Ahmad Al Misry dan Fanatisme Indonesia Pada Tampilan Religius
https://www.belajarsampaimati.com/2026/05/ahmad-al-misry-dan-fanatisme-indonesia.html
![]() |
| Ilustrasi/suara.com |
Di layar televisi Indonesia, lelaki itu duduk dengan peci putih bersih, sorban rapi, suara rendah, pelafalan Arab nyaris tanpa cela. Kamera mengambil sudut yang tepat; wajah tenang, senyum tipis, aura yang dibuat terasa teduh. Di studio-studio Ramadan, nama “Syekh Ahmad Al Misry” diucapkan dengan nada hormat seperti sedang menyebut seseorang yang datang langsung dari lorong suci sejarah Islam. Penonton terpukau ketika mendengar tilawahnya. Ibu-ibu antre bersalaman. Santri-santri muda mencium tangannya dengan kepala tunduk.
Lalu berita itu pecah seperti botol dilempar ke lantai keramik.
Kasus pencabulan terhadap santri laki-laki. Penetapan tersangka. Koordinasi lintas negara. Polisi Mesir ikut bergerak. Bukan interpol yang dramatis seperti film-film Netflix, tapi cukup membuat banyak orang tercekat; pemerintah Mesir disebut tidak memberi perlindungan apa pun. Ahmad Al Misry ditangkap sehari setelah kasusnya meledak di Indonesia. Bersama istri dan orang tuanya. Dijemput paksa dari rumahnya.
Kalimat yang paling menampar justru bukan soal penangkapannya.
“Di Mesir, dia bukan siapa-siapa.”
Kalimat itu terdengar kecil, tapi efeknya seperti palu godam. Sebab selama bertahun-tahun, di Indonesia, ia diperlakukan seperti ulama besar. Diundang ke televisi nasional. Menjadi juri hafiz. Ceramahnya dipotong-potong jadi konten TikTok dengan backsound piano syahdu. Orang-orang menyebutnya “Syekh” dengan penuh takzim, seolah titel itu sendiri sudah cukup untuk menghapus kebutuhan berpikir kritis.
Indonesia memang punya hubungan emosional yang aneh dengan Arab.
Orang Indonesia bisa mendadak kehilangan kemampuan curiga hanya karena mendengar aksen Timur Tengah. Bahasa Arab di telinga sebagian masyarakat bukan lagi bahasa, tapi stempel kesucian. Begitu seseorang fasih melafalkan ayat dengan makhraj bagus, memakai gamis panjang, menyelipkan kata “akhi”, “ukhti”, “ya syaikh”, maka separuh pekerjaan pencitraan sudah selesai.
Di Pasar Minggu, di Depok, di Jombang, di Makassar, pola itu berulang terus. Orang-orang rela menggadaikan nalar mereka sendiri demi sensasi kedekatan dengan sesuatu yang dianggap lebih Islami, lebih murni, lebih dekat dengan langit.
Padahal di Kairo sendiri, mungkin Ahmad Al Misry hanya lelaki biasa yang lewat begitu saja di trotoar tanpa ada yang peduli.
Ada sesuatu yang menyedihkan dalam cara sebagian masyarakat Indonesia memandang Arab; terlalu romantis, terlalu inferior, terlalu mudah silau. Seolah-olah kesalehan punya paspor tertentu.
Padahal Mesir menghasilkan jutaan lulusan agama setiap tahun. Perguruan tinggi seperti Universitas Al-Azhar dipenuhi pelajar dari berbagai negara. Di Kairo, orang yang hafal Al-Qur’an bukan fenomena langka yang otomatis diperlakukan bak selebritas spiritual. Di sana, hafalan Quran tidak otomatis membuat seseorang kebal dari kritik, apalagi dari hukum.
Indonesia berbeda. Televisi kita haus simbol agama. Produser acara Ramadan tahu betul cara kerja psikologi massa; tampilkan pria Arab bersuara lembut, dudukkan di panggung megah, beri subtitle terjemahan, lalu biarkan publik membangun mitologi sendiri.
Lama-lama, yang lahir bukan penghormatan kepada ilmu, melainkan fetish terhadap identitas.
Saya ingat bagaimana beberapa tahun terakhir media sosial Indonesia dipenuhi potongan video dai-dai dengan aksen Arab yang bahkan isi ceramahnya biasa saja. Kadang cuma nasihat generik soal sabar, soal dosa, soal akhirat yang sebenarnya bisa ditemukan di ribuan khutbah lain. Tapi komentar di bawah videonya seperti sedang menyambut wali.
“Masya Allah, wajahnya teduh sekali.”
“Pantas ilmunya tinggi.”
“Orang Arab memang beda.”
Kalimat terakhir itu menarik. “Orang Arab memang beda.” Seolah agama berubah menjadi persoalan ras.
Lucunya, banyak orang Indonesia sendiri yang sebenarnya lebih alim, lebih mendalam ilmunya, malah tidak dianggap istimewa karena wajahnya terlalu lokal. Karena tidak punya aksen Timur Tengah. Tidak punya nama dengan embel-embel “Al”, “As”, atau “bin”.
Di pesantren-pesantren kampung, ada kiai sepuh yang puluhan tahun mengajar kitab sampai matanya rabun karena lampu redup dan kertas kuning yang berdebu. Mereka tidak viral. Tidak diundang televisi. Tidak punya tim konten yang memotong ceramah menjadi video satu menit dengan subtitle kuning mencolok.
Orang-orang lebih terpikat pada kemasan.
Kasus Ahmad Al Misry brutal karena ia merobek ilusi itu sekaligus. Mendadak orang sadar bahwa figur yang mereka lihat sebagai representasi otoritas agama ternyata bisa sangat rapuh, sangat banal, bahkan menjijikkan. Dugaan pencabulan terhadap santri laki-laki membuat seluruh pencitraan religius itu runtuh dengan suara keras. Bayangan studio TV yang terang benderang mendadak bertabrakan dengan imajinasi ruang tertutup pesantren dan tubuh anak-anak yang ketakutan.
Sulit mengabaikan ironi ini; seorang juri hafiz, sosok yang bertahun-tahun duduk menilai bacaan Quran anak-anak, kini justru dituduh melakukan tindakan bejat terhadap santri.
Di Indonesia, masyarakat sering diajar untuk menghormati simbol agama secara mutlak. Jangan mempertanyakan ustaz. Jangan mengkritik kiai. Jangan curiga kepada habib. Struktur mental seperti itu berbahaya sekali ketika bertemu budaya selebritas. Figur agama berubah menjadi bintang hiburan yang nyaris tak tersentuh.
Begitu ada tuduhan pelecehan seksual, respons pertama banyak pengikut biasanya bukan empati kepada korban. Mereka sibuk mencari cara menyelamatkan citra ustaznya.
“Fitnah.”
“Ini ulama sedang dikriminalisasi.”
“Pasti ada konspirasi.”
Polanya hampir selalu sama. Nama boleh berbeda, wajah boleh berganti.
Saya membaca beberapa komentar pengikut fanatik Ahmad Al Misry setelah kasusnya muncul. Ada yang tetap bersikeras percaya bahwa ia dijebak. Ada yang bilang “mustahil syekh melakukan itu”. Mustahil menurut siapa? Karena jenggotnya panjang? Karena bacaan Qurannya bagus?
Sejarah penuh dengan tokoh agama yang ternyata predator seksual. Dari gereja di Amerika Latin sampai asrama pesantren di Asia Tenggara. Kekuasaan spiritual sering memberi ruang aman bagi penyimpangan. Orang takut melawan karena pelaku dibungkus aura suci.
Dan aura itu sangat laku di Indonesia.
Kita hidup di negara yang kadang lebih menghormati tampilan religius daripada integritas nyata. Orang bisa dianggap saleh karena pakaian, bukan perilaku. Karena intonasi ceramah, bukan cara memperlakukan manusia lain. Karena simbol.
Berita soal dugaan bipatride Ahmad Al Misry juga terasa penting. Polisi menyebut ia diduga memiliki dua kewarganegaraan; Indonesia lewat naturalisasi, dan tetap menyembunyikan status Mesirnya. Ada kesan licin di situ. Identitas dipakai seperti kostum yang bisa diganti sesuai kebutuhan.
Di Indonesia, ia menjadi “Syekh Ahmad Al Misry”, figur agama terkenal. Di Mesir, menurut banyak laporan, ia bukan tokoh penting. Tidak punya pengaruh. Tidak punya posisi khusus yang membuat negara repot melindunginya.
Saya membayangkan ruang tamu rumahnya saat aparat Mesir datang menjemput. Cahaya lampu pucat. Wajah keluarganya tegang. Suara sepatu aparat di lantai. Tidak ada jamaah yang menangis memohon pembebasan. Tidak ada studio televisi. Tidak ada backsound religi.
Cuma seorang lelaki yang mendadak kehilangan panggungnya.
Lalu Indonesia mulai gaduh sendiri. Orang-orang kaget karena sosok yang mereka tempatkan begitu tinggi ternyata bisa jatuh secepat itu. Padahal fondasinya memang rapuh sejak awal. Kita terlalu gampang percaya pada kostum religius.
Masalahnya bukan cuma Ahmad Al Misry.
Besok akan muncul figur lain. Wajah baru. Aksen baru. Jubah baru. Konten dakwah baru. Ribuan orang akan kembali terpukau. Televisi dan media sosial akan terus memproduksi kebutuhan akan “tokoh agama viral”. Mesin itu tidak pernah benar-benar berhenti.


