Always-On, Stoikisme Era Digital, dan Hak untuk Menghilang
https://www.belajarsampaimati.com/2026/05/always-on-stoikisme-era-digital-dan-hak.html
![]() |
| Ilustrasi/viva.co.id |
Pukul 23.47. Lampu kamar mati, cuma cahaya layar yang menyala di wajah. Mata sebenarnya sudah berat, leher pegal, kepala seperti diisi kapas basah. Satu notifikasi masuk. Lalu satu lagi. Slack. WhatsApp kantor. Email dengan subjek “quick revision”. Seorang teman mengirim reels tentang “cara menjadi versi terbaik diri sendiri”. LinkedIn penuh orang mengumumkan promosi jabatan sambil tersenyum seperti finalis kontes. Tubuh sedang di kasur. Pikiran masih di tempat kerja.
Budaya modern punya obsesi aneh terhadap keterhubungan. Orang yang sulit dihubungi sekarang dianggap mencurigakan. Tidak membalas pesan selama beberapa jam saja kadang membuat orang lain tersinggung. “Kok ngilang?” Kalimat itu terdengar sederhana, tapi diam-diam mengandung tuntutan sosial; kamu harus selalu tersedia.
Hak untuk menghilang perlahan dianggap kemewahan.
Saya pernah duduk di sebuah kedai kopi di kawasan Blok M, Jakarta Selatan. Tempatnya penuh pekerja muda dengan MacBook terbuka, charger berserakan di lantai, AirPods menempel di telinga seperti organ tubuh tambahan. Jam menunjukkan hampir pukul 22.00 malam. Masih banyak yang bekerja. Seorang perempuan berkemeja putih terlihat mengetik sambil sesekali memijat pelipis. Di meja sebelah, seorang pria melakukan video call dengan klien luar negeri sambil tertawa kecil meski matanya tampak kosong. Kota besar sekarang tidak benar-benar tidur. Ia cuma berganti shift kelelahan.
Dulu orang bekerja untuk hidup. Sekarang banyak orang hidup dalam sistem kerja yang tidak pernah selesai. Smartphone membuat kantor bocor ke ruang makan, ke kamar tidur, ke hari Minggu, bahkan ke liburan. Kalender digital, reminder otomatis, grup kerja, notifikasi tanpa akhir. Batas antara waktu produktif dan waktu pribadi hancur pelan-pelan tanpa suara ledakan.
Ironisnya, semua itu sering dibungkus bahasa motivasi.
“Rise and grind.”
“Hustle culture.”
“Tidur empat jam cukup kalau punya mimpi besar.”
Saya kadang merasa budaya produktivitas modern punya kemiripan dengan kultus. Selalu ada nabi-nabi baru di internet yang menjual disiplin ekstrem. Bangun jam 4 pagi. Mandi air dingin. Journaling. Gym. Side hustle. Podcast 2x speed. Meditasi lima menit agar bisa bekerja lebih keras lagi.
Tubuh manusia diperlakukan seperti startup. Kalau capek, optimalkan. Kalau sedih, optimalkan. Kalau burnout, minum suplemen lalu lanjut lagi.
Lucunya, banyak orang bahkan tidak sadar dirinya kelelahan, karena kelelahan sudah jadi suasana umum. Orang datang ke kantor dengan mata merah dan tetap bercanda. Mahasiswa begadang tiga malam dianggap normal. Pekerja freelance menjawab email pukul 01.13 dini hari lalu merasa bangga karena “masih produktif”.
Bahasa kita berubah mengikuti penyakitnya. Orang tidak lagi berkata “saya lelah”. Mereka berkata “lagi hectic”. Seolah kalau dibungkus istilah bahasa Inggris, rasa hancur jadi terdengar profesional.
Stoikisme tiba-tiba populer lagi di era digital. Kutipan Marcus Aurelius berseliweran di Instagram, berdampingan dengan foto mobil sport dan jam tangan mahal. Banyak yang mengutip “kendalikan apa yang bisa kamu kendalikan”, tanpa benar-benar memahami konteks hidup seorang kaisar Romawi yang menulis refleksi pribadi di tengah perang dan wabah.
Stoikisme versi media sosial sering terasa seperti anestesi emosional untuk pekerja modern; jangan mengeluh, tetap tenang, terus produktif.
Padahal inti paling menarik dari filsafat itu justru kemampuan menjaga jarak dari kekacauan eksternal. Kemampuan berkata, “Tidak semua hal perlu respons.” Kalimat sederhana itu hampir radikal hari ini.
Karena internet mendidik kita untuk bereaksi terhadap segalanya. Semua isu terasa mendesak. Semua berita terasa personal. Semua orang diminta punya opini setiap jam. Seseorang bangun tidur lalu langsung disambut notifikasi perang, inflasi, skandal politik, lowongan kerja, tren AI, krisis iklim, video orang sukses umur 23 tahun membeli apartemen. Otak manusia tidak dirancang menerima banjir informasi seperti itu terus-menerus.
Kadang saya merasa, media sosial menciptakan bentuk baru kelelahan mental yang sulit dijelaskan. Bukan depresi besar yang dramatis. Lebih seperti kebisingan psikologis konstan. Kepala tidak pernah benar-benar sunyi.
Seorang teman pernah menghapus media sosial selama dua bulan. Saat kembali nongkrong, ia mengatakan sesuatu yang terdengar sederhana tetapi terus teringat di kepala saya, “Ternyata banyak hal yang kukira penting sebenarnya cuma lewat di timeline.”
Itu sedikit menusuk. Karena memang banyak kecemasan modern lahir bukan dari pengalaman nyata, tetapi dari eksposur tanpa henti terhadap kehidupan orang lain. Orang melihat teman menikah, teman membeli rumah, teman traveling ke Kyoto, teman membuka bisnis kopi, teman lari marathon, teman pamer sertifikat kursus AI. Lalu diam-diam kita merasa tertinggal.
Padahal timeline adalah etalase. Tidak ada yang mengunggah foto dirinya duduk bengong sambil menatap kipas angin karena bingung hidup mau dibawa ke mana.
Budaya always-on juga melahirkan rasa bersalah yang aneh ketika sedang diam. Orang sulit menikmati waktu senggang tanpa merasa harus “mengembangkan diri”. Bahkan istirahat pun dipaksa produktif. Mendengar podcast self-improvement saat jogging. Membaca buku bisnis saat liburan. Belajar skill baru saat akhir pekan.
Saya pernah mencoba duduk satu jam tanpa membuka ponsel. Sulit sekali. Karena selalu ada notifikasi. Tangan refleks mencari layar seperti tubuh mencari rokok.
Mungkin itu sebabnya hak untuk menghilang terasa penting. Menghilang bukan dalam arti dramatis seperti kabur ke gunung atau hidup anti-teknologi total. Lebih sederhana. Tidak selalu tersedia. Tidak selalu merespons. Tidak selalu ikut arus percakapan digital. Hak untuk tidak hadir.
Masalahnya, sistem ekonomi modern tidak terlalu menyukai manusia yang sulit dijangkau. Platform digital menghasilkan uang dari perhatian kita. Semakin lama mata menatap layar, semakin baik bagi mereka. Maka seluruh desain aplikasi dibuat agar sulit ditinggalkan. Infinite scroll. Notifikasi merah. Autoplay. Semua dirancang oleh insinyur yang memahami psikologi manusia lebih baik daripada banyak orang memahami dirinya sendiri. Kita menyebutnya aplikasi gratis, padahal kita membayarnya dengan fokus hidup.
Lihat suasana KRL Jabodetabek pagi hari. Ratusan orang berdiri rapat sambil menunduk ke layar masing-masing. Ada yang membalas email sebelum sampai kantor. Ada yang menonton TikTok dengan mata setengah sadar. Ada yang scrolling berita politik dengan wajah datar. Tubuh bergerak bersama. Pikiran terisolasi sendiri-sendiri.
Saya tidak percaya solusi semua itu sekadar “detoks digital” ala influencer wellness yang tinggal di vila tenang di Ubud sambil menjual kelas mindfulness Rp1,8 juta. Kehidupan modern memang butuh teknologi. Masalahnya bukan keberadaan teknologi, melainkan hubungan manusia dengannya.
Orang perlu belajar bahwa tidak semua pesan harus dibalas cepat. Tidak semua peluang harus diambil. Tidak semua opini perlu direspons. Tidak semua produktivitas layak dibanggakan. Kadang menjaga kewarasan intelektual justru berarti membiarkan beberapa hal lewat begitu saja.
Sulit dilakukan, memang. Sistem sosial sekarang memberi penghargaan pada visibilitas terus-menerus. Orang yang sering muncul dianggap relevan. Orang yang diam mudah dilupakan.
Lalu ada ketakutan paling dasar di balik semua ini; kalau saya berhenti sebentar, apakah dunia akan meninggalkan saya?
Malam makin larut. Notifikasi masih muncul. Seseorang di apartemen kecil mungkin sedang membuka laptop lagi karena merasa belum cukup bekerja hari ini, meski sejak pagi punggungnya sudah sakit dan matanya pedih. Di luar jendela, kota masih menyala seperti mesin yang lupa cara beristirahat.

.png)

