Cak Nun, Intelektual Jalanan yang Setia Pada Orang-orang Pinggiran

Ilustrasi/suara.com
Tengah malam di sebuah lapangan desa, ribuan orang masih duduk bersila. Sebagian mengenakan sarung. Sebagian jaket lusuh. Pedagang kopi keliling masih berputar membawa termos aluminium yang penyok di beberapa bagian. Anak-anak tertidur di pangkuan orang tuanya. Di atas panggung, seorang lelaki berbicara tanpa teks selama berjam-jam. Kadang membahas ayat Al-Qur'an. Lima menit kemudian melompat ke ekonomi global. Setelah itu masuk ke cerita wayang, kritik politik, sejarah Majapahit, kisah Nabi Ibrahim, lalu tiba-tiba menyanyikan lagu bersama kelompok musiknya.

Orang-orang tetap bertahan.

Fenomena semacam itu sebenarnya aneh, bahkan mencengangkan. Indonesia menghasilkan banyak ulama. Banyak profesor. Banyak aktivis politik. Banyak penulis. Tapi tidak banyak yang mampu membuat ribuan orang duduk semalaman hanya untuk mendengarkan seseorang berpikir secara langsung.

Nama lelaki itu Emha Ainun Nadjib, yang lebih dikenal sebagai Cak Nun.

Kalau Gus Dur adalah intelektual yang masuk ke arena kekuasaan dan Cak Nur adalah intelektual yang masuk ke ruang akademik, Cak Nun bergerak ke tempat yang berbeda. Ia memilih panggung terbuka, lapangan desa, pendopo, masjid kampung, halaman sekolah, ruang budaya, bahkan jalanan.

Ia tidak masuk ke jantung kekuasaan, bahkan mendekat pun tidak. Selama puluhan tahun, ia setia bersama orang-orang di pinggiran atau yang terpinggirkan. Karena itu ia sering diterima oleh kalangan yang mungkin tidak pernah membaca satu halaman pun tulisan filsafat.

Mereka tidak merasa sedang diajar. Mereka merasa sedang diajak ngobrol. Di situlah letak kekuatannya.

Cak Nun lahir di Jombang pada 1953, kota yang sama-sama melahirkan Gus Dur. Jombang bukan detail kecil yang bisa diabaikan begitu saja. Kota itu memiliki ekosistem intelektual Islam yang unik. Tradisi pesantren bercampur dengan budaya Jawa, organisasi sosial, politik, sastra, dan perdebatan keagamaan yang hidup. Udara sosial seperti itu menghasilkan tipe intelektual yang berbeda dibanding lingkungan kampus modern atau sekolah agama formal yang sangat ketat.

Masa mudanya tidak mengikuti jalur akademik yang rapi. Ia pernah belajar di Pondok Modern Gontor. Ia kemudian masuk ke Yogyakarta dan bergaul dengan lingkungan sastra. Kampus bukan habitat utamanya. Jalanan lebih penting. Diskusi lebih penting. Pergaulan dengan seniman lebih penting.

Yogyakarta pada 1970-an merupakan salah satu pusat kebudayaan paling dinamis di Indonesia. Nama-nama seperti Umbu Landu Paranggi, WS Rendra, dan berbagai komunitas sastra bergerak di kota yang sama. Cak Nun muda masuk ke dunia itu.

Ia menulis puisi. Ia menulis esai. Ia menulis kritik sosial. Tulisan-tulisan awalnya cukup keras. Banyak orang sekarang mengenal Cak Nun sebagai figur religius yang tenang. Membaca tulisan-tulisan lamanya sering menghadirkan kejutan. Nada kritiknya tajam. Kadang marah. Kadang sinis. Kadang terasa seperti seseorang yang sedang memukul meja.

Pada era Orde Baru, suara seperti itu tentu tidak selalu nyaman bagi penguasa.

Karya-karya seperti Slilit Sang Kiai, Markesot Bertutur, Indonesia Bagian Sangat Penting dari Desa Saya, atau berbagai esai yang tersebar di koran dan majalah, menunjukkan pola berpikir yang menarik. Ia hampir tidak pernah berbicara dari atas. Ia tidak menulis seperti profesor yang sedang memberi kuliah. Ia berbicara dari bawah, dari pinggir, dari sudut pandang rakyat biasa.

Sebagian intelektual Indonesia gemar menggunakan istilah yang rumit. Cak Nun justru sering menyederhanakan hal-hal rumit menjadi cerita ala orang kampung. Cara itu membuat orang sering salah paham terhadap tingkat kedalaman pikirannya.

Banyak orang menganggapnya sekadar penceramah populer. Padahal kalau diperhatikan lebih dekat, referensi yang berputar dalam kepalanya sangat luas. Ia membaca sastra Arab, filsafat Barat, sejarah Islam, kebudayaan Jawa, musik, antropologi, ekonomi, dan politik. Semua bahan itu masuk ke dalam satu mesin pengolah yang unik.

Mesin itu menghasilkan bahasa yang tidak akademis tetapi juga tidak sederhana. Kadang terasa seperti mendengar seorang kiai. Kadang seperti penyair. Kadang seperti pelawak. Kadang seperti filsuf jalanan. Kombinasi semacam itu jarang ditemukan.

Pikiran Cak Nun sebenarnya cukup sulit dipetakan ke dalam kategori ideologis yang biasa. Ia tidak nyaman menjadi liberal. Tidak nyaman menjadi konservatif. Tidak nyaman menjadi Islamis. Tidak nyaman menjadi nasionalis dalam pengertian yang sempit. Orang yang ingin memasukkannya ke kotak tertentu biasanya berakhir frustrasi.

Hari ini ia bisa mengkritik negara. Besok ia mengkritik umat Islam. Lusa ia mengkritik kapitalisme. Minggu depan ia mengkritik cara berpikir oposisi. Pola itu membuat sebagian orang menganggapnya inkonsisten.

Saya justru melihat sesuatu yang lain. Cak Nun tampaknya lebih tertarik pada posisi pengamat ketimbang posisi pemain. Ia tidak terlalu bernafsu membangun organisasi politik besar. Ia tidak mengejar jabatan negara. Ia tidak membangun partai. Energinya dihabiskan untuk membangun ruang percakapan. Karena itu, forum-forum Maiyah menjadi penting.

Maiyah sering disalahpahami sebagai kelompok pengajian biasa. Pengajian memang ada. Zikir ada. Musik ada. Tetapi yang berlangsung sebenarnya lebih rumit daripada itu. Forum tersebut menjadi semacam ruang sosial alternatif tempat orang-orang dari berbagai latar belakang duduk bersama selama berjam-jam tanpa terlalu peduli status sosial masing-masing.

Di Maiyah, seorang profesor bisa duduk di samping tukang becak. Seorang pejabat bisa duduk di samping petani. Mereka mendengarkan orang yang sama. Mereka juga bebas untuk tidak setuju. Format seperti itu terasa semakin langka hari ini ketika hampir semua percakapan publik berubah menjadi pertarungan kubu.

Hubungannya dengan musik juga menarik. Bersama kelompok Kiai Kanjeng, Cak Nun menciptakan bentuk dakwah yang berbeda dari pola ceramah konvensional. Gamelan, shalawat, musik Timur Tengah, lagu rakyat, hingga unsur musik modern, bercampur dalam satu pertunjukan.

Telinga menangkap bunyi rebana. Lalu suara suling. Kemudian pembicaraan tentang IMF. Sesudah itu pembacaan puisi. 

Susunan seperti itu terdengar kacau jika ditulis di atas kertas. Anehnya, ketika berlangsung langsung di lapangan, semuanya terasa masuk akal.

Kontroversi tentu tidak pernah jauh darinya. Sejak era Orde Baru sampai era media sosial, pernyataan-pernyataannya berkali-kali memicu kemarahan. Sebagian kritik datang dari kelompok Islam konservatif. Sebagian dari kalangan nasionalis. Sebagian lagi dari kelompok yang dulu justru mengaguminya. Popularitas yang bertahan puluhan tahun hampir selalu menghasilkan benturan seperti itu.

Menurut saya, bagian yang paling menarik bukan kontroversinya, tetapi sumber kontroversi tersebut. Gus Dur membuat orang marah karena terlalu bebas berpikir. Cak Nur membuat orang marah karena terlalu rasional. Cak Nun sering membuat orang marah karena terlalu sulit ditebak. Ia bisa berada di luar peta ketika semua orang sedang sibuk memilih posisi di dalam peta.

Karena itu banyak pengamat kesulitan membaca arah politiknya. Ketika Indonesia memasuki era polarisasi setelah Reformasi, banyak tokoh publik dengan cepat bergabung ke salah satu kubu besar. Cak Nun bergerak dengan cara yang lebih berliku. Ia mendukung sesuatu pada satu kesempatan, dan mengkritiknya pada kesempatan lain.

Pendekatan semacam itu membuat sebagian orang curiga. Sebagian lain justru melihatnya sebagai bentuk kemerdekaan berpikir.

Malam-malam panjang di Maiyah, ketika ribuan orang masih duduk di tanah, pengeras suara kadang sedikit pecah. Udara dingin mulai turun. Mata beberapa peserta memerah karena kurang tidur. Kopi tinggal setengah gelas. Cak Nun masih berbicara, berpindah dari ayat Al-Qur'an ke cerita Mbah Nun muda di Malioboro, lalu ke kisah para wali, lalu ke harga beras, lalu ke sejarah Andalusia. 

Tidak semua yang ia katakan selalu tepat. Tidak semua gagasannya selalu konsisten. Mungkin justru karena itulah ia tetap terasa hidup.

Seorang intelektual yang sepenuhnya rapi biasanya lebih mudah dimasukkan ke rak perpustakaan. Cak Nun selama puluhan tahun tampak lebih betah berada di tengah kerumunan orang yang belum pulang meskipun azan Subuh tinggal beberapa menit lagi.

Related

Tokoh 8877692329705042459

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item