Goenawan Mohamad dan Gema dari Pertanyaan Tak Selesai

Ilustrasi/whiteboardjournal.com
Membaca Goenawan Mohamad selama bertahun-tahun bisa menimbulkan pengalaman yang agak aneh. Mula-mula orang mengira sedang membaca artikel tentang politik, lalu tiba-tiba menemukan nama penyair Rusia. Beberapa paragraf kemudian muncul kisah dari Yunani kuno. Setelah itu pembahasan berpindah ke Jawa, ke wayang, ke Borges, ke Derrida, ke seseorang yang mati ratusan tahun lalu. Ketika tulisan selesai, pembaca sering tidak bisa merangkum isinya dalam satu kalimat sederhana. Yang tertinggal justru suasana berpikir. Sejenis gema.

Banyak penulis Indonesia menghasilkan buku yang hebat. Banyak pula yang pernah menulis esai penting. Tapi jumlah orang yang mampu menulis esai pendek setiap minggu selama puluhan tahun, dengan mutu yang relatif terjaga, bisa dihitung dengan jari yang sangat sedikit. Di titik itu, Goenawan Mohamad menjadi fenomena yang hampir berdiri sendirian.

Ia lahir di Karangasem, Batang, Jawa Tengah, 29 Juli 1941. Indonesia saat itu bahkan belum menjadi Indonesia yang kita kenal. Pendudukan Jepang baru akan datang. Revolusi kemerdekaan belum terjadi. Dunia tempat Goenawan kecil tumbuh adalah dunia yang jauh dari pusat kekuasaan nasional. Barangkali justru karena itu ia tidak pernah benar-benar menjadi penulis Jakarta dalam pengertian yang sempit, meskipun hampir seluruh hidup dewasanya dihabiskan di ibu kota.

Sebelum menjadi tokoh pers, ia lebih dulu dikenal sebagai penyair. Banyak orang lupa bagian itu. Nama Goenawan Mohamad hari ini begitu melekat dengan Tempo dan Catatan Pinggir, sehingga sisi kepenyairannya sering tertutup. Padahal sejak muda ia sudah aktif menulis puisi. Ia terlibat dalam gelanggang kebudayaan Indonesia tahun 1960-an yang panas, penuh pertengkaran ideologi, dan kadang lebih brutal daripada politik formal.

Tahun-tahun itu dunia sastra Indonesia terbelah. Di satu sisi berdiri kelompok yang dekat dengan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), organisasi kebudayaan yang berafiliasi dengan PKI. Di sisi lain berdiri para penulis yang menolak subordinasi seni kepada ideologi politik. Goenawan Mohamad termasuk penandatangan Manifesto Kebudayaan tahun 1963, sebuah dokumen yang kemudian dilarang oleh pemerintahan Soekarno. Usianya saat itu baru awal dua puluhan.

Saya selalu merasa bagian itu penting, karena memperlihatkan sesuatu yang terus muncul dalam seluruh karier Goenawan Mohamad: ketidakpercayaannya terhadap kepastian ideologis. Ia tampaknya selalu curiga kepada orang-orang yang terlalu yakin. Curiga kepada negara yang terlalu yakin. Curiga kepada revolusi yang terlalu yakin. Curiga kepada agama yang terlalu yakin. Curiga kepada kaum liberal yang terlalu yakin. Curiga kepada kaum kiri yang terlalu yakin. 

Kecurigaan itu kadang membuat pembaca frustrasi. Orang ingin jawaban yang jelas. Goenawan Mohamad justru sering menawarkan keraguan yang lebih rumit.

Ketika bersama rekan-rekannya mendirikan Tempo pada 1971, sifat itu masuk ke dalam jurnalisme Indonesia. Tempo bukan sekadar majalah berita. Tempo memperkenalkan cara menulis yang berbeda. Detail kecil mendapat tempat. Ironi diberi ruang. Tokoh politik digambarkan sebagai manusia yang bisa salah, bukan figur suci.

Kantor Tempo di Jalan Proklamasi, Jakarta, menjadi salah satu pusat intelektual Indonesia modern. Dari sana lahir generasi wartawan yang mempengaruhi lanskap media selama puluhan tahun.

Orde Baru tidak selalu menyukai hasilnya. Majalah Tempo dibredel pada 1994 setelah memberitakan kontroversi pembelian kapal perang bekas dari Jerman Timur, yang melibatkan Menteri Riset dan Teknologi saat itu, B. J. Habibie. Pembredelan itu menjadi salah satu peristiwa penting dalam sejarah kebebasan pers Indonesia.

Goenawan Mohamad kehilangan medianya. Tapi ia tidak kehilangan kebiasaannya menulis. Bagian paling menarik justru berada di sana. Banyak orang besar bersinar karena momentum sejarah. Mereka muncul ketika keadaan mendukung. Goenawan Mohamad bertahan karena disiplin yang nyaris tak masuk akal.

Coba pikirkan Catatan Pinggir. Rubrik itu dimulai pada 1977. Empat puluh tahun lebih berlalu. Catatan demi catatan terus muncul. Tiap minggu. Tiap minggu. Tiap minggu. Ritme semacam itu terdengar sederhana sampai seseorang mencoba melakukannya sendiri.

Kebanyakan penulis kehabisan tenaga setelah beberapa bulan. Sebagian sanggup bertahan beberapa tahun. Goenawan Mohamad menjadikan praktik tersebut sebagai cara hidup.

Rak buku para penggemarnya sering menyimpan berjilid-jilid Catatan Pinggir yang berjajar seperti kronik panjang tentang perubahan Indonesia. Jika seluruh jilid itu disusun berurutan, pembaca sebenarnya sedang melihat catatan harian intelektual selama hampir setengah abad. Krisis ekonomi 1998 muncul di sana. Reformasi muncul di sana. Perang Irak muncul di sana. Kematian penyair, filsuf, diktator, hingga aktor film, muncul di sana. Sebuah kolom mingguan berubah menjadi arsip peradaban.

Kekuatan Catatan Pinggir bukan hanya terletak pada argumentasinya. Banyak esai politik menawarkan argumen yang lebih sistematis. Banyak akademisi menyusun analisis yang lebih ketat. Keunikan Goenawan Mohamad terletak pada caranya berpikir di atas kertas. Ia sering memulai dari sudut yang tampak kecil. Seekor burung dalam puisi. Catatan kaki dalam buku sejarah. Dialog pendek dalam drama Shakespeare.

Pembaca mengikuti jalur berkelok itu. Kadang sampai ke politik. Kadang tidak sampai ke mana-mana.

Sebagian orang menganggap gaya itu “menjengkelkan”. Saya memahami keberatan itu. Tidak semua pembaca menyukai tulisan yang sengaja meninggalkan ruang kosong. Kadang seseorang selesai membaca Catatan Pinggir dan merasa belum mendapatkan pegangan yang kokoh. Goenawan Mohamad tampaknya tidak terlalu peduli. Ia lebih tertarik pada pencarian daripada kesimpulan.

Di Indonesia, pendekatan semacam itu cukup langka. Tradisi intelektual kita sering menyukai posisi yang tegas dan deklaratif. Seseorang dianggap kuat jika mampu memberikan jawaban. Goenawan Mohamad sering bergerak ke arah sebaliknya. Ia menunjukkan bagaimana sebuah jawaban dapat runtuh ketika disentuh pertanyaan lain. 

Pengaruhnya melampaui dunia jurnalistik. Banyak esais Indonesia generasi setelahnya, sadar atau tidak, menulis di bawah bayangan Goenawan Mohamad. Sebagian meniru ritme kalimatnya. Sebagian meniru kebiasaannya menghubungkan peristiwa kontemporer dengan sejarah dan sastra. Sebagian lagi berusaha keras menjauh dari pengaruh itu.

Pengaruh yang paling kuat biasanya memang seperti itu. Ia tetap hadir bahkan ketika orang mencoba menghindarinya.

Kritik terhadap Goenawan Mohamad tentu tidak sedikit. Kalangan kiri sering menuduhnya terlalu liberal. Kalangan konservatif menganggapnya terlalu progresif. Sebagian akademisi menilai tulisannya terlalu impresionistik. Sebagian aktivis menganggapnya terlalu elitis.

Tuduhan-tuduhan itu terus menempel selama puluhan tahun. Ia tetap menulis. Mungkin itulah yang paling sulit ditiru. Bukan kecerdasannya. Bukan keluasan bacaannya. Bukan jaringan intelektualnya. Tapi ketekunan yang hampir obsesif untuk terus berpikir di depan publik selama puluhan tahun.

Di usia yang sudah lanjut pun, Goenawan Mohamad masih menulis. Masih muncul di diskusi. Masih menerbitkan buku. Masih membaca karya baru. Masih berdebat. 

Ketika banyak tokoh publik berubah menjadi monumen hidup yang hanya mengulang kisah masa lalu, ia tampak tetap bergerak.

Saya kerap membayangkan berapa banyak buku yang telah disentuh tangannya. Berapa banyak halaman yang telah dibacanya sejak muda. Berapa banyak malam yang dihabiskan di depan meja kerja dengan lampu menyala, secangkir kopi yang mulai dingin, dan tumpukan catatan yang semakin tinggi. Jumlahnya mungkin sudah tidak masuk akal.

Di salah satu sudut Jakarta, seorang lelaki tua masih menulis.


Related

Tokoh 2760635602604427318

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item