Manifesto Russell–Einstein Terbit di Tengah Ancaman Perang Nuklir

Ilustrasi/kvramakrishnarao.wordpress.com
Beberapa dokumen lahir dengan suara gaduh. Diumumkan dari balkon istana, dibacakan di depan pasukan, atau dicetak dalam huruf-huruf besar yang memenuhi halaman depan surat kabar. Russell–Einstein Manifesto tidak seperti itu. Dokumen tersebut lebih menyerupai surat darurat yang dikirim dari tepi jurang oleh orang-orang yang sudah melihat sesuatu yang belum sepenuhnya dipahami dunia.

Ironisnya, salah satu nama yang melekat pada manifesto tersebut sudah meninggal ketika dokumen itu diumumkan kepada publik.

Albert Einstein wafat pada 18 April 1955 di Rumah Sakit Princeton, New Jersey. Beberapa hari sebelumnya ia masih mengoreksi naskah manifesto yang disusun bersama Bertrand Russell. Tanda tangannya menjadi tanda tangan terakhir yang ia berikan untuk sebuah pernyataan publik. Ketika manifesto diumumkan pada 9 Juli 1955 di Caxton Hall, London, Einstein sudah menjadi jenazah selama hampir tiga bulan.

Gambaran itu selalu terasa aneh. Seorang ilmuwan yang selama puluhan tahun menjadi simbol kecerdasan manusia seolah mengirim pesan terakhir kepada spesiesnya: kalian sedang bermain dengan sesuatu yang bisa mengakhiri permainan.

Dokumen tersebut lahir dari ketakutan yang sangat konkret. Bukan ketakutan filosofis, bukan ketakutan religius, bukan ketakutan abstrak. Ketakutan terhadap ledakan termonuklir.

Dunia tahun 1955 hidup di bawah bayang-bayang yang berbeda dari masa kini. Perang Dunia II baru berakhir satu dekade sebelumnya. Kota-kota yang hancur masih bisa ditemukan di berbagai sudut Eropa. Bekas luka Hiroshima dan Nagasaki masih segar. Banyak korban selamat masih menjalani hidup dengan tubuh yang dipenuhi jaringan parut akibat panas luar biasa dari bom atom.

Lalu manusia menciptakan senjata yang jauh lebih mengerikan.

Bom yang dijatuhkan di Hiroshima memiliki kekuatan sekitar 15 kiloton TNT. Bom hidrogen yang mulai diuji pada awal 1950-an memiliki kekuatan dalam skala megaton. Perbedaannya tidak sekadar lebih besar. Perbedaannya hampir seperti membandingkan obor dengan gunung berapi.

Pada Maret 1954, Amerika Serikat menguji bom Castle Bravo di Atol Bikini, Kepulauan Marshall. Para ilmuwan memperkirakan kekuatannya sekitar lima megaton. Mereka salah. Ledakannya mencapai sekitar lima belas megaton. Awan jamur menjulang puluhan kilometer ke atmosfer. Pulau-pulau terdekat terkena hujan radioaktif.

Kapal nelayan Jepang Daigo Fukuryū Maru—Lucky Dragon No. 5—yang berada jauh di luar zona bahaya yang diperkirakan, tetap terkena paparan radiasi. Awak kapal mulai mengalami mual, luka bakar, dan kerontokan rambut. Salah satu awaknya, Aikichi Kuboyama, meninggal beberapa bulan kemudian.

Peristiwa itu mengguncang Jepang. Peristiwa itu juga mengguncang Bertrand Russell.

Russell saat itu berusia lebih dari delapan puluh tahun. Banyak orang seusianya mungkin memilih menikmati masa tua dengan tenang. Russell justru semakin gelisah. Ia sudah menyaksikan dua perang dunia. Ia pernah dipenjara karena aktivitas anti-perang selama Perang Dunia I. Kini ia melihat ancaman yang menurutnya jauh melampaui perang-perang sebelumnya.

Kita sering membayangkan filsuf sebagai sosok yang hidup di menara gading, tenggelam dalam abstraksi. Russell justru sering terlihat seperti aktivis yang kebetulan sangat cerdas. Ia lalu menulis surat kepada Einstein. 

Mereka bukan sahabat dekat yang rutin bertemu. Hubungan mereka lebih berupa saling menghormati sebagai intelektual yang memahami skala ancaman yang sedang berkembang. Einstein setuju membantu.

Daftar penandatangan manifesto akhirnya mencakup sejumlah nama yang hampir terasa seperti tim impian sains abad ke-20. Selain Einstein dan Russell, terdapat Max Born, Percy Bridgman, Leopold Infeld, Frédéric Joliot-Curie, Hermann Muller, Linus Pauling, Cecil Powell, Joseph Rotblat, dan Hideki Yukawa.

Saya suka berhenti sejenak pada nama Joseph Rotblat.

Banyak orang mengenal Einstein. Banyak orang mengenal Russell. Rotblat jauh lebih jarang disebut. Padahal kisahnya luar biasa.

Rotblat pernah bekerja dalam Proyek Manhattan, proyek rahasia Amerika Serikat yang menghasilkan bom atom pertama. Ketika ia menyimpulkan bahwa Jerman Nazi tidak lagi menjadi ancaman nuklir yang realistis, ia memilih keluar dari proyek tersebut. Keputusan itu sangat tidak lazim. Sebagian besar ilmuwan tetap bertahan.

Puluhan tahun kemudian, Rotblat menjadi salah satu tokoh utama gerakan anti-senjata nuklir internasional.

Manifesto Russell–Einstein yang diumumkan di London itu tidak panjang. Isinya relatif sederhana. Bahasa yang digunakan bahkan terasa hampir dingin. Tidak banyak retorika besar. Justru karena itulah ia menghantam.

Russell dan rekan-rekannya tidak berdebat soal kapitalisme atau komunisme. Mereka tidak sedang mencoba memenangkan perang ideologi antara Washington dan Moskwa. Mereka meminta manusia memikirkan satu pertanyaan yang sangat mendasar: apakah spesies kita ingin terus hidup?

Kalimat paling terkenal dari manifesto itu berbunyi, "Remember your humanity, and forget the rest." Ingatlah kemanusiaanmu, dan lupakan yang lain.

Kalimat itu sering dikutip sehingga terdengar hampir biasa. Padahal konteksnya sangat spesifik. Russell tidak meminta orang melupakan identitas nasional secara permanen atau menghapus semua perbedaan politik. Ia meminta manusia menghentikan kebiasaan melihat lawan politik sebagai sasaran yang dapat dimusnahkan tanpa konsekuensi.

Bom hidrogen mengubah logika perang. Dalam perang-perang sebelumnya, kemenangan masih dapat dibayangkan. Kota hancur. Tentara kalah. Perjanjian ditandatangani. Kehidupan berlanjut.

Russell melihat bahwa perang nuklir skala penuh bisa menghasilkan situasi yang berbeda sama sekali. Tidak ada pihak yang benar-benar menang jika kota-kota besar berubah menjadi pusat radiasi.

Pandangan itu terdengar masuk akal sekarang. Pada pertengahan 1950-an, tidak semua orang menganggapnya begitu. Sebagian pemimpin militer masih berbicara tentang senjata nuklir seolah itu hanya versi lebih besar dari artileri konvensional. Cara berpikir seperti itu mengerikan.

Saya membaca kesaksian korban Hiroshima yang menggambarkan kulit manusia menggantung dari lengan seperti kain basah. Kesaksian lain menyebut bau daging terbakar yang bertahan berhari-hari. Mata jadi pedih hanya dengan membaca deskripsinya. Telinga seakan berdenging karena otak berusaha membayangkan skala penderitaan yang sebenarnya tidak bisa dibayangkan.

Russell memahami bahwa diskusi tentang senjata nuklir sering berubah menjadi statistik. Sekian megaton. Sekian juta korban. Sekian persen kehancuran. 

Statistik memiliki kebiasaan menghapus wajah manusia. Manifesto itu berusaha mengembalikan wajah-wajah tersebut ke dalam percakapan. Pengaruh langsungnya mungkin tidak spektakuler. Tidak ada pemerintah yang tiba-tiba membuang senjata nuklir ke laut setelah membacanya. Tidak ada Perang Dingin yang mendadak berakhir.

Pengaruhnya bergerak lebih lambat. Manifesto itu melahirkan Konferensi Pugwash, serangkaian pertemuan ilmuwan internasional yang dimulai pada 1957 di desa kecil Pugwash, Nova Scotia, Kanada. Ilmuwan dari blok Barat dan blok Timur bertemu di tengah ketegangan global yang luar biasa.

Kadang mereka berbicara ketika pemerintah masing-masing hampir tidak mau berbicara satu sama lain. Pugwash kemudian menjadi salah satu jalur komunikasi informal yang berperan dalam berbagai upaya pengendalian senjata nuklir. Joseph Rotblat dan gerakan Pugwash memperoleh Hadiah Nobel Perdamaian pada 1995.

Russell hidup cukup lama untuk melihat sebagian hasil perjuangannya. Einstein tidak.

Saya sering memikirkan momen kecil menjelang kematian Einstein. Tubuhnya melemah karena aneurisma aorta. Dokter menawarkan operasi. Ia menolak. Ia mengatakan ingin pergi ketika waktunya tiba.

Di meja kerjanya masih terdapat dokumen, catatan, dan surat. Salah satunya berkaitan dengan manifesto tersebut.

Seorang fisikawan tua yang membantu membuka pintu era atom menghabiskan hari-hari terakhirnya memperingatkan manusia tentang apa yang mungkin keluar dari pintu yang sama.

Naskah manifesto diumumkan di London. Para wartawan mencatat. Kamera memotret. Orang-orang pulang.

Perang Dingin terus berjalan. Pabrik-pabrik senjata tetap bekerja. Bom-bom baru terus dirancang. 

Kertas manifesto itu masih ada. Kalimat-kalimatnya masih bisa dibaca hari ini. Rudal-rudalnya juga masih ada.

Related

Sejarah 6198437527888591477

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item