Juneteenth: Budak-budak yang Terlambat Mendengar Kabar Baik

Ilustrasi/time.com
Matahari Texas terasa seperti logam panas yang ditempelkan ke tengkuk. Debu beterbangan di jalan-jalan Galveston, menempel di sepatu bot tentara, di roda kereta, di kain baju yang sudah lama tidak benar-benar bersih. 

Kapal-kapal Union masuk pelan ke pelabuhan pada 19 Juni 1865, membawa ribuan serdadu federal dan satu hal yang aneh; kabar bahwa perang sebenarnya sudah selesai. Bahwa perbudakan sudah dihapuskan. Bahwa orang-orang kulit hitam yang masih bekerja di ladang kapas, yang masih dipukul, masih dijual diam-diam, masih tidur di pondok kayu lembap tanpa jendela, secara hukum sudah bebas sejak dua setengah tahun sebelumnya.

Bayangkan menerima kabar sebesar itu terlambat lebih dari 900 hari.

Mayor Jenderal Gordon Granger berdiri di Galveston dan membacakan General Order No. 3. Kalimatnya terdengar resmi, dingin, hampir seperti memo kantor, “Semua budak dinyatakan bebas.”

Lalu ada bagian lain yang jarang dikutip di poster-poster Juneteenth sekarang. Bekas budak diminta “tetap tinggal di rumah majikan mereka saat ini” dan “bekerja untuk upah”. Amerika memang sering memberi kebebasan sambil tetap menggenggam kerah orang yang dibebaskan.

Texas waktu itu seperti ruang persembunyian raksasa bagi sistem perbudakan. Saat Perang Saudara Amerika makin brutal di wilayah timur dan selatan, banyak pemilik budak membawa orang-orang yang mereka perbudak ke Texas, karena wilayah itu relatif jauh dari garis perang. Ada perkebunan yang tiba-tiba dipenuhi budak baru dari Mississippi dan Louisiana. Tubuh-tubuh hitam dipindahkan seperti barang logistik. Seorang pemilik budak bernama James Calhoun membawa ratusan budak ke Texas agar “aset”-nya aman.

Aset. Kata itu muncul terus dalam arsip-arsip lama. Nilai budak dicatat berdampingan dengan ternak dan alat pertanian. Seorang perempuan bisa dihargai berdasarkan usia reproduktifnya. Anak-anak dihitung sebagai investasi jangka panjang.

Orang sering membayangkan perbudakan Amerika dalam bentuk cambuk dan rantai. Memang itu ada. Ada bekas luka. Ada leher yang dirantai. Ada anjing pemburu. Tapi inti sebenarnya mungkin lebih dingin dari kekerasan fisik; pembukuan. Daftar harga. Akta kepemilikan manusia. 

Di Galveston, kabar pembebasan menyebar tidak rapi. Tidak seperti adegan film ketika semua orang langsung bersorak serempak. Ada yang tertawa. Ada yang diam. Ada yang tidak percaya. Banyak yang bahkan tidak tahu apa arti “bebas” dalam praktik. Bebas ke mana? Dengan uang apa? Tinggal di mana? Sebagian tetap bekerja di tempat lama karena tidak punya pilihan lain selain kelaparan.

Catatan mantan budak bernama Felix Haywood puluhan tahun kemudian terasa lebih hidup daripada pidato politik mana pun. Ia berkata, banyak orang kulit hitam tidak langsung melompat-lompat kegirangan saat mendengar kabar pembebasan. Mereka lebih seperti linglung. Seperti seseorang yang lama dikurung lalu mendadak pintu dibuka, tapi dunia di luar terlalu besar dan terlalu asing.

Haywood mengingat beberapa orang langsung pergi malam itu juga. Mereka berjalan tanpa arah tertentu. Sekadar pergi. Ada sesuatu yang menusuk dalam detail kecil itu. Bukan menuju kota tertentu. Bukan mencari rumah tertentu. Hanya pergi. Menjauh dari tempat yang selama ini mengisap hidup mereka.

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Orang-orang kulit putih Texas banyak yang murka. Beberapa menyembunyikan informasi pembebasan selama berbulan-bulan agar panen kapas selesai terlebih dulu. Ada pemilik perkebunan yang sengaja menahan kabar sampai setelah musim panen. Bayangkan kamu bekerja di ladang dengan tangan melepuh, mata pedih oleh matahari, tubuh bau keringat dan tanah, tanpa upah, sementara secara hukum kamu sebenarnya sudah bukan budak lagi.

Amerika sering membanggakan Abraham Lincoln sebagai pembebas budak. Patungnya berdiri di mana-mana. Wajahnya dicetak di lembar uang. Padahal Proklamasi Emansipasi tahun 1863 tidak otomatis membebaskan semua budak. Itu lebih dekat ke strategi perang ketimbang ledakan moral mendadak. Lincoln sendiri bergerak lambat soal penghapusan perbudakan. Ia politisi, dan politisi menghitung risiko.

Tapi tetap saja, kematian Lincoln pada April 1865 membuat situasi makin aneh. Banyak budak di Texas mendengar kabar bahwa mereka bebas hampir bersamaan dengan kabar bahwa presiden yang membebaskan mereka ditembak mati di teater. Amerika tampaknya punya kebiasaan merayakan kemajuan sambil membiarkan darah mengering di lantai.

Lalu Juneteenth lahir. Bukan langsung sebagai hari libur nasional dengan kaus merah-hijau-hitam dan festival perusahaan. Awalnya sederhana sekali. Bekas budak berkumpul untuk makan bersama, berdoa, membaca emansipasi, memainkan musik. Di Houston, komunitas kulit hitam bahkan membeli tanah sendiri pada 1872 karena taman-taman publik melarang mereka masuk. Mereka mengumpulkan uang receh demi receh untuk membeli lahan yang kemudian dikenal sebagai Emancipation Park.

Bayangkan ironi itu. Orang yang baru dibebaskan dari status properti harus membeli tanah agar bisa merayakan kebebasannya.

Foto-foto Juneteenth awal abad ke-20 punya ekspresi wajah yang sulit dijelaskan. Orang-orang berpakaian rapi. Anak-anak berdiri tegak. Ada kebanggaan, jelas. Tapi juga sesuatu yang kaku. Seperti mereka sadar negara itu bisa sewaktu-waktu menarik kembali apa yang katanya sudah diberikan.

Dan memang sebagian ditarik kembali.

Rekonstruksi gagal. Hukum Jim Crow muncul. Lynchings menjadi tontonan publik. Di beberapa kota selatan, orang kulit hitam dibakar hidup-hidup sambil ditonton massa yang membawa anak kecil dan bekal makan siang. Foto-fotonya masih ada. Yang mengerikan bukan hanya mayat yang hangus. Wajah penontonnya juga. Santai. Ada yang tersenyum.

Juneteenth lama hidup di pinggir sejarah resmi Amerika. Sekolah-sekolah lebih sibuk menghafal nama jenderal dibanding membahas bagaimana jutaan orang hidup sebagai komoditas manusia. Bahkan setelah dijadikan hari libur federal pada 2021, banyak perusahaan buru-buru mengubah Juneteenth menjadi dekorasi korporat. Logo diganti warna hitam-merah-hijau selama sehari, lalu kembali normal besok paginya. Budaya Amerika punya kemampuan luar biasa dalam mengubah tragedi menjadi merchandise.

Di Galveston sekarang ada mural, parade, konser, pembacaan puisi. Turis datang membawa ponsel dan kopi dingin. Kota pelabuhan itu tampak biasa saja di beberapa sudut; burung camar, aroma garam laut, bangunan tua yang catnya mengelupas. Sulit membayangkan tempat itu pernah menjadi titik tempat ribuan orang baru mengetahui hidup mereka sebenarnya dicuri selama bertahun-tahun lebih lama dari yang seharusnya.

General Order No. 3 masih tersimpan. Kalimat-kalimat formalnya tetap dingin. Arsip memang tidak punya suhu tubuh.

Kadang yang paling mengganggu dari Juneteenth bukan fakta bahwa perbudakan berlangsung begitu lama, tapi keterlambatan kabarnya. Informasi tentang kebebasan ternyata bisa ditahan. Bisa disabotase. Bisa sengaja diperlambat oleh mereka yang untung dari ketidaktahuan orang lain.

Dan rasanya itu tidak benar-benar hilang dari dunia sekarang.

Related

Sejarah 5304008178777174212

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item