The Rolling Stones Merilis ‘Satisfaction’, Lalu Dunia Tidak Lagi Normal

Ilustrasi/tempo.co
Tiga nada pertama dari “(I Can’t Get No) Satisfaction” terdengar seperti sesuatu yang menabrak pintu garasi dengan sengaja.

Ngggrrrr-ngggrrrr-ngggrrrr.

Riff gitar Keith Richards terdengar tidak elegan. Tidak “cantik”. Ada lagu rock lain yang lebih rumit, lebih teknis, lebih megah. Satisfaction justru terdengar seperti orang yang bangun dengan kepala pening, lalu memutuskan dunia memang menyebalkan. Distorsi fuzz-nya kasar, sedikit kotor, hampir seperti mesin rusak yang dipaksa hidup terus.

Sulit memahami betapa mengganggunya lagu itu pada 1965 tanpa membayangkan konteks zamannya. Amerika dan Inggris sedang mabuk konsumsi pasca-Perang Dunia II. Televisi masuk rumah-rumah. Iklan membanjiri kehidupan sehari-hari. Mobil baru, rokok baru, kosmetik baru, gaya hidup baru. Kapitalisme mulai berbicara lewat layar dengan suara terlalu ceria.

Lalu The Rolling Stones muncul membawa lagu yang isinya praktis, “Aku muak. Aku tidak puas.”

Bukan slogan politik rapi. Bukan manifesto intelektual. Keluhan mentah.

Richards katanya menemukan riff itu saat setengah tidur di sebuah hotel di Florida selama tur Amerika. Ia merekam ide pendek tersebut memakai tape recorder Philips kecil di samping tempat tidur. Setelah riff dimainkan beberapa detik, rekaman berisi dengkuran Richards selama puluhan menit. Detail itu selalu saya suka karena terasa sangat manusia. Salah satu riff paling terkenal dalam sejarah musik lahir di antara kantuk, rokok, dan alat rekam murahan.

Ketika mendengar hasil awalnya, Richards sebenarnya membayangkan riff fuzz gitar itu cuma penanda sementara untuk bagian brass section. Ia menganggap lagu itu belum selesai. Ironis. Banyak karya budaya terbesar lahir justru karena penciptanya gagal “merapikan” sesuatu.

Di RCA Studios, mereka merekam Satisfaction dengan pedal fuzz Gibson Maestro FZ-1. Efek distorsi saat itu masih tergolong baru dan dianggap gimmick aneh. Pedal fuzz membuat gitar terdengar seperti amplifier yang hampir terbakar.

Sekarang suara itu terasa biasa karena sudah ditiru jutaan kali.

Mick Jagger menulis liriknya seperti orang yang sedang diganggu dunia modern tanpa henti. Iklan di radio bilang bagaimana putihnya kemeja seseorang. Televisi menjual fantasi tubuh sempurna. Seks muncul di mana-mana tapi terasa mekanis dan dingin. Konsumsi menjadi agama baru.

Lirik “he can’t be a man ‘cause he doesn’t smoke the same cigarettes as me” terdengar lucu sekaligus bodoh, persis seperti logika iklan maskulinitas era itu.

Orang kadang lupa bahwa 1960-an tidak otomatis progresif dan bebas. Banyak radio awalnya menolak memutar Satisfaction karena dianggap terlalu seksual. Kalimat “trying to make some girl” sudah cukup membuat sebagian penyiar gugup. Amerika waktu itu masih punya lapisan moral publik yang tebal di permukaan, walau semua di bawahnya mulai retak. 

Rolling Stones memang berbeda dari The Beatles sejak awal. Beatles pada periode awal masih membawa aura anak baik dengan setelan rapi dan senyum televisi. Stones tampak seperti anak-anak yang mungkin mencuri dompetmu lalu tertawa. Rambut berantakan, wajah sinis, pakaian kusut. Mereka menjual ancaman kecil.

Manajer mereka, Andrew Loog Oldham, memahami itu dengan sangat sadar. Ia membentuk citra Stones sebagai kebalikan Beatles. Dalam iklan lama bahkan muncul slogan, “Would you let your daughter marry a Rolling Stone?”

Pertanyaan bagus.

Satisfaction lalu meledak. Nomor satu di Amerika. Nomor satu di Inggris. Lagu itu seperti virus yang tidak bisa dihentikan. Radio memutarnya terus-menerus sampai riff pembukanya berubah menjadi bagian permanen budaya populer.

Anak-anak pinggiran kota memainkannya di garasi dengan amplifier murah. Tentara Amerika membawanya ke Vietnam. Orang dewasa membencinya. Semua elemen klasik ledakan rock ada di sana.

Yang membuat lagu itu bertahan puluhan tahun bukan cuma riff atau popularitasnya. Ada rasa frustrasi yang tidak pernah benar-benar mati. Dunia modern terus menjual kepuasan sambil membuat orang merasa kurang.

Mick Jagger saat itu bahkan baru berusia awal dua puluhan. Kadang lucu mendengar anak muda sekaya dan seterkenal dirinya menyanyikan ketidakpuasan hidup. Tapi justru itu inti lagunya; konsumsi tidak pernah benar-benar mengenyangkan siapa pun. Selebritas pun tetap gelisah.

Saya selalu merasa Satisfaction lebih dekat ke suara orang yang kelelahan dibanding suara revolusi besar. Banyak lagu protes era 1960-an terdengar idealistis. Satisfaction terdengar jengkel. Nada dasarnya bukan harapan; lebih seperti iritasi kronis.

Mungkin itu sebabnya lagu itu cocok melewati zaman.

Coba dengarkan lagi lirik tentang iklan dan media hari ini, di era algoritma media sosial. Rasanya malah lebih relevan. Sekarang manusia tidak cuma diiming-imingi produk lewat televisi; mereka sendiri berubah menjadi produk. Wajah, opini, tubuh, sarapan, gym, kesedihan, semua dipamerkan untuk perhatian.

Mick Jagger menyanyikan “I can’t get no satisfaction” ketika iklan televisi masih hitam-putih. Bayangkan apa reaksinya melihat TikTok skincare berdurasi 15 detik.

Stones sendiri kemudian berubah menjadi institusi raksasa yang sangat kaya. Itu bagian yang ironis. Band yang meludahi budaya konsumsi akhirnya menjadi salah satu mesin bisnis terbesar dalam sejarah musik. Tur stadion mereka menghasilkan ratusan juta dolar. Logo lidah merah mereka tercetak di kaus, mug, koper, pinball machine, bahkan botol alkohol.

Kontradiksi seperti itu sering membuat orang sinis terhadap rock. Tapi rock memang selalu penuh kontradiksi. Musisi anti-establishment masuk sampul majalah korporat. Lagu pemberontakan dipakai iklan mobil. Energi liar perlahan dibekukan menjadi nostalgia yang bisa dijual.

Tetap saja, ada sesuatu dalam Satisfaction yang belum sepenuhnya jinak. Ketika riff pembuka dimainkan keras lewat speaker tua, lagu itu masih punya rasa debu dan bensin. Masih terasa sedikit menjengkelkan. Ada kesan seseorang sedang menggaruk dinding dari dalam kepalanya sendiri.

Saya pernah mendengar Satisfaction diputar di bengkel motor kecil dekat terminal bus. Speakernya pecah. Suaranya kasar sekali sampai vokal Jagger terdengar seperti orang berteriak dari dalam kaleng. Anehnya, justru cocok. Lagu itu tidak membutuhkan kejernihan audio sempurna. Rock kadang kehilangan daya gigitnya ketika terlalu bersih.

Keith Richards bertahun-tahun kemudian tampak seperti manusia yang entah bagaimana lolos dari puluhan kehidupan sekaligus. Rokok, alkohol, heroin, wajah yang makin retak seperti kulit kursi tua. Ia pernah berkata bahwa riff Satisfaction terdengar “like a little fly buzzing around.”

Lalat kecil.

Padahal riff itu ikut mengubah sejarah musik populer. Mengubah cara gitar rock terdengar. Mengubah cara kemuakan bisa dijual massal tanpa kehilangan aroma kotornya.

Kadang saya membayangkan tape recorder kecil di kamar hotel Florida itu masih menyimpan dengkuran Keith Richards setelah riff legendaris selesai direkam. Suara napas berat orang setengah mabuk, AC hotel tua, mungkin bunyi langkah samar di koridor.

Lalu dunia mendengar tiga nada kasar itu dan tidak pernah benar-benar kembali normal.

Related

Entertainment 6674433205078303408

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item