Sri Bintang Pamungkas, Sendirian Menghantam Dinding Orde Baru
https://www.belajarsampaimati.com/2026/07/sri-bintang-pamungkas-sendirian.html
![]() |
| Ilustrasi/suaranusantara.com |
Nama Sri Bintang Pamungkas menghadirkan satu pemandangan yang hampir hilang dari ingatan publik Indonesia: seorang pria berdiri di depan tembok kekuasaan yang tampak mustahil ditembus, lalu memutuskan menghantamnya berkali-kali meskipun hampir semua orang di sekelilingnya mengatakan tindakan itu sia-sia. Sayangnya, sejarah jarang bersikap adil kepada orang-orang seperti itu.
Generasi Reformasi mengenang ribuan mahasiswa memenuhi Gedung DPR/MPR pada Mei 1998. Mereka mengingat pendudukan kampus, spanduk-spanduk raksasa, siaran televisi yang mendadak berubah nada, serta wajah Soeharto yang tampak lelah saat mengumumkan pengunduran dirinya.
Gambaran yang lebih jarang muncul adalah suasana awal 1990-an, ketika Soeharto masih terlihat seperti penguasa yang nyaris abadi. Ketika kritik terhadap presiden bukan sekadar risiko politik, tetapi risiko kehilangan pekerjaan, kebebasan, bahkan masa depan. Pada masa itulah Sri Bintang muncul.
Ia lahir di Jakarta pada 1945. Latar belakangnya berbeda dari banyak tokoh oposisi yang muncul kemudian. Ia bukan aktivis jalanan sejak muda. Ia juga bukan tokoh agama dengan basis massa besar. Pendidikan teknik justru menjadi fondasi awal kehidupannya. Ia belajar di Institut Teknologi Bandung, kemudian melanjutkan pendidikan ke Jerman. Dunia akademik dan teknik lebih dulu membentuk dirinya sebelum politik mengambil alih panggung hidupnya.
Karena itu ada sesuatu yang agak unik pada cara berpikir Sri Bintang. Banyak pidato politik Indonesia bergerak melalui simbol, emosi, atau jargon. Sri Bintang sering terdengar seperti seseorang yang sedang mengaudit sebuah sistem yang rusak. Ia berbicara mengenai konstitusi, prosedur, penyalahgunaan kekuasaan, dan cacat struktural negara, dengan nada seperti dosen teknik yang kesal melihat rancangan jembatan yang keliru.
Orde Baru sebenarnya cukup piawai menghadapi oposisi. Rezim itu belajar dari pengalaman jatuh bangunnya pemerintahan sebelumnya. Kritik diredam secara bertahap. Partai-partai disederhanakan. Organisasi masyarakat diawasi. Pers dibatasi. Tokoh yang terlalu vokal sering dipinggirkan sebelum memperoleh pengaruh luas.
Banyak elite politik akhirnya memilih jalur kompromi. Sri Bintang bergerak ke arah berlawanan.
Ketika menjadi anggota DPR dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP), ia mulai menunjukkan sikap yang membuat penguasa tidak nyaman. Kritik terhadap Soeharto pada masa itu bukan tindakan lazim. Bahkan sebagian besar anggota parlemen lebih berfungsi sebagai pelengkap legitimasi politik dibanding pengawas kekuasaan.
Udara politik Indonesia waktu itu terasa sangat berbeda dibanding sekarang. Hari ini, orang bisa mengkritik presiden melalui media sosial, kanal YouTube, atau forum publik. Pada awal 1990-an, banyak kritik bahkan tidak pernah mencapai halaman surat kabar. Sri Bintang terus melakukannya.
Puncaknya datang ketika ia secara terbuka mempertanyakan pencalonan kembali Soeharto. Pernyataan semacam itu sekarang terdengar biasa. Pada masa itu, tindakan tersebut hampir menyerupai pelanggaran terhadap tata tertib tak tertulis yang menopang seluruh bangunan Orde Baru.
Reaksi negara berlangsung cepat. Ia dikeluarkan dari DPR. Karier politik formalnya terganggu. Pengawasan terhadap dirinya meningkat. Sebagian orang mulai menjaga jarak. Fenomena seperti itu sering muncul dalam rezim yang kuat. Ketika seseorang dianggap berbahaya oleh kekuasaan, lingkaran sosial di sekelilingnya ikut menyusut.
Gambaran yang menarik justru muncul setelah itu. Banyak tokoh oposisi memperoleh kekuatan, karena memiliki organisasi besar di belakang mereka. Sri Bintang sering tampak seperti orang yang berjalan sendirian, nyaris tanpa perlindungan.
Pada masa itu, Megawati Soekarnoputri memiliki basis massa PDI. Amien Rais memiliki Muhammadiyah. Abdurrahman Wahid memiliki Nahdlatul Ulama. Sri Bintang tidak memiliki mesin sosial sebesar itu. Karena alasan tersebut, sebagian pengamat melihatnya sebagai figur yang lebih kesepian dibanding banyak tokoh oposisi lain.
Tahun 1996 menjadi salah satu babak paling dramatis dalam hidupnya. Ketika berada di Jerman, ia mengeluarkan pernyataan yang dianggap menghina presiden. Pemerintah Indonesia merespons dengan tuduhan subversi. Ia kemudian ditahan setelah kembali ke tanah air.
Membaca kembali arsip-arsip berita masa itu menghadirkan suasana yang hampir terasa asing bagi generasi sekarang. Negara begitu sensitif terhadap kritik terhadap kepala negara. Kata-kata memiliki konsekuensi yang sangat nyata. Penjara bukan kemungkinan abstrak.
Tubuh manusia sebenarnya memiliki cara sendiri untuk mengukur tekanan politik. Orang yang hidup dalam situasi seperti itu sering mengalami tidur yang buruk, dada yang sesak, atau kewaspadaan yang tidak pernah benar-benar hilang. Sulit membayangkan seorang tokoh oposisi pada pertengahan 1990-an menjalani kehidupan sehari-hari tanpa merasakan tekanan semacam itu.
Ketika gelombang Reformasi akhirnya datang pada 1998, sejarah bergerak lebih cepat daripada siapa pun. Mahasiswa memenuhi jalan-jalan Jakarta, Yogyakarta, Bandung, Surabaya, Malang, dan Medan. Krisis ekonomi menghancurkan legitimasi rezim. Sebagian tokoh yang sebelumnya berhati-hati mulai berbicara lebih lantang. Sri Bintang mendadak tidak lagi terdengar sendirian.
Ironinya justru muncul setelah Soeharto jatuh.
Logika publik sering menganggap tokoh yang paling keras melawan rezim otomatis akan jadi pemenang setelah rezim runtuh. Kenyataan politik jarang bekerja seperti itu. Reformasi melahirkan arena baru yang sangat kompetitif. Tokoh-tokoh dengan jaringan besar, partai besar, modal politik besar, dan dukungan institusional besar, memperoleh keuntungan yang lebih jelas.
Sri Bintang tetap aktif dalam berbagai gerakan politik, mendirikan partai, mengkritik pemerintah yang silih berganti, dan mempertahankan reputasinya sebagai oposisi. Pengaruhnya tidak pernah lagi mencapai titik yang sama seperti ketika ia menjadi salah satu simbol perlawanan terhadap Orde Baru.
Kisah ini mengandung pelajaran yang agak pahit mengenai cara masyarakat mengingat sejarah.
Orang sering mengingat mereka yang hadir pada garis finis. Mereka yang muncul ketika kemenangan sudah terlihat. Mereka yang berdiri di atas kendaraan setelah gerbang terbuka.
Nama-nama yang datang lebih awal kadang memudar. Padahal jalan menuju gerbang tersebut sering dibuka oleh orang-orang yang sebelumnya menanggung seluruh risiko sendirian.
Tentu saja Sri Bintang bukan sosok tanpa kontroversi. Sebagian pandangannya setelah Reformasi memicu perdebatan. Sebagian langkah politiknya menuai kritik. Sebagian orang menganggapnya terlalu keras kepala. Sebagian lain justru melihat keras kepala itu sebagai sumber kekuatannya. Penilaian terhadap dirinya kemungkinan akan terus berbeda-beda.
Yang sulit dibantah adalah fakta sederhana ini: ketika banyak elite masih menghitung risiko, ketika sebagian besar masyarakat masih percaya Soeharto tidak mungkin digeser, ketika rezim tampak begitu kokoh sehingga kritik terdengar seperti bunyi kerikil yang dilemparkan ke dinding beton raksasa, Sri Bintang Pamungkas sudah memilih posisi berseberangan.
Sejarah Indonesia penuh dengan tokoh yang berhasil merebut kekuasaan. Tapi tokoh yang berani menantang kekuasaan saat kekuasaan masih berada di puncak kejayaannya, jumlahnya jauh lebih sedikit.
Pada rak-rak arsip koran tua, namanya masih muncul dalam berita-berita yang dicetak ketika banyak orang belum berani mengucapkan kalimat yang sama. Di situlah jejaknya yang paling jelas. Bukan saat rezim sedang roboh, tapi ketika rezim masih berdiri tegak dan tampak tak tergoyahkan, dengan foto Soeharto tergantung di hampir setiap kantor pemerintahan di negeri ini.


