Perbudakan Sudah Usai, Tapi Manusia Masih Dijual sebagai Budak
https://www.belajarsampaimati.com/2026/06/perbudakan-sudah-usai-tapi-manusia.html
![]() |
| Ilustrasi/mediajustitia.com |
Pasar budak modern tidak selalu terlihat seperti pasar budak. Kadang bentuknya grup Telegram. Kadang lowongan kerja luar negeri dengan gaji terlalu bagus untuk dipercaya. Kadang akun TikTok yang memamerkan “kehidupan baru” di Dubai atau Riyadh sambil menyembunyikan paspor yang sudah disita majikan. Kadang cuma ruangan apartemen sempit dengan lampu putih dingin dan kasur tipis berbau lembap.
Orang masih dijual. Kalimat itu terdengar seperti potongan abad ke-18, sampai kita membaca laporan polisi beberapa tahun terakhir.
Ada video di media sosial yang kemungkinan bercampur antara fakta, sensasionalisme, dan potongan konteks yang sengaja dipotong agar terasa lebih brutal. Video itu memperlihatkan para wanita yang tertutup kain dari kepala sampai kaki, dan diperjualbelikan di tempat terbuka. Internet sekarang memang punya kebiasaan aneh; penderitaan manusia dijadikan konten vertikal 45 detik, lengkap dengan backsound dramatis. Tapi inti besarnya benar. Perdagangan manusia modern memang masih ada, dalam skala yang mengerikan.
International Labour Organization, bersama Walk Free Foundation, memperkirakan puluhan juta orang hidup dalam kondisi yang bisa dikategorikan sebagai “modern slavery”. Istilahnya luas; kerja paksa, eksploitasi seksual, pernikahan paksa, perdagangan manusia, pekerja migran yang tidak bisa pulang karena dokumen ditahan, sampai anak-anak yang dipaksa bekerja di tambang atau kapal ikan.
Masalahnya, banyak orang membayangkan budak modern selalu dirantai secara fisik. Realitasnya lebih licin. Utang bisa menjadi rantai. Paspor yang disita menjadi rantai. Ancaman deportasi menjadi rantai. Ketidaktahuan bahasa menjadi rantai.
Di beberapa negara Teluk, sistem kafala selama bertahun-tahun dikritik keras karena memberi majikan atas kontrol sangat besar terhadap pekerja migran. Nama “kafala” mungkin terdengar administratif dan rapi. Di lapangan, banyak pekerja rumah tangga dari Filipina, Ethiopia, Kenya, Nepal, Bangladesh, atau Indonesia, hidup dalam situasi yang nyaris mustahil ditolak. Jam kerja ekstrem. Gaji tidak dibayar. Ponsel disita. Tidak boleh keluar rumah. Banyak kasus tidak muncul di berita, karena korban takut.
Saya pernah membaca kesaksian pekerja rumah tangga asal Ethiopia di Beirut. Ia tidur di lantai dapur dekat mesin cuci. Paspornya dipegang majikan. Ketika mencoba kabur, polisi justru mengembalikannya ke rumah majikan karena status visanya bergantung pada sponsor kerja. Bayangkan hidup seperti properti administratif.
Kata “budak” membuat orang defensif, karena mereka membayangkan cambuk dan pelelangan manusia di alun-alun. Dunia modern lebih pintar menyamarkan kekerasan. Orang tidak perlu dirantai kalau sistem hukum, ekonomi, dan imigrasi sudah membuat mereka tidak punya jalan keluar.
Lalu ada perdagangan seksual. Di Myanmar, terutama di wilayah konflik dekat perbatasan Tiongkok, pernah muncul laporan perempuan muda diperdagangkan sebagai “pengantin” karena ketimpangan gender, akibat kebijakan satu anak di Tiongkok selama puluhan tahun. Sebagian dijual lewat jaringan kriminal. Sebagian dijebak dengan janji pekerjaan. Mereka tiba di desa asing, lalu dipaksa menikah dan hamil.
Kalimat “dipaksa menikah” kadang terdengar terlalu administratif dibanding realitasnya. Banyak korban praktis diperkosa terus-menerus dalam rumah tertutup.
Internet juga mengubah bentuk perdagangan manusia. Operasi scam online di Kamboja dan Laos beberapa tahun terakhir memperlihatkan sesuatu yang absurd; orang direkrut lewat lowongan kerja palsu, lalu dikurung untuk menjalankan penipuan digital. Kompleks-kompleks gedung dijaga orang bersenjata. Pekerja dipukul kalau target penipuan tidak tercapai.
Perbudakan modern bertemu kapitalisme digital. Kita hidup di zaman ketika seseorang bisa diperjualbelikan sambil memegang smartphone terbaru.
Media sosial membuat semua itu terasa kabur karena video sering kehilangan konteks. Ada video yang benar-benar memperlihatkan praktik eksploitasi. Ada juga video lama yang diunggah ulang dengan narasi baru. Ada video pasar pengantin tradisional yang langsung disebut “pasar budak perempuan” tanpa memahami konteks budaya setempat. Internet menyukai kemarahan cepat, bukan verifikasi.
Tapi saya juga tidak nyaman dengan reaksi kebalikannya; orang yang terlalu cepat bilang, “ah itu hoaks,” hanya karena realitasnya terlalu gelap untuk diterima.
Lihat saja pasar budak migran di Libya yang sempat menghebohkan dunia pada 2017, setelah liputan CNN memperlihatkan migran Afrika dilelang untuk kerja paksa. Kata “dilelang” di situ bukan metafora puitis. Manusia benar-benar ditawar. Negara yang runtuh akibat perang sipil menciptakan ruang liar tempat kelompok bersenjata, penyelundup, dan mafia migrasi bertemu.
Orang-orang yang mencoba mencapai Eropa justru terjebak di neraka antara.
Video-video dari Libya sulit ditonton terlalu lama. Wajah kurus. Mata kosong. Ruangan semen tanpa ventilasi bagus. Ada jenis kelelahan tertentu yang tampak berbeda ketika seseorang sudah terlalu lama kehilangan kendali atas hidupnya sendiri.
Lalu muncul pertanyaan lain yang lebih tidak nyaman; apakah eksploitasi selalu harus ilegal dulu baru dianggap salah?
Pabrik garmen yang membayar buruh perempuan sangat murah selama 14 jam sehari mungkin legal. Buruh migran yang bekerja membangun stadion mewah dalam panas ekstrem mungkin memiliki kontrak resmi. Anak-anak yang menambang kobalt untuk baterai gadget mungkin tidak pernah muncul di iklan teknologi futuristik.
Garis antara “tenaga kerja murah” dan “eksploitasi manusia” sering sengaja dibuat kabur, karena terlalu banyak uang bergantung di sana.
Orang suka membayangkan perbudakan sebagai noda masa lalu, karena itu membuat dunia modern terasa lebih bersih. Padahal banyak ekonomi modern masih berdiri di atas tubuh murah dari tempat-tempat jauh yang tidak pernah benar-benar dilihat konsumen.
Kaos murah. Seafood murah. Smartphone murah. Pengiriman instan. Ada yang membayar harga sebenarnya di tempat lain.
Ada alasan kenapa banyak perdagangan manusia menargetkan perempuan miskin. Dunia sejak lama punya kebiasaan memperlakukan tubuh perempuan sebagai aset ekonomi. Kadang lewat prostitusi paksa. Kadang lewat pernikahan transaksional. Kadang lewat industri hiburan. Kadang lewat aplikasi live streaming yang memonetisasi kesepian lelaki dan kerentanan ekonomi perempuan sekaligus.
Bahasanya berubah-ubah. Mekanismenya mirip. Tubuh perempuan terlalu sering dianggap sesuatu yang bisa dinegosiasikan.
Dalam sebuah laporan penyelamatan korban trafficking di Asia Tenggara, polisi menemukan beberapa perempuan muda dikunci di kamar apartemen dengan jendela tertutup rapat. Salah satu korban bahkan masih menyimpan tas kecil berisi skincare dan boneka gantungan kunci karakter kartun. Detail seperti itu sering lebih menghantam dibanding statistik. Karena tiba-tiba korbannya terasa nyata. Seseorang yang mungkin beberapa minggu sebelumnya masih mengobrol biasa di warung kopi atau mengunggah selfie.
Internet membuat jarak psikologis yang aneh. Orang bisa menonton video korban trafficking sambil rebahan, lalu swipe ke video kucing lucu tiga detik kemudian. Mata manusia ternyata cepat sekali menyesuaikan diri terhadap horor.
Negara-negara sekarang secara hukum memang hampir semuanya melarang perbudakan formal. Tidak ada pemerintah modern yang secara resmi mengakui “pasar budak” sebagai institusi legal nasional seperti abad lampau. Tapi praktik de facto masih hidup dalam bentuk yang lebih fleksibel, lebih tersembunyi, lebih birokratis.
Kadang pelakunya mafia kriminal. Kadang perusahaan. Kadang keluarga sendiri. Kadang negara menutup mata terlalu lama karena ekonomi bergantung pada tenaga murah migran.
Lalu media sosial datang membawa video-video pendek dengan caption kapital semua. Orang menontonnya sambil marah sebentar, lalu timeline bergerak lagi.
Di layar ponsel, penderitaan manusia ukurannya cuma beberapa inci.

.png)

