Masalah di Pesantren dan Kesadaran Masyarakat yang Selalu Terlambat
https://www.belajarsampaimati.com/2026/06/masalah-di-pesantren-dan-kesadaran.html?m=0
![]() |
| Ilustrasi/bbc.com |
Bau asap knalpot bercampur debu musim panas ketika para orang tua datang ke pesantren di Pekalongan. Tidak ada adegan dramatis seperti sinetron televisi sore hari. Yang terlihat justru gerakan cepat dan dingin; koper ditarik, kasur lipat digulung, dus ditaruh di tengah motor, sandal berserakan di depan asrama putri.
Wajah anak-anak perempuan itu terlihat aneh. Bukan sekadar takut. Lebih mirip wajah orang yang baru sadar bahwa tempat yang selama ini dianggap aman ternyata punya lorong gelap yang tidak pernah mereka lihat sebelumnya. Suasana itu terekam dalam video yang beredar di media sosial.
Kasus kiai di Pekalongan yang ditetapkan sebagai tersangka pencabulan santriwati membuat sesuatu pecah sekaligus terbuka. Orang tua ramai-ramai mengevakuasi anak perempuan mereka dari pesantren. Kata “evakuasi” sendiri terasa brutal. Biasanya dipakai untuk banjir, gempa, kebakaran hutan. Sekarang dipakai untuk lembaga pendidikan agama.
Pesantren di Indonesia punya posisi yang nyaris sakral. Banyak keluarga miskin menitipkan anak ke sana dengan keyakinan yang hampir total. Di desa-desa Jawa Tengah, terutama daerah seperti Pekalongan, Batang, atau Pemalang, pesantren bukan cuma sekolah. Ia dianggap benteng moral. Tempat anak “dijaga”. Tempat anak perempuan aman dari pergaulan luar, dari pacaran, dari narkoba, dari dunia yang dianggap rusak.
Ironis sekali ketika ancaman justru muncul dari dalam pagar sendiri.
Kata “kiai” di banyak keluarga Jawa punya bobot emosional yang besar. Orang mencium tangan mereka dengan dua tangan. Air bekas cuci tangan kiai kadang diminum sebagai berkah. Ada santri yang tidak berani menatap mata pengasuh pesantren karena terlalu hormat. Struktur relasinya vertikal dan nyaris feodal. Santri diajar taat. Orang tua juga sering memilih diam terhadap banyak hal karena takut dianggap kurang adab terhadap ulama.
Kombinasi kekuasaan absolut, kultur hormat berlebihan, dan lingkungan tertutup, sering menghasilkan ruang yang sempurna untuk predator.
Masalahnya, masyarakat Indonesia suka sekali mencari jalan pintas psikologis. Setiap kali ada kasus begini, muncul dua kubu yang sama-sama malas berpikir. Satu kubu langsung bilang semua pesantren busuk. Kubu lain sibuk mencari kambing hitam; fitnah, konspirasi anti-Islam, serangan terhadap ulama, agenda liberal, bahkan Zionis. Semua terdengar seperti orang panik yang buru-buru menutup kebocoran pipa dengan lakban.
Tubuh korban keburu rusak sementara debat ideologis berjalan seperti seminar.
Beberapa tahun terakhir, daftar kasusnya panjang dan melelahkan. Herry Wirawan di Bandung. Kasus-kasus di Jombang. Kiai di Pati. Beberapa pesantren kecil yang namanya bahkan tidak pernah masuk televisi nasional karena korban terlalu takut bicara. Polanya hampir selalu sama; tokoh berkuasa, korban muda, lingkungan tertutup, tekanan untuk diam, keluarga yang takut malu. Rasa malu di Indonesia kadang lebih ditakuti daripada kejahatan itu sendiri.
Seorang teman pernah bercerita tentang sepupunya yang mondok di sebuah pesantren. Bukan pesantren yang sekarang viral. Pesantren lain. Sepupunya pernah mengeluh soal ustaz yang suka masuk asrama putri malam-malam dengan alasan memeriksa kedisiplinan. Keluarga sepupunya justru memarahi si anak karena dianggap suudzon kepada guru agama. Kalimat yang dipakai waktu itu pendek, “Kamu jangan kebanyakan pikiran aneh.”
Anak itu akhirnya berhenti mondok setahun kemudian. Tidak pernah mau cerita detail.
Banyak orang kota tidak benar-benar mengerti atmosfer pesantren tradisional. Hidup santri di sana sangat padat; bangun sebelum subuh, ngaji kitab kuning, hafalan, antre kamar mandi, makan nasi dengan sayur bening yang kadang terlalu asin, tidur berimpitan di kamar pengap dengan kipas angin berdebu yang bunyinya seperti mesin tua. Dalam kultur seperti itu, privasi nyaris tidak ada. Otoritas pengasuh menjadi mutlak karena mereka mengatur ritme hidup sehari penuh.
Anak-anak perempuan usia 13 atau 14 tahun hidup dalam struktur yang membuat kata “tidak” terasa mustahil diucapkan.
Kepala terasa panas membaca komentar-komentar di media sosial yang masih sibuk menjaga citra institusi ketimbang memikirkan korban. Seolah reputasi pesantren lebih penting daripada tubuh anak perempuan. Seolah nama baik lebih sakral daripada trauma.
Bahkan cara masyarakat membahas kasus kekerasan seksual pun sering menjijikkan. Orang lebih penasaran korban “sudah diapakan” daripada bagaimana mereka bertahan hidup setelahnya. Anak-anak itu nanti pulang ke rumah dengan beban yang tidak selesai ketika kamera media pergi. Mereka akan mendengar bisik-bisik tetangga. Mereka akan ditatap berbeda saat pengajian kampung. Sistem sosial kita sangat ahli membuat korban merasa kotor.
Pekalongan sendiri kota yang aneh kalau dipikir-pikir. Di satu sisi terkenal dengan batik, aroma malam pesisir, warung tauto yang kuahnya hangat dan sedikit manis. Di sisi lain, kota ini menyimpan lapisan konservatisme yang tebal. Orang saling mengenal. Kabar menyebar cepat. Reputasi keluarga dijaga mati-matian. Dalam lingkungan seperti itu, kasus pelecehan seksual sering diperlakukan seperti bangkai yang buru-buru dikubur sebelum baunya menyebar terlalu jauh.
Masalahnya, bangkai tetap mengeluarkan bau.
Negara juga sering muncul terlambat. Sesudah kasus meledak, baru ada konferensi pers, investigasi, janji evaluasi. Padahal struktur kekuasaan semacam pesantren sudah lama diketahui rentan. Banyak pesantren berdiri seperti kerajaan kecil. Pengawasan minim. Hubungan personal antara aparat lokal dan tokoh agama sering terlalu dekat. Belum lagi budaya masyarakat yang gampang menganggap kritik terhadap kiai sebagai dosa sosial.
Sulit memberantas predator ketika masyarakat masih menganggap mereka makhluk suci.
Saya tidak percaya solusi sesederhana “jangan mondok”. Pesantren tetap punya peran besar di Indonesia. Banyak santri tumbuh baik, cerdas, dan jujur dari sana. Banyak kiai juga hidup sederhana dan benar-benar mengajar dengan tulus. Masalahnya justru karena institusi itu terlalu dihormati, terlalu jarang disentuh kritik. Sesuatu yang terlalu sakral biasanya mulai membusuk diam-diam karena tidak ada yang berani membuka tutupnya.
Kultur takut mempertanyakan otoritas membuat banyak orang dewasa mendadak tuli terhadap alarm yang sebenarnya sudah berbunyi lama.
Di berita-berita yang saya baca, keberadaan pesantren yang sekarang viral itu ternyata tidak memiliki izin. Pemerintah setempat meminta agar gedung pesantren itu dikosongkan, dan para santri pindah ke pesantren lain yang terdekat.
Saya tidak tahu apakah sekarang tempat itu sudah dikosongkan atau belum. Yang saya tahu, berdasarkan rekaman video yang beredar, papan nama pesantren tetap berdiri besar dan tenang, catnya belum mengelupas.

.png)

