The Usual Suspects dan Plot Twist yang Dibicarakan Sampai Lama

Ilustrasi/shatpod.com
Sebuah kapal terbakar di Pelabuhan San Pedro pada malam hari. Api memantul di permukaan air yang hitam. Seorang pria berdiri di atas geladak. Seorang pria lain berlutut. Terdengar suara tembakan. Tubuh jatuh. Nama yang terus berputar sepanjang film—Keyser Söze—kembali disebut. Kamera tidak tergesa-gesa. Film tidak berteriak meminta perhatian. Bahkan pada adegan pembukanya, The Usual Suspects (1995) bergerak dengan kepercayaan diri yang aneh, seolah tahu bahwa dua jam kemudian penonton akan sibuk membicarakannya selama puluhan tahun.

Masalahnya, ketika orang membicarakan The Usual Suspects, hampir semuanya langsung melompat ke plot twist.

Saya selalu merasa film ini sedikit dirugikan oleh kesuksesannya sendiri. Plot twist-nya begitu terkenal sampai menelan filmnya. Orang mengingat kejutan terakhir. Orang lupa betapa liciknya perjalanan menuju ke sana.

Film karya sutradara Bryan Singer ini sering muncul dalam daftar plot twist terbaik sepanjang masa, bersama Fight Club, The Sixth Sense, atau Se7en. Padahal kekuatan terbesarnya bukan terletak pada fakta bahwa penonton tertipu. Banyak film bisa menipu penonton. Sulap murahan juga bisa menipu penonton.

Yang sulit adalah membuat penonton menikmati proses ditipu. The Usual Suspects berhasil melakukan itu.

Ceritanya dimulai dengan lima kriminal yang dipertemukan dalam sebuah lineup polisi di New York. Dean Keaton, mantan polisi korup yang mencoba hidup lurus. Michael McManus, pencuri yang temperamental. Fred Fenster yang bicara cepat dengan logat nyaris tidak bisa dipahami. Todd Hockney yang kasar dan mudah marah. Roger "Verbal" Kint, pria pincang dengan cerebral palsy yang tampak seperti orang paling tidak berbahaya di ruangan.

Mereka berdiri berjejer. Polisi mengira mereka pelaku sebuah pembajakan truk. Ternyata tidak. Mereka lalu bekerja sama untuk melakukan kejahatan lain. Kemudian kejahatan yang lebih besar. Kemudian sesuatu yang jauh lebih buruk.

Naskah karya Christopher McQuarrie sebenarnya sangat sederhana jika dipisahkan dari cara penyampaiannya. Sekelompok kriminal terjebak dalam permainan seorang tokoh kriminal misterius yang hampir tidak pernah terlihat. Ringkasannya tidak terdengar revolusioner. Film gangster telah melakukan hal serupa berkali-kali.

Penyampaiannya yang membuat semuanya berbeda.

Sebagian besar film kriminal menunjukkan kejadian kepada penonton secara langsung. The Usual Suspects memilih jalan yang lebih licin. Hampir seluruh cerita disampaikan melalui kesaksian Verbal Kint kepada Agen Bea Cukai Amerika Serikat, Dave Kujan, yang diperankan dengan penuh amarah oleh Chazz Palminteri.

Kujan ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Verbal mulai bercerita. Verbal terus bercerita. Verbal tidak pernah berhenti bercerita. Kita mempercayainya karena film meminta kita mempercayainya. Di situlah jebakannya mulai bekerja.

Kevin Spacey, jauh sebelum kariernya runtuh akibat berbagai tuduhan pelecehan seksual yang kemudian menghancurkan reputasinya di Hollywood, memberikan salah satu penampilan paling cerdik dalam sejarah film kriminal. Ia tidak bermain besar. Ia tidak mendominasi layar seperti Al Pacino atau Robert De Niro. Ia mengecilkan dirinya sendiri. Bahunya sedikit membungkuk. Senyumnya gugup. Nada bicaranya terdengar seperti seseorang yang terus meminta maaf karena menghabiskan terlalu banyak waktu orang lain.

Penampilan semacam itu sering luput dari perhatian saat pertama kali menonton. 

Mata penonton tertarik ke Gabriel Byrne sebagai Keaton yang karismatik. Atau Benicio Del Toro sebagai Fenster yang eksentrik. Atau Kevin Pollak yang terus mengeluarkan komentar sinis. Verbal terasa seperti figuran yang kebetulan berada di tengah cerita. Film sengaja membuatnya tampak seperti itu.

Saya suka detail-detail kecil yang biasanya hilang ketika orang hanya fokus pada twist. Misalnya kantor interogasi Kujan yang terlihat membosankan sekali. Papan pengumuman di dinding. Tumpukan dokumen. Gelas kopi. Lampu neon yang terasa sedikit dingin. Tempat itu bukan lokasi ikonik seperti kasino Las Vegas atau jalanan neon Tokyo. Hanya ruangan birokrasi yang membosankan.

Sebagian besar keajaiban film terjadi di sana. Dua orang duduk dan berbicara. Itu saja. Tidak banyak film yang berani mempertaruhkan segalanya pada percakapan.

Tahun 1995 juga menarik. Hollywood sedang mengalami masa yang unik. Quentin Tarantino baru saja mengguncang industri lewat Pulp Fiction. Struktur cerita nonlinier sedang populer. Penonton mulai menikmati film yang meminta mereka bekerja sedikit lebih keras. Studio-studio mulai percaya bahwa audiens cukup sabar untuk mengikuti narasi yang berkelok-kelok.

The Usual Suspects muncul tepat pada saat yang sempurna. Film ini cukup cerdas untuk membuat penonton merasa pintar. Lalu mengambil perasaan itu dan memukulnya dengan kursi.

Ada hal yang menurut saya lebih menarik daripada twist itu sendiri. Film ini sebenarnya berbicara tentang betapa rapuhnya manusia ketika berhadapan dengan sebuah cerita yang bagus.

Lihat saja Agen Kujan. Ia bukan orang bodoh. Ia berpengalaman. Ia skeptis. Ia tahu para kriminal berbohong. Ia terus menginterogasi Verbal selama film berlangsung. Tetap saja ia kalah. Bukan karena Verbal memiliki senjata. Bukan karena Verbal memiliki kekuatan super. Verbal menang karena ia menawarkan narasi yang terasa masuk akal.

Manusia sangat menyukai cerita yang masuk akal. Sering kali terlalu menyukainya. Mungkin itu sebabnya Keyser Söze menjadi sosok yang begitu melekat dalam budaya populer. Bukan karena ia karakter yang banyak muncul di layar. Justru sebaliknya. Sebagian besar waktu, Keyser Söze hanyalah cerita tentang seseorang. Cerita yang terus berpindah dari mulut ke mulut. Seorang kriminal legendaris yang konon membunuh keluarganya sendiri agar musuh tidak bisa menggunakannya sebagai alat tekanan.

Apakah kisah itu benar? Film tidak terlalu peduli. Legenda sering kali lebih kuat daripada fakta.

Mata saya selalu tertuju pada papan pengumuman di belakang Kujan menjelang akhir film. Potongan-potongan informasi acak. Nama perusahaan. Foto-foto. Catatan kecil. Benda-benda yang tampaknya tidak penting. Saat film pertama kali ditonton, benda-benda itu nyaris tidak terlihat. Ketika kebenaran mulai terungkap, benda-benda tersebut berubah menjadi tambang emas.

Ada kepuasan yang aneh saat menyadari bahwa film telah menunjukkan jawabannya sejak lama. Ada juga sedikit rasa kesal. Perasaan seperti baru sadar dompet berada di depan mata selama satu jam.

Dua puluh atau tiga puluh tahun setelah dirilis, banyak plot twist lain telah lahir. Sebagian lebih rumit. Sebagian lebih mengejutkan. Sebagian lebih emosional. Internet juga mengubah cara kita menonton film. Spoiler menyebar dalam hitungan menit. Video analisis bermunculan beberapa jam setelah film tayang. Sulit menjaga rahasia sekarang.

The Usual Suspects berasal dari masa ketika rahasia masih bisa hidup lebih lama. Orang keluar bioskop dan membicarakannya di parkiran. Orang berdebat di meja makan. Orang menyuruh temannya menonton tanpa memberi tahu apa pun. 

"Pokoknya tonton saja." Kalimat itu bekerja jauh lebih baik pada tahun 1995 dibanding sekarang.

Masih ada sesuatu yang saya sukai dari akhir film tersebut. Bukan kejutan identitasnya. Bukan pengungkapan besar yang sudah dibahas ribuan artikel selama puluhan tahun. Yang tertinggal justru gambar seorang pria berjalan menjauh dari kantor polisi. Langkahnya perlahan berubah. Bahunya berubah. Cara tubuhnya bergerak berubah. Wajahnya tidak lagi terlihat sama.

Kopi masih hangat di meja Kujan. Papan pengumuman masih menempel di dinding. Di luar gedung, lalu lintas terus bergerak seperti biasa. Seseorang masuk ke sebuah mobil. Mobil itu melaju. Lampu lalu lintas berganti warna.

Related

Entertainment 1307875883631911477

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item