Majalah Liberty, Media Tertua Indonesia yang Menolak Mati
https://www.belajarsampaimati.com/2026/09/majalah-liberty-media-tertua-indonesia.html
![]() |
| Ilustrasi milik BSM |
Majalah Liberty punya masalah yang agak lucu ketika hendak ditulis sebagai kisah kematian media cetak: ia ternyata belum mati.
Kalau yang dicari adalah kisah majalah tua yang tumbang karena internet, Liberty memang tampak cocok dijadikan tersangka. Majalah yang lahir dari dunia percetakan Surabaya pada pertengahan abad ke-20 itu melewati Soekarno, pergantian rezim, Orde Baru, Reformasi, televisi swasta, VCD, internet, sampai media sosial. Sampulnya pernah berubah, isinya berkali-kali berganti, dan bentuk terbitannya pun tidak selalu sama.
Pada 2017, versi cetaknya justru bermigrasi ke internet melalui Libertymagz.com. Situs itu menyebut dirinya kelanjutan Majalah Liberty yang beroperasi sejak 12 September 1959.
Jadi, yang terjadi pada Liberty bukan kematian yang rapi. Lebih mirip perubahan bentuk yang agak dipaksakan oleh zaman.
Nama Liberty muncul pertama kali pada 12 September 1959. Sebelumnya, majalah itu bernama Liberal. Pergantian nama tersebut bukan keputusan kosmetik. Pada masa ketika Presiden Soekarno sedang keras-kerasnya menghantam liberalisme, kata “Liberal” dianggap berbahaya, meskipun isi majalah itu tidak secara sederhana bisa disebut sebagai propaganda liberal.
Edisi Liberty nomor 314 pada 12 September 1959 meneruskan penomoran dari majalah sebelumnya. Jadi Liberty yang muncul hari itu bukan bayi baru. Ia berganti nama sambil membawa tubuh lama.
Orang di belakangnya adalah Goh Tjing Hok, seorang keturunan Tionghoa asal Semarang yang kemudian hijrah ke Surabaya. Ia datang dari keluarga yang sudah bersentuhan dengan dunia jurnalistik. Ayahnya pernah memimpin Soeara Semarang, sementara Goh kemudian terlibat dalam penerbitan pers di Surabaya. Penelitian sejarah Universitas Airlangga bahkan menempatkan peran Goh sebagai salah satu alasan penting mengapa Liberty mampu melewati perubahan politik yang berkali-kali mengguncang industri pers.
Liberty sejak awal juga tidak mempunyai bentuk yang terlalu sakral. Itu bagian yang sering hilang ketika sejarah media ditulis sebagai daftar tahun dan nama redaktur. Majalah tersebut terus mengubah dirinya mengikuti pembaca.
Pada masa awal, isinya berkaitan dengan adat dan kebudayaan Tionghoa peranakan di Surabaya dengan semangat nasionalisme Indonesia. Kemudian ia bergerak menjadi majalah umum. Pernah menjadi majalah politik, majalah keluarga, majalah wanita, lalu masuk ke wilayah yang jauh lebih berani: misteri, supranatural, klenik. Penelitian tentang Liberty periode 1987–1993 mencatat perubahan dari majalah wanita menjadi majalah klenik sebagai respons terhadap selera pasar.
Perubahan itu bahkan bisa dilihat dari sampulnya. Pada periode tertentu, Liberty memakai wajah tokoh dunia dan tema politik. Pada periode lain, perempuan menjadi daya tarik utama. Ketika konsepnya berubah menjadi majalah wanita pada 1987, Liberty disebut sebagai majalah wanita pertama dan satu-satunya di Jawa Timur pada saat itu. Ketika kemudian masuk ke dunia mistik, identitas sampulnya kembali berubah. Model perempuan, judul-judul misteri, kriminal, kesehatan, fenomena aneh, dan berbagai cerita supranatural, menjadi bagian dari barang dagangan yang dijual kepada pembaca.
Mungkin itu sebabnya Liberty bertahan begitu lama: ia tidak terlalu setia kepada dirinya sendiri.
Majalah yang terlalu percaya kepada identitas biasanya mudah mati ketika pembacanya berubah. Liberty justru berkali-kali membongkar isi rumahnya sendiri. Kalau pembaca menginginkan politik, ia memberi politik. Kalau keluarga menjadi pasar, ia menjadi majalah keluarga. Ketika rasa ingin tahu terhadap klenik dan dunia gaib punya pembaca yang cukup besar, Liberty masuk ke sana tanpa banyak basa-basi.
Pada awal 2000-an, pilihan itu masih menghasilkan uang. Sebuah laporan Pantau pada 2001 menyebut Liberty sebagai salah satu penerbitan di lingkungan Jawa Pos yang bergerak di wilayah kebatinan dan mistik, dengan oplah sekitar 70.000 eksemplar. Sekitar separuh isinya disebut dipenuhi iklan klenik dan perdukunan. Angka itu penting karena menunjukkan bahwa Liberty ketika itu belum menjadi fosil yang kebetulan masih dicetak. Ia masih punya pasar.
Bahkan pada 1 Juni 2003, Jaya Suprana menyerahkan penghargaan MURI kepada Liberty di Surabaya sebagai majalah tertua yang masih terbit. Klaim mengenai tahun kelahirannya memang tidak selalu konsisten dalam sumber-sumber yang beredar—sebagian menyebut 1953, sementara jejak penomoran dan arsip Liberty menunjukkan penerbitan dengan nama Liberty sejak 1959—tetapi penghargaan itu sendiri menggambarkan posisi Liberty saat itu: sebuah benda tua yang masih hidup di tengah kios majalah yang sudah dipenuhi judul-judul jauh lebih muda.
Ajaibnya, ketika internet mulai menggerus majalah cetak, Liberty tidak langsung menghilang.
Pada 2010, Data Pers Nasional Dewan Pers masih mencatat Liberty sebagai penerbit di Jawa Timur, dengan alamat Jalan Karah Agung 45, Surabaya, badan hukum PT East Java Liberty Coy, serta percetakan PT Temprina Media Grafika.
Seorang reporter yang mencantumkan pengalaman kerjanya menyebut pernah bekerja di Liberty pada 2002–2003. Wartawan senior pun masih mengenang redaksi Liberty sebagai tempat tulisan profil dan reportase mereka dimuat. Ida Tomasoa, misalnya, disebut pernah menjadi redaktur pelaksana yang meneriaki wartawan dari kejauhan, “Endi tulisane, Diikk…”
Detail semacam itu lebih menarik daripada kalimat “Liberty tidak mampu menghadapi perkembangan zaman”.
Sebab media cetak tidak mati hanya karena internet datang. Yang berubah adalah kebiasaan kecil manusia. Dulu orang membeli majalah, membawanya pulang, membolak-balik halaman, berhenti pada judul yang aneh, melihat foto perempuan di sampul, membaca ramalan, lalu menyelipkannya di bawah bantal atau menaruhnya di meja. Kertas punya berat. Tinta punya bau. Majalah yang baru keluar dari kios kadang masih terasa kaku ketika dibuka. Sekarang sebuah ponsel di tangan bisa memuat ribuan artikel, video, foto, komentar, iklan, dan berita terbaru dalam waktu yang sama.
Liberty kemudian melakukan sesuatu yang sebenarnya cukup masuk akal untuk perusahaan media tua: berhenti menjadikan kertas sebagai syarat keberadaannya.
Menurut pengelola Libertymagz.com, edisi cetak bermigrasi ke situs tersebut sejak 2017. Situs itu masih menyebut Liberty sebagai kelanjutan penerbitan lama, dengan kanal yang jauh lebih sesuai dengan kebiasaan media digital: hiburan, politik, hukum, bisnis, olahraga, lifestyle, profil, ragam, dan video.
Perubahan itu terasa sedikit pahit justru karena Liberty pernah begitu fisik. Majalah dengan sejarah puluhan tahun, nomor edisi yang sudah menembus ribuan, sampul yang dulu dijual di kios-kios, akhirnya tinggal sebuah situs yang bisa dibuka dari layar ponsel. Nomor 2058 pada Juni 2000, misalnya, masih bisa ditemukan dalam koleksi digital dan arsip jual-beli majalah lawas.
Nomor 2058. Angka seperti itu membuat umur sebuah media terasa lebih nyata daripada tulisan “sudah terbit puluhan tahun”.
Liberty bukan contoh majalah yang mati karena internet. Ia justru contoh yang lebih aneh: majalah tua yang selamat dengan cara mengorbankan bentuk yang membuatnya tua.
Ketika sebuah majalah berpindah dari kios ke layar, yang hilang bukan cuma kertas. Hilang pula suara halaman ketika dibalik, bau tinta, ukuran sampul yang bisa dipegang dengan dua tangan, dan kebiasaan membeli sesuatu tanpa tahu persis apa yang akan ditemukan di dalamnya. Yang tersisa adalah nama Liberty, alamat situs, artikel, video, iklan, dan sebuah sejarah panjang yang sekarang harus dimuat di layar yang ukurannya bahkan lebih kecil daripada halaman majalah.
Di Surabaya, Jalan Karah Agung 45 pernah menjadi alamat sebuah majalah yang sanggup melewati Soekarno dan Soeharto, pergantian isi, pergantian pasar, dan pergantian kebiasaan membaca. Kini alamatnya masih tercatat dalam berbagai arsip. Kertasnya yang justru pergi lebih dulu.
Mungkin suatu hari orang akan menemukan nomor Liberty tahun 1960 di sebuah kardus tua, memegangnya dengan dua tangan karena kertasnya sudah rapuh, lalu membuka halaman pertama pelan-pelan supaya tidak sobek. Di tempat lain, seseorang membaca Liberty dari ponsel sambil menunggu ojek.
Keduanya masih bernama Liberty.
Catatan terkait: Plasa.Com, Portal Raksasa Indonesia yang Kini Tinggal Nostalgia
.jpg)

