Saddam Hussein Merampok Bank Negaranya Sendiri Sebelum Diserang Amerika

Ilustrasi/military.com
Uang tunai sebanyak satu miliar dolar ternyata tidak terlihat megah. Ia terlihat melelahkan. Kotak-kotak besar bertumpuk di lantai. Debu. Lakban cokelat. Keringat pria-pria yang mengangkatnya. Bau kertas dan ruang tertutup. Tentara Amerika, yang kemudian menemukan uang itu di bunker Saddam Hussein, menggambarkan proses penghitungannya seperti pekerjaan gudang yang absurd; berjam-jam memindahkan tumpukan dolar, menghitung, menyusun ulang, menjaga agar tidak ada yang hilang.

Sebagian mereka malah mencuri di tengah proses penghitungan.

Sulit mencari simbol yang lebih telanjang tentang perang Irak selain adegan itu; rezim diktator menjarah bank sentralnya sendiri tepat sebelum invasi, lalu tentara dari negara yang datang membawa slogan demokrasi ikut mencopet uang sitaan.

Kasus Bank Sentral Irak tahun 2003 terasa seperti cerita yang terlalu sinis untuk dijadikan film. Penulis skenario Hollywood mungkin akan diminta “mengurangi” ironi karena dianggap tidak realistis. 

Beberapa jam sebelum bom pertama Amerika menghantam Baghdad, Saddam Hussein mengirim putranya, Qusay Hussein, ke Bank Sentral Irak. Ia membawa secarik surat tulisan tangan dari Saddam sendiri. Instruksinya sederhana; keluarkan uang.

Sekitar US$1 miliar dalam bentuk dolar Amerika dan ratusan juta dinar Irak kemudian dipindahkan keluar bank, menggunakan truk. Prosesnya berlangsung selama hampir lima jam. Menurut sejumlah laporan, para pegawai bank nyaris tidak punya pilihan selain mematuhi perintah tersebut. Menolak anak Saddam Hussein di Irak tahun 2003 bukan tindakan berani. Itu tindakan bunuh diri.

Saya selalu terpaku pada detail surat tulisan tangan itu. Bukan dokumen resmi negara. Bukan prosedur darurat bank sentral. Hanya secarik kertas dari seorang diktator yang tahu negaranya mungkin akan runtuh dalam hitungan hari.

Bayangkan suasana Baghdad malam itu. Kota tegang seperti kabel listrik terlalu panas. Orang-orang mendengar rumor perang dari radio, televisi satelit, percakapan di pasar. Tentara Irak bersiap. Pemerintah Amerika Serikat sudah hampir pasti menyerang. Udara terasa seperti ruang tunggu menuju ledakan besar.

Di tengah suasana itu, truk-truk datang ke bank sentral. Pintu brankas dibuka. Dolar-dolar Amerika keluar dari perut negara Irak.

Ironinya kasar sekali. Saddam Hussein, yang selama bertahun-tahun membangun citra sebagai musuh imperialisme Amerika, justru menyimpan cadangan kekuasaannya dalam mata uang Amerika Serikat. Dolar punya kekuatan yang bahkan diktator anti-Amerika pun tidak bisa mengabaikan.

Orang sering membayangkan uang satu miliar dolar sebagai sesuatu yang abstrak, seperti angka di layar komputer. Padahal dalam bentuk fisik, uang sebanyak itu sangat berat. Benar-benar berat. Membutuhkan kendaraan, tenaga manusia, koordinasi. Tentara Amerika yang kemudian menemukan sebagian uang tersebut menggambarkan bagaimana mereka harus memakai forklift untuk memindahkan palet uang.

Perampokan terbesar dalam sejarah dunia ternyata lebih dekat ke aktivitas bongkar muat gudang daripada adegan elegan film pencurian.

Invasi Amerika dimulai tidak lama kemudian. Baghdad dibombardir. Patung Saddam akhirnya dijatuhkan di Firdos Square dalam tontonan televisi global yang terasa sangat teatrikal. Rezim runtuh cepat. Pemerintahan kacau. Penjarahan meledak di seluruh kota. Museum Nasional Irak dijarah. Gedung-gedung kementerian dibakar. Orang-orang membawa kursi, komputer, bahkan kloset, keluar dari bangunan pemerintah.

Dalam kekacauan itu, uang hasil “penarikan” Bank Sentral Irak menyebar ke berbagai tempat persembunyian rezim.

Pasukan Amerika akhirnya menemukan sekitar US$650 juta tersembunyi di dinding palsu dan bunker salah satu istana Saddam Hussein. Sebagian ditemukan dalam kotak logam dan karung. Tumpukan uang memenuhi ruangan sempit seperti properti film gangster murah. Tentara yang menemukannya kabarnya sampai melongo beberapa detik sebelum benar-benar memahami apa yang mereka lihat.

Saya pernah membaca deskripsi seorang tentara tentang bau uang dalam jumlah sangat besar. Kertas, debu, sedikit lembap, dan sesuatu yang membuat kepala pening setelah terlalu lama di ruangan tertutup. Ia bilang tangannya terasa kering setelah berjam-jam menyentuh bundel dolar. Perang ternyata juga punya aroma administrasi.

Lalu muncul bagian yang paling memalukan. Sejumlah tentara Amerika yang ditugaskan menjaga dan menghitung uang tersebut mulai mencurinya sedikit demi sedikit. Ada yang memasukkan bundel dolar ke tas olahraga. Ada yang mengirim uang ke rumah. Ada yang menyembunyikannya dalam perlengkapan militer. Total 35 tentara akhirnya terseret investigasi terkait pencurian dana Irak.

Jumlah yang dicuri para tentara memang kecil dibanding total rampasan Saddam. Tetapi justru itu yang membuatnya terasa sangat manusiawi dalam cara paling buruk. Di tengah operasi militer raksasa bernilai miliaran dolar, beberapa orang tetap tidak tahan melihat uang tunai menumpuk di depan mata tanpa mencoba mengambil sebagian.

Saya membayangkan godaannya. Ruangan penuh dolar. Pengawasan kacau. Negara asing yang sedang runtuh. Semua orang bersenjata. Semua orang lelah. Moralitas cepat berubah bentuk dalam perang.

Irak tahun 2003 memang seperti mesin penghancur batas normal. Tentara Amerika datang dengan retorika membebaskan Irak dari tirani, tetapi perang itu juga membuka pasar besar bagi kontraktor swasta, korupsi, dan jaringan keuntungan baru. Miliaran dolar dana rekonstruksi kemudian menguap dalam proyek gagal dan rekening tak jelas.

Kasus Bank Sentral Irak seperti versi mini dari keseluruhan perang; uang dalam jumlah fantastis bergerak cepat di tengah kehancuran, sementara orang-orang di bawahnya berebut mengambil potongan masing-masing.

Saddam Hussein sendiri akhirnya tertangkap di dekat Tikrit beberapa bulan kemudian, bersembunyi di lubang sempit bawah tanah yang kemudian terkenal dengan nama “spider hole”. Gambar penangkapannya disiarkan ke seluruh dunia. Janggut kusut. Mata lelah. Tidak ada lagi aura penguasa Timur Tengah yang dulu memenuhi poster dan pidato. Uang satu miliar dolar itu tidak menyelamatkannya.

Sebagian analis percaya, Saddam berniat memakai uang tersebut untuk membiayai perang gerilya setelah Baghdad jatuh. Sebagian lain melihatnya lebih sederhana; seorang diktator yang sedang panik menyelamatkan aset pribadi dan jaringan keluarganya sebelum semuanya runtuh. Kedua kemungkinan sama-sama masuk akal.

Sulit memisahkan negara dan keluarga dalam rezim seperti Irak era Saddam. Bank sentral bisa berubah menjadi dompet pribadi presiden hanya lewat secarik surat tulisan tangan.

Baghdad setelah invasi dipenuhi checkpoint, asap, generator listrik, dan bangunan berlubang peluru. Banyak warga Irak bahkan tidak tahu pasti berapa uang yang hilang dari bank sentral mereka. Sebagian terlalu sibuk mencari air bersih, bahan bakar, atau kerabat yang hilang. Uang satu miliar dolar terasa hampir abstrak di kota yang listriknya sering mati.

Beberapa bundel uang yang ditemukan tentara Amerika masih dibungkus rapi dengan segel bank. Hijau pucat dolar itu tampak aneh di tengah dinding beton kusam dan debu perang Irak. Foto-fotonya beredar luas; tentara duduk di samping tumpukan uang seperti pekerja gudang yang terlalu lelah untuk merasa kagum.

Lalu seseorang mulai memasukkan sebagian uang ke tas pribadi mereka sendiri.

Related

Peristiwa 2031372007154218273

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item