Pembebasan Lizzie Borden, Kasus Kriminal Paling Aneh di Amerika
https://www.belajarsampaimati.com/2026/06/pembebasan-lizzie-borden-kasus-kriminal.html
![]() |
| Ilustrasi/utterlyinteresting.com |
Kepala manusia ternyata tidak pecah seperti semangka ketika dihantam benda berat. Laporan autopsi Andrew Borden mencatat sesuatu yang lebih menjijikkan dan lebih sunyi; luka terbuka di wajah, mata terbelah, tengkorak retak tidak rata. Abby Borden mengalami hampir dua puluh hantaman. Tubuhnya ditemukan tergeletak menghadap lantai, di kamar tamu lantai dua rumah mereka di 92 Second Street, Fall River, Massachusetts. Darah mulai mengering di karpet. Udara musim panas lengket. Lalat masuk cepat sekali ke rumah-rumah mati.
Kota Fall River pada 1892 bukan kota kecil sentimental seperti ilustrasi kartu pos New England. Tempat itu keras, bau tekstil, penuh cerobong pabrik kapas. Sungai Quequechan menggerakkan mesin-mesin industri. Gadis-gadis muda bekerja belasan jam di pabrik dengan paru-paru penuh debu kain. Orang kaya membangun rumah besar di kawasan “The Hill”. Andrew Borden sebenarnya mampu tinggal di sana. Ia punya properti, bank, tanah. Tapi ia terkenal pelit sampai tingkat yang membuat orang lain tidak nyaman.
Tidak ada listrik modern di rumahnya. Tidak ada toilet dalam ruangan. Udara musim panas menempel di wallpaper.
Lizzie Borden berusia 32 tahun saat ayah dan ibu tirinya dibunuh. Belum menikah. Tinggal serumah dengan ayah yang sangat mengontrol uang, dan kakak perempuannya, Emma. Hubungan dengan Abby Borden, ibu tirinya, buruk. Mereka jarang makan bersama. Lizzie bahkan disebut lebih suka memanggil Abby dengan nama belakangnya, “Mrs. Borden”.
Keluarga itu terasa seperti panci tertutup yang lama dibiarkan di atas api kecil.
Pagi 4 Agustus 1892 berjalan aneh sejak awal. Bridget Sullivan, pelayan rumah tangga asal Irlandia, sedang membersihkan jendela di tengah panas yang membuat kepala berdenyut. Andrew keluar rumah, lalu kembali sekitar pukul 10.45 pagi. Pintu depan macet. Lizzie tertawa kecil saat membantu membukanya. Detail itu muncul dalam kesaksian; tawa kecil.
Beberapa menit kemudian, Andrew tidur di sofa ruang tamu. Sekitar pukul 11 lewat, seseorang menghantam wajahnya dengan benda tajam berat—kemungkinan kapak kecil atau hatchet. Salah satu matanya hampir terbelah dua. Darah menyiprat ke sofa motif bulu kuda.
Abby kemungkinan dibunuh lebih dulu di lantai atas.
Polisi menemukan sangat sedikit kekacauan di tempat kejadian. Tidak ada tanda perampokan. Tidak ada orang asing terlihat keluar masuk rumah. Dan di tengah semua itu, Lizzie terdengar… terlalu tenang.
Ia memanggil Bridget, “Maggie, cepat turun. Ayah sudah meninggal.”
“Maggie” sebenarnya bukan nama Bridget. Banyak keluarga Yankee Protestan saat itu memanggil pelayan perempuan Irlandia dengan nama generik seperti Maggie. Rasanya hina sekali kalau dipikir-pikir sekarang.
Kasus itu cepat berubah jadi tontonan nasional. Surat kabar menyukai kombinasi sempurna; perempuan kelas menengah, rumah terhormat, pembunuhan brutal dengan kapak. Amerika akhir abad ke-19 sedang mabuk sensasi kriminal. Wartawan berdesakan di Fall River. Orang-orang membeli suvenir. Anak-anak bahkan menyanyikan sajak mengerikan:
“Lizzie Borden took an axe
And gave her mother forty whacks…”
Padahal jumlah pukulannya tidak benar begitu. Tapi fakta sering kalah oleh ritme.
Persidangan Lizzie dimulai pada Juni 1893 di New Bedford. Hakimnya bernama Justin Dewey. Jaksa mencoba membangun gambaran tentang perempuan berwajah tenang yang menyimpan amarah bertahun-tahun. Mereka menghadirkan fakta bahwa Lizzie sempat mencoba membeli asam prussic—racun mematikan—sehari sebelum pembunuhan. Apotek menolak menjualnya.
Lalu ada gaun yang dibakar Lizzie beberapa hari setelah pembunuhan. Ia bilang gaun itu terkena cat. Orang-orang sulit mempercayainya.
Tetap saja, kasus jaksa berantakan di beberapa bagian penting. Polisi Fall River bekerja ceroboh. Tempat kejadian terkontaminasi. Bukti fisik minim. Tidak ada sidik jari modern. Tidak ada DNA. Kapak yang ditemukan di basement tidak punya darah jelas. Kepala kapaknya bahkan sudah dibersihkan.
Tubuh manusia ternyata jauh lebih sulit “dibaca” tanpa teknologi forensik modern. Bau darah mungkin masih menempel di rumah itu, tapi hukum membutuhkan lebih dari bau.
Pers juga punya hubungan aneh dengan Lizzie. Sebagian surat kabar menggambarkannya sebagai perempuan dingin dan menyeramkan. Sebagian lain justru membelanya karena ia tampak terlalu “feminin” untuk melakukan pembunuhan sadis. Amerika waktu itu masih sulit menerima gagasan bahwa perempuan kelas menengah bisa membelah kepala seseorang dengan kapak.
Ironisnya, stereotip gender mungkin menyelamatkan Lizzie.
Jaksa bertanya, bagaimana mungkin seorang perempuan muda membunuh dua orang tanpa berlumuran darah. Pertanyaan itu terdengar kuat sampai orang mulai memikirkan detail lain; pembunuhan berlangsung sangat cepat. Pukulan kapak tidak otomatis menciptakan ledakan darah seperti film horor modern. Banyak ahli forensik kemudian mengatakan, pelaku mungkin hanya perlu melepas pakaian luar setelah pembunuhan.
Orang-orang suka membayangkan pembunuh sebagai monster yang tampak rusak dari luar. Kenyataannya sering lebih mengecewakan. Mereka bisa duduk diam di ruang tamu sambil menjawab pertanyaan polisi.
Ada detail yang terus mengganggu dalam kasus ini; rumah Borden sangat sempit untuk ukuran tragedi sebesar itu. Tangga dekat. Ruangan saling berdempetan. Sulit membayangkan dua pembunuhan brutal terjadi tanpa suara mencurigakan. Bridget sedang beristirahat di kamar loteng setelah membersihkan jendela. Ia bilang mendengar sangat sedikit.
Beberapa teori alternatif muncul bertahun-tahun kemudian. Paman Lizzie, John Morse. Pelayan Bridget Sullivan. Seorang anak haram Andrew. Bahkan pembunuh misterius dari dunia bawah Fall River. Hampir semuanya terdengar dipaksakan.
Nama Lizzie tetap melekat, karena orang merasa “mengenali” motifnya. Uang. Kebencian keluarga. Rumah yang pengap. Ayah tua yang mengontrol hidup anak-anak perempuannya sampai usia dewasa. Ada sesuatu yang terasa terlalu masuk akal.
Tanggal 20 Juni 1893, juri membebaskan Lizzie setelah deliberasi singkat. Ruang sidang nyaris meledak oleh reaksi publik. Ia keluar sebagai perempuan bebas secara hukum. Tapi Fall River tidak benar-benar menerimanya kembali. Orang-orang menatap rumahnya. Anak-anak mengejek di jalan.
Lizzie lalu membeli rumah besar di kawasan elite The Hill, dan menamainya Maplecroft. Nama yang terdengar seperti novel gotik murahan. Ia memelihara anjing, menghadiri pertunjukan teater, berteman dengan aktris Boston. Emma, kakak perempuannya, akhirnya pergi dari rumah itu setelah pertengkaran misterius pada 1905. Mereka hampir tidak pernah bicara lagi.
Ada wartawan yang pernah menggambarkan Lizzie duduk sendirian di rumah besarnya, tubuh makin gemuk, wajah menua, tetap memakai pakaian mahal sambil hidup dalam semacam pengasingan sosial yang aneh. Kaya, bebas, tapi selalu dikaitkan dengan kepala yang dihancurkan kapak.
Kasus itu bertahan lebih dari seabad, bukan karena misterinya paling rumit. Banyak pembunuhan lain jauh lebih sulit dipecahkan. Orang terus kembali ke Lizzie karena kasus ini merusak imajinasi lama tentang rumah keluarga Amerika. Tentang perempuan sopan. Tentang ruang makan rapi dan taplak putih.
Rumah di Second Street sekarang jadi objek wisata. Turis datang membawa kamera dan rasa ingin tahu yang agak voyeuristik. Mereka tidur di kamar tempat Abby ditemukan. Beberapa pengunjung mengaku mendengar langkah kaki atau suara aneh di tangga. Bisnis hantu memang selalu tumbuh subur di atas tragedi lama.
Foto post-mortem Andrew Borden masih beredar di internet. Hitam-putih, buram, mengerikan. Kalau dilihat terlalu lama, mata terasa kering sendiri. Wajahnya nyaris tidak tampak seperti wajah manusia lagi.
Lizzie meninggal pada 1927 karena pneumonia, beberapa hari sebelum Emma wafat di tempat lain. Tidak ada pengakuan. Tidak ada surat rahasia yang ditemukan di loteng. Tidak ada akhir bersih.
Hanya rumah tua di Fall River dengan tangga sempit dan udara musim panas yang tampaknya tidak pernah benar-benar pergi.

.png)


