Dua Penumpang Bertengkar di Bus, Orang-orang Ngamuk di Media Sosial
https://www.belajarsampaimati.com/2026/07/dua-penumpang-bertengkar-di-bus-orang.html?m=0
![]() |
| Ilustrasi/mobilkomersial.com |
Bus kota adalah salah satu tempat paling jujur untuk mengamati sebuah negara. Tidak ada pidato politik. Tidak ada konferensi pers. Tidak ada slogan kampanye yang sudah dipoles tim komunikasi. Hanya kursi-kursi sempit, suara rem yang berdecit, aroma kopi yang terbawa dari jaket penumpang, dan orang-orang asing yang dipaksa berbagi ruang selama beberapa menit.
Karena itu saya selalu curiga ketika sebuah video pendek dari media sosial diklaim mampu menjelaskan seluruh persoalan migrasi di Eropa. Dunia nyata jarang sesederhana tiga puluh detik video.
Sebuah rekaman yang beredar luas memperlihatkan pertengkaran antara seorang perempuan berhijab dan seorang perempuan Jerman di dalam bus. Narasi yang menyertainya menyebut bahwa perempuan berhijab mengeluhkan pakaian dan minuman perempuan Jerman tersebut, lalu mendapat balasan keras: “Ini bukan negara Islam. Kalau tidak suka, pulanglah ke negerimu.”
Entah seluruh konteksnya memang seperti itu atau tidak, satu hal yang langsung terasa adalah ketegangan yang lebih besar daripada dua orang yang sedang marah. Video itu tampak seperti potongan kecil dari persoalan yang sudah lama mendidih di banyak negara Eropa.
Ketika melihat rekaman seperti itu, perhatian saya justru tidak tertuju pada siapa yang menang dalam adu mulut tersebut. Saya lebih tertarik pada bagaimana Eropa sampai berada di titik itu.
Beberapa dekade lalu, Jerman Barat mendatangkan ratusan ribu pekerja asing melalui program Gastarbeiter. Buruh dari Turki datang untuk mengisi kebutuhan industri yang sedang berkembang pesat. Banyak yang awalnya dianggap hanya akan tinggal sementara. Mereka bekerja di pabrik baja, jalur perakitan mobil, dan berbagai pekerjaan yang tidak cukup diminati tenaga kerja lokal.
Ternyata banyak yang menetap. Anak-anak lahir. Cucu-cucu lahir. Lingkungan baru terbentuk. Masjid dibangun. Toko kebab bermunculan di kota-kota yang sebelumnya tidak mengenal makanan semacam itu.
Berlin berubah. Köln berubah. Duisburg berubah. Negara yang dulu relatif homogen perlahan menjadi jauh lebih beragam. Kertas statistik menjelaskan proses itu dengan mudah. Kehidupan sehari-hari jauh lebih rumit.
Seorang warga lokal mungkin merasa kota tempat ia tumbuh tidak lagi terlihat seperti tiga puluh tahun lalu. Seorang imigran mungkin merasa sudah membayar pajak selama puluhan tahun tetapi masih dianggap orang luar. Dua pengalaman tersebut dapat hidup bersamaan tanpa saling membatalkan.
Banyak perdebatan publik tentang migrasi sebenarnya macet karena setiap pihak memilih pengalaman yang berbeda sebagai titik awal.
Ketika seseorang mengunggah video perempuan berhijab yang memarahi penumpang lain, video itu segera diperlakukan sebagai bukti bahwa integrasi gagal total.
Ketika orang lain mengunggah video serangan terhadap muslim, rekaman tersebut diperlakukan sebagai bukti bahwa rasisme adalah masalah utama.
Mesin media sosial menyukai pola semacam itu. Konflik kecil dipompa menjadi simbol peradaban. Algoritma tidak tertarik pada jutaan perjalanan bus yang berlangsung damai setiap hari. Algoritma menyukai pertengkaran. Algoritma menyukai kemarahan. Algoritma menyukai komentar yang membuat jantung berdebar sedikit lebih cepat.
Pernah duduk di stasiun kereta Hauptbahnhof di Berlin selama satu jam? Pemandangannya jauh lebih membosankan daripada internet. Mahasiswa Arab berjalan sambil menenteng laptop. Turis Jepang mencari jalur kereta. Seorang pria tua Jerman membaca koran. Seorang perempuan Turki mendorong kereta bayi.
Tidak ada yang viral. Tidak ada yang akan memperoleh jutaan tayangan. Padahal kehidupan nyata sebagian besar memang seperti itu.
Saya tidak sedang mengatakan konflik budaya tidak ada. Konflik itu nyata. Terlalu nyata, malah.
Jerman dalam beberapa tahun terakhir mengalami perdebatan sengit mengenai migrasi, integrasi, identitas nasional, hingga keamanan publik. Partai-partai seperti Alternative für Deutschland memperoleh dukungan yang meningkat di berbagai wilayah. Di kota-kota tertentu, isu migrasi menjadi tema politik yang hampir mengalahkan semua isu lain.
Ketika biaya hidup naik, harga sewa apartemen melonjak, dan layanan publik terasa semakin terbebani, kemarahan publik mencari sasaran yang mudah dikenali.
Wajah pendatang menjadi sasaran yang jauh lebih mudah daripada menjelaskan krisis demografi, stagnasi ekonomi, atau kegagalan kebijakan selama puluhan tahun.
Sisi lain cerita juga tidak nyaman. Sebagian kelompok pendatang memang datang dengan keyakinan budaya yang terkadang berbenturan langsung dengan norma masyarakat setempat. Persoalan itu sering kali dibicarakan secara berbisik karena banyak orang takut dicap rasis.
Padahal masyarakat multikultural hanya bisa bertahan jika kedua sisi bersedia menerima kenyataan yang tidak menyenangkan.
Negara tuan rumah tidak bisa mengharapkan integrasi tanpa membuka ruang penerimaan. Pendatang tidak bisa berharap diterima sambil menolak norma dasar tempat yang mereka pilih untuk hidup.
Kalimat itu terdengar sederhana ketika ditulis. Coba terapkan dalam kehidupan nyata. Masuklah ke sebuah bus yang penuh sesak pada sore hari. Seseorang sedang kelelahan setelah bekerja sembilan jam. Seseorang sedang cemas karena tagihan listrik. Seseorang sedang menghadapi diskriminasi. Seseorang baru membaca berita kejahatan yang membuatnya marah. Seseorang baru kehilangan pekerjaan.
Orang-orang seperti itu tidak bertemu sebagai teori sosiologi. Mereka bertemu sebagai manusia yang membawa beban masing-masing. Kemarahan sering muncul dari tempat yang sama sekali berbeda dari topik yang sedang diperdebatkan.
Perempuan dalam video itu mungkin sedang marah karena alasan yang tidak diketahui publik. Perempuan yang membalasnya mungkin juga begitu.
Tapi internet tidak pernah sabar terhadap ketidakpastian seperti itu. Internet ingin pahlawan. Internet ingin penjahat. Internet ingin cerita yang rapi. Dunia nyata jarang memberi kemewahan tersebut.
Yang membuat saya terusik justru bukan pertengkaran di dalam bus. Pertengkaran antarpenumpang sudah terjadi sejak kendaraan umum pertama kali ditemukan. Yang membuat saya terusik adalah kecepatan orang-orang mengubah dua manusia yang saling berteriak menjadi simbol perang peradaban.
Dalam hitungan jam, seseorang yang tidak pernah menginjakkan kaki di Jerman dapat merasa yakin bahwa ia memahami seluruh persoalan migrasi Eropa hanya dengan menonton satu video. Keyakinan seperti itu terasa lebih berbahaya daripada pertengkarannya sendiri.
Bus tersebut akhirnya berhenti di suatu halte. Pintu terbuka. Sebagian penumpang turun. Sebagian tetap duduk. Video berakhir.
Komentar-komentar di media sosial terus berjalan.


