sama tanpa hak atas tubuhnya sendiri.
Catatan terkait: Kematian Alexander Hamilton, Tragedi Politik Paling Terkenal Amerika


