‘Normal’, Bob Odenkirk Terjebak di Kota Kecil Penuh Orang Gila
https://www.belajarsampaimati.com/2026/06/normal-bob-odenkirk-terjebak-di-kota.html
![]() |
| Ilustrasi/decider.com |
Lampu merah mobil polisi berputar pelan di jalan sepi yang dipenuhi salju abu-abu. Bukan putih. Abu-abu, seperti es yang sudah diinjak terlalu banyak sepatu bot. Bob Odenkirk berdiri di dekat mobil sheriff dengan jaket tebal warna cokelat kusam dan wajah yang tampak kelelahan bahkan sebelum masalah datang. Kota kecil bernama Normal terlihat seperti tempat yang menjual pai apel di festival musim gugur dan mengadakan lomba memancing antarwarga. Lalu seseorang ditemukan mati dengan tubuh nyaris telanjang di atas salju.
Begitulah nada film Normal bekerja sejak awal. Film ini tidak peduli apakah penonton ingin tertawa, tegang, atau sekadar melihat Bob Odenkirk memukul orang menggunakan gagang senapan. Semua dicampur seperti kopi diner yang terlalu lama dipanaskan.
Odenkirk memerankan Sheriff Ulysses Richardson, nama yang terdengar terlalu berat untuk kota sekecil Normal, Minnesota. Ada sesuatu yang lucu dari nama itu. “Ulysses Richardson” terdengar seperti profesor sastra Selatan yang suka bourbon murah, bukan sheriff yang harus menghadapi yakuza bersenjata otomatis. Tetapi justru karena itu karakter ini bekerja. Wajah Odenkirk selalu menyimpan semacam rasa tidak nyaman permanen, seperti orang yang sadar dirinya salah masuk ruangan tetapi sudah telanjur duduk.
Ben Wheatley menyutradarai film ini dengan energi yang aneh. Kadang terasa seperti Fargo versi mabuk obat flu. Lima menit kemudian berubah menjadi ledakan kepala dan baku tembak ala John Wick. Derek Kolstad, penulis yang membangun dunia John Wick, jelas meninggalkan sidik jarinya di mana-mana. Orang-orang di film ini berbicara pendek, dingin, lalu tiba-tiba membunuh seseorang menggunakan alat yang seharusnya tidak mematikan. Sebuah adegan di gudang membuat mata terasa pedih karena cahaya neon biru yang terang memantul di darah dan papan kayu.
Film ini sebenarnya punya premis yang nyaris bodoh. Sheriff sementara datang ke kota kecil. Kota itu ternyata menyimpan jaringan pencucian uang milik yakuza Jepang. Warga lokal ikut terlibat. Ada emas. Ada mayat yang terbujur kaku di salju. Kedengarannya seperti cerita hasil lempar dadu acak di meja penulis skenario jam tiga pagi.
Aneh sekali bahwa film ini justru terasa hidup ketika premisnya semakin tidak masuk akal.
Henry Winkler muncul sebagai Wali Kota David Rosenbaum, dengan senyum tua yang terlalu ramah tapi tidak nyaman dilihat. Winkler memainkan karakter itu seperti pria yang sudah terlalu lama menyembunyikan sesuatu. Lena Headey muncul dengan tatapan yang dingin dan nyaris bosan, seperti perempuan yang sudah melihat terlalu banyak pria mati dan tidak lagi terkesan.
Kota Normal sendiri lebih penting daripada banyak karakter manusia di film ini. Toko peralatan berburu. Gereja Lutheran kecil. Diner bernama Betty’s yang menjual hash brown berminyak dan kopi pahit dalam cangkir tebal warna krem. Semua terasa spesifik, bukan kota kecil generik ala Netflix yang dibangun dari algoritma visual. Bahkan papan nama kotanya terlihat menyedihkan, “Welcome to Normal”. Cat putihnya mulai mengelupas.
Hollywood sekarang suka membuat kota kecil Amerika terlihat eksentrik dan “quirky”. Semua harus punya karakter unik. Semua orang bicara aneh. Normal tidak terlalu tertarik melakukan itu. Warga kotanya tetap tampak membosankan. Justru kebosanan itu yang membuat kekerasannya terasa menjijikkan. Ketika seseorang ditembak di dekat toko alat pancing, suasananya tidak heroik. Darah mengalir ke salju kotor.
Bob Odenkirk tampaknya semakin nyaman memainkan laki-laki setengah hancur. Dulu dia Saul Goodman, pengacara cerewet dengan jas norak. Sekarang tubuhnya bergerak seperti pria yang lututnya sakit saat bangun tidur. Ketika dia berkelahi di Normal, tidak ada koreografi indah ala Keanu Reeves. Odenkirk memukul dengan panik. Kadang tampak takut. Kadang kehabisan napas.
Satu pukulan di dapur restoran bahkan terlihat terlalu lambat dan canggung untuk ukuran film action modern. Justru itu yang membuatnya enak ditonton. Orang sekarang terlalu terbiasa melihat pertarungan yang terlihat seperti tarian TikTok mahal.
Saya suka bagaimana film ini tidak terlalu sibuk menjelaskan yakuza kepada penonton Amerika. Tidak ada monolog panjang tentang kehormatan samurai atau struktur organisasi kriminal Jepang. Mereka datang, membawa senjata, terjadi baku tembak gila, lalu semuanya mati.
Kadang film ini juga terasa sengaja menyebalkan. Ben Wheatley tampaknya menikmati membuat penonton kehilangan pijakan tonal. Sebuah adegan pembunuhan brutal bisa langsung dipotong ke adegan makan pai di kota kecil dengan lagu country murahan. Penonton yang ingin thriller rapi mungkin akan frustrasi.
Bagus.
Film action sekarang terlalu takut terlihat berantakan. Semua harus punya “lore”, semesta, easter egg, penjelasan. Normal terasa dibuat oleh orang-orang yang masih percaya film boleh aneh selama ritmenya punya denyut.
Ada satu momen ketika Sheriff Ulysses membuka brankas bank, dan menemukan deretan emas batangan disimpan di rak kayu. Tidak ada musik megah. Tidak ada close-up dramatis. Kamera hanya diam. Lampu kuning redup membuat emas itu terlihat kusam, hampir jelek. Saya justru lebih percaya pada emas itu dibanding kebanyakan film heist mahal.
Lalu ada salju. Ya Tuhan, salju di film ini terlihat dingin sampai gigi terasa ngilu. Bukan salju postcard Natal. Salju yang membuat kaus kaki basah dan kaki mati rasa. Banyak adegan malam memakai pencahayaan biru pucat yang bikin wajah semua orang tampak sakit.
Mungkin yang paling saya suka dari Normal adalah keberaniannya mempertahankan rasa kecil. Bahkan ketika cerita berkembang menjadi konflik lintas negara dan organisasi kriminal besar, film ini tetap terasa seperti masalah kota terpencil dengan populasi kurang dari dua ribu orang. Orang-orang masih bergosip di diner. Mobil patroli tetap tua. Sheriff tetap harus mengisi bensin sendiri.
Saya bisa membayangkan banyak penonton tidak suka film ini. Terlalu dingin. Terlalu aneh. Terlalu sengaja kusut. Kadang seperti film Coen Brothers palsu, lalu mendadak berubah menjadi video game ultra-violent.
Tetapi saya lebih memilih kekacauan seperti ini dibanding film action modern yang terlalu steril dan terlalu sadar diri. Normal punya lumpur, darah, kopi basi, neon murahan, dan wajah Bob Odenkirk yang tampak seperti belum tidur tiga malam.
Di akhir film, Ulysses duduk sambil makan pai dengan dua orang yang masih selamat dalam pertempuaran gila. Salju turun tipis. Mereka hanya duduk di sana beberapa detik terlalu lama. Tidak mengatakan apa-apa.
Lalu layar hitam.

.png)

