Masalah Kekerasan Seksual di Pesantren: Saatnya Sadar dan Introspeksi

Ilustrasi/tawazun.id
Bau karpet masjid yang lembap, suara kipas angin tua berdengung pelan, anak-anak bersarung duduk bersila sambil memegang kitab kuning dengan ujung halaman mulai cokelat dimakan usia. Banyak orang Indonesia tumbuh dengan memori seperti itu. Pesantren bukan sekadar institusi pendidikan; ia hampir seperti lanskap emosional nasional. Tempat orang tua menitipkan anak dengan keyakinan yang sering lebih besar daripada keyakinan mereka pada negara.

Dan justru karena itu setiap kasus pelecehan seksual di pesantren terasa lebih mengganggu daripada kriminal biasa. Bukan cuma soal hukum. Ada rasa jijik bercampur pengkhianatan.

Di tengah maraknya kasus kekerasan seksual oleh oknum kiai atau ustaz, Muhaimin Iskandar atau Cak Imin bicara soal “adanya penghancuran sistematik pesantren”. Sementara Menteri Agama menilai kasus pelecehan atau kekerasan seksual di pesantren dibesar-besarkan media. Di media sosial, tempo hari, bahkan ada yang menyatakan zionis menyusup ke pesantren untuk menghancurkan dari dalam.

Ketika membaca pernyataan-pernyataan itu, saya merasa ada sesuatu yang licin dalam cara berpikir yang diajukan. Terlalu cepat menggeser pusat gravitasi masalah. Fokus mendadak berpindah dari korban ke citra lembaga. Dari tubuh anak-anak yang rusak ke narasi konspirasi. Indonesia memang suka sekali mencari musuh eksternal saat malu menghadapi borok sendiri.

Kalimat seperti “ada pihak yang ingin menghancurkan pesantren” terdengar sangat akrab di telinga publik Indonesia. Polanya muncul terus dalam banyak kasus; kritik dianggap serangan, investigasi dianggap agenda tersembunyi, korban dianggap alat musuh ideologis. Tinggal pilih musuh favorit sesuai pasar politik. Barat. Zionis. Liberal. Komunis. Islamofobia.

Padahal pelakunya sering cuma lelaki Indonesia biasa dengan wajah letih, sandal swallow, peci hitam, dan kekuasaan lokal yang terlalu besar untuk disentuh.

Saya kembali membaca beberapa kasus lama yang pernah viral. Herry Wirawan di Bandung. Belasan santriwati diperkosa bertahun-tahun. Bayi lahir. Hidup anak-anak hancur permanen. Ruang sidang penuh kemarahan. Nama pesantren mendadak jadi headline nasional dengan atmosfer seperti ledakan septic tank moral. Orang-orang marah beberapa minggu, lalu ritme negara kembali normal.

Kasus di Jombang juga begitu. Anak kiai besar, punya pengaruh luas, dituduh melakukan kekerasan seksual. Proses hukumnya berlarut. Pendukung membela habis-habisan. Ada massa datang. Ada narasi fitnah. Ada loyalitas keluarga dan jaringan pesantren yang membuat semuanya terasa seperti benturan feodalisme religius dengan hukum modern. Tubuh korban sering kalah oleh nama besar.

Pesantren sendiri sebenarnya institusi yang sangat kompleks. Terlalu malas kalau semua dipukul rata jadi sarang predator. Banyak pesantren benar-benar mendidik anak miskin dengan serius. Banyak kiai hidup sederhana dan dihormati karena integritasnya. Ribuan santri tumbuh dengan disiplin, pengetahuan agama, solidaritas sosial.

Masalahnya justru karena posisi moral pesantren sangat tinggi, pengawasan sering melemah. Kekuasaan yang dibungkus kesucian gampang berubah berbahaya.

Di banyak pesantren tradisional, relasi antara kiai dan santri hampir absolut. Kiai bukan cuma guru. Ia figur ayah, pemimpin spiritual, sumber berkah, kadang sumber akses ekonomi dan sosial keluarga. Santri diajari taat. Orang tua juga sering terlalu percaya. Struktur seperti itu menciptakan ruang yang sangat rentan ketika ada predator di dalamnya.

Predator seksual menyukai hierarki. Mereka menyukai tempat yang membuat korban takut bicara.

Saya terganggu dengan cara sebagian elite politik dan tokoh agama bicara soal “oknum”. Kata itu sering dipakai seperti cairan pemutih moral. Seolah setiap kasus berdiri sendiri tanpa hubungan dengan budaya diam, relasi kuasa, dan kecenderungan melindungi reputasi lembaga.

Padahal pola-pola tertentu muncul terus. Korban takut bicara karena malu. Keluarga ditekan agar tidak memperbesar masalah. Pendukung pelaku bilang fitnah. Nama baik pesantren dianggap lebih penting daripada trauma anak.

Lalu semua orang pura-pura kaget saat kasus baru muncul lagi beberapa tahun kemudian.

Di Indonesia, agama punya posisi sangat sensitif, sehingga kritik terhadap institusi religius cepat dianggap penghinaan terhadap iman itu sendiri. Itu masalah besar. Kritik terhadap gereja bukan berarti anti-Kristen. Kritik terhadap pesantren bukan otomatis anti-Islam. Tapi publik kita sering gagal membedakan institusi manusia dengan ajaran yang mereka klaim wakili. Akibatnya, korban masuk arena yang kejam.

Bayangkan jadi santriwati remaja di kota kecil, lalu harus menuduh seorang kiai terkenal yang dihormati ribuan orang. Tubuh gemetar. Suara kecil. Orang-orang dewasa di sekitar mulai berbisik. Ada yang bilang “kamu pembawa malu.” Ada yang bilang “kamu diperalat.” Ada yang menatap seperti “kamu perusak nama baik agama.” Beban psikologisnya hampir tidak manusiawi.

Saya sering merasa Indonesia masih sangat feodal dalam urusan agama. Nama keluarga besar, jaringan organisasi, status habib atau kiai, semua menciptakan lapisan perlindungan informal yang kadang lebih kuat daripada hukum. Orang biasa bisa langsung dihajar publik. Tokoh agama punya tameng tambahan; kesalehan simbolik. Peci dan sorban bisa bekerja seperti rompi antipeluru sosial.

Lucunya, sebagian orang yang paling keras bicara soal moral publik justru paling defensif ketika lembaganya sendiri dikritik. Mereka cepat menuntut transparansi dari negara, tapi gugup ketika transparansi diarahkan ke pesantren. Seolah institusi agama harus hidup di ruang steril tanpa audit sosial.

Padahal kekuasaan tanpa pengawasan selalu membusuk. Tak peduli partai politik, militer, perusahaan teknologi, atau lembaga agama.

Komentar di media sosial soal “dukun menyamar jadi kiai” terdengar satir, tapi ia menyentuh sesuatu yang nyata tentang budaya politik kita; kecanduan kambing hitam. Orang lebih nyaman membayangkan orang asing jahat ketimbang menerima fakta banal bahwa predator seksual bisa lahir dari lingkungan sendiri.

Kejahatan sering terlihat biasa wajahnya. Tidak bertanduk. Tidak bermata merah. Kadang memimpin pengajian selepas Magrib.

Pesantren punya sejarah panjang di Indonesia, termasuk peran melawan kolonialisme dan mendidik masyarakat desa. Saya paham kenapa banyak orang defensif. Mereka takut seluruh institusi dicap buruk karena ulah sebagian pelaku. Ketakutan itu masuk akal. Tapi respons defensif yang terlalu agresif justru memperburuk keadaan. Publik mulai melihat ada budaya melindungi diri sendiri.

Institusi yang sehat seharusnya mampu membersihkan dirinya tanpa histeria konspiratif. Bukan malah sibuk mencari musuh imajiner.

Malam di asrama pesantren biasanya sunyi setelah lampu dimatikan. Suara batuk kecil. Bisik-bisik santri. Kipas berputar lambat. Saya terus kepikiran bagaimana rasanya bagi korban yang harus tidur beberapa meter dari orang yang mereka takuti. Tubuh kaku. Mata terbuka dalam gelap. Mendengar langkah kaki di lorong saja mungkin sudah bikin dada berdebar. Trauma sering tumbuh diam-diam di tempat yang dianggap suci.

Orang Indonesia terlalu sering menyamakan religiusitas dengan keamanan moral. Seolah seseorang yang hafal kitab otomatis aman dipercaya. Padahal sejarah penuh contoh tokoh agama, pastor, biksu, guru spiritual, rabbi, ustaz, pendeta, yang memakai otoritas moral untuk mengeksploitasi orang lain.

Kekuasaan spiritual punya efek hipnosis sosial yang sangat kuat. Dan anak-anak adalah pihak paling mudah dihancurkan olehnya.

Di televisi, politisi mungkin masih akan terus bicara soal “upaya sistematik merusak pesantren”. Kalimat itu enak dipakai. Patriotik. Defensif. Bisa memuaskan basis massa. Sementara di luar kamera, seorang korban mungkin masih harus menjelaskan pada keluarganya kenapa ia tiba-tiba takut mendengar suara sandal berjalan di lorong malam.

Related

Indonesia 6292921978786328591

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item